Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Sebuah Misi


__ADS_3

°°°°°


Drtt.... Drtt... Suara hanpone berbunyi diatas meja kecil, yang tak jauh dari Aurell, yang saat ini tengah membaca buku sambil lesehan dibawah depan meja itu.


Aurell mengambil benda pipih itu, dan membawanya kedekatan telinga.


"Ya!" ucap Aurell sambil membalikkan lembar buku yang ia baca itu.


"Ini aku nona!" ucap seorang pria yang tak lain adalah Jek.


"Ya, aku tau"


"Sungguh ketus sekali"


Aurell menghela. "Jika tak ada hal yang ingin kau katakan, maka aku akan menutup telfonnya" ucap Aurell dengan nada dinginnya.


"Eits! Eits! Iya-iya, jangan terlalu dingin sekali dong nona, nona ini selalu ketus sekali jika berbicara dengan saya"


Aurell hanya memutar matanya malas.


"Saya menelfon karena nona sudah janji jika kita akan membahas tentang masalah itu, apa nona ingat?" ucap Jek bertanya pada Aurell.


"Kau tak perlu menghawatirkannya, aku selalu ingat dan tak akan melupakannya"


"Bagus jika nona masih ingat, kalau begitu, sore ini kita bertemu dimana nona?" tanya Jek.


"Aku akan memberitahumu lewat email nanti" ucap Aurell setelah itu ia menutup telfonnya secara sepihak tanpa mendengar jawaban dari Jek.


Aurell bangkit dari duduknya, dan bersiap untuk menemui rekannya itu.


...----------------...

__ADS_1


Rambut hitam lurus yang dikuncir kuda, dengan sweter hitam dilengkapi  celana jeans hitam legam membuat penampilan Aurell terkesan seperti cewek badgirl yang ada halnya didunia fiksi.


Kini Aurell tengah menyesap jus kesukaannya yaitu jus rasa jeruk, yang dimanapun ia berada maka ia akan memesan jus itu. Tak ada yang lain selain jus itu yang ia suka, bahkan berada dibar pun ia tak meminum alkohol melain jus jeruk yang selalu menemaninya.


Aurell saat ini sudah berada disalah satu Cafe, tempat yang sering dikunjungi anak muda masa kini, nama Cafe itu 'Cafe pelangi' unik memang namanya, selain namanya yang unik makanannya pun juga tak kalah unik, karena disetiap makanan maka akan ada warna pelangi disana.


"Nona! Kau memang unik sekali, mengajak kita ditempat yang bahkan tak pernah saya kunjungi" ujar Jek sambil terkekeh.


"Aku membawa kalian kesini, karena tempat inilah tak akan membuat orang merasa curiga" ucap Aurell tenang.


Ternyata Aurell dicafe itu tak sendiri, ia disana bersama Jek dan kedua orang pria yang diyakini adalah rekan Jek, terlihat sekali dengan wajah khas orang bule itu.


"Hemm anda memang cerdas sekali nona" ucap Jek sambil mengerlingkan matanya, namun diabaikan oleh Aurell.


"Kita bahas sekarang, aku tak mau terlalu lama berbasa-basi! Bagaimana dengan rencanamu?" kata Aurell sambil melihat kearah Jek.


Jek yang tadi asik bercanda, kini ia mengubah rautnya menjadi serius.


"Maksudmu?" tanya Aurell sambil mengangkat satu alisnya.


"Seminggu lagi kita akan melancarkan misi ini, saya ingin mengubah sedikit rencana kita yang dari awal kita susun itu, bagaimana apa kau setuju nona Aurell?" tanya Jek.


Aurell mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Ia sedang berfikir apakah rencana yang dikatakan Jek itu, bagus untuknya atau tidak.


"Bagaimana?" tanya Jek lagi.


"Aku membicarakan rencana ini karena ada alasannya, kau tau kan nona Aurell? Jika kita membagi dua bagian, maka pekerjaan kita akan cepat selesai, sama halnya kita saling bekerja sama dengan berpencar, maka pekerjaan akan lebih mudah dan menghemat waktu" lanjutnya.


"Aku akan menjelaskannya lebih rinci lagi, agar nona tak merasa ragu"


Jek menyesap minumannya sebentar lalu ia beralih menatap Aurell kembali.

__ADS_1


"Jadi begini, jika nona Aurell ada diposisi A, maka saya dan setengah anggota saya akan berada diposisi B, saya akan mengalihkan pandangan mereka, agar mereka terkecoh dengan rencana kita, makin lama kita bertindak! Maka makin banyaklah korban yang akan mereka perbuat, anda pasti sangat tau nona Aurell jika hal itu sangat membahayakan bagi masyarakat sekitar, dan kita disini untuk mencegahnya" jelas Jek, membuat Aurell termenung.


"Itu sebabnya, rencana itu diberikan kepada kita! Bagaimana dengan penjelasan saya? Apa anda masih merasa ragu nona?" tanya Jek pada Aurell.


"Sepertinya, rencanamu boleh juga" ucap Aurell, diselingi senyum semirknya.


...----------------...


Disatu sisi, saat ini Gavin dan juga Eira kebetulan datang kecafe dimana Aurell berada. Bukan Gavinlah yang mengajak, namun Eiralah yang memaksanya untuk menemani Eira, karena Eira sangat penasaran dengan Cafe Pelangi yang baru-baru ini terkenal dikalangan akun sosial media.


"Yuk Gavin... Aku udah penasaran banget dengan makanan disini..." rengek Eira sambil menarik lengan Gavin untuk masuk kecafe itu.


"Sabar dong Eira... Kita baru nyampe, gak usah buru-buru lah" ujar Gavin sedikit lesu, sebenarnya ia sangat malas berpergian, namun apalah dayanya jika tunangannya itu terus memaksa. Mau tak mau Gavin harus menurutinya, jika tidak! Maka Eira akan mengadu pada papanya.


"Ish, Gavin.. Ini tuh Cafenya terkenal, itu sebabnya aku pengen buru-buru, takut kalo gak dapet tempat duduk" oceh Eira yang diabaikan oleh Gavin, karena ia sudah capek meladeni wanita yang ada didepannya itu.


Eira menarik Gavin sampai masuk kedalam Cafe, namun seketika ia cemberut kala melihat tak satupun meja yang kosong.


"Kan, bener.... Gak ada yang kosong, salah kamu sih... Udah diajakin dari tadi gak mau nurut" gerutu Eira kesal.


"Hahhh.... Yaudah gak usah cemberut, kita pindah kecafe lain aja, Cafe lain disini banyak" ujar Gavin.


"Gak mau.... Maunya yang disini aja..." rengek Eira.


Gavin menghebuskan nafasnya kembali, ia benar-benar capek meladeni tunangannya itu.


Saat Gavin menengok kesamping, ekor matanya tak sengaja melihat seseorang yang sangat familiar dimatanya itu.


"Aurell?" gumam Gavin yang terus saja melihat kearah Aurell berada, ia bahkan sampai mengabaikan Eira yang tengah mengoceh itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2