
"Vita.. Kenapa kalung saya ada ditas kamu?" tanya Sinta menahan kemarahan.
Vita yang terkejut itu mengeleng keras. "Nyona... Saya tak pernah mengambil barang milik nyonya, saya bahkan tak tau jika kalung itu ada didalam tas saya"
"Alah.. Gak usah alasan deh kamu Vita, maling mana ada yang mau mengaku" ucap pelayan wanita itu memperkeruh suasana.
"Vita... Jawab yang jujur, apakah kamu yang mengambil kalung saya?"
"Tidak nyonya... Bukan saya yang mengambil kalung nyonya"
"Lalu siapa hah? Saya sangat percaya sama kamu jika kamu tidak akan mencuri, lantas kenapa kamu mengambil kalung saya? Jika kamu butuh uang bilang Vita... Saya akan memberikannya"
"Tidak nyah saya tak pernah berniat untuk mencuri kalung nyonya... Nyonya tolong percaya sama saya" mohon Vita sambil berlutut memegang kaki Sinta.
"Nyonya, jangan percaya sama yang diucapkannya, nyonya tau kan? Waktu itu juga pelayan disini pernah mencuri dirumah nyonya, dan pelayan itu juga beralasan sama kayak Vita! Nyonya gak mau kan kalau hal itu terulang lagi, sekarang nyuri kalung trus nanti nyuri uang, trus nanti tambah ngelunjak nyonya"
Sinta yang mendengar penuturan dari pelayan itu, terdiam matanya dikabuti kemarahan sepertinya ia termakan oleh omongan dari pelayan itu.
Tanpa pikir panjang Sinta langsung saja menarik rambut Vita yang masih berlutut itu, ia menyeretnya tanpa ampun membuat Vita miringis kesakitan.
"Akhh... Nyonya... Sakit nyonya.." rintih Vita berteriak sambil memegang perutnya, mencoba melindungi bayinya yang ada dikandungannya.
"Nyonya... Tolong ampun saya... Saya tak pernah mencuri kalung nyonya" mohon Vita yang masih tak didengarkan oleh Sinta. Sinta seakan menulikan pendengarannya, ia termakan ego sehingga ia berbuat semena-mena pada Vita.
Sinta terus menyeret Vita dengan menarik rambutnya itu menuju kearah kamar mandi, kebetulan saat itu juga Adhitama baru saja pulang dari kantor, ia tak sendiri, ia saat ini bersama dengan dua orang anak kecil yang tak lain adalah Gavin putranya dan juga Aurell yang juga kebutalan baru saja pulang dari sekolahnya.
"Sayang.... Kami pulang.. Aku kan sudah bilang padamu untuk menjemput Gavin, tapi kenapa kamu tak menjemputnya? Jadinya aku yang harus menjemput Gavin" ucap Adhitama sambil mengandeng tangan putranya.
Adhitama bingung karena tak ada sahutan dari istrinya itu. "Hemm? Mama mu kemana ya?" ucap Adhitama bingung.
"Gak tau pah!" Jawab Gavin.
"Mungkin lagi dikamar kali ya? Yuk kita langsung masuk, setelah itu kita sarapan" ajak Adhitama, namun saat ia melangkahkan kakinya ia tiba-tiba saja memberhentikannya.
"Nyonya... Sakit nyonya.." teriak Vita sambil memegang rambutnya yang terasa nyeri akibat tarikan itu.
Adhitama terdiam kala melihat istrinya yang tengah menyeret pelayan dirumahnya itu.
"Diam kamu! Kamu harus dikasih hukuman, agar kamu tak berani lagi untuk mencuri dirumah ini!" bentak Sinta dengan suara lantang.
__ADS_1
Sinta menyeretnya sampai pintu depan kamar mandi, Vita terus meringis darah terus bercucuran dibagian kakinya, sepertinya kakinya tergores sesuatu saat Sinta menyeretnya.
Aurell yang melihat ibunya diperlakukan semena-mena itu tertegun, ia langsung saja berlari kearah Vita.
"Mama..." teriak Aurell menghampiri Vita.
"Mama... Mama berdarah... Tolong jangan siksa mamaku hikss.. Mama.." tangis Aurell mulai pecah kala tak tahan melihat ibunya diperlakukan seperti itu.
Vita memeluk anaknya. "Aurell... Aurell jangan menangis ya sayang Hemm? Mama tak apa-apa, jangan menangis.. Yaa" ucap Vita beralasan agar anaknya berhenti menangis.
