
Doni mencoba mengerjabkan kedua matanya, ia sangat terganggu dengan sinar matahari yang masuk melalui cela-cela jendela. Ia perlahan membuka kedua matanya, dan mengumpulkan kesadarannya yang masih melayang-layang.
Rasa pegal tiba-tiba menjalar pada tubuhnya, ia ingin segera mengerakan tubuhnya. Namun pikiran aneh muncul seketika ketika ia merasakan kejangalan pada tangan kirinya. "Apa ini?" gumamnya yang masih belum mengarahkan pandangannya kesamping, dimana tangannya yang terasa terhimpit sesuatu.
Tak ingin terlalu lama tenggelam pada pikiran, ia pun segera mengalihkan pandangannya kesamping, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok insan yang tengah terbaring disampingnya sambil menindih lengannya sebagai bantalan.
Ia pun langsung menarik tangannya ketika melihat sosok wanita yang ada disampingnya itu, dengan kasar dan sekali hentakan. "SIAPA KAU?!" teriaknya, tak lupa langsung bangun dari baringnya.
Merasakan tidurnya terusik, wanita yang tak lain adalah Joy itu langsung mengucek kedua matanya, ia langsung mengerjab-gerjabkan matanya mencari keselarasan pada penglihatannya. "Kenapa kau mengangguk sih....? Aku masih mengantuk....." rengeknya sambil menatap Doni dengan tatapan sayu, namun dari tatapan itu memiliki arti kekesalan akibat ulah pria itu.
"Kau?!" Doni terkejut ketika melihat wajah wanita itu. "Kenapa kau ada disini?" tanyanya bingung.
Joy mulai bangkit dari baringnya, dan tanpa ia ketahui jika selimut yang ia kenakan langsung menyibak dan memperlihatkan kedua asetnya yang terpampang tanpa penutup. Membuat Doni langsung melongo.
Doni pun langsung mengalihkan pandangannya ketika melihat tubuh polos Joy, "Hei! Kenapa kau tak memakai baju, sebenarnya apa yang kau lakukan disini?!" teriaknya lagi, namun tak sekencang tadi.
Mendengar itu, Joy pun mengalihkan pandangannya menatap tubuhnya, tak ada ekspresi malu pada mimik wajah wanita itu. Ia malah memperlihatkan wajah datarnya seolah tak perduli akan hal itu.
"Hei tuan! Tak usah munafik ya? Kau bahkan sudah melihat tubuhku secara keseluruhan." tekan Joy dengan nada santai.
__ADS_1
Doni langsung menatap Joy, ia mengerutkan keningnya. "Hah? Apa maksudmu?"
"Kau benar-benar tak ingat tuan?" tanya Joy masih bersikap santai.
"Aku tak tau apa yang kau katakan, jangan berbelit-belit." Doni mulai kesal.
Seketika Joy menghela nafasnya, "Sudah ku duga jika anda akan lupa," gumamnya sambil mengelengkan kepala.
Joy kembali menegaskan tubuhnya dan menatap Doni dengan tatapan tegas. "Baiklah, karena anda meminta saya untuk tak berbelit-belit maka saya akan bicara langsung pada intinya. Semalam kita melakukan hubungan layaknya suami istri pada umumnya." jelas Joy dengan pandangan sinis.
Doni seketika ngeblang, ia terkejut bukan main sampai ia tak tahu harus menjawab ucapan itu dengan kata apa.
"Omong kosong? Jika memang ini semua hanya omong kosong seperti yang kau bilang, lihatlah tubuhku dan tubuhmu sama-sama telanjangkan?"
Doni mengikuti ucapan Joy, ia memperhatikan tubuhnya yang memang tak memakai kain sehelai pun, bahkan ia melihat jika pakaiannya sudah terpapar naas dilantai itu.
"Jika memang kau masih tak percaya, lihat bercak merah dileherku! Banyak sekali tanda darimu tuan!" Joy tampak santai mengucapkan kata itu, ia bahkan seperti tak merasa takut sama sekali. Ia mengatakan itu dengan suara tegasnya, seperti ia yang tengah menyuruh anak buahnya ketika ia diberikan tugas oleh atasannya yang tak lain adalah Sagarr.
Doni tampak menggeleng samar, ia merasa belum percaya dengan semua kenyataan itu. "Tidak! Itu semua tidak mungkin, ini hanya kesalahan. Aku... Aku tak sadarkan diri saat itu, aku sedang mabuk! Itu semua hanya kesalahan...." racau Doni tampak frustrasi.
__ADS_1
Joy mendengus mendengar racauan itu, ia pun memutar bola matanya malas merasa jengah dengan tingkah Doni.
"Terserah apa yang kau katakan itu, tapi ingatlah satu hal! Saat kau sedang menjelajahiku kau memberikan janji, bahwa kau akan bertanggung jawab atas ulah bejatmu itu." Joy mulai bangkit dari duduknya walau ia jelas merasakan jika dibagikan selangkanya merasakan rasa nyeri yang amat perih, namun ia bukanlah wanita lemah. Hanya kesakitan seperti ia dapat ia tahan.
Ia pun mulai memunggut bajunya, dan memakainya dengan kecepatan kilat.
Sebelum ia benar-benar keluar dari kamar itu, ia melirik Doni sebentar. "Ingat kata-kataku ini tuan! Jika anda berani berbuat! Maka anda juga harus berani bertanggung jawab, aku akan terus menagih tanggung jawabmu karena benih yang kau taburkan pasti akan berkembang. Enak aja hanya aku yang susah-susah." setelah mengatakan itu, Joy benar-benar pergi dari kamar itu sambil membanting pintu dengan kerasnya, sehingga menghasilkan debuman keras yang membuat Doni, tengah termenung itu hampir saja terlonjak kaget.
Doni menatap pintu itu dengan perasaan campur aduk, ia lalu menundukkan kepalanya yang tanpa sengaja ia melihat sebuah bercak berwarna merah yang sangat membekas pada sprei itu.
Doni menyentuh bercak itu dengan tangan bergetar, ia sampai berkeringat dingin. "J-jadi, dia baru pertama kali melakukan itu?" gumamnya tak percaya.
Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul begitu saja pada pikirannya, ingatan yang tadinya tak begitu jelas, kini sangat jelas bersarang pada otaknya. Ia saat ini tengah ingat dengan kejadian antara dirinya dengan Joy, yang tengah bercumbu, menyatu, dengan mengeloranya.
Seketika Doni langsung memukul kepalanya, "DASAR PRIA BEJAT!!!" teriaknya mengema.
Bersambung.
Jangan lupa komen gaes, komen kalian membuat Author tambah semangat😉
__ADS_1