
*****
Ditempat gelap gulita dilengkapi lantai yang dingin dan basah, membuat kedua orang wanita merasakan hawa merinding dan hembusan angin membuat bulu kuduk mereka langsung berdiri. Mereka saat ini tengah berada diruangan tepatnya disebuah gedung kosong, yang bisa dipastikan jarang orang berkunjung digedung itu. Tentu saja! Siapa yang ingin mengunjungi gedung itu? Hanya orang gila dan orang tak waras lah yang mengunjungi gedung itu.
Lain hal dengan kedua wanita itu, mereka berdua tengah disekap seperti yang ada diadegan vilem holiwood. Dimana para pemeran utama disandera ditengah-tengah ruangan, diikat kedua tangan dan kakinya, serta ditutupnya kedua mata dan mulutnya.
Ya, mereka lah Eira dan Sinta, yang saat ini tengah disekap diruangan gelap itu, tak ada yang tau keberadaan kedua wanita itu.
Namun mereka bukanlah pemeran utama yang tengah disandera, melainkan kedua tersangka yang berani bermain-main dengan seorang Aurell.
Klekk...
Tiba-tiba terdengar bunyi yang sangat nyaring diruangan yang sunyi itu. Sebuah lampu menyala, namun tak terlalu terang dapat menyinari kedua wanita yang tengah terduduk dilantai nan dingin itu.
Terdengar suara derap sepatu yang semakin dekat, sepertinya arah langkah itu tengah menghampiri kedua wanita itu.
Dan tepat didepan mereka berdua, suara langkah kaki itu terhenti. Membuat kedua mata mereka yang tertutup kain hitam itu, jadi ingin bertanya-tanya siapa yang ada didepan mereka itu?
Terjadi keheningan beberapa detik, membuat seorang Sinta yang tengah dilanda penasaran itu mulai membuka mulutnya.
"Siapa kau?" tanyanya dengan suara lantang. "Kau ya, yang menyuruh mereka untuk menyekap kami? Jika benar, maka lepaskan kami. Disini basa dan bau, seakan ingin sekali membuatku muntah." lanjutnya.
"Iya lepaskan kami! Aku sungguh tak tahan jika seperti ini terus...." teriak Eira, dengan segala cara memberontakan tubuhnya, yang masih setia terikat tali besar ditangannya.
Tiba-tiba terdengar kekehan kecil dari mulut seseorang yang tengah berada dihadapan mereka itu.
"Buka penutup mata mereka!" titahnya, yang baru saja mengeluarkan suaranya. Setelah ia hanya terdiam dan mengamati dua wanita yang ada dihadapanya.
"Baik tuan!"
Kedua anggotanya menganguk patuh, dan berjalan kearah dua wanita itu. Setelah itu membuka penutup mata mereka.
Sinta dan Eira mulai menampakkan pandangannya, dan pertama yang mereka lihat adalah seorang pria berbadan tegap. Yang entah siapa orangnya karena wajahnya tak begitu jelas dipandang, hal itu dikarenakan sinar lampu yang begitu redup disertai ruangan yang sangat gelap disekeliling mereka.
"Siapa sih, mah?" bisik Eira pada Sinta yang juga tengah mengamati sosok tegap itu.
"Entahlah Eira.. Mama juga gak tau." jawab Sinta yang juga ikut berbisik.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, seluas senyum serigai muncul dibibir pria itu. Pria itu sedikit mendekat kearah mereka.
"Halo nona, nona.... Bagaimana keadaan kalian disini? Apa kalian merasa bahagia, atau merasa sangat senang." ucap pria itu seolah tengah mengejek.
Sinta berdecih, "Apa-apaan pertanyaan mu itu! Sungguh pria gila." ucap Sinta.
Pria itu tertawa keras, "Hahahaha.... Ya benar nyonya Sinta! Saya ini memang terkenal akan kegilaan, semua orang tau jika saya gila pada wanita."
Sinta dan Eira yang mendengar itu bergedik ngeri seketika.
"Siapa kau sebenarnya! Mengapa kau membawa kami kesini? Dan kenapa kau bisa tau namaku!" teriak Sinta, lagi-lagi mengelegar disepenjuru ruangan. Ia merasa heran pula mendengar namanya disebut oleh pria itu.
"Hohoho, tenang nyonya... Saya mambawa anda kesini, tentu saja ada maksud tertentu. Dan pasti anda mengetahui alasannya." jelasnya.
"Apa maksud mu? Jangan bertele-tele, cepat katakan apa mau mu. Aku sudah pegal diikat terus seperti ini." ucap Sinta kemudian menarik-naik tangannya yang tengah diikat itu.
