
"Apa kalian merasa penasaran, tentang kejutan yang aku katakan tadi? Hemm" ucap Jek.
Antoni merasa kesal. "Sebaiknya hentikan omong kosongmu! Dan pergi dari sini" teriak Antoni.
Jek terkekeh. "Yaampun tuan Antoni jangan kasar seperti itu, tuan Antoni membuat saya takut deh.." ledek Jek sambil tertawa kencang. Antoni yang melihat itu semakin bertambah kesal.
"Mengapa orang itu mengenali papaku?" gumam Eira bingung.
"Hahaha.. Maaf tuan, saya hanya bercanda, jangan memasang wajah kesal seperti itu, itu membuat saya makin ingin tertawa.. Anda benar-benar lucu malam ini" kata Jek masih dengan diselingi tawanya.
Antoni mengepalkan tangannya. "Jaga bicaramu! Dasar pria tak waras" teriak Antoni tepat didepan wajah Jek.
Jek yang tadinya tertawa itu, langsung memasang wajah dinginnya dan menatap tajam kearah Antoni.
Jek menyentuh dagu Antoni. "Anda berani berteriak didepan saya? Sepertinya saat ini anda ingin bermain-main ya" ucap Jek membuat Antoni meneguk salivanya dengan kasar.
Antoni tak berkutit, tangannya terus bergetar menandakan ia tengah ketakutan saat ini. Ia melirik kearah Adhitama yang sedari tadi hanya diam mengamati.
Eira yang tak tahan itu, tanpa basa-basi langsung pergi menuju kerah papanya yang tengah disandra.
Eira berlari dan memegang lengan Antoni. "Pa.. Sebenarnya ada apa ini?" tanya Eira.
"Eira... Mengapa kamu kesini, disini bahaya, sekarang kamu pulang, jangan kesini lagi" ucap Antoni.
"Tapi pa.."
"Wah... Ternyata aku tak menyangka jika Nona ini! Adalah putri anda"
Eira menengok kearah Jek. "Siapa kamu sebenarnya!" teriak Eira dengan suara lantang.
"Oho... Nona, ternyata Nona juga suka berteriak diwajah orang ya? Persis dengan orangtua anda yang bajigan itu"
__ADS_1
"Jaga bicaramu! Siapa yang kau panggil bajigan itu?" ucap Eira yang sudah tersulut emosi.
"Sudah Eira... Jangan ikut campur" kata Antoni membawa Eira dibelakang punggungnya.
"Tapi pa... Dia sebut papa bajigan, kan Eira jadi kesal" ucap Eira yang memang benar adanya. 'Bisa-bisanya papaku dimaki didepan umum, mau ditaruh mana harga diriku' gumam Eira dalam hati.
"Sudah Eira, mending ka-"
"Hentikan omong kosong itu!"
Kali ini bukan Jek yang berucap, melainkan sosok wanita dengan tampilan serupa, pada sosok misterius pria bertopeng itu, namun ia tak memakai topeng, sehingga paras cantiknya terpancar, dengan rambut panjang pirangnya yang dikuncir, baju hitam melekat membuat tubuhnya terlihat seksi dan menawan, serta mata biru yang indah membuat siapa saja yang menatap mata itu pasti akan terbuai olehnya.
Gavin terkejut. "Bukankah itu Aurell? Mengapa dia ada disana? Dan mengapa penampilannya jauh.. Sekali berbeda" ucap Gavin merasa kaget dengan keberadaan Aurell disana.
Tak hanya Gavin, semua yang ada dipesta itu merasa terkejut dengan hadirnya Aurell ditengah-tengah ketegangan itu.
"Pstt.. Bukanya itu Aurell ya?" tanya Mita pada Sela yang ada disampingnya itu.
"Iya, dari wajahnya aku udah kenal banget, kalo itu Aurell" ujar Sela.
...----------------...
Sagarr mendesak-desak pada kerumunan orang-orang yang membuatnya tak bisa lewat itu. Ia ingin cepat-cepat menemui Aurell, karena anda suatu hal yang ingin Sagarr katakan pada Aurell, hatinya terus membuncang kala ia sudah semakin dekat dengan keberadaan Aurell.
'Aku tak pernah menyangka, jika orang yang selama ini aku cari, ternyata dia sudah berada dekat denganku' gumam Sagarr sambil tersenyum senang.
Sagarr sudah sampai pada tujuan, ia sudah berada dekat, tepat dibelakang Aurell. Ia ingin menghampiri Aurell, namun ia urungkan kala Aurell seperti ingin berucap sesuatu.
"Apakah anda tuan Adhitama dan Antoni?" tanya Aurell dihadapan, Adhitama dan juga Antoni.
Eira mengerutkan keningnya melihat keberadaan Aurell itu. 'Mengapa cewek miskin itu disini? Ada urusan apa dia?' batin Eira bertanya-tanya.
__ADS_1
"Memang ada urusan apa kau, sehingga kau bertanya pada kami" ucap Antoni.
Aurell tersenyum. "Apakah anda tak tau, jika saat ini keberadaan kalian sangat berbahaya?"
"Apa maksudku?" teriak Antoni, merasa tak tenang. Ia mulai gelisah pada orang-orang yang menatap curiga pada dirinya.
"Anda masih tak mengaku ya?" tanya Aurell, setelah itu ia mengintruksi anggotanya untuk membawakan yang ia inginkan.
"Bawa mereka kemari" titah Aurell.
"Baik" jawab pria bertopeng itu serempak, sambil membungkukan tubuhnya memberi hormat pada pemimpinnya itu.
Beberapa saat kemudian, para pria bertopeng itu membawa empat orang dan diseret menuju tepat dihadapan Aurell.
Mereka bertempat terduduk karena tangan mereka telah diikat menggunakan tali, agar mereka tak bisa melarikan diri.
Antoni dan Adhitama saling melototkan matanya merasa kaget.
"Ka-kalian?" ucap Antoni gagap.
"Apa anda menyadari sesuatu tuan?" tanya Aurell sambil melipat tangannya, Aurell menghadapi dua petinggi dihadapannya itu tanpa merasa takut sama sekali, seperti hal biasa bagi dirinya.
"Kenapa? Apa kalian tak ingin mengungkap kedok kalian selama ini?" tanya Aurell dengan nada angkuhnya.
Eira merasa tak tahan dengan ucapan membingungkan dari Aurell itu. "Hei cewek miskin! Sebenarnya apa yang kau katakan dari tadi, dasar cewek miskin gak jelas" maki Eira. Yang diacuhkan oleh Aurell, Aurell tak peduli lagi pada wanita cerewet didepannya itu.
"Dua wanita dan dua pria yang ada dihadapanku ini, merupakan suruhan dari tuan yang terhormat yaitu tuan Adhitama... Dan yang disanjungi, bahkan orang-orang pasti tak tau, jika orang yang mereka hormati ini! Merupakan peredar narkoba yang saat ini sudah merajalela diberbagai benua"
Adhitama langsung menyodokan pistolnya yang sudah ia siapkan didalam jasnya itu tepat dikepala Aurell. Semua orang terpekik kaget melihat itu, sedangkan Aurell hanya tertawa santai tanpa merasa ketakutan.
Sagarr melototkan matanya.
__ADS_1
"Aurell!" teriak kedua pria yang tak lain adalah Sagarr dan Gavin.
Bersambung.