Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Gavin Lagi


__ADS_3

*****


Aurell baru saja keluar dari kamarnya, dan sudah rapi dengan pakaian yang biasanya ia pakai saat ia tengah ngapus. Ya! Aurell memutuskan untuk pergi kekampus hari ini, karena sejak kejadian itu. Ia sudah absen selama empat hari, Aurell sudah menjernihkan pikirannya. Itu sebabnya ia memulai harinya seperti sedia kala tanpa takut akan terjadi suatu hal padanya.


"Aurell..." panggil seorang pria paruh baya, yang tak lain adalah Gerland orangtua Aurell.


Gerland memanggil Aurell dari arah meja makan, ia sudah duduk anteng disana sambil menyesap kopi panasnya itu.


Aurell memberhentikan langkahnya, kala mendengar suara ayahnya itu. Ia lalu membalikkan badannya dan menatap malas kearah Gerland.


"Kamu mau kemana? Kok sudah rapi begitu?" tanya Gerland sambil meletakkan cangkir kopinya.


Aurell menghela. "Kekampus." jawab Aurell singkat.


"Kamu benar-benar mau kekampus, gak ngambil cuti aja?" tanya Gerland lagi.


"Aku ingin cepat wisuda, itu sebabnya aku tak mau ambil cuti hanya karena masalah tempo lalu itu." ujar Aurell datar.


"Hemm, yaudah suka-suka kamu aja. Kalo gitu sini, makan bareng sama papa... Kita udah lama gak makan bareng loh." tutur Gerland.


"Bukan papa, tapi ayah. Jangan mengubah kata-kata itu, itu terlihat menyebalkan." ketus Aurell.


Gerland tersenyum sambil menghela nafasnya. "Terserah kamu aja deh... Sekarang makan yuk, sama ayah."


"Makanlah sendiri, aku sudah telat." tanpa berpamitan, Aurell pergi begitu saja meninggal Gerland.


Gerland hanya bisa menghela nafas pasrah, dirinya benar-benar merindukan putri tercintanya yang dulu. "Sepertinya Aurell benar-benar membenciku." ucap Gerland sendu.


"Tuan.." tiba-tiba astiten Gerland menepuk bahunya.


"Saya tidak apa-apa." ucap Gerland.


"Tuan jangan terlalu bersedih, nona Aurell hanya membutuhkan waktu untuk menerima keadaan. Saya yakin suatu hari nona Aurell akan berubah seperti nona Aurell yang anda kenal sewaktu kecil." ujarnya.


"Ya, saya akan percaya dengan kata-katamu." ucap Gerland menganguk.


...----------------...


Satu jam pelajaran telah usai, kini Aurell tengah menikmati kesendiriannya ditaman kampus itu. Ia sibuk dengan laptopnya sampai tak sadar jika Gavin berjalan menuju kearahnya.

__ADS_1


Tukk...


Sebuah benda dingin yang menempel pada pipi Aurell, Aurell yang tengah sibuk ikut merasa terkejut. Ia lalu mengeram meredakan rasa kesalahannya, ia teringat dengan Sagarr yang datang keapartemen papanya dengan menempelkan susu coklat dingin dipipinya.


"Jangan menganguku, pria aneh." geram Aurell, lalu menegoka kesamping. Namun yang ia lihat bukanlah Sagarr, melainkan Gavin yang tengah tersenyum kearahnya.


Gavin menautkan kedua alisnya. "Pria aneh?" bingung Gavin. "Kamu menyebutku pria aneh Aurell?" tanya Gavin.


Aurell mengalihkan pandangannya kedepan, ia menghela nafas sambil memejamkan matanya. 'Bisa-bisanya aku teringat dengan pria aneh itu.' gumam Aurell didalam hati, sambil memijit pelipisnya.


"Aurell?" panggil Gavin, pasalnya Aurell hanya terdiam saja.


Aurell menutup laptopnya yang tadinya terbuka itu. "Kenapa kau kemari?" tanya Aurell dingin.


"Aku hanya ingin menghampirimu saja, kebetulan aku bawa es cofy kesukaanmu. Nih diminum dulu." ujar Gavin sambil menyerahkan es cofy itu pada Aurell.


Aurell hanya diam, ia tak berniat untuk menerima pemberian Gavin itu.


"Kenapa gak diminum? Ini kan kesukaanmu Aurell. Aku pernah liat kamu, jika kamu gak minum cofy ini dalam sehari saja. Kamu pasti uring-uringan, bahkan kamu pernah bilang ke aku jika kamu gak bisa minum cofi ini kamu akan merasa tak bersemangat menjalani hari-hari mu. " ucap Gavin, mengingat hal itu membuatnya kembali terkekeh.


