Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Rasya


__ADS_3

Setelah ketiga sahabatnya pamit untuk pulang dan juga papanya yang harus kekantor karena urusan mendesak, Aurell memutuskan untuk berjalan-jalan ditaman rumah sakit itu.


Ditaman itu lumayan cukup besar, banyak para pasien lain yang juga tengah berjalan disana. Aurell berjalan pelan menyusuri jalanan bebatuan namun sangat rapi, ditaman itu banyak pohon-pohon kecil lebat dan juga banyak macam-macam bunga bermekaran, membuat taman itu nyaman ketika dilihat.


Aurell memberhentikan langkahnya tepat disalah satu kursi taman disana, Aurell tersenyum kecil melihat kursi itu, sangat imut, karena ditengah-tengah kursi itu terdapat bentuk love dengan dihiasi bebek-bebek disekitarnya. Aurell memutuskan untuk duduk dikursi itu dan mulai memejamkan matanya, untuk merasakan sensasi angin sepoy yang menerpanya.


Sekelebat ingatan membuat matanya yang terpejam itu kembali terbuka, ia menghela nafas dan memegangi dadanya yang terasa berdetak kencang.


"Kenapa rasanya ada yang hilang dan hampa?" gumamnya, bertanya pada diri sendiri.


Aurell kembali mendesah, "Kenapa pria itu tak pernah muncul sama sekali? Bahkan menampakkan batang hidungnya pun tak pernah?!" gerutu Aurell yang merasa kesal sendiri.


"Sialan pria itu membuatku kepikiran." umpatnya, yang lagi-lagi merasa kesal.


Saat Aurell memejamkan matanya sejenak, tiba-tiba baju yang ia kenakan itu terasa ditarik namun tak terlalu kencang.


Aurell membuka matanya untuk melihat, siapa gerangan yang menarik bajunya itu.


Ia menengok kekiri namun tak ada orang disampingnya, kemudian ia melihat kesamping kanan namun tak ada juga orang disana. Aurell meraup wajahnya seketika. Namun, baru saja ia memejamkan matanya kembali, lagi-lagi bajunya ditarik, dan membuat ia mengeram kemudian tengkuknya tiba-tiba memperlihatkan urat ototnya. Pertanda, jika kekesalanya mulai memuncak.


Aurell berdiri dari duduknya. "Siapa yang menganguku sialan!" geramnya dan mengalihkan pandanganya pada bangku yang semula ia duduki itu.


"Is, is, is... Kakak kok malah-malah telus sih?"


Aurell tersentak, ia menengok kebawa. Dan benar saja, ada seorang bocah laki-laki kecil dibawahnya dan tengah memeluk kakinya itu.


"Kakak jangan malah-malah telus dong... Nanti cepat tua loh.." ucap bocah itu. Sambil mengelengkan kepalanya, wajah gembulnya itu ikut bergoyang ketika ia mengerakan kepalanya.


"Hei, dik! Kenapa kau disitu?" tanya Aurell merasa bingung, pasalnya kakinya tak bisa digerakkan, karena bocah laki-laki itu memeluk kalinya dengan sangat erat.


"Emang keyapa? Ini kan tempat umum." jawab bocah itu, yang ternyata masi cadel atau masih belum sempurna ketika mengucapkan sebuah kata-kata.


Aurell menepuk keningnya pelan, kemudian ia menghela nafas sejenak.

__ADS_1


Ia pun yang semula berdiri, sekarang ia berjongkok untuk menyamakan tinggi bocah itu, agar lebih mempermudah ketika ia berbicara.


"Maksud kakak... Dimana orangtuamu? Kenapa kamu disini sendirian?" tanya Aurell lagi.


Bocah itu mengeleng-geleng. "No! No, no, no... Rasya gak kesini sendilian ya! Rasya disini sama momy dan dady." jelas bocah itu yang bernama Rasya.


Aurell menganguk paham, "Jadi namamu Rasya?"


Bocah laki-laki ikut menganguk, dan lagi-lagi membuat pipi gembulnya kembali bergerak.


Ingin rasanya Aurell mencubitnya, namun ia mencoba untuk menahan diri. Ia sadar diri karena ia hanya orang asing bagi anak itu, dan ia tak mau membuat bocah itu menangis karena dirinya.