"Anda tentu pasti tau apa maksud saya membawa anda disini!" ia menjeda ucapannya, dan berjongkok menghadap kearah kedua wanita itu. Dan saat itu juga, Eira dan juga Sinta dapat melihat siapa lelaki tegap itu sebenarnya. Begitu kagetnya mereka ketika melihat siapa orang itu, dan tentu saja terlihat sangat familiar dipandang mereka.
Jek! Hanya tiga huruf saja, kalian pasti tau jika pria yang ada dihadapan mereka itu merupakan kaki tangan dari seorang Gerland Austerlitz, ayah kandung dari Aurellia Austerlitz.
"Tentu untuk membalas perbuatan kalian, kepada nona tercinta milik tuan saya. Yaitu tuan Gerland yang sangat saya hormati." lanjutnya, saat dipertengahan ia menjeda perkataannya.
Tiba-tiba ia meraih dagu Eira, membuat Eira tersentak kaget.
"Nona... Kenapa nona takut melihat saya? Sebelumnya nona sangat senang ketika hanya berjumpa dengan saya, hemm?" walau ucapan yang keluar dari mulut Jek itu terkesan manis, namun Eira yang sudah kepalang ketakutan itu. Tambah ketakutan ketika menatap mata yang tajam itu.
"Singkirkan tanganmu!"
Hanya itu saja yang keluar dari mulut Eira.
Brak....
Tiba-tiba pintu didobrak begitu saja dari luar, hampir saja pintu itu roboh. Jika saja tenaga dorongan itu dikuatkan sedikit saja.
Lagi-lagi Jek menyerigai senang. "Pawangnya sudah datang." gumamnya, lalu berdiri tegap dan menyambut seseorang yang sudah mendobrak pintu itu dengan paksa.
"Tuan Sagarra... Anda datang sedikit terlambat." ucap Jek dengan senyum meremeh.
__ADS_1
Sagarr berdecih, "Jangan halangi jalanku! Aku tak ada urusan dengan mu. Mingir..." sentak Sagarr, yang memang dialah orangnya, yang baru saja datang dan mendobrak pintu itu.
Sagarr melanjutkan jalannya dengan cepat, sehingga Membuat Jek yang ada didepannya itu tersengol bahunya dengan kuat. Membuat ia hampir saja terjungkal jika ia lengah begitu saja.
Jek terkekeh, "Orang yang kasar." gumamnya.
"Hah?" Eira terkejut mendapati Sagarr yang berjalan kearahnya dengan tergesa-gesa begitu.
Byurrr...
Satu siraman air panas mengenai begitu saja dikaki jenjang milik Eira.
"Akkkkk.... Panas.... Kaki ku terbakar." teriak Eira, yang sangking nyeri dirasanya. Pun dengan frustrasi menyeret tubuhnya untuk menghilangkan rasa panas yang terus terkepul dikakinya itu, tepatnya dipaha mulusnya itu. Ia tak bisa menyentuh pahanya karena tangannya yang masih terikat itu.
Jek pun sampai menutup mulutnya, tak percaya. "Wow! Ganas sekali!" ucapnya.
Belum cukup dengan itu, Sagarr tengah merogoh sakunya dibelakang. Kemudian tanpa diduga ia mengekuar sebuah pisau kecil, tapi bisa dilihat jika pisau itu begitu tajam.
Tanpa aba-aba, diaraihnya kaki jari kelingking milik Sinta.
Sreeet....
"Akkhh kaki ku! Kaki ku! Yaampun."
Teriak Sinta begitu mengemas diruangan itu, ia berjingkrat-jingkrat merasakan kakinya yang begitu sakit. Ketika Sagarr menyayatnya begitu saja. Bahkan jari kelingking pada kakinya itu hampir saja putus jika tulang kelingkingnya itu ikut tersayat.
Sagarr hendak melakukan aksinya lagi, namun dengan segera Jek menghentikannya.
"Hahaha... Cukup tuan Sagarr, jangan buat diri anda tambah menyeramkan." ucap Jek diselingi tawanya padahal tak ada yang lucu disana.
"Itu Pembalasan ku pada kalian, yang sudah bermain-main dengan milikku! Ini belum seberapa, tapi ingat! Setelah ini lihat saja perlahan-lahan apa yang akan aku lakukan nantinya.... Camkan saja ucapanku ini!"
Setelah mengucapkan itu, Sagarr berlalu begitu saja. Ia berjalan dengan tergesa-gesa karena masih ingin melihat kondisi Aurell saat ini.
Jek melihat punggung Sagarr yang sudah berlalu meninggalkan ruangan itu, ia lalu melihat dua sosok wanita yang sungguh memprihatinkan keadaanya itu.
"Ck! Ck, ck... Aku tak tau apa yang akan dilakukannya, tapi aku bisa menebak jika kehidupan dua wanita itu tak akan bisa setenteram seperti sebelumnya." gumamnya Jek, sambil menerawang keadaan Sinta dan juga Eira itu.
__ADS_1
Bersambung.