
"Mama... Mama..." teriak Aurell terus mengguncang tubuh milik Vita.
Vita berusaha mengerjapkan matanya, walau berat ia ingin menatap putrinya itu, sepertinya tubuhnya mulai lemah akibat banyaknya darah yang keluar darinya, ia juga tak kuat menahan rasa sakit yang ia terima itu. Apalagi peluru yang menancap dibagikan perut dan jantungnya itu, sungguh! Mungkin itu adalah akhir hidup dari seorang Vita yang menerima kekejaman dari keluarga Adhitama.
"Ma.. Mama bangun ma.. Hiks.." isak Aurell tak tahan membendung air bening yang keluar dari pelupuk matanya itu.
"Aurell..." panggil Vita dengan suara lirih.
Aurell segera mendekatkan diri pada Vita. "Iya ma... Aurell disini, mama bertahan ya? Kita kerumah sakit sekarang, sembuhin mama dulu biar adik gak ikut sakit" ujar Aurell yang mencoba mengangkat tubuh Vita, namun Vita sudah tak bisa mengerakan tubuhnya terutama pada bagian perutnya yang terus nyeri dan sakit.
"Aurell... Dengerin mama, kamu cepat pergi dari sini nak... Mama tak ingin kamu kenapa-napa, disini tempatnya orang jahat... Cepat kamu lari dan laporkan perbuatan mereka agar mereka mendapatkan hukumannya"
"Tapi ma... Aurell tak ingin meninggalkan mama" ucap Aurell mengeleng keras.
"Nak.. Ini demi mama dan adik, cepat kamu pergi dari sini dan minta tolonglah pada orang untuk menangkap mereka, dan membawa mama kerumah sakit, kamu tak mungkin kan bisa membawa mama sendiri kerumah sakit?"
Aurell merenungi ucapan Vita itu. "Aurell akan cari bantuan, tapi mama janji jangan tinggalin Aurell ya?"
Vita menganguk. "Iya sayang... Cepat pergi dari sini, cepat!"
Aurell bangkit dari duduknya, dan langsung berlari menuju pintu utama.
Sinta yang melihat Aurell kabur itu tersentak. "Cepat tangkap anak itu! Jangan sampai lolos cepat!" perintah Sinta pada dua pesuruhnya itu.
Dua pria berpakaian hitam itu langsung mengejar Aurell yang sudah keluar dari rumah itu. Aurell berlari dengan kemampuannya, namun Aurell yang masuk kecil tentu saja kalah dengan tenaga besar dua orang pria dewasa itu. Akhirnya Aurell tertangkap oleh mereka.
"Aaa... Lepaskan Aurell.. Lepaskan..." teriak Aurell memberontak.
"Aurell!" teriak Vita.
"Sinta tolong, setidaknya jangan sakiti putriku" mohon Vita yang masih berada diposisinya.
Sinta tersenyum semirk. "Kenapa aku harus mendrngarkanmu? Dia anakmu tentu saja aku akan mengirimnya kedalam neraka bersama mu!" ucap Sinta angkuh.
"Sinta apakah kau benar-benar ingin melakukan semua ini? Bagaimana jika tindakanmu ini ketahuan" ucap Adhitama bertanya pada istrinya.
"Tenang saja Adhi.. Kita musnahkan dulu dua penghambat itu, sisanya kita bereskan nanti"
Adhitama hanya tersenyum sekilas. "Yasudahlah terserah kamu saja"
"Kalian berdua! Bawa kedua wanita itu pergi dari rumah ini, setelah itu buang mereka kedalam hutan, agar mereka jadi santapan hewan buas dihutan itu" titah Sinta.
"Baik nyonya!" jawab kedua pria itu, setelah itu mereka menjalankan tugasnya, membawa Vita dan Aurell masuk kedalam mobil menuju hutan yang sangat jauh dari kediaman itu.
"Semua orang yang ada disini! Jika kalian bisa membungkam mulut kalian maka kami akan memberikan kalian bonus, jika kalian tidak bisa! Maka nasib kalian akan sama dengan wanita yang baru saja kalian lihat itu" ucap Sinta lantang, pada para pekerja rumahnya itu.
"Baik nyonya!" ucap mereka menundukkan kepala.
