Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Si Pikun


__ADS_3

Hari ini Aurell tengah mondar-mandir, dari dapur, kelakar dan keluar masuk kedapur lagi.


Gerlan yang kebetulan berada diruang tengah itu dibuat pusing ketika melihat tingkah putrinya itu. Gerlan menyesal kopo panasnya kemudian ia meletakkan cangkir itu dimeja tepat didepannya itu.


Gerlan kemudian menghela nafas panjang, dan melipat korannya yang ia pegang itu. "Kamu kenapa sih Aurell?" tanya Gerlan.


Aurell tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. "Aku dari tadi nyariin hpku, kok gak ketemu ya?" monoloknya, sambil mengarahkan matanya, untuk menelisik semua penjuru ruangan.


Lagi-lagi Gerlan menghela nafas panjang. "Emang kamu naruhnya dimana?"


Aurell masih belum berhenti mencari. "Aku lupa, pah...." jawabnya sambil mengaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Yaampun kamu nih.... Masih muda kok udah pikun." Gerlan mengeleng saja melihat tingkah putrinya itu. "Yasudah, biar coba papa miskol. Siapa tau nanti langsung ketemu." lanjutnya.


"Oke pah." jawab Aurell, langsung. Mungkin karena ia sangat frustrasi atas hilangnya hpnya itu, mau tak mau ia menerima bantuan papanya.


Gerlan mulai membuka ponselnya, dan menekan nomer Aurell. Yang ia beri nama 'Putriku tersayang'. Gerlan tampank mendengar, jika nomor itu tersambung, yang artinya hp Aurell belum mati.


Gerlan kembali melihat putrinya. "Hp kamu tersambung, rell." ujar Gerlan.


Kemudian, tak lama hp Aurell mulai berdering dan mengeluarkan suara nada dering.


Aurell pun tampak bingung ketika merasakan getaran dibagian tubuhnya. "Kenapa suaranya terasa dekat? Tapi dimana?" ucapnya, terus mencari dengan memutar-mutiara tubuhnya.


"Sepertinya hanponemu, ada disakumu." ucap Gerlan, membuat Aurell menghentikan pergerakanya.


Aurell mulai mengecek sakunya, dan benar saja. Jika hanponenya itu berada tepat disakunya, dan bisa-bisanya ia tak menyadari itu?


Gerlan yang melihat itu pun kembali mengelengkan kepalanya."Yaampun.... Sepertinya Putriku memang sudah pikun, bahkan papa yang lebih tua darimu aja tak sepikun dirimu... Banyak-bayaklah membaca buku, agar pikiranmu tak semakin tua..." ucapan itu terdengar meledek, Gerlan pun terkekeh diakhir kalimatnya.


Sedangkan Aurell tersenyum kikuk, dirinya menyadari, jika hari ini ia benar-benar berperilaku bodoh dan tak seperti dirinya sendiri. Seperti orang linglung dan banyak pikiran.


"Kamu kenapa sih, sayang? Apa yang membuatmu seperti itu?" tanya Gerlan.


"Emmm, itu pah..." Aurell tampak ragu untuk berucap.

__ADS_1


"Itu apa?"


"Itu... Aurell diajak kencan..." cicit Aurell, bersuara lirih diakhir kata.


"Sama Sagarr?" tanya Gerlan lagi, dan dijawab angukan oleh Aurell.


Gerlan seketika tertawa terbahak-bahak, ia benar-benar merasa jika tingkah putrinya hari inj sangat lucu. "Yaampun... Kamu itu, hanya karena diajak kencan saja. Kamu sampai bingung seperti itu, bagaimana jika, kalau kamu sudah menikah nanti?"


"Mungkin kamu sudah pusing tujuh keliling." lanjut Gerlan yang masih diselingi tawanya.


Aurell tampak mempautkan bibirnya. "Papah...." gerutunya mecebik kesal.


"Hahahahaha...." tawa Gerlan semakin kencang.


"Papa, kenapa sih ketawa terus?" kesal Aurell.


Gerlan tampak menyeka air matanya yang keluar, saat ia tertawa tanpa hentinya. "Papa tak menyala saja, jika hari ini akan tiba... Disaat papa melihat, putri kecil papa yang dulu kini sudah besar. Dan sudah mengerti tentang perasaan cinta yang tumbuh didalam hatinya kepada lawan jenisnya." tutur Gerlan tampak terharu menatap putri satu-satunya.


Aurell yang mendengar nada bicara, dari papanya itu mulai beranjak dari tempatnya dan mulai menghampiri papanya.