Aurell mengeleng dalam pelukan Vita, ia lalu berjalan kearah Sinta dan memeluk kaki Sinta. "Nyonya.. Jangan sisksa mama Aurell.. Hiks.. Nanti adik Aurell jadi sakit" tangis Aurell memohon pada Sinta.
Sinta yang melihat Aurell memohon itu sedikit terenyuh hatinya, salah satu pelayan yang melihat perubahan wajah dari majikannya itu, langsung saja bertindak, ia menarik Aurell dengan paksa.
"Nyonya... Jangan perdulikan anak ini, biar saya yang urus nyonya, jadi nyonya silahkan lanjutkan lagi" ucap pelayan itu.
Sinta yang melamun itu tersadar, ia lalu melanjutkan niatnya untuk menghukum Vita, ternyata Sinta tak bisa mengontrol kemarahannya lagi ia benar-benar menulikan pendengarannya.
Aurell memberontak. "Tidak... Jangan bawa mamaku.... Mama... Tolong jangan bawa mamaku... Huwaaa..." tangis Aurell yang mencoba melebas dirinya dari pelayan itu.
"Diam kamu anak nakal... Mama mu pantas mendapatkan itu" geramnya.
"Akh... Sialan anak itu" umat pelayan itu.
"Kami gak apa-apa?"
"Gak usah perduliin aku cepat tangkap anak itu! Sebelum dia berbuat ulah lagi" ucapnya pada temannya itu.
Temannya itu menganguk lalu berjalan cepat kearah kamar mandi.
Aurell tertegun kala melihat ibunya yang sudah basah kuyup, ia melihat Sinta yang menyalakan air kran dan menyiramnya pada Vita.
"Mama..." teriak Aurell, ia langsung memeluk ibunya yang terduduk lemas itu.
"Aurell... Kenapa kamu kesini sayang? Jangan kesini nanti kamu kedinginan, cepat! Pergi dari sini ya sayang?"
"Tidak mau.. Aurell mau disini, Aurell gak mau mama kenapa-napa"
"Hei! Anak kecil! Cepat pergi dari sini, ini urusan saya sama ibu kamu! Jangan buat ulah kamu anak kecil" ucap Sinta menekan.
__ADS_1
Aurell menatap tajam Sinta, ia tanpa pikir panjang langsung menendang perut Sinta, membuat Sinta mundur kebelakang.
"Akhh.." teriak Sinta memegang perutnya.
"Dasar bocah sialan! Kamu berani ya sama saya" setelah itu Sinta menarik Aurell dan langsung menampar pipinya.
Plakkk....
"Nyonya!" teriak Vita.
Vita langsung memeluk anaknya. "Nyonya... Jangan sakiti putriku, nyonya boleh menyakitiku asalkan jangan putriku" mohon Vita yang masih memeluk Aurell.
"Anak sama ibu sama saja, sama-sama biadap!" tekan Sinta langsung menyiram mereka berdua dengan air dingin.
"Sayang..." teriak Adhitama yang baru saja memasuki kamar mandi itu.
Adhitama langsung mencekal tangan istrinya. "Sayang... Kenapa kamu berbuat seperti ini? Hentikan! Jangan seperti ini"
Sinta memberontak. "Jangan halangi aku! Dia sudah mencuri itu sebabnya dia harus dihukum" teriak Sinta.
"Tapi jangan seperti ini sayang.. Sudah-sudah" ucap Adhitama langsung memeluk istrinya agar tak melanjutkan perbuatannya.
Adhitama berhasil menghentikan Sinta, namun Sinta masih terus memberontak ingin dilepaskan.
"Lepaskan aku! Adhi!" teriak Sinta.
"Kalian cepat pergi dari sini! Biar saya yang urus istri saya" ucap Adhitama menyuruh Vita dan Aurell untuk beranjak pergi dari sana.
Vita menganguk, ia lalu membawa pergi Aurell dari kamar mandi itu.
"Kenapa kamu membebaskannya! Dia sudah mencuri Adhi!" teriak Sinta.
Adhitama terus memeluk istrinya. "Sudah-sudah, kita tenangin dulu dirimu!" ucap Adhitama membawa istrinya untuk masuk kedalam kamar.
Gavin menutup mulutnya, ia melihat semua adegan itu merasa tak menyangka, jika mamanya yang lembut itu bisa berbuat sekejam itu.
"Mama kenapa bisa seperti itu?" gumam Gavin ketakutan.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya(^_-)