Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Pria Asing


__ADS_3

Malam hari, Aurell berada ditempat kosnya, ia tinggal ditempat yang terbilang cukup jauh dari kampusnya itu, tidak ada yang tau dimana Aurell tinggal. Bahkan sahabatnya sendiri pun tak tahu. Itu sebabnya Aurell bersikukuh tidak ingin diantar oleh Sagarr siang tadi, tapi Sagarr tetap mengikutinya, namun Aurell berhasil kabur dari Sagarr saat angkutan umum lewat dan ia dengan teganya meninggalkan Sagarr ditepi jalan.


Tempat tinggalnya itu terbilang tak layak jika orang lain melihatnya, karena tempatnya itu hampir dekat dengan pembuangan limbah disana, orang yang tinggal disana tidak banyak karena tak tahan dengan bau yang disebabkan oleh limbah itu. Namun Aurell sudah terbiasa disana, karena tempat itu praktis dan tak mahal itu sebabnya Aurell lebih memilih tinggal disana.


Saat Aurell tengah minum tiba-tiba saja hpnya bergetar, Aurell berjalan menuju hpnya yang terletak dimeja itu.


Aurell melihat nama yang tertera, ternyata Gavin yang menelponnya. "Halo" ucap Aurell mengangkat telfon itu.


"Aurell ini aku Gavin"


"Ya, ada apa Gavin?" tanya Aurell tanpa embel-embel.


"Aku mau ngomong soal yang ada dikampus tadi, bisakah kita bertemu sebelum acara pertunanganku nanti" ucap Gavin yang terdengar memohon.


"Bicaralah"


"Bisakah kita bertemu, dicafe tempat kita biasa, tidak enak bicara ditelfon, sekalian aku ingin bertemu denganmu sebelum aku bertunangan"


Aurell menghela, ia sangat muak dengan kata 'bertunangan' apalagi Gavin yang mengucapkan itu, orang yang sudah singgah dihatinya sejak duduk dibangku SMA.


"Aku tidak ingin bertemu denganmu aku lelah" ucap Aurell.


"Tapi Aurell-"


Ucapan Gavin terpotong kala Aurell memutuskan telfonnya secara sepihak.


"Hahhhh" lagi-lagi Aurell menghela, hari ini benar-benar membuat tenaganya seperti habis terkuras, Aurell sungguh lelah.


Drt.. Drt.. Hpnya bergetar, lagi-lagi Gavin yang menghubungi Aurell, ternyata Gavin belum juga menyerah ingin bertemu dengan Aurell. Namun Aurell mengabaikanya ia malas berdebat dengan Gavin yang membuat kepalanya pusing.


Hpnya mati namun beberapa detik hpnya kembali bergetar, Aurell kesal dan terpaksa mengangkat telfon itu tanpa melihat nama yang tertera.

__ADS_1


"Jangan menganguku" ucap Aurell kesal.


"Wow! Miss... Kenapa kau berteriak, apakah ada yang membuatmu kesal hari ini miss?"


Aurell mengerutkan keningnya kala mendengar suara yang berbeda dari seberang telfon itu. Ia lalu melihat benda pipihnya itu, terlihat tak ada nama dihpnya itu, namun nomor yang tertera itu bukan nomor dari negara yang ia tempati saat ini melainkan negara orang asing.


"Apa yang membuatmu menghubungi ku?" tanya Aurell.


"Yaampun miss.. Padahal kita sudah lama tak berjumpa, seharusnya kau bertanya kabarku disini, sungguh kau tak pernah berubah miss, namun saya suka itu" ucap suara seorang pria diseberang telfon sambil terkekeh.


"Jangan berbasa-basi, cepat katakan apa yang ingin kau katakan" ucap Aurell tegas.


Pria itu kembali terkekeh. "Haha... Maaf-maaf miss, saya akan mengatakan jika kita bertemu malam ini juga, jam dua belas malam temui saya ditempat biasa kita bertemu, kebetulan pesawatku sudah mendarat sekarang" ucap pria itu.


Aurell melihat jam dinding yang tertempel itu. "Mengapa kau tak mengatakan jika kau ingin kemari"


"Haha... Jika saya memberi tahu, rasanya tak akan menjadi kejutan miss, jadi saya ingin membuat miss kaget karena saya sudah ada disini"


Aurell menghela nafas kasar. "Sudahlah... Kita akan bertemu nanti"


Tanpa menjawab, Aurell langsung menutup telfon itu ia tidak ingin mendengar ocehan dari pria yang ada diseberang telfon itu, karena itu hanya membuat kepalanya pusing.


Aurell bangkit dari duduknya, dan menuju kamarnya yang kecil itu, ia bersiap-siap karena malam ini adalah pertemuan penting yang menyangkut tentang misinya.


...----------------...


Pagi menuju jam delapan lewat lima puluh lima, itu berarti jam istirahat bagi mahasiswa dan mahasiswi yang ada dikampus itu, sudah satu pelajaran berlalu namun Aurell belum juga datang sedari pagi, biasanya ia selalu berangkat pagi dan tak pernah telat, namun kali ini ia malah telat membuat ketiga sahabatnya dan Sagarr kebingungan karena tak dapat kabar dari Aurell itu.


"Aurell ada ngabarin lo gak don?" tanya Gustin pada Doni.


"Gak pernah, Aurell jarang nelfon gue" jawab Doni.

__ADS_1


"Kemana sih tuh Aurell sebenarnya, gak biasanya dia absen kayak gini" grutu Gustin.


"Mungkin Aurell ada urusan penting kali" timpal Erlan.


"Mungkin, bikin penasaran aja dah" ucap Gustin.


Doni melirik Sagarr yang terdiam disebelahnya, saat ini mereka berempat berada dikantin kampus sambil menunggu kedatangan Aurell, tapi yang ditunggu tak datang-datang.


"Sagarr... Kemarin kamu kan yang anter Aurell pulang? Aurell ada bilang sesuatu gak?" tanya Doni.


Sagarr mengeleng. "Engak, kemarin aja aku ditinggal pulang" kata Sagarr.


"Yahhh, jadi lo tau rumahnya Aurell dong?" tanya Gustin.


"Engak, emang kalian gak tau?" tanya Sagarr.


"Gimana mau tau, orang kita aja gak boleh dateng kerumahnya Aurell" ucap Gustin.


"Loh? Kalian kan sahabatnya" ucap Sagarr bingung.


"Entahlah kita diangep sahabat atau engak sama si Aurell" jawab Gustin lesu.


"Hemm" gumam Sagarr menganguku.


Saat mereka tengah berbincang, tiba-tiba saja Eira dan juga Gavin menghampiri mereka.


"Halo guys" sapa Eira namun tak ditanggapi.


Eira kesal karena tak ada tanggapan, namun ia mencoba menetralkannya. "Aku kesini cuman mau berpesan, nanti malam jangan lupa dateng ke acara aku sama Gavin yaa, kalian kan temennya Gavin itu sebabnya kalian harus dateng"


"Iya-iya" jawab Erlan malas.

__ADS_1


Eira tersenyum puas. "Eh mana teman kalian satunya, si Aurell... Biasanya kan kalian selalu bareng-bareng" kata Eira sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Aurell.


Bersambung.


__ADS_2