Gerlan pun tampak memeluk putrinya dengan erat. "Putri papa sudah besar ya.... Papa sangat bahagia, sekaligus menyesal tak sejak dulu papa menemuimu, ketika putri papa tengah kesulitan melawan dunia luar..." kembali, Gerlan kembali menitikan air matanya. Dirinya dibuat menangis kala mengingat masalalu.


Aurell tampak tersenyum didalam pelukan itu,"Tak apa papa, Aurell itu kuat seperti papa... Jadi papa tak perlu mengkhawatirkan Aurell lagi..." ucap Aurell dengan rasa tulus.


Gerlan mulai mengelus rambut panjang milik putrinya. "Iya... Papa tau, putri papa ini sangat kuat. Bahkan lebih kuat dari papanya." ucapnya sambil terkekeh pelan.


Pelukan itu terurai, kala Aurell melepaskan pelukanya lebih dulu. Ia kemudian menatap papanya dan mulai menghapus bulir butir, yang mengalir dimata biru milik papanya. Dan mata itulah yang mewarisi dirinya, yang juga memiliki warna mata, biru yang cerah seperti laut.


"Sudah ya? Jangan menangis.... Papa uji sudah tua, seharusnya malu menangis didepan putrinya yang sudah dewasa..." ucap Aurell, mencoba meledek papanya.


Gerlan yang mendengar itu tentu saja dibuat tertawa. "Kamu ini, pinter ngomong ya?"


"Ya kan, turunanya papa..." jawab Aurell, dengan raut wajah yang dibuat seimut mungkin.


Gerlan mengelengkan kepala saja. "Dasar anak nakal, papa terus yang disalahin..."

__ADS_1


Kemudian dua insan, anak dan bapak itu saling tertawa bersama. Hingga membuat rumah yang tadinya sepi, kini terisi dengan candaan dan tawa mereka, sehingga membuat rumah itu kembali berwarna.


Saat mereka stik bercanda, tiba-tiba bel rumah berbunyi membuat mereka berdua, mau tak mau menghentikan tawanya.


"Sepertinya calon suamimu sudah datang.." ucap Gerlan sambil menarik turunkan alisnya, menggoda putrinya.


Aurell yang mendengar itu hanya bisa memutar bola matanya malas, "Jangan meledekku papa..." ucap Aurell dan bangkit dari duduknya untuk melihat siapa yang datang kerumahnya itu. Apakah benar-benar Sagarr atau orang lain.


"Papa tak meledekku ya sayang.... Papa berbicara faktanya!" teriak Gerlan yang membuat Aurell mengelengkan kepalanya.


Kini Aurell sudah berada tepat didepan pintu utama, entah mengapa, ketika ia ingin menyentuh gagang pintu. Rasanya, jantungnya sedari tadi terus berdetak kencang. Aurell pun mulai menepis semua kegugupanya itu dengan menarik nafas panjang, dan menghembuskannya.


Tangan kanannya mulai menari gagang itu dan pintu itu, mulai terbuka lebar.


Seketika matanya melebar, ketika melihat sosok tegap, yang ada dihadapannya.


"Siapa sayang?" tanya Gerlan, mulai penasaran karena Aurell begitu lama membuka pintu.


...----------------...


Mobil hitam itu mulai terparkir dihalaman luas nan mewah itu, pintu mobil itu terbuka dan memberlihat Doni yang baru saja keluar dari mobilnya.


Doni membuka kacamata hitamnya, dan langsung mengarahkan pandangannya menatap pintu utama dari sebuah rumah yang besar nan megah dihadapannya itu.


"Nampaknya, aku sudah lama tak menginjakan kakiku disini. Rumah ini pun masih sama seperti dulu, waktu... Ketika aku masih kecil datang kerumah ini... Bersama Aurell..." gumam Doni, tersenyum.


Ya,ternyata Doni saat ini tengah berada dirumah besar nan mewah. Yang merupakan kediaman Aurell atau rumah milik papanya Aurell.


Saat Doni, mulai melangkahkan kakinya menuju pintu utama, tiba-tiba ia melihat sebuah mobil hitam mengkilap, yang baru saja keluar dari garansi dan mulai menjauh dari pekarangan rumah itu.


Doni tampak mengerutkan alisnya. "Sepertinya aku pernah melihat mobil itu, tapi diamana ya?" monolognya, mulai mengingat-ingat mobil yang familiar dimatanya itu, namun, nampaknya kepalanya itu saat ini susah untuk mengingat sesuatu.


Doni mengedikan kedua bahunya. "Yasudahlah... Jika aku tak mengingatnya." gumam Doni, dan melanjutkan langkahnya kembali, mendekati pintu utama itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2