Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Siksaan


__ADS_3

******


"Mengapa kau melakukan ini Aurell!" teriak Gavin.


Aurell tertawa. "Mau aku beritahu rahasia apa yang diperbuat orangtua mu itu?"


Adhitama tersentak. 'Apa yang dimaksud wanita itu? Rahasia apa yang dia maksud?' batin Adhitama merasa bingung.


"Suamiku! Rahasiapa yang dimaksud wanita itu, apa dia tau rahasia yang selama ini kita sembunyikan itu?" bisik Sinta pada Adhitama.


Adhitama tak menjawab, ia masih memikirkan atas apa yang diucapkan istrinya itu. Ia mengeleng, mana mungkin rahasia yang hanya ia dan istrinya tau itu diketahui oleh orang lain, termasuk Antoni juga tau karena orangtua Eira itu merupa salah satu bagian anggotanya.


"Rahasia apa maksudmu? Jangan terus membuat Aurell!" teriak Gavin.


Aurell mulai berjalan. "Aku akan menceritakan beberapa kisah yang akan membuat terkagum-kamu Gavin! Pasti kau akan penasaran yakan?" ucap Aurell menatap Gavin.


Gavin tak menjawab, ia hanya meremas tangannya untuk meredam amarahnya itu.


Aurell berjongkok, ia menatap kearah Sinta yang juga menatapnya dengan tatapan benci.


"Kenapa kau menatap ku? Dasar wanita jal4ng! Cuih.." ucap Sinta sambil meludah kearah Aurell, tetapi Aurell berhasil menghindarinya.


Aurell merubah rautnya menjadi dingin, Jek yang melihat itu tersenyum seketika.


"Berani bermain-main dengan singa, haha" gumam Jek sambil tertawa.


Sinta mendongak kala Aurell dengan kasarnya menarik rambut milik Sinta itu.


"Akhhhh... Rambutku" teriak Sinta.


"Aurellia!" teriak Gavin, ia berlari ingin menolong mamanya namun anggota bertopeng itu segera mencegah Gavin.


"Lepaskan aku! Jangan ganggu orangtua ku Aurell!" teriak Gavin sambil mencoba melepaskan diri dari beberapa orang yang mencegahnya.


Aurell menjulurkan jarinya kedepan. "Sssttt... Jangan terlalu berisik Gavin... Aku sangat benci dengan yang namanya keributan" ujar Aurell pada Gavin.


"Kau dengar apa yang dikatakan Nona kami? Dia tidak ingin ada keributan jadi diamlah" ucap salah satu anggota bertopeng itu pada Gavin yang terus memberontak.


Namun Gavin tak mengidahkannya ia terus saja memberontak.

__ADS_1


"Jangan pernah sakiti orangtua ku Aurell! Maka aku akan semakin membencimu"


Aurell tersenyum mendengar perkataan Gavin, ia lalu dengan sengaja menarik lagi rambut Sinta, membuat Sinta berteriak histeris.


"Aaakkk... Lepaskan tangan busukmu itu dari Rambutku wanita jal4ng"


"Apa? Tangan busuk? Bukankah tanganmu sendirilah yang busuk"


"Hentikan omong kosongmu itu! Jal4ng" geram Sinta yang terus saja menyebut Aurell dengan sebutan wanita jal4ng.


"Apa kau masih ingat? Beginilah kau menyiksa seorang wanita yang terus memohon padamu agar kau mengampuninya! Bahkan wanita itu tengah mengandung" ucap Aurell dengan nada dinginnya.


Sinta terkejut, ia menatap Aurell. "Apa maksudku?"


Aurell terkekeh, ia lalu menghempaskan tubuh Sinta dengan tragisnya.


"Akhhhh.." rintih Sinta.


"Istriku!" teriak Adhitama.


"Hentikan semua iji Aurell!" teriak Gavin lagi-lagi.


Namun Aurell mengabaikan perkataannya, ia lalu kembali kearah Sinta dan tanpa aba-aba ia langsung menginjak tangan itu dengan keras, hal itu membuat Sinta kembali mengerang.


"Ini masih belum seberapa nyonya! Jadi persiapkanlah dirimu, agar kau tak terkejut dengan rasa sakit yang akan menimpamu nanti" ucap Aurell yang terus menginjak tangan Sinta sampai mengeluarkan darah, sebab sepatu milik Aurell itu memiliki tumit yang tajam dan membuat tumit itu menusuk tangan Sinta hingga sampai mengenai tulang tangannya.


"Berhenti melakukan ini... Aku mohon, jangan siksa aku..." rintih Sinta mulai menangis.


"Gavin... Tolong mama nak.. Mama tak sanggup..."


"Mama... Jangan sakiti mamaku Aurell... Aku mohon" ucap memohon ia sampai terduduk dilantai.


"Mohon katamu? Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu? Kau tak ingat? Seorang wanita yang bekerja dirumahmu, terus kau siksa... Bahkan ia terus memohon padamu! Agar kau mengampuninya..." lirih Aurell yang tak sanggup mengingat masa lalunya.


"Tapi apa? Kau menyiksanya sampai akhirnya ia meninggal bersama bayi yang ada dikandungannya itu...  Betapa kejihnya kau! Dasar wanita biadap! BRENGSEK!" teriak Aurell, tanpa segan ia terus menendang tubuh Sinta sampai mencapai kedinding beton itu. Sinta terus merintih, tubuhnya kini penuh dengan bercak darah bahkan bajunya pun ikut terkoyak.


Eira melihat kekejaman Aurell itu memejamkan matanya, ia tak sanggup melihatnya, yang ia rasakan saat ini ketakutannya yang terus melanda, bahkan ia sampai memeluk mamanya yang juga memeluknya dengan erat.


"Hentikan! Jangan siksa istriku!" teriak Adhitama.

__ADS_1


Aurell berhenti, ia berbalik menatap Adhitama. Lalu ia berjalan menghampirinya sambil bertepuk tangan.


"Tuan Adhitama... Aku sampai lupa jika ada dirimu disini, mukmin karena aku sangat keasyikan ya... " ucap Aurell tertawa.


Aurell melihat kearah anggotanya, salah satu anggotanya itu menganguk paham dan membawa sebuah pisau kecil untuk diberikan kepada Aurell. Aurell dengan santai menerima pisau itu.


Sreekkkk...


Sebuah sayatan indah tepat mengenai leher milik tuan Adhitama. Adhitama yang menerima itu tak bisa bersuara akibat sayatan yang diterimanya itu hampir mengenaik tengorokannya. Darahnya terus bercucuran tanpa henti.


Prok... Prokk.. Prookkk.. Tepukan tangan itu berasal dari Jek.


"Waw... Itu sangat indah Nona" ucap Jek tersenyum puas, ia puas karena ia sangat suka melihat pertunjukan itu.


"Apakah kau mengingatnya tuan? Pasti anda ingatlah, seorang bocah kecil yang terus menarik bajumu agar tak