Sinta tersenyum senang. "Bagus!" ia pun menoleh kearah suaminya.
"Gimana selesai kan?" ucap Sinta bertanya pada Adhitama.
Adhitama memberikan senyuman. "Istriku memang sangat licik" ucapnya setelah itu merangkul pundak Sinta dan membawanya menuju kamar.
"Tentu saja" kata Sinta dengan bangganya.
Semua pelayan yang ada disana menatap majikannya dengan perasaan merinding, mereka semua takut, itu sebabnya mereka mematuhi perintah tuan rumah itu.
Nita dan juga Santi, sejak tadi tubuh mereka gemeteran.
__ADS_1
"Nit... Gimana nih? Bukanya itu juga salah kita? Aku gak nyangka akan berakhir setragis ini" ucap Santi ketakutan. Sedangkan Nita tak menjawab pertanyaan temannya itu, ia juga merasakan ketakutan yang melanda pada dirinya.
...----------------...
Didalam mobil, Aurell disekap dengan diikat kedua kaki dan tangannya, mulutnya pun dibungkam. Ia terus memberontak namun itu semua hanya sia-sia. Ia melirik kesamping, dimana ibunya tengah terduduk lemas, seluruh tubuhnya pucat tak berwarna, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan.
Aurell menangis, ia tak tega melihat mamanya yang tercinta dengan kondisi yang sangat mengenakan itu.
'Tolong Aurell... Tolong mama, kasihanilah adikku' gumam Aurell dalam hati.
"Beneran ini, kita buang mereka kehutan?"
"Ya mau bagaimana lagi? Ini sudah jadi pekerjaan kita"
"Sayang banget hidup mereka ya!" dua pria saling berbicara, sampai mereka tak menyadari jika sebuah mobil hitam menuju kearah mereka dengan kecepatan yang tinggi.
"Loh.. Itu mobil kok kesini?"
"Gawat" saat pria itu ingin memutar arah, namun hal itu sudah terlambat kala mobil mereka terhempas oleh mobil yang melaju cepat kearah mereka.
Brak... Tubrukan itu sangat kencang sehingga membuat mobil itu oleng.
"Sial!" umpat pria itu langsung keluar dari mobilnya.
Pria itu membuka pintu bagian penumpang, namun bola matanya langsung melotot kala tak melihat keberadaan Aurell dan Vita disana.
"Bro.. Bangun, kita kehilangan dua wanita itu" ucapnya membangunkan temannya yang pingsan itu.
"Hah? Udah dicari?"
"Sudah... Gawat kita harus lapor bos"
"Bos... Kita mengalami kecelakaan secara mendadak, dua wanita yang kami bawa tiba-tiba saja menghilang"
Adhitama yang mendengar itu langsung terkejut.
"Apa kau bilang? Menghilang, bagaimana bisa?" teriak Adhitama.
"Ada apa sayang?" tanya Sinta yang baru bangun dari tidurnya.
"Gawat, Vita dan anaknya menghilang"
"Apa?" teriak Sinta.
"Sayang, cepat kemasi barang-barang kita, malam ini juga kita pindah keluar negeri, kita akan tinggal disana"
"Tapi sayang? Kenapa tiba-tiba sekali?"
"Aku tak bisa menjelaskan, sekarang cepat kita siap-siap, bawa Gavin juga"
Setelah itu mereka bersiap dengan sisa waktu mereka miliki, mereka meninggalkan kediaman mereka dan melakukan penerbangan mendadak ke London, memulai hidup baru disana.
...----------------...
Disebuah ruangan, saat ini Vita tengah dirawat oleh beberapa dokter disana. Aurell pun ada disana, ia sama sekali tak mau berjauhan dari mamanya.
"Mama... Mama harus kuat, Jangan coba-coba tinggalin Aurell sendiri" gumam Aurell sesekali menyeka air matanya.
Setelah kejadian tabrak lari itu, Aurell dan Vita dibawa oleh beberapa kelompok yang asing dimata Aurell, namun Aurell tak mempedulikannya yang penting baginya adalah keselamatan Vita.
