
Aurell berjalan gontai memasuki kamarnya, saat ini ia sudah berada dirumahnya. Hampir tiga jam lamanya ia dan papanya berada dikediaman Johnson, dan selama tiga jam itu bandanya terasa sangat lelah, entah kenapa tapi dirinya tak berbuat apa-apa disana. Hanya duduk makan, berbincang dan setelah itu pulang.
Tiba-tiba, sekelebat ingatan terlintas dipikirannya, hal itu langsung membuat wajahnya menjadi merona. Dirinya langsung berguling-guling dikasur empuknya itu.
Aurell tiba-tiba bangkit dari baringnya, setelah itu ia menepuk kedua pipinya dengan kencang. "Aww.." ia memekik, ketika merasakan jika tepukannya itu sedikit kekencangan.
"Kenapa itu terus terlintas dipikiranku? Mengapa itu menghilang." ia mengerutu, lantaran terus mengingat kejadian ketika ia dilamar oleh Sagarr, saat itu dirinya dibuat gugup sekaligus jantungnya terus berdecak kencang. Ia pun merutuki dirinya, yang dengan polosnya ia menerima lamaran itu.
Aurell kembali ambruk dikasurnya, "Sialan! Itu membuatku malu."
Beberapa saat yang lalu~
"Bagaimana sayang? Apakah kamu.... menerima lamaran dari putraku?"
Semua orang pun kembali melihat kearah Aurell, tentu Aurell dibuat gugup setengah mati, baru kali ini ia merasakan hal seperti itu. Dirinya pun tak tahu harus menjawab apa, padahal semua orang tengah menantikan jawaban dari Aurell itu.
Aurell ingin sekali marah-marah pada Sagarr, dirinya seperti dibuat terpojok oleh, ulah lelaki tampan yang saat ini tengah tersenyum kearahnya. Aurell yang melihat senyuman itu dibuat kesal, ingin sekali ia mencakar wajah Sagarr saat ini juga.
"Aurell... Kok diam aja?" Gerland membuyarkan lamunan Aurell.
"Eh?"
Entah kenapa, hari ini Aurell dibuat bodoh, ia seperti bukan Aurell yang biasanya. Yang dengan beraninya menjawab semua pertanyaan-pertanyaan, dan menjawabnya dengan cara, melalui tindakan bukan ucapan.
Tapi sekarang Aurell tak bisa menjawab pertanyaan itu dengan tindakan, bisa-bisa rumah itu dibuat hancur oleh Aurell. Jika dirinya benar-benar melakukan sebuah tindakan.
'Katakan tidak Aurell, katakan tidak...' Aurell berteriak dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah dirasa dirinya telah siap dengan jawabannya, ia kembali menatap orangtua yang masih tengah menantikan jawabannya.
"Iya, saya menerima lamaran itu."
Aurell langsung membekap mulutnya, sebenarnya yang ingin ia ucapan bukan melainkan sebaliknya. Aurell menepuk-bepuk bibirnya sambil mengerti didalam hatinya. Ia benar-benar merasa malu hari ini.
"Kenapa harus iya? Bukanya aku harus menolaknya, tapi kenapa mulut ini malah berbicara hal lain?" gumamnya, yang menundukkan kepala sambil menepuk bibirnya.
Sagarr yang mendengar itu, tentu saja dibuat sumringah. Ia merasa senang dan merasa lega dengan jawaban Aurell.
"Wahh... Pah, kita akan segera punya menantu lagi." Sila berucap senang, sambil mengguncang lengan suaminya yang ada disampingnya itu.
"Iya mah... Papa sangat bahagia, mendengar Aurell menerima lamaran putra kita. Kita benar-benar beruntung hari ini."
"Ternyata putriku segitu sukanya dengan Sagarr.... Jika keputusannya seperti itu, makan kita sekeluarga akan kembali bertemu untuk menyusun acara pernikahan kami." ucap Gerland dengan gestur wibawanya.
Aurell yang mendengar ucapan papanya itu, tersentak kaget."Hah? Tapi pah... Bukankah kita haru melewati acara pertunangan dulu?"
"Apa?"
Aurell pun dibuat syok, ingin sekali Aurell menghilang pada hari itu juga.
Dan ya, setelah terjadi keributan lantaran dirinya akan menikah dengan Sagarr, kini ia hanya bisa pasrah dan tak tahu harus berbuat apa.
Malam ini, sehabis pulang dari kediaman Johnson. Aurell dibuat tak bisa tidur, ia saat ini tengah berbaring diranjangnya dengan mata yang masih terbuka dan malah mengamati tangannya yang sudah tersematkan sebuah cincin diajari manisnya.
Aurell tertawa, ia benar-benar merasa dibuat tak yakin, jika dirinya sekarang. Menyandang sebagai tunangan orang, yang bahkan dimatanya orang itu sungguh menyebalkan bagi dirinya. Namun siapa sangka? Jika saat ini ia sudah menjadi pasangan pada seorang pria yang selalu ia anggap orang aneh atau pria aneh.
__ADS_1
Aurell mengeleng saja mengingat hal itu, ia mengelus jari manisnya dengan senyum yang masih terpampang dibibir kecilnya itu.
...----------------...
Pagi hari, jam masih pukul 6:15, dan pada pagi hari ini Aurell melakukan olahraga disekitar taman didekat kawasan rumahnya.
Aurell yang sudah merasa lelah, ia memilih untuk istirahat sejenak dan menepikan dirinya pada salah satu bangku ditaman itu.
Aurell meminum airnya, sesekali ia mengelap keringatnya yang masih menetes didahinya.
Tiba-tiba sebuah benda dingin muncul dipermukaan pipinya, dirinya yang setengah melamun itu tentu saja dibuat terkejut. Sampai-sampai ia langsung berdiri dari duduknya.
Aurell menarik nafasnya untuk menetralkan rasa kagetnya itu, setelah dirasa tenang dirinya langsung mengalihkan pandangan kedepan. Tanpa diduganya dirinya langsung bertemu mata biru gelap, yang langsung mengingatkan dirinya pada momen malam kemarin.
"Ini minuman untukmu, sayangku! Pasti kau sangat lelah kan?" ucapnya sambil mengedipkan satu matanya, berusaha menggoda Aurell.
"Dasar pria aneh." ucap Aurell yang pada akhirnya menerima minuman itu.
Kalian pasti tau siapa pria aneh yang disebut oleh Aurell. Tentu saja Sagarr, siapa lagi?
Sagarr terkekeh mendengarnya, "Kamu itu sudah menjadi tunanganku, dan sebentar lagi kita akan menikah. Tapi kenapa sifat acuhmu itu tak bisa hilang, saat kau bersamaku?"
Aurell menatap lambat pada Sagarr yang ada disampingnya. "Trus aku harus gimana? Ini sifatku sudah bawaan sejak lahir." terang Aurell.
Sagarr mengetuk dagunya seolah tengah berfikir. "Hemm, gimana ya?"
Tak jauh dari mereka, Doni yang kebetulan tengah berolahraga ditaman itu, tak sengaja melihat interaksi antara Sagarr dan juga Aurell.
__ADS_1
Doni mengepalkan kedua tangannya, "Bagaimana bisa mereka menjadi, jauh lebih dekat?" geramnya menahan kesal.
Bersambung.