
++++++++++
"Hei! Hei, jangan seperti ini. Apa yang kau coba lakukan!" teriak Joy sampai mengemas diseluruh ruangan, ia tengah mencoba melepaskan diri dari Doni yang tengah menindihnya dengan sangat kuat, membuatnya susah untuk melepaskan diri.
Doni seolah tak memperdulikan teriakan itu, ia terus melancarkan aksinya dengan terus mengecupi leher jenjang nan halus milik Joy, hingga membuat leher putih itu membela berwarna merah akibat ulahnya.
"Sialan pria ini! Tenaganya kuat sekali, aku sampai tak bisa melepaskan diri darinya." gerutunya terus memukul-mukul dada bidang milik Doni.
"Agghh.."
Joy tiba-tiba mengeram, saat Doni menggigit lehernya, membuat rasa aneh menjalar pada tubuh Joy.
"Kenapa kau mengigitku sialan!!" teriak Joy tambah memberontak, dan menendang-nendang pinggang Doni dengan sangat keras.
"Awss... Jangan terus memberontak sayang... Kau membuat pingangku sakit." ringis Doni, namun masih setia mengecupi leher jenjang itu, sambil mengucapkan kata itu tepat ditelinga Joy.
Tubuh Joy merinding seketika, ia kembali melirikan matanya melihat Doni yang tengah fokus pada lehernya. Ia pun menghela nafas panjang, ia dibuat frustrasi, mau terus memberontak tapi semua itu sia-sia saja. Dan hal itu malah makin memperangkap dirinya dalam kungkungan, permainan Doni.
Doni dalam kesadaran tak menentu, merasakan jika tak ada lawan lagi dari wanita yang ia cum**i. Ia pun menggangkat kepalanya dan melihat wanita yang ada dibawahnya.
"Kenapa tak memberontak lagi sayang....?" Doni bersuara lembut dan serak membuat suara itu terdengar seksi ditelinga Joy. Tak lupa tangan lelaki itu mengelus rambut Joy dengan irama yang halus nan menenangkan.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi? Jika aku terus mencoba memberontak, maka kau akan semakin gencar mempermainkanku! Benarkan?" ucapan bertanya pada lelaki yang tengah menatapnya.
Terdengar suara kekehan dari mulut Doni, "Yah.... Ucapanmu itu tak ada salahnya sayang... Aku akan membuatmu merasa nyaman pada malam ini, jadi... Bersiap-siaplah untuk menerima permainanku beby." ucapnya dengan senyum miring terbit dibibir tipisnya.
Joy membalas senyum miring itu dengan kekehan sinis."Baru ku tau, jika pria datar sepertimu bisa bersikap cabul dan mesum seperti ini. Memang pada dasarnya semua laki-laki didunia ini pasti akan memiliki sifat yang sama, bertingkah buas untuk memenuhi hasrat bejatnya." ucapnya dengan nada penuh penekanan.
"Wah! Ucapanmu itu sungguh kasar sekali sayang. Kamu jangan salah, aku melakukan hal bejat itu hanya untuk satu wanita dan bukan banyak wanita. Dan pasti kau baru menyadari sifatku yang sebenarnya, sifatku ini akan aku perlihatkan pada dirimu seorang, sayang.... " lagi-lagi nada bicara itu penuh dengan sensual.
Tiba-tiba, kedua tangan Joy melingkar dengan indahnya dileher Doni. Membuat pria itu sedikit tersentak merasakan hangatnya tangan itu. "Benarkah? Apakah kau nanti berani bertanggung jawab atas ucapanmu itu? Bagaimana jika kau akan merasakan penyesalan, saat kau bangun dari tidurmu nanti?" tanya Joy secara beruntun.
Doni memajukan kepalanya, lalu mengecup dahi Joy agak lama, kemudian terakhir mengecup bibir kecil itu dengan jeda sebentar. "Tenanglah sayang... Semua itu tak akan terjadi," jawab Doni dengan nada penuh keyakinan.
Doni tersenyum semirk. "Akan aku buktikan sekarang juga."
Tanpa basa-basi lagi, Doni langsung menerjang tubuh Joy kembali, namun kali ini berbeda. Ia menerjang tubuh wanita dalam kungkunganya dengan sangat beruntal, dan tentu kali ini Joy tak memberontak lagi. Ia menerima permainan itu dengan senang hati dan mengimbangi cara bermain lelaki yang satu tahun lebih tua darinya itu, dengan sangat baik.
"Uhh..." Joy melenguh, ketika Doni kembali mengigit lehernya. Ia tak tau lagi seperti apa kondisi lehernya saat ini, yang pasti leher itu akan menyerupai macan tutul akan banyak benda bulat-bulat merah dilehernya.
Setelah puas mengecupi leher putih itu, Doni kembali mengarahkan bibirnya pada bibir merah menggoda milik Joy. Ia tak tahan lagi jika hanya melihati bibir itu, ia pun dengan jiwa mengeloranya ******* bibir itu dengan beruntal sehingga terciptahlah suara er*tis dari decapan bibir yang saling beradu itu.
Tak hanya sampai disitu saja, tangan kiri Doni tak tinggal diam, tangan itu dengan lincahnya membuka satu per satu kancing kemeja yang dikenakan oleh Joy. Begitu pula dengan Joy, ia pun juga tak ingin tinggal diam saja, dengan kecepatannya ia berhasil membuka kemeja putih milik Doni, sehingga membuat pria itu bertelan*ng dada.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua berhasil membuka pakaian yang mereka kenakan, sehingga membuat keduanya sama-sama na**d.
"Tunggu tuan!" Joy menghentikan aksi pria itu, "Jangan terlalu kasar, karena aku baru pertama kali melakukan ini." jelasnya membuat Doni berkedip-kedip sejenak.
Doni yang tadi terdiam itu, langsung memunculkan senyumnya. Membuat pria yang berpenampilan acak-acakan itu mengeluarkan ketampananya yang tiada tanding oleh artis papan atas dimanapun.
"Baiklah, sesuai ucapanmu sayang, aku akan hati-hati." ucapnya dengan suara lembut nan menenangkan.
Setelah mendapat jawaban yang meyakinkan, Joy kembali menganggukkan kepalanya. Dan kedua insan itu kembali memulai sebuah permainan yang terjeda sejenak itu.
Doni tersenyum cerah, lalu memeluk wanita yang sudah kelelahan dan terlelap oleh ulahnya itu. Ia kembali melirikan matanya menatap bercak merah yang ada diseprai putih itu.
"Terimakasih Aurell..."
Sepertinya lelaki itu belum menyadari, jika wanita yang tengah ia peluk bukanlah wanita yang ia sebut barusan itu. Bagaimana reaksinya jika wanita itu bukanlah Aurell? Melainkan adalah Joy?
Bersambung.
Nantikanlah kelanjutannya, hem.. Hemm.. Hemm... 🙈
Maaf Author tak bisa bikin yang terlalu panas, nanti kalo panas bisa-bisa kalian kegerahan.
__ADS_1