Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Sebuah Rencana


__ADS_3

Keesokan hari, Aurell memutuskan untuk segera keluar dari rumah sakit itu. Sebenarnya ia diberitahu oleh dokter jika ia harus menginap dirumah sakit selama empat hari, dikarenakan lukanya yang belum sembuh total, dokter pernah menyarankan jika Aurell tak boleh banyak bergerak, apalagi luka tusukan itu berada tepat dipingangnya. Tentu saja akan lebih susah jika Aurell mengerakan tubuhnya itu.


Aurell berjalan sendiri dikoridor rumah sakit itu, karena ia pergi pagi-pagi sekali. Alasannya jika ia tak cepat-cepat pergi, maka ia akan terus berhadapan dengan para pria-pria yang terus mengganggu ketenangannya itu.


Brukk..


Tiba-tiba seseorang dengan sengaja menyengol bahunya cukup keras, hampir saja Aurell terjatuh jika ia tak menahan tubuhnya dengan benar. Aurell mengalihkan pandangannya melihat sosok yang menabraknya itu, ternyata tanpa diduga seseorang yang menabraknya itu juga tengah menatapnya. Aurell tak begitu jelas melihat wajah orang itu, dikarena topi yang menutupi sebagian wajah sosok entah wanita atau pria, yang pasti tak begitu jelas.


Orang itu mengepalkan kedua tangannya dan berlari begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.


Aurell tersentak melihat orang itu berlari, "Hei!" teriak Aurell, ia refleks mengejar orang itu tanpa memperdulikan pandangan orang yang tengah menatapnya heran itu.


Aurell terus mengejar orang yang ada didepannya itu, tak perlu diragukan lagi Aurell sangat begitu cepat saat ia tengah berlari. Tangannya hampir mencapai baju yang dikenakan orang tersebut, sedikit saja ia berhasil menangkapnya jika tidak ada mobil yang menghampiri ditengah-tengah aksinya itu.


Aurell berdecak kesal, saat seseorang itu lolos dari pengejaranya. Orang itu langsung masuk kedalam mobil begitu saja, membuat Aurell kecolongan dan kehilangan jejak.


"Sial! Siapa sebenarnya orang itu?" ucap Aurell mengumpat kesal.


Tiba-tiba sebuah mobil hitam menghampirinya, dan keluarlah sosok Sagarr dengan gagahnya berjalan kearah Aurell.


"Rell? Kenapa disini... Bukanya kamu harus dirawat?" tanya Sagarr merasa bingung.


Aurell mengalihkan pandangannya kearah Sagarr. "Sial!" lagi-lagi Aurell mengumpat saat melihat wajah Sagarr didepan matanya itu, sepertinya emosinya tak karuan jika melihat wajah menyebalkan Sagarr itu. Ia yang tadi kesal kini bertambah kesal.


Sagarr menautkan kedua alisnya, bingung. "Lah? Kenapa nona? Kok wajahnya seperti menahan kesal begitu?" tanya Sagarr malah menggoda Aurell dengan menaik turunkan alisnya itu.


Aurell berdecak. "Aku kesal, karena melihat wajahmu yang sangat menyebalkan itu!" sinis Aurell.


Sagarr membeo, "Lah? Kan aku baru dateng, kok langsung diumpati sih?" bingung Sagarr.

__ADS_1


Aurell tak menjawab, ia hanya menghebuskan nafasnya frustrasi. Niatnya yang ingin cepat pulang agar tak melihat wajah-wajah menyebalkan para pria itu, kini pupus sudah. Ia terlambat gara-gara sosok yang menghalangi jalannya, dan sialnya Aurell kembali kesal saat mengingat kejadian itu.


"Kenapa sih... Kok mukanya asem begitu?" tanya Sagarr lagi, sepertinya ia tengah tak peka jika saat ini Aurell sedang kesal.