"Trus, dimana momy dan dadymu?" tanyanya lagi.


Pertanyaan Aurell itu seketika membuat raut wajah bocah itu menjadi muram dan mengerucutkan bibirnya.


"Rasya gak tau dimanya meleka..." ucap bocah itu semakin membuat wajahnya muram.


"Emang mereka gak tau kalau Rasya pergi?" tanya Aurell dengan suara dilembutkan.


"Mereka tau... Kalena Rasya tadi kabul dari meleka..."


"Hah?" Aurell kembali terkejut.


"Kok kabur?"


Bocah itu semakin mengerucutkan bibirnya, dan menyilangkan kedua tangannya didada. "Rasya ngambek sama meleka... Meleka Rasya ajak untuk beli esklim, tapi meleka malah bilang nanti-nanti. Ya Rasya kabur aja, Rasya ngambek sama meleka."


Aurell sedikit menganga mendengar penjelasan bocah kecil itu, ia mencerna ucapan-ucapan itu untuk masuk kedalam kepalanya.


"Kabur, karena gak mau diajak beli eskrim?" tanya Aurell yang dinganguki oleh bocah itu.


Perut Aurell tiba-tiba terasa tergelitik, sedetik kemudian ia tertawa lepas. "Hahahahaha.... Yaampunnn.... Ada-ada aja...." ucapnya dengan diselingi tawa lepasnya itu.

__ADS_1


"Ish... Kakak kok malah ketawa sih... Rasya sebel deh.." gerutu bocah itu.


Aurell membungkam mulutnya, bisa gawat jika ia tertawa berkepanjangan dan membuat bocah itu kabur darinya, karena ngambek.


"Ehem... Maaf ya... Kakak gak sengaja." ucap Aurell.


"Ketawa besal gitu kok dibilangi gak sengaja." lagi-lagi bocah itu mengerutu.


Gemas yang dirasakan oleh Aurell saat ini, tangannya kemudian terangkat dan memegang kedua bahu kecil milik bocah laki-laki itu.


"Yaudah... Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kamu ikut kakak buat beli eskrim untuk kamu? Mau?" ujarnya bertanya pada bocah itu.


Mata bocah itu tiba-tiba berbinar. "Beneran? Wah.... Emang gak salah Rasya lari kesini buat minta kakak beliin esklim." ucap bocah itu, kemudian ia membekap mulutnya seolah-seolah menyadari ucapannya itu.


Aurell menautkan alisnya. "Oh..... Jadi kamu tadi narik-narik baju kakak karena mau minta dibeliin eskrim? Hemm?" tanya Aurell mulai menggoda bocah itu.


Bocah itu seolah-olah mencari alasan dengan matanya yang terus melirik kesana-kemari. Kemudian bocah itu menyengir.


"Hehehe... Iya..."


Aurell mengeleng sambil tertawa. "Hemm... Ngaku juga akhirnya... Yaudah kalau gitu, yum kita beli eskrim sekarang." ajak Aurell yang langsung mengandeng tangan bocah itu.


Bocah itu kembali menganguk antusias. "Yokk!" teriaknya dengan bersemangat.


...----------------...


Disisi lain, seorang pria berbadan tegap nan tampan itu, kini tengah mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tergesa-gesa karena kakak iparnya menelepon dirinya jika keponakanya hilang dirumah sakit, dan kakaknya meminta padanya untuk membantu mencari keponakannya yang hilang tiba-tiba itu.


"Yaampun.... Bocah kecil itu sangat usil, aku tau kalau diusianya sekarang sangat aktif-akitnya. Tapi kenapa orangtuanya sendiri bisa kehilangan anaknya itu? Padahal mereka pasti bersamanya kan? Yaampun..." gumamnya mengelengkan kepalanya, ia kemudian tertawa katika membayangkan jika orangtua keponakannya itu atau kakaknya sendiri tengah kebingungan mencari anaknya yang masih berumur empat tahun itu.


Ia kembali mengeleng."Yaampun boy... Kau benar-benar bocah yang sangat lincah." ucapnya sambil tertawa.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2