
Setelah terjadinya kekacauan dikoridor kampus, antara dirinya dengan Eira. Kini Aurell tengah merenung disalah satu bangku taman kampus itu. Aurell terus menghela nafas pelan akibat kepalanya terlalu pusing menghadapi hari-harinya itu, yang sepertinya tiada akan masalah.
bagi dirinya itu.
Ia juga merasa pusing, akan ayahnya yang tiba-tiba datang tanpa sepengetahuannya itu. Hal itu menambah beban pada pikiran Aurell.
Tiba-tiba saja sebuah tangan melintas dan berhenti tepat didepan wajahnya. Tangan itu juga membawa satu buah es krim coklat membuat Aurell mengerutkan dahinya bingung.
"Es krim buat Aurell, biar kepalanya makin seger." ucap bariton itu membuat Aurell mendongakan kepalanya, dan terlihat lah Sagarr yang tengah tersenyum padannya.
Sagarr berjalan memutar dan duduk dibangku, tepat disebelah Aurell.
"Nih... Sebelum meleleh." kata Sagarr sambil memberikan es krim itu ketangan Aurell.
Aurell hanya diam menerima es krim itu.
"Kau yang melakukan semua itu?" ucap Aurell bertanya setelah terjadinya keheningan beberapa detik.
"Tentang masalah tadi?" tanya Sagarr.
"Hemm." dehem Aurell.
Sagarr tersenyum. "Apa sih yang enggak buat wanitaku..." ucapnya percaya diri.
Aurell mendengus mendengarnya. "Sepertinya kau terlalu banyak masuk kedalam masalahku, saat aku tengah memberantas keluarga Adhitama. Kau juga tengah ada disana." ujar Aurell yang masih mengingat hal itu.
Sagarr terkekeh pelan, "Mungkin kita sudah ditakdirkan untuk bersama, aku yang dulu masih kecil dulu, jatuh cinta pada mu, saat ini pun perasaanku tak pernah pudar Aurell..." ucap Sagarr sambil menatap dalam kedua bola mata Aurell.
Aurell pun menatap kedua mata Sagarr dalam diam, ia melihat tak ada kebohongan didalam mata itu.
"Apa kamu ingat? Dulu aku juga pernah memberimu es krim coklat, saat dirimu tengah bersedih." ucap Sagarr mulai membicarakan tentang masalalu dirinya bersama Aurell.
__ADS_1
Aurell menampakkan senyumnya. Ia memang masih mengingat betul tentang masalalu itu, ia yang waktu itu berumur lima tahun tengah menangis, karena mamanya telat menjemput dirinya saat ia masih disekolah. Hari itu keadaan sudah sepi dan hanya dirinya yang masih disana, berjongkok sambil menekuk kedua lututnya dan menengelamkan kepalanya dikedua lututnya.
Namun kejadian itu, membuat dirinya dipertemukan dengan Sagarr yang pada saat itu memberikannya sebuah es krim coklat untuk meredakan tangisannya itu. Dan ya... Tangisnya berhenti saat menerima coklat itu, dan kedua bocah itu menjadi akrab hanya karena sebuah es krim. Disitulah pertemuan pertama mereka, yang mungkin sangat berkesan bagi keduanya, hingga membuat seorang Sagarr nekat mencari kebaraan Aurell dimana cinta pertamanya itu berada, sampai ia menyuruh asistennya untuk mencari identitas Aurell. Padahal bisa dikatakan mereka hanya bertemu dengan hitungan jari saja, setelah itu mereka tak pernah bertemu lagi akibat Aurell yang menghilang begitu saja. Dan membuat Sagarr kecil, harus bolak-balik kesekolah Aurell hanya untuk menemui cintanya yang bahkan tak tahu namanya itu.
Aurell dan Sagarr yang mengingat hal itu, tanpa sadar keduanya tersenyum berbarengan.
Sagarr yang mengingat jika dirinya sangat keukeh ingin bertemu dengan Aurell padahal dirinya tak tahu siapa nama gadis kecil itu. Dan Aurell yang mengingat betapa konyolnya dirinya yang masi kecil, bercanda gurau bersama Sagarr dan menceritakan kisah hidupnya dengan wajah polosnya dulu.
"Kamu mengingatnya?" tanya Sagarr lagi.
Aurell menganguk, "Hemm."