"Kau.." saat Aurell ingin menjawab pertanyaan Sagarr itu, tiba-tiba sosok pria datang dan menyela perkataan Aurell itu.


"Aurell?" ucap seorang pria yang tak lain dan tak bukan, adalah Gavin.


"Ngapain disini? Bukanya kamu harus dirawat selama empat hari ya?" tanya Gavin saat sudah sampai dihadapan Aurell.


Sagarr yang melihat kedatangan Gavin itu, menatap sinis kearah Gavin. "Baru dateng.. Udah nanya-nanya lagi."


Gavin yang baru mengetahui keberadaan Sagarr itu berucap, "Loh? Lo sudah ada disini?" tanya Gavin polos.


Sagarr berdecak kesal. "Gak usah sok lugu lo! Emangnya gue ini manusia transparan." sinis Sagarr.


Gavin mengedikan bahunya acuh, ia lalu beralih menatap Aurell kembali. "Rell.. Kamu belum jawab pertanyaan aku, kenapa kamu disini? Seharusnya kamu itu lagi dirawat."


Sedangkan Aurell langsung menatap malas sosok dua pria yang sangat menyebalkan dimatanya itu. "Sialan!" lagi-lagi Aurell mengumpat.


Gavin tercengoh. "Hah? Kamu mengumpat rell?" tanya Gavin heran.


Sagarr yang tadi tersulut emosi itu, kembali merubah wajahnya menjadi kesenangan ia tertawa keras saat Aurell mengumpati Gavin, sama saat dirinya yang baru datang itu.


...----------------...


Disatu sisi, sosok yang tadi tengah menabrak Aurell itu. Kini tengah duduk dikursi penumpang yang sungguh membuatnya kebingungan, saat mobil itu berhenti didepannya dan membawa pergi dirinya yang entah kemana.


"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu membantu saya pergi dari sana?" tanyanya.

__ADS_1


Orang yang tengah menyetir itu menghentikan mobilnya dipingir jalan yang cukup lumayan sepi disana.


Orang yang ditanya itu menengok kebelakang, "Anda tak mengingat saya?" tanya orang itu dengan senyum manisnya.


Sosok bertopi itu tersentak kaget. "Eira?" ucapnya, Ya! Dialah Eira yang membawanya pergi dari kejaran Aurell itu.


"Ya... Calon mama mertua." ucapnya tersenyum miring.


Sosok bertopi yang disebut calon ibu mertua oleh Eira itu, tak lain adalah Sinta ibu dari Gavin.


"Kamu beneran Eira? Saya tak menyangka jika kamu sendiri yang membawa saya pergi dari sana." ucap Sinta dengan diiringan helaan nafas lega.


"Tentu saja saya Eira.. Masa mama gak inget kalo Eira udah bertunangan dengan anak mama sendiri." ujar Eira.


Sinta tersenyum kearah Eira, "Tentu saja mama ingat sayang... Gadis secantik kamu masa dilupain sih.." jawab Sinta.


Eira tersenyum senang, sekelebat kemudian ia merubah rautnya menjadi serius. "Ma... Eira tau jika mama tengah melancarkan aksi balas dendam mama terhadap Aurell." ucap Eira tiba-tiba.


Sinta kembali terkejut mendengar penuturan Eira itu. "Bagaimana kamu bisa tau itu?" tanya Sinta tak menyangkal.


Eira tersenyum miring. "Aku melihat mama yang saat itu menusuk Aurell diam-diam.." jawab Eira.


"Eira.."


"Mama tak usah khawatir, Eira tak akan membocorkan aksi mama. Eira hanya ingin kita bekerja sama." ucapnya dengan penuh arti.


Sinta mengerutkan keningnya. "Kerja sama? Kerja sama apa itu Eira?" tanya Sinta bingung.


Eira kembali tersenyum sinis. "Tentu saja, kerja sama untuk menghancurkan hidup Aurell.." tekanya diiringi tawanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2