"Kau menghampiriku, hanya karena ingin membahas omong kosong itu?" tanya Aurell dengan nada dinginnya, bahkan ia enggan menatap Gavin.


Gavin menghentikan kekehannya. "Aku kesini ingin meminta maaf padamu Aurell.. Atas semua sifatku yang tak pernah percaya padamu tempo hari lalu. Dan juga perbuatan orangtua ku selama ini." jelas Gavin.


"Aurell..." panggil Gavin, menghentikan langkah Aurell.


Gavin mencekal tangan Aurell. "Apakah masih ada, aku didalam hatimu? Bisakah kamu memberikanku satu kesempatan lagi untuk bersamamu? Aku janji, aku tak akan pernah menyakitimu lagi. Aku akan berusaha membahagiakan kamu Aurell." mohon Gavin.


Aurell menepis tangan Gavin dengan kasar. "Bagaimana dengan kekasihmu? Apa kau akan membuangnya begitu saja?" tanya Aurell tanpa melihat kearah Gavin.


Gavin terdiam, ia tak langsung menjawab pertanyaan Aurell itu, dan hal itu membuat Aurell tertawa hambar.


Aurell membalikkan tubuhnya menghadap pada Gavin, ia lalu menatap manik mata Gavin itu." Gavin... Gavin.. Dulu dimataku kamu adalah pria manis, polos dan ramah. Tapi sekarang, kenapa kamu malah menjadi pria brengsek yang tak tahu malu?" geram Aurell.


"Kamu sudah mengabaikanku, mengacuhkanku. Tak pernah membelaku saat aku diperlukan, kamu bahkan meningalkanku bertungan dengan wanita lain... Tapi apa sekarang? Kamu mau kembali bersamaku lagi?"


Gavin tak menjawab pertanyaan Aurell, Gavin dibuat keluh atas perbuatan dan kesalahannya selama ini.


"Maafkan aku Aurell... Maafkan aku." lirih Gavin.

__ADS_1


Aurell tersenyum miring mendengar itu. "Kamu tau Gavin? Kamu lah yang membuatku jatuh pada pesonamu. Dan kamu sendirilah yang membuatku jatuh dan hancur pada penghianatamu itu. Baru pertama kali aku bertemu pria yang tak tahu malu sepertimu ini." tekan Aurell mencoba menahan emosinya, ia membalikkan badannya dan ingin berlalu pergi dari tempat itu. Namun lagi-lagi Gavin mencegahnya.


"Apa kamu seperti ini karena pria baru itu Aurell?" tanya Gavin. Yang dimaksud ucapan Gavin itu adalah Sagarr.


"Lepaskan tanganku, jangan halangi aku terus." ucap Aurell mengabaikan perkataan Gavin.


"Jawab aku Aurell!" tekan Gavin.


Aurell memejamkan matanya, benar-benar berusaha meredam emosinya.


Tiba-tiba saja tangan Aurell ditarik paksa oleh seseorang, "Jika dia tak mau. Jangan terus memaksanya." ucap seorang pria yang tak lain adalah Doni.


"Doni, jangan menganguku. Kami belum selesai bicara." kata Gavin mengeram kesal.


"Tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Semuanya sudah selesai, jangan memperpanjang masalah." kata Doni yang masih mengengam erat tangan Aurell, Aurell yang melihat sahabatnya itu merasa heran. Pasalnya Doni ini termasuk orang yang dingin dan jarang bicara, namun sekarang Doni memperlihatkan emosinya didepan Gavin.


"Doni!" panggil Aurell.


Doni membalikkan tubuhnya menghadap kepada Aurell. "Kamu tak apa Aurell?" tanya Doni dengan raut khawatirnya.


"Tak apa, sekarang lepaskan tanganku." ucap Aurell pada Doni yang langsung melepaskan gengamannya.


"Maaf" ucap Doni.


Aurell menatap datar kearah Gavin. "Gavin, urusan kita sudah selesai. Jangan terus muncul dihadapanku, itu membuatku semakin muak padamu." tekan Aurell, setelah itu ia lalu beranjak pergi dari tempat itu meninggal Gavin yang kembali terdiam.


Doni menepuk bahu Gavin. "Camkan kata-katanya, jangan membuat dirimu semakin menyedihkan." sindiri Doni, ia pun berlalu menyusul Aurell.


Gavin mengusap gusar wajahnya. "Kenapa jadi seperti ini." frustasinya.


Gavin tak tahu saja, sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikannya. Dialah Eira, tunangannya sendiri.


Eira mengepalkan tangannya, marah. "Aurell.... Aku benar-benar benci padamu! Aku akan membalas semua perbuatan mu itu." geram Eira emosi.


Bersambung.


Janlupa setelah membaca, tinggalkan jejak ya guys^o^


__ADS_1




__ADS_2