
°°°°°
Kini Aurell dan juga seorang bocah bernama Rasya itu, tengah berjalan beriringan masuk kearea rumah sakit itu. Dengan Aurell yang terus mengandeng tangan mungil bocah itu, Rasya juga tak merasa risih sekalipun ketika Aurell mengandeng tangannya. Padahal mereka berdua baru saja bertemu, namun entah mengapa keduanya langsung dekat hanya jalan bersama selama satu jam lebih.
Dilihatnya Rasya yang begitu anteng dengan eskrim yang ada ditanganya itu, Aurell terkekeh pelan melihat bocah itu yang dengan lahapnya memakan eskrim sampai mulut mungilnya penuh dengan krim manis itu.
Rasya yang mendengar suara tawa itu mendongakan kepalanya, dan menatap Aurell dengan tatapan bingung.
Rasya menautkan kedua alisnya. "Kenapa kakak, ketawa?" tanyanya.
Aurell masih tertawa sambil, ia lalu menatap bocah itu. "Engak... Kakak cuman keinget sesuatu yang lucu." alibi Aurell.
"Sesuatu yang lucu? Apa itu? Coba celitakan pada Rasya... Rasya sangat kelo sekalang!" ucap Rasya dengan antusiasnya.
Aurell mengerut bingung. "Kelo?" tanyanya, dan bocah itu menangapinya dengan menganguk cepat.
"Ya! Rasya sangat kelo!" ulangnya lagi sambil melompat-lompatkan dirinya.
"Kepo maksudnya?" tanya Aurell membenarkan.
Lagi-lagi bocah itu menganguk. "Ya! Iya, iya. Rasya keplo!" teriak bocah itu sambil mengangkat satu tangannya diudara.
Perut Aurell terasa tergelitik, mulutnya yang tertahan langsung menyembur begitu saja.
"Buhahahaha.... Yaampun kamu lucu banget sih......." tawanya, yang sangking gemasnya. Aurell langsung mencubit kedua pipi gembul itu sampai melar.
"Aww.. Jangan dicubit, satit taukk.." gerutu bocah itu sambil mengerucutkan bibir mungilnya.
Aurell melepaskan tangannya, ia lalu mengelus rambut bocah itu dengan perasaan nyaman dan damai.
"Iya, iya... Maaf ya.."
Bocah itu mengalihkan pandanganya, dan kedua tangannya sudah terlihat didada. Pertanda bocah itu tengah merajuk.
"Cih, Rasya gak mau maapin." ucapnya dengan acuh tak acuhnya.
Tiba-tiba Aurell mengangkat satu alisnya, "Ngambek nih ceritanya?"
"Huh! Rasya ngambek."
Jika dilihat dari samping, bocah itu sungguh sangat lucu sekali. Apalagi pipi gembulnya yang menjadi mengembang ketika bibir mungil itu dimajukan.
Hati Aurell saat ini tengah meronta-ronta, ingin sekali ia mendusel-dusel pipi gembul itu, ingin mencubit dan mengigitnya. Betapa gemasnya dirinya saat ini, namun Aurell terus mengucapkan kata sabar pada dirinya sendiri. Ia tak ingin bocah disampingnya ini tambah merajuk padanya.
"Hemm, kalau gitu... Biar kamu gak marah lagi, kamu mau kakak beliin eskrim lagi?" tanya Aurell berusaha membujuk.
"Gak mau!" tolak bocah itu secara langsung.
__ADS_1
"Loh? Trus maunya apa, hemm?" tanya Aurell lagi.
Bocah kecil itu mengetuk-ngetuk dagunya, seolah-olah ia tengah berfikir. "Hemmmm.... Rasya mau.. Kakak bawa Rasya jalan-jalan keliling rumah sakit ini. Rasya bosan, pengen jalan-jalan. Kakak mau ya? Plissss..." ucap bocah itu dengan mengeluarkan jurus pupi eyesnya.
Aurell menggigit bibir bawahnya, ia sungguh gemas. Ia sudah tak tahan.
"Kakak mau ajak kamu jalan-jalan, tapi dengan satu syarat!"
"Syrata apa tuh?" tanya bocah itu dengan mendekatkan dirinya pada Aurell.
Aurell melirik bocah itu sekilas, kemudian ia menyilangkan kedua tangannya didada.
"Hemm, syaratnya mudah... Kamu hanya perlu izinkan kakak untuk terus mencubit pipi kamu itu!" jelas Aurell dengan gaya angkuhnya.
"Weleh... Itu mah kecil...." ucap bocah itu dengan menjentikan kedua jarinya. "Jangankan mencubit, mencilumi aset pipiku ini pun juga boleh." lanjutnya dengan penuh percaya diri.
Mata Aurell langsung saja berbinar-binar mendapatkan lampu hijau dari bocah kecil itu.
"Wahh... Bener nih? Sini, sini... Kakak mau cubit." ucap Aurell mendekatkan dirinya pada bocah itu. Namun bocah itu dengan cepat menghindar dari Aurell.
"Eiit.. Gak sekalang, bawa Rasya jalan-jalan dulu. Balu Rasya ijinin menyentuh asetku ini." ucapnya tak kalah angkuh. Ia menyilangkan kedua tangan tak lupa mengangkat dagunya, seperti apa yang dilakukan oleh Aurell barusan.
Aurell tersenyum menyerigai. 'Bocah ini cerdik juga... Hemm rasanya aku makin betah kalau begini terus.' batinya dalam hati.