"Pasti kamu tak akan percaya... Jika diriku waktu itu datang kesekolahmu, hanya untuk melihat wajah polosmu dulu." ujar Sagarr, membuat Aurell sedikit tergelak akibat mendengar kata polos itu. Dia memang polos sewaktu dulu karena dia masih sangat kecil, namun kepolosannya yang dulu tak begitu melekat pada dirinya yang sekarang.
"Aku ingin bertanya satu hal padamu Aurell.." ucap Sagarr mulai menggeser dirinya untuk mendekat pada Aurell.
"Apa?" tanya Aurell.
"Apa dirimu yang dulu juga menyukai ku?" tanya Sagarr dengan wajah yang berharap.
"Hemmm.." hanya terdengar gumaman yang keluar dari mulut Aurell, membuat Sagarr yang menunggu jawaban itu makin penasaran.
"Sepertinya tidak!" jawab Aurell seketika membuat Sagarr lemas.
"Sedikit pun tidak?" tanya Sagarr lagi yang dijawab gelengan kepala oleh Aurell, "Segini? Masa tidak ada? Secuil pun?" lagi, sambil menunjukan tangannya berbentuk o kecil. Namun jawaban Aurell membuatnya tambah lemas.
Aurell sudah tak bisa menahan tawanya, ia sungguh kesenangan melihat wajah cemberut dari seorang Sagarr itu.
"Hahahaha...." akhirnya tawa Aurell menyembur begitu saja, dan hal itu lagi-lagi Sagarr lah yang membuat dirinya tertawa lebar seperti itu.
Sagarr yang mendengar tawa Aurell itu, langsung melihat Aurell. "Kenapa malah tertawa?" tanya Sagarr.
__ADS_1
"Wajah bodohmu itu sangat jelek, hahahaha..." begitulah yang dianggap Aurell, dimatanya Sagarr begitu bodoh baginya tapi mampu membuatnya tertawa seperti itu.
"Hah?" beo Sagarr merasa terperangah mendengar jawaban dari Aurell itu.
"Yaampun... Aurell, kamu tega sekali menghinaku dengan sebutan bodoh! Padahal aku ini sangat tampan loh, bisa-bisanya kamu bicara begitu." kata Sagarr yang malah melenceng membanggakan dirinya yang tampan itu.
"Jika kamu masih saja tertawa, maka ku pastikan besok kita menikah!" tekan Sagarr yang langsung membuat tawa Aurell berhenti.
"Kenapa malah membahas itu?"
"Ya abisnya kamu meremehkan ku terus...." ucap Sagarr sambil mempoutkan bibirnya bak anak kecil yang sedang merajuk.
"Dasar pria aneh!" ujar Aurell membuat Sagarr melotot kearahnya.
Disisi lain, Gustin, Erlan dan juga Doni tengah mengamati interaksi kedua insan itu.
Sebenarnya mereka bertiga ingin menghampiri Aurell, namun mereka urungkan saat melihat Aurell untuk pertama kali tertawa lepas seperti itu. Sejak insiden mama Aurell meninggal, Aurell tak pernah tertawa sekalipun atau menampakkan senyumnya pun tak pernah.
Dan hari ini, mereka baru melihat senyuman itu kembali. Dan semua itu tak luput dari pandangan mereka.
"Itu si Aurell kan?" tanya Gustin ambigu.
Erlan mencubit lengan Gustin, membuat sang empun langsung meringis kesakitan.
"Eh, buset. Ngapain lo cubit gue? Nyari mati lo?" kata Gustin ngegas.
"Ya pertanyaan lo sih yang aneh... Malah tanya itu Aurell atau bukan, ya jelas Aurell lah... Gimana sih." sewot Erlan.
"Ya gue kan tanya, itu si Aurell beda sama yang kemaren-kemaren. Kemaren tuh judes sekarang malah ceria." ucap Gustin dengan perasaan kesalanya terhadap Erlan. Sedangkan si Erlan hanya cengegesan tak jelas.
Beda halnya dengan Doni, Doni hanya menampakkan raut datangnya. Ada tatapan yang berbeda saat Doni tengah mengamati interaksi Sagarr dan Aurell itu. Entah apa itu, hanya Doni lah yang tau.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa untuk selalu dukung author ya.. Dengan cara Vote, like atau komen. Biar author ini tambah semangat ngetiknya🐭 dukungan kalian itu tentu sangat ngaruh loh sama semangat author ini 🐹