
"Gavin.... Kamu dengerin aku gak sih..." ucap Eira sambil mengoyangkan lengan Gavin, namun Gavin tak kunjung menatapnya.
Eira yang cemberut itu, penasaran dengan arah tatapan Gavin yang tertuju itu. Iapun mengikuti arah pandangan Gavin, seketika Eira mengerutkan alisnya kala ia melihat sosok Aurell bersama tiga pria yang asing dimatanya itu.
"Aurell?" gumam Eira sambil mengangkat satu alisnya. Eira kembali menatap Gavin yang ada disampingnya, tiba-tiba saja senyum semirknya terpancar dibibirnya itu.
"Gavin, itu Aurell kan? Kenapa kita gak gabung aja sama Aurell? Kan Aurell juga teman kita, yuk kita gabung saja sama Aurell" ajak Eira sambil menarik pelan lengan Gavin.
Gavin tersadar. "Apa? Tapi Eira... Mengapa kita tak cari Cafe lain aja, Aurell mungkin saja tak ingin dinganggu" ujar Gavin yang masih ragu berhadapan dengan Aurell.
"Gak mau Gavin.... Aku maunya disini" rengek Eira yang masih menarik Gavin kearah meja Aurell.
"Tapi kan Eira...." ucap Gavin yang tak sadar bahwa ia sudah sampai tepat didepan Aurell berada.
"Hai! Semua..." sapa Eira, Aurell yang tak tau kedatangan Eira itu menengok kearahnya.
Deg... Aurell sedikit terkejut kala melihat sosok Gavin yang berdiri dihadapannya itu, hatinya sedikit nyeri kala melihat lengan Gavin yang digandeng oleh Eira itu.
Aurell merubah wajahnya dengan ekspresi datar, menatap kearah depan. Ia tak mau menatap Gavin yang membuat hatinya terasa lemah.
"Kalian? Bukannya pasangan yang baru bertunangan kemarin malam ya?" tanya Jek.
Eira langsung menatap kearah Jek. "Wah... Kita bertemu lagi disini ya, aku tak menyangka jika anda masih mengingat kami tuan" ucap Eira tersenyum senang, sambil memeluk lengan Gavin.
"Hohoho, tentu saja saya mengigatnya, apalagi dengan wajah cantik milik nona! Tentu saja saya akan susah melupakannya" ucap Jek sambil tersenyum manis menatap Eira.
Eira yang mendapat pujian itu, tersenyum malu-malu. "Ah.. Tuan bisa aja, tuan jangan membuat saya malu, takutnya tunangan saya nanti cemburu" kata Eira yang masih memeluk manja lengan Gavin.
"Hemm, saya hampir lupa jika nona sudah bertunangan, jika belum! Maka saya akan mengikat nona kedalam pelukan saya" kata Jek mengerlingkan matanya kearah Eira. Eira terus dibuat salting oleh Jek, sepertinya mereka tak sadar bahwa mereka tak sendiri disana.
"Tuan, jangan terus mengodaku" ucap Eira sambil menutup wajahnya, malu-malu.
"Hahaha nona sangat lucu sekali"
Gavin menghela, ia benar-benar merasa jengah berada disana, apalagi melihat Aurell yang acuh padanya.
"Ngomong-ngomong, apakah kami mengangu waktu kalian jika kami berada disini?" tanya Eira dengan tampang polosnya.
Aurell yang mendengar itu tersenyum semirk. 'Jika merasa, mengapa tak langsung pergi saja, dasar tikus pengangu' batin Aurell dalam hati.
__ADS_1
Jek melirik kearah Aurell, ia lalu tersenyum aneh. "Oh! Tentu saja tidak, jika kalian ingin, kalian bisa duduk bersama kami" ucap Jek mempersilahkan. Sedangkan Aurell hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan Jek itu, ia tau jika Jek sengaja melakukan itu.
Eira tersenyum sumringah. "Benarkah? Terimakasih" ucap Eira senang.
"Eira... Kita pergi saja disini, aku merasa gak enak mengganggu mereka" kata Gavin, sambil memegang lengan Eira.
"Engak Gavin... Orang mereka aja merasa gak keberatan, yakan tuan?" kata Eira menatap Jek.
"Tentu saja" Jawa Jek tersenyum.