__ADS_1
Beberapa dokter itu terus bekerja keras dan berhasil mengeluarkan dua peluru yang tertancap ditubuh Vita. Namun setelah mengeluarkan peluru itu, sepertinya tak ada tanda-tanda kabar baik dari kondisi Vita, layar monitor yang sejak tadi terpampang itu terus menunjukan garis lurus yang menandakan detak jantung Vita sudah tidak ada.
Salah satu senior dokter itu, menghela nafasnya, ia lalu berjalan kearah pria berjas hitam, yang bisa dikatakan orang itu lah yang menyelamatkan Aurell dan Vita.
"Tuan... Sepertinya saya tak bisa menyelamatkan istri anda, sekaligus janin yang ada didalam kandungannya" ucap dokter itu.
Ya! Orang yang menyelamatkan Aurell dan Vita itu adalah ayah kandung Aurell sekaligus suami dari Vita.
Gerland menghela nafasnya berat, ia lalu berjalan kearah istri dan anaknya berada. Ia menatap sendu istrinya yang terbaring pucat tak bernyawa, ia menegakan tubuhnya berusaha untuk kuat menghadapi itu.
Tepukan bahu dirasa oleh Aurell, Aurell lalu mendongakan kepalanya. Ia lalu menepis tangan itu dengan kasar.
Hati Gerland terenyuh melihat putri yang pernah dalam gendongnya itu, menolaknya dengan tatapan kebencian.
"Jangan sentuh aku dengan tangan busukmu itu!" ucap Aurell dengan tatapan kemarahan.
"Papa sebelumnya minta maaf Aurell, yang tak bisa menjaga kamu dan mama kamu disaat kalian kesulitan" ucap Gerland menunduk.
"Terlambat!" ucap Aurell dingin.
Gerland ingin merengkuh tubuh Aurell namun ia urungkan. "Mama kamu dan adik kamu, sudah lebih dulu pergi ke syurga Aurell" lirih Gerland.
Aurell terdiam, ia menatap Vita namun airmatanya tak menetes.
"Arrrrrggg...." teriak Aurell mencengkram baju milik Vita, emosi Aurell mulai tak terbendungkan.
"Kenapa? Kenapa? Harus dia yang harus diambil, kenapa tak aku saja yang tak berguna ini" teriak Aurell historis menjambak rambutnya dengan tenaganya.
Gerland merengkuh tubuh kecil milik Aurell untuk menenangkannya, namun Aurell memberontak dari pelukan itu.
"Dimana saja kau! Saat kami butuh? Lihatlah atas akibatmu! Dia sudah mati! Itu semua gara-gara kau, kau bukan papa ku! Kau hanya pria bajingan yang tak pantas disebut suami" teriak Aurell terus memukul Gerland. Ia menyalahkan itu pada papanya sendiri untuk meluapkan emosinya.
Hati Gerland terasa sakit melihat istri tercinta mati didepan matanya, tidak hanya itu! Kemarahan dari putrinya membuat uluh jantungnya terasa dihujami paku membuatnya mati rasa.
"Aurell tenang lah..."
Aurell mendorong tubuh Gerland. "Aku akan membunuh semuanya! Aku akan membunuh semuanya, tunggulah pembalasan ku" teriak Aurell.
"Jika itu keinginanmu, maka aku akan serahkan pasukan Sharky padamu" gumam Gerland.
Sharky yang artinya hiu, kelompok mata-mata berdarah dingin yang dibangun oleh Gerland dengan jerih payahnya, itu sebabnya ia rela meninggalkan keluarganya untuk sebuah misinya itu. Tujuannya sama dengan Aurell yaitu membalaskan dendam atas penipuan dan kematian yang disebabkan oleh keluarga Adhitama.
Dan disitulah perjalan misi Aurell dimulai, diusianya yang masih terbilang sangat kecil. Namun tak jadi masalah bagi Aurell, karena Aurell memiliki tekat yang kuat untuk membalaskan dendamnya. Rasa kebenciannya yang membuat orang tersayangnya, meninggalkannya untuk selamanya.
.
.
.
.
Flas Back, off
Bersambung.
Akhirnya dah berakhirnya ya... Cerita masa kecil Aurell, rasa penasaran kalian pun, pasti dah hilang.
Ini merupakan part terpanjang ya... Jadi jangan pelit-pelit beri dukungan pada author ini(^_-)
__ADS_1