
Amel tak bisa tidur, dia masih memikirkan lagu yang dinyanyikan kak Bagas tadi, lagu yang begitu romantis dan kak Bagas membawakannya dari hati yang terdalam, lagu itu? untuk siapa lagu itu?
Puisi dibacakan Didit, Didit begitu gentleman sekali, dia berani mengungkapkan isi hatinya didepan umum biarpun Amel sudah menolaknya berkali-kali tapi Didit tak pantang menyerah, dia selalu berusaha mendekati Amel dan hati Amel mulai tersentuh saat mendengar Didit membacakan puisi tadi ditambah diiringi alunan musik yang begitu romantis.
Hatinya bimbang? mengapa dia memikirkan kak Bagas? hubungan apa yang dia jalin dengan kak Bagas selama ini? mereka sering menghabiskan waktu bersama tak jarang juga kak Bagas bersikap begitu romantis pada Amel, bahkan mereka juga sering masak bersama, kak Bagas juga sering menemaninya membeli sayuran di supermarket bila sayuran dirumahnya habis namun kak Bagas tak pernah mengungkan perasaannya, apa iya teman sampai sebegitu?
Lalu Didit, mengapa dia muncul dibenaknya begitu saja? Apa yang dia rasakan saat ini? untuk siapa sebenarnya hatinya saat ini? Entahlah dia juga belum memahami akan hatinya saat ini. Biarlah semua mengalir seperti air.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Disana dirumah Bagas
Sama halnya seperti Amel, ada rasa tidak suka dihatinya ketika seorang pria tadi menyuguhkan puisi romantis untuk gadis dambaannya. Hatinya terasa sesak, dia tak ingin ada orang lain yang mendekati gadis dambaannya, dia tak ingin ada orang lain yang memiliki gadis dambaannya. Lalu mengapa dia tak mengungkapkan perasaannya?
Dia mengacak-acak rambutnya, dia kesal dengan dirinya sendiri. Dia mencintai tapi tak ingin mengungkapkannya. Laki-laki apa kau ini Bagas?
Hari ini Amel ada kuliah siang dan sore dia malas jika harus bolak\-balik jadi dia memutuskan untuk menunggu saja dikampus. Dia duduk sendiri ditaman kampus.
"Boleh aku duduk?" ucap seseorang
"Boleh, silahkan" ucap Amel memperbolehkan
"Kok sendiri Rea mana?" tanya seseorang itu
"Dia ada pergi ketoilet" jawab Amel, "oohh ya makasih yyaa buat puisinya" ujar Amel
"Apa kau menyukainya?" tanya Didit
__ADS_1
"Tentu, aku sangat menyukainya" jawab Amel "ternyata kau pandai berpuisi juga dit" lanjutnya
"Tidak aku tak pandai berpuisi tapi satu Minggu kemari aku belajar dan semua itu untuk kamu" ujar Didit "Amel... aku mencintaimu" ucap Didit "aku tak perduli Mel berapa kali pun kau menolakku aku akan tetap mencintaimu"
Deg... jantung Amel seakan berhenti berdetak, Amel tak menyangka jika Didit akan mengutarakan cintanya. Jika kemarin\-kemarin ungkapan cintanya hanya dianggap bercandaan oleh Amel dan dengan gampang Amel menolaknya namun saat ini dia begitu serius mengungkapkan isi hatinya.
Amel tak tau harus menjawab apa. Dia tak ingin menyakiti hati Didit, Didit sudah begitu baik padanya. Hatinya bingung, dia masih belum tau akan perasaan. Dia hanya berharap Rea cepat kembali sebelum dia berkata.
Sedangkan disana dibelakang mereka, ada telinga yang mendengar percakan Amel dan Didit, dia mendengar begitu jelas Didit mengungkapkan isi hatinya. Hatinya seperti ditusuk pedang yang tajam, dia menunggu waktu untuk mengungkapkan isi hatinya pada gadis dambaannya ini tapi kenapa orang lain mendahuluinya? bagaimana kalau gadis dambaannya menerima cinta pria itu?
"Amel apa kau akan menerimanya?" tanya Bagas dalam hati
"Amel, Didit kenapa Didit pegang tangan lalu kenapa wajah Amel tegang" batin Rea, dia berjalan cepat menghampiri Amel dan Didit
"Hai...kalian lagi ngapain?" tanya Rea
"Ganggu aja loe Re" kata Didit, mereka mengobrol dan bertukar beberapa kata "Mel, aku cabut dulu yyaa" ucap Didit berpamitan "aku akan selalu menunggumu Mel" lanjutnya sebelum meninggalkan Amel dan Rea, Amel hanya tersenyum, dalam hatinya dia bingung harus menjawab apa. Dia juga bingung pada siapa sebenarnya hatinya berlabuh.
"Mel, Didit bilang apa sama loe?" tanya Rea, seperti biasa dia ingin sekali tau tentang Amel
"Dia nembak gue Re"
Rea hanya tertawa sebelum, dia memang sering mendengar langsung saat Didit mengungkapkan isi hatinya dan dengan cepat Amel segera menolaknya
"bukannya loe sering ditembak Didit, Mel?"
"Iya re, tapi kali ini beda kalau biasa kita anggap dia bercanda tapi tadi tidak Re, dia begitu sungguh\-sungguh mengungkapkannya Re" ujar Amel menjelaskan
"Lalu apa loe menerimanya?" tanya Rea
__ADS_1
Amel hanya mengangkat pundaknya sebelum menjawab pertanyaan Rea dan Bagas yang sedari tadi dibelakang mereka juga menunggu jawaban Amel. Laki\-laki itu ingin tau perasaan Amel.
"Gue gak tau re, gue bingung"
"Jangan bilang loe masih mengharapkan mantanmu itu gadis"
"Sedikit" jawab Amel yang membuat keduanya tertawa "Enggak lah Re dia udah nikah dia udah punya kehidupan baru dan satu lagi gue bukan pelakor Rea" ujar Amel yang menekan kata pelakor
Rea hanya tertawa, bukan karna belum bisa move on dari mantannya sahabatnya itu tak menerima cinta Didit dia tau sahabatnya lagi dekat dengan kakak angkatannya, sahabatnya lagi jatuh cinta sama kakak angkatan tertampan dikampusnya itu.
"Ya udah kita kekelas yyuukk sebentar lagi jam kuliah dimulai" ajak Amel
Doni sedari tadi heran melihat wajah sahabatnya yang begitu semrawut. Dia tak pernah melihat Bagas seperti ini.
"Loe kenapa gas?" tanya Doni "Kenapa wajah loe semrawut begitu?" lanjutnya
"Tidak"
"Gas, kalau loe emang suka sama tu cewek lebih baik loe ungkapin"
"Sok tau loe Don"
"Gas, gue kenal loe bukan satu dua tahun bro gue kenal loe dari jaman smp bro, gue tau kalau loe lagi jatuh cinta, loe suka kan sama gadis itu?"
"Udah kayak peramal aja loe" elak Bagas
Doni tertawa sebelum melanjutkan bicaranya "Lalu kenapa loe ngepalin tangan loe waktu loe denger cowok tadi ngungkapin perasaannya, kenapa wajah loe berubah jadi sangat kesal waktu cowok tadi nembak gadis itu?" uajrnya panjang lebar "Loe ungkapin perasaan loe sebelum orang lain mengambilnya" lanjut Doni, Bagas hanya mengangkat pundaknya, dia membenarkan apa yang dikatakan Doni, apa entah mengapa dia masih juga belum bisa mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1