
Saat ditaman bermain, Aurell tak henti-hentinya mengajak Sagarr bermain dari satu tempat keempat lain. Bahkan mereka berdua sampai berkeliling taman bermain, yang sangat luas dan besar itu. Sagarr sendiri sudah merasa kualahan sejak tadi, dirinya yang baru sempat ingin mendudukan bokongnya dialah satu kursi taman disana tak jadi, karena Aurell sudah lebih dulu menarik tangannya dan malah mengajak ya bermain prosotan yang pada saat itu banyak anak kecil yang bermain disana.
Sudah dua puluh tempat banyaknya mereka mencoba semua permainan disana, niat Sagarr yang tadinya ingin mengajak Aurell bermain dan sekaligus bermesraan, malah jadi bomerang padanya yang seketika dibuat pusing oleh tingkah aktif dari Aurell, yang seperti anak kecil baru saja keluar dari rumahnya.
Saat mereka berdua bermain prosotan, dirinya seperti pasrah saja ketika semua anak kecil mengerubuni dirinya. Tepat ketika ia turun dari prosotan dan jatuh ditengah-tengah tempat bermain, yang kala itu juga penuh dengan anak-anak kecil. Tak lupa bola-bola kecil berwarna-warni menghiasi tempat itu membuat suasana semakin berwarna, dan penuh keceriaan.
"Hahh..." helaan nafas keluar dari mulut Sagarr, raut menjadi datar tak bersemangat ketika para bocah disekelilingnya mengatainya dengan sebutan 'Om badut', semakin jengkelah hati Sagarr.
"Hahaha.... Om badut mukanya nyeremin, hahaha...."
Begitulah suara bocah-bocah itu terdengar.
Sagarr seketika mengeram tertahan, lalu pandangannya ia alihkan pada wanita yang membuat dirinya berubah menjadi anak kecil kembali.
Ia melihat Aurell yang kala itu tengah bermain bola-bola kecil bersama anak-anak perempuan disana, dirinya sampai tertegun ketika baru melihat wajah bahagia nan sangat cerah menghiasi wajah yang sangat cantik itu. Serta tawa lebar dan lepas membuat wanita itu mengeluarkan semua pesonanya.
Seulas senyum juga terbir dibibir Sagarr, dirinya merasa senang ketika melihat Aurell jauh lebih senang dari dugaanya.
"Yah... Tidak apa-apa lah, kalau tidak jadi bermesraan. Yang penting melihat wajahnya yang bahagia seperti itu sudah membuatku puas." gumam Sagarr, tersenyum kembali melihat Aurell.
Ketika Sagarr tengah fokus mengamati Aurell, tiba-tiba kepalanya terasa ada yang melempar sesuatu.
Sagarr pun, mau tak mau mengalihkan pandangannya menengok kebelakang. Dan benar saja, dibelakangnya sudah banyak bocah kecil yang tengah mengejeknya dengan senyuman meremeh disertai gigi ompong mereka.
__ADS_1
Salah satu diantara bocah disana, tiba-tiba menjulurkan lidahnya padanya.
"Wlee... Om badut! Ayo kejar kami jika bisa." tentang bocah itu yang langsung diikuti bocah-bocah lainnya.
Sagarr merasa kesal seketika, ketika harga dirinya langsung jatuh didepan anak-anak kecil ingusan yang tengah meremehkannya itu.
Mata Sagarr kemudian melirik bola kecil disampingnya, senyum seriga terbit dibibir tipisnya. Ia pun langsung mengambil bola itu dikedua tangannya, dan mulai bangkit dari duduknya itu. "Baiklah bocah-bocah kecil.... Kalian sudah berani menantangku, maka aku tak akan pernah melepaskan kalian jika kalian terkena seranganku ini..."
Sagarr membuat wajahnya menjadi sangar, dan hal itu membuat para bocah langsung memeki kesenangan dan mulai berlari nerhamburan kemana-mana.
Dengan tawa jahatnya, Sagarr mulai mengejar bocah-bocah itu. Bahkan ia tak segan-segan melempar bola pada bocah yang bahkan jauh lebih pendek dan kecil darinya.
Kebetulan para ibu-ibu disana sedang diluar area tempat bermain itu dan sedang menonton Sagarr dari balik pagar pembatas, mereka sampai dibuat mengeleng ketika melihat pria dewasa seperti Sagarr bisa berubah menjadi anak kecil, yang bahkan lebih kekanakan dari bocah-bocah kecil disekelilingnya.
"Ya begitulah anak-anak jaman sekarang, bund..."
Begitulah para ibu-ibu yang tengah merumpi membicarakan Sagarr.
Aurell yang memang mendengar ucapan itu, seketika menghela nafasnya panjang. Dirinya menatap Sagarr dengan pandangan datarnya, entah kenapa ia merasa malu jika harus mengakui, lelaki dewasa yang tengah bermain itu adalah calon suaminya sendiri. Aurell pun langsung menepuk jidatnya, kemudian mengelengkan kepalanya merasa frustrasi.
...----------------...
Setelah selesai bermain, mereka berdua saat ini tengah berjalan beriringan tak lupa dengan es kopi yang berada ditangan mereka. Dan menikmatinya dengan rasa segar yang menyeruak pada diri mereka.
__ADS_1
"Hahhh... Kencan hari ini sangat menyenangkan ya..." seru Sagarr dengan wajah yang penuh dengan binaran.
Aurell mengalihkan pandangannya menatap Sagarr yang lebih tinggi darinya itu, dan mau tak mau ia harus mendongakan kepalanya ketika ingin bertatapan dengan Sagarr.
Mata Aurell memicing."Kau mengatakan itu karena puas mengerjai anak kecil kan?" sarkas Aurell yang membuat Sagarr langsung terkekeh.
"Mereka kan yang menantangku. Jadi... Aku harus terima dong... Apa salahnya?" jawab Sagarr dengan wajah santainya.
Aurell seketika memijit pelipisnya dan mengelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa? Pria yang akan menjadi suamikan, bersikap seperti anak kecil?" gumam Aurell merasa frustrasi.
Sagarr membulatkan matanya, "Wah... Kamu sudah mengangapku sebagai suamimu ya, nona?" Sagarr langsung merangkul pundak Aurell dan mengerlingkan sebelah matanya, membuat Aurell langsung bergidik ngeri.
"Telingamu sepertinya sedang bermasalah." ketusnya.
Sagarr terkekeh sejenak, "Eyy... Jangan menyangkalnya... Aku tau, jika kamu, juga sudah mulai ada rasa padaku..." Sagarr terus menggoda Aurell, membuat wajah wanita kembali memerah.
"Tuh kan, lagi-lagi wajahmu memerah..." Sagarr mentoel-toel pipi mulus itu sangking gemasnya.
Aurell menepis tangan Sagarr, kemudian ia sedikit mendorong tubuh Sagarr agar tak menempel padanya.
"Jangan terus mengodaku.. Dasar pria aneh." setelah mengatakan itu, Aurell berjalan mendahului Sagarr dan meninggalkannya disana.
Sagarr tertawa kencang ketika melihat tingkah malu-malu dari Aurell, "Hei! Jangan tinggalkan aku nona.." teriak Sagarr langsung mengejar Aurell dengan berlari.
__ADS_1
Bersambung.