Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Ricuh?


__ADS_3

Masih berada dikampus Western University, sedari tadi dua sepasang insan masih saja berdebat didekat parkiran itu, mereka sampai tak sadar jika mereka berdua jadi sorotan bagi mahasiswa dan mahasiswi yang ada disana.


"Aurell kan itu?" tanya seorang mahasiswi pada temannya.


"Iyalah siapa lagi, udah jelas sekali penampilannya yang mencolok itu, penampilannya kayak anak laki-laki, urak-urakan" cibir mahasiswi itu.


"Denger-denger Gavin mutusin dia ya"


"Mutusin apa? Orang gak pacaran kok"


"Trus apa mereka kan deket, atau dicampakan gitu?"


"Nah itu baru bener, dicampakan! Karena Gavin lebih memilih primadona kampus ini dari pada cewek urak-urakan itu"


"Hah? Primadona? Eira maksud lo?" katanya bertanya pada temannya itu.


"Iya lah siapa lagi, semua orang juga tau, orang gosipnya udah tersebar, dan yang paling Hot nih... Besok si Eira mau tunangan sama Gavin"


"What! Bener-bener berita hot tuh ya ampun kok aku bisa ketinggalan berita gini sih"


"Makanya apdet dong, semua orang yang ada disini diundang loh sama Eira, katanya mau mengadakan pesta meriah diapartemen miliknya"


"Wow.. Beneran yaampun makan gratis dong, hahaha... Tapi ngomong-ngomong aku kasihan banget lo sama si Aurell itu, udah hidupnya susah dicampakan pula, ngenes banget kan hidupnya"


Kedua mahasiswi itu tak hentinya mencemoh Aurell didepan umum, mereka tak berbicara berbisik tapi mereka berbicara dengan terang-terangan bahkan Aurell pun mendengarnya.


"Yaampun tuh mulut... Kok bisa bau banget yah? Ngalah-ngalahin kentut sapi, sebenarnya ada bau apa sih ini lan?" kata Gustin yang tiba-tiba muncul entah dari mana, ia tak sendiri tentu saja ia ditemani dengan kedua temannya Doni dan Erlan.


"Yaelah tin, lu kok gatau sih... Kan itu bau pembuangan sampah" ucap Erlan yang tak merasa berdosa itu.


"Eh bener lan, baunya nyengat banget kayaknya ada disekitar kita deh... Tapi mana ya?" ucap Gustin, sambil mengenduskan hidungnya mengintari dua siswi yang beberapa detik lalu mencibir Aurell itu. Padahal ia jelas-jelas berbicara bau mulut, tapi masih saja beralasan mencari keberadaan bau itu.


"Kan lu bilang tadi bau mulut, ngapain pake nyari lagi, orang yang lu cari aja didepan kau itu" ucap Erlan dengan santainya.


"Oh! Iya-ya kok gue pake nyari segala" kata Gustin.


Kedua siswi yang tadinya tengah asyik mencibir Aurell itu terdiam, mereka terdiam karena merasa kesal akibat sindiran dari Gustin dan Erlan itu.

__ADS_1


Mereka masih bungkam, namun sedetik kemudian mereka berlari. "Dasar gak jelas" ucap kedua mahasiswi itu setelah berlalu dari sana.


"Lah! Malah kabur" ucap Gustin.


"Biarin tin... Pengecut mah emang begitu, kayak biawak satu entuh" kata Erlan sambil merangkul pundak Gustin itu.


"Maksut lo apa?" tanya Gustin yang merasa tersindir itu.


Doni yang ada dibelakang mereka itu hanya menghebuskan nafasnya. "Udah-udah kalian ini kayak emak-emak yang lagi puber aja" kata Doni, sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.


"Noh... Dengerin tuh apa kata A'a Doni, lu kayak emak-emak yang lagi puber" ucap Erlan setelah itu berlari menyusul Doni.


"Apa lu kate? Woy.. Malah ditingalin dasar kambing" teriak Gustin setelah itu berlari mengejar Erlan.


"Lo belum pulang Rell?" tanya Doni yang sudah berada dimana Aurell dan Sagarr berada.


"Ini kami mau pulang" ucap Sagarr.


Doni mengerutkan keningnya. "Kami?" tanya Doni bingung.


"Iya aku mau nganter Aurell pulang, sekalian bareng" jawab Sagarr sambil menyendiri.


"Awww.. Aww" ucap Sagarr sambil memegangi kakinya yang terasa sangat sakit itu, Sagarr belum siap menahan serangan Aurell, itu sebabnya ia kesakitan.


"Bener-bener kaki baja" gumam Sagarr.


"Beneran Rell, kalian mau pulang bareng?" tanya Doni yang merasa belum yakin itu.


"Gak"


"Iya"


Jawab serempak Aurell dan Sagarr. Doni yang mendengar itu merasa bingung.


"Eh ada apa ini? Kok serius banget" ucap Gustin menghampiri mereka sambil menghampit Erlan diketiaknya.


"Tinn... Lepasin gue, sesek ini" mohon Erlan sambil menepuk-nepuk tangan Gustin dengan kencang.

__ADS_1


"Eh kalian kok malah diem aja, kalian lagi ngobrolin apa?" ucap Gustin mengabaikan perkataan Erlan yang memohon itu.


"Gak ada kok" jawab Doni.


"Aaelah gak seru lu pada"


"Udah lepasin tuh anak orang, nanti mati tuh" ucap Doni yang merasa tak tega melihat sahabat satunya itu tersiksa.


Gustin pun melepaskan Erlan. Erlan yang mendapat oksigen itu segera menghirupnya dalam-dalam.


"Kasian anak kambing" celetuk Gustin.


Erlan yang mendengar itu kesal, ia lalu menendang kaki Gustin.


"Bangsat kaki gue" teriak Gustin kesakitan.


"Sukurin" ucap Erlan puas.


"Hahhhh... Kalian ini bener-bener kayak anak kecil" ucap Doni sudah mulai bosan melihat tingkah Erlan dan Gustin yang sungguh kekanakan itu.


Doni beralih pada Aurell. "Rell.. Besok kamu dateng keacar Gavin?" tanya Doni serius.


Aurell terdiam sejenak, setelah itu ia mengedikan bahunya dan berlalu meninggalkan mereka.


"Loh? Rell.." ucap Sagarr, setelah itu berlari mengejar Aurell.


"Loh mereka mau kemana?" tanya Gustin bingung.


"Gatau.. Mungkin males liat muka lu, kayak kambing" ujar Erlan sambil berlari meninggalkan Gustin.


"Woy.. Mau kemana lu" teriak Gustin mengejar Erlan.


Doni menghela kembali. "Hahhhh... Temannya siapa itu" gumam Doni.


Bersambung.


Halo.. Readers, author mau nanya nih, sejauh ini karya author seru gak sih😁 kalian bebas berkomentar biar author tau.

__ADS_1


Dukung author dengan tinggalkan jejak... Like, Komen And Vote.


__ADS_2