Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Sebuah Rencana


__ADS_3

Disebuah kafe, kini Eira tengah duduk disalah satu bangku itu, sesekali ia mengecek hpnya yang berbunyi. Ia tersenyum ketika melihat pesan yang dikirimkan oleh Gavin.


¦Eira, luka kamu udah gak papa?


Cepat-cepat Eira membalas pesan itu.


¦Iya Gavin, luka aku udah gak papa, makasih ya... Udah dikhawatirin^o^


¦Iya


Eira tersenyum miring, "Akhirnya Gavin udah jatuh kedalam pelukanku lagi... Gue gak akan biarin cewek sialan itu ngemelikin Gavin.... Wel, wel, wel... Karena Gavin hanya milik Eira seorang." ucapnya masih dengan senyum miringnya.


"Maaf Eira... Mama sedikit terlambat, kamu udah nungguin lama ya?" tanya seorang wanita paru baya, yang tak lain adalah Sinta ibu kandung Gavin.


Eira meletakkan hanponenya. Ia lalu tersenyum, "Tidak kok mah... Eira juga baru sampe disini... Eh, mama udah makan belum?" tanya Eira basa-basi.


"Hemm udah makan kok." jawab Sinta.


"Emm, kalo gitu biar Eira pesanan minuman aja ya mah.."


Sinta menganguk tersenyum. "Yaudah... Terserah kamu aja sayang." Jawab Sinta.


Kemudian Eira memanggil pelayan kafe itu, ia memesan minuman untuk Sinta tak lupa dengan camilan.


"Hemmm... Ngomong-ngomong mah! Rencana yang sudah aku susun itu, berhasil dengan sempurna." ujar Eira.


"Beneran kamu sayang?" tanya Sinta dengan wajah yang berbinar.

__ADS_1


Eira menganguk, "Iya mah... Eira udah berhasil ngejahuin Aurell dari Gavin, dan bikin Gavin membenci Aurell." jelas Eira dengan senyum banganya.


Sinta tersenyum semirk, ia lalu mengelus puncak kepala Eira. "Calon mantu mama emang debes banget... Gak salah mama milih kamu buat jadi pendamping Gavin. Pinter banget deh kamu sayang." puji Sinta, yang tentu saja membuat Eira kesenangan.


"Oh iya dong, Eira gitu loh..."


Setelah itu mereka berdua tertawa, dan meminum, minuman yang mereka pesan.


"Oke, mah... Setelah rencana aku, buat ngejahuin Aurell dari Gavin berjalan dengan mulus. Eira minta mama untuk menjalankan rencana selanjutnya yang sudah Eira susun sebelumnya." jelas Eira dengan raut seriusnya.


"Oke sayang ku... Mama akan jalankan rencana itu dengan sempurna, Makasih ya udah mau bantuin mama buat membalas perbuatan dari perempuan licik itu." ujar Sinta.


"Oh iya dong... Apa sih yang enggak buat mama..." jawab Eira dengan bangganya.


Dibalik perbincangan mereka, disalah satu meja yang letaknya tak jauh dari meja yang mereka tempat itu. Ada seseorang berpakaian kaos hitam dipadukan dengan topi hitam tengah mengamati mereka dengan raut wajah santai, setelah dirasa cukup mengamati mereka. Ia segera mengetik pesan pada sang atasan yang menyuruhnya itu.


Begitulah isi pesan itu yang ia kirim, dirasa sudah cukup. Ia bergegas berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari kafe itu. Gerak-geriknya yang begitu santai tak membuat kedua wanita yang tengah asik berbincang itu, sama sekali tak merasa curiga oleh sosok misterius itu.


...----------------...


Aurell baru saja keluar dari ruangan dosen, alasannya karena ia mendapat panggilan mengenai masalah kemarin saat ia tengah terlibat masalah dengan Eira. Dosen yang memanggilmya itu terus menegurnya agar tak melakukan ulah dikampus ternama itu, bukan hanya satu dosen saja, tapi beberapa dosen terus memojokannya atas kesalahan yang bahkan bukan ia yang memulai semua itu.


Aurell bahkan mendapat hukuman, jika ia harus membersihkan semua toilet wanita yang ada dikampus itu. Ia bahkan berusaha membela dirinya bahwa ia tidak bersalah, namun dosen-dosen itu seakan acuh tak memperdulikan perkataan Aurell.


Aurell sebenarnya enggan melakukan hukuman itu, jika tak ada ancaman bahwa nilai mata kuliahnya akan diturunkan, jika ia tak menjalankan hukuman itu. Mau tak mau Aurell terpaksa melakukannya.


Dan bagaimana dengan Eira? Tentu saja Eira tak mendapatkan panggilan sepertinya, semua saksi yang melihat masalah diantara mereka berdua itu, memihak pada Eira dan ia yang dijadikan tersangka atas masalah itu.

__ADS_1


Aurell dengan berat hati berjalan kearah toilet untuk menjalankan hukumnya itu. Ia terus berjalan, walau semua mata terus memandangnya dengan hina dan jijik. Namun ia tak perduli, bisa dikatakan Aurell sudah terbiasa dengan keadaan itu.


Saat ia hendak masuk kedalam toilet itu, tiba-tiba suara Eira menghentikan langkahnya.


"Eh? Ada si miskin nih...." ucap Eira dengan diiringi tawanya, ia tak sendiri disana. Dibelakangnya sudah ada Mita dan Sela yang setia mengikutinya.


"Masih punya muka ternyata nih cewek." timpal Mita dengan tawa meremeh.


"Biasalah urat malunya udah putus.." celetuk Sela.


Aurell menatap datar mereka sebentar, kemudian ia melanjutkan kembali langkahnya masuk kedalam toilet.


Ketiga wanita itu tak tinggal diam, mereka dengan langkah angkuhnya mengikuti Aurell dan masuk kedalam toilet itu.


Pintu dengan sengaja ditutup dengan keras membuat suara debuman nyaring dari toilet itu.


"Heh! Cewek miskin!" teriak Eira saat berada tepat dibelakang Aurell.


Aurell tak mengubris teriakan Eira, ia dengan santainya mengepel lantai toilet itu. Membuat Eira yang merasa diacuhkan, kesal seketika.


"Dasar cewek sialan!" umpat Eira, lalu berjalan cepat menghampiri Aurell. Namun baru beberapa ia melangkah, sepatu mewahnya itu tanpa diduga tergelincir dan membuat ia terjatuh dilantai.


"Awww.." teriak Eira mengadu kesakitan.


Mita dan Sela yang melihat itu, refleks membungkam mulutnya masing-masing sangking terkejutnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2