"Oke, kalau begitu. Kesepakatan diterima." ucap Aurell mengulurkan tangannya pada bocah itu.
Keduanya tak lupa saling melempar senyum menyerigai, membuat orang yang berlalu lalang dirumah sakit itu, menatap mereka aneh seolah tak mengerti apa yang dilakukan oleh kedua orang itu.
...----------------...
Disisi lain, pria berbadan tegap yang tadinya tergesa-gesa itu. Kini tengah berjalan menyusuri area rumah sakit itu, ia berjalan dengan santai tak lupa kedua tangannya sudah terselip disaku celananya.
Ia bahkan tak perduli, jika banyak orang yang tengah memandanginya. Bagaimana tak dipandangi? Jika seorang pria tampan seperti lukisan bak yunani itu tengah berjalan disekitar mereka, bahkan tatapan memuja dari para gadis-gadis muda disana. Seolah ingin sekali berlari kearahnya dan ingin langsung meminta nomor hanponenya itu.
Saat pria itu tengah berjalan, tiba-tiba ada seorang wanita seksi menhadangnya, mau tak mau ia menghentikan langkahnya itu.
"Permisi, maaf jika saya menganggu. Apakah tuan berkenan, jika kita mengobrol sebentar?" tanya seorang wanita berambut pirang, berkulit putih seperti susu.
Wanita itu melirik pria tengah nan gagah dihadapanya itu, dengan wajah yang dibuat malu-malu.
Pria itu menghela nafas sejenak."Maaf! Tapi tak ada waktu, bagi saya untuk mengobrol dengan anda." ucapnya, dan mulai melangkahkan kakinya.
Namun wanita mencekal pergelangan tangan pria itu. "Tapi tuan! Jika memang anda tak ada waktu saat ini, bisakah anda memberikan nomor telfon anda? Itung-itung, jika ditengah malam anda kelelahan maka anda bisa menghubungi saya. Untuk menemani malam anda." ucap wanita itu dengan suara menggoda.
"Bagaimana tuan?" tanyanya dengan mengedipkan satu matanya.
Pria itu tersenyum miring, kemudian ia tertawa kecil. Ia lalu menatap wanita itu dengan tatapan tajam nan dingin.
__ADS_1
"Sekali lagi saya tak ada waktu untuk itu. Dan... Saya tak begitu bernafsu dengan tubuhmu itu." ucapnya dengan tegas, membuat wanita itu merasa malu dan juga merasa merinding ketika melihat tatapan elang dari pria tampan itu.
Pria itu kini melanjutkan langkahnya kembali, karena kakak dan kakak iparnya tengah menunggu kedatangannya.
Dan benar saja, ketika ia berjalan masuk disebuah taman itu. Kakaknya sudah melambai-lambaikan tangannya, tengah memanggil dirinya.
"Untung kamu sudah sampai." ucap kakaknya itu, ketika ia sudah berada tepat dihadapannya.
"Bagaimana bisa kalian Resya begitu saja?" tanyanya.
Kakaknya yang mendapat pertanyaan itu mendesah seketika. "Resya itu tadi lari dari kita.... Karena kami gak turutin permintaanya, yang ngajak ketika buat beli eskrim." jelas kakaknya.
"Benar apa yang dikatakan kakakmu, adik ipar. Resya lari begitu kencang dikerumunan, itu sebabnya kita kehilangan jejaknya." jelas kakak iparnya yang merupakan suami kakak perempuannya.
Pria itu menepuk keningnya seketika. "Yasudah kalau begitu, lebih baik kita cari Rasya sekarang juga. Dari pada anak itu menghilang."
"Iya, kita berpencar saja. Biar lebih cepat carinya, lagian rumah sakit ini sangat luas, jadi lebih baik kita berpencar." ucap kakaknya.
"Baiklah, lebih baik kalian cari didalam rumah sakit. Sedangkan aku akan mencari Rasya disekitar sini."
"Oke!"
Ketiganya langsung berpencar, dan mulai mencari sosok bocah yang entah menghilang kemana.
"Lebih baik aku mencarinya disekitar taman, anak-anak pasti lebih suka bermain-main ditaman itu." ucapnya, yang langsung berjalan menuju taman itu.
Pria itu terus mencari keponakan kecilnya, ia sesekali menanyakan orang-orang disekitar taman itu. Namun hasilnya nihil, tak ada yang tau.
Ketika ia sudah sangat frustrasi, telinganya tak sengaja mendengar suara yang begitu familiar dipendengarannya. Entah karena naluri, langkahnya membawa dirinya untuk mencari sumber suara itu.
Dan betapa senangnya ia, ketika pandangannya itu melihat sosok bocah yang tengah ia cari itu.
Tak mau berlama-lama, ia lebih baik melangkah dan menghampiri bocah laki-laki itu yang merupakan keponakannya sendiri.
"Rasya!" panggilnya pada bocah kecil itu.
Merasa namanya disebut, bocah kecil itu yang tadinya tengah asik berceloteh. Kini mengalihkan pandangannya menghadap pria itu.
Mata bocah itu membulat seketika. "Loh pama kesini?" tanyanya sedikit bingung.
"Hahh... Paman disini mencari-carimu, ternyata kau malah asyik disi-"
Ucapannya terhenti, kala tatapan matanya tak sengaja bertubrukan dengan tatapan mata seorang wanita, yang tepat berada disamping keponakannya itu.
Seolah keadaan sekitar terhenti, keduanya bertatapan begitu lama sehingga tak ada salah satu dari mereka mengeluarkan suara.
Bersambung.
__ADS_1