Gavin menghela nafas pasrah, ia tak tau harus berbicara apalagi dengan Eira yang sangat keras kepala itu.
"Kalian belum memesan makanan?" tanya Eira.
"Belum, kita baru saja mau pesan" jawab Jek.
"Oke kalo begitu, aku akan panggilkan pelayan" ucap Eira.
"Pelayan..." teriak Eira sambil melambaikan tangannya memanggil pelayan Cafe itu.
Pelayan itu menghampiri Eira. "Ya, nona? Anda ingin pesan?" tanya pelayan itu dengan sopan.
"Ya, saya ingin pesan..."
...----------------...
Mereka menikmati hidangan yang mereka pesan.
Eira dengan sengaja mengelap bibir Gavin, yang terkena saus daging dengan mengunakan tangannya.
"Yaampun... Gavin, kamu kok kalo makan selalu belepotan sih" kata Eira sengaja mengunakan nada manja dihadapan Aurell.
Gavin merasa cangung oleh kelakuan Eira, Gavin menyingkirkan tangan Eira yang masih mengelap bibirnya itu.
"Aku bisa sendiri Eira..." kata Gavin mengambil tisyu dan mengelap bibirnya.
"Yaampun, kalian ini adalah pasangan yang romantis ya? Aku sangat iri melihatnya" ucap Jek menggoda.
"Ah, tuan bisa aja" jawab Eira dengan malu-malu.
__ADS_1
Sejak tadi Gavin terus saja mencuri pandangan pada Aurell, ia masih saja tak berani menyapa Aurell. Ia merasa dirinya bukanlah ia yang dulu, yang dengan mudahnya menyapa dan mengajak ngobrol Aurell dengan sesuka hatinya, namun sekarang tidak! Ia seperti orang asing dihadapan Aurell yang sudah lama ia kenal itu.
Aurell bangkit dari duduknya.
"Mau kemana Aurell?" tanya Jek.
"Toilet" jawab singkat Aurell sambil berlalu meninggalkan meja itu.
Eira juga ikut bangkit dari duduknya. "Semuanya aku permisi ketoilet dulu ya, aku ingin mencuci tangan dulu, rasanya kayak ada yang lengket" ucap Eira.
"Ya, silahkan" jawab Jek tersenyum.
Eira lalu berjalan menuju toilet, sesampainya ditoilet, ia melihat Aurell yang tengah mencuci tangannya disalah satu wastafel disana.
Eira mengedarkan pandangannya, memastikan jika tidak ada orang disana, ia dengan sengaja mengunci pintu toilet itu dari dalam. Setelah selesai, Eira berjalan menuju kearah Aurell berada.
"Hei! Cewek norak" ucap Eira pada Aurell.
Aurell tak langsung menengok, ia dengan santai mengelap tangannya yang basah itu.
"Dasar, wanita tak tahu diri! Lo masi aja ya? Godain Gavin yang bahkan udah jadi milik gue" ucap sinis Eira sambil melipat tangannya, dengan rasa angkuhnya.
Aurell memejamkan matanya, lalu kembali membuka mata dengan ekspresi datarnya.
Eira merasa kesal, sebab! Aurell terus mengabaikannya. Eira mengambil botol sabun yang ada disalah satu wastafel itu, dengan tak ragunya ia langsung melempar botol sabun itu pada Aurell.
Botol sabun itu tak mengenai Aurell, melainkan Aurell dengan sigapnya menangkap botol itu. Ia tanpa melihat kearah Eira, langsung melempar balik dan tepat sasaran mengenai wajah Eira yang membuatnya langsung meringis kesakitan.
"Aww..." ringis Eira memegangi wajahnya, karena memang! Leparan Aurell itu tak main-main, sehingga membuat hidung Eira mengeluarkan darah.
Aurell masih berada diposisinya, ia masih menatap kearah cermin dengan raut dinginnya itu.
Eira gemetar, ia melihat jika ada darah ditangannya. "Darah..." gumam Eira.
Eira menatap Aurell. "Dasar, wanita ******! Berani-beraninya kau membuat wajahku seperti ini!"
"Aku akan membalasnya" kata Eira lalu beranjak pergi dari toilet itu.
Sedangkan Aurell masih belum beranjak dari sana. Sepertinya ia tak merasa bersalah sama sekali, akan perbuatannya itu pada Eira.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa Komen...... Biar author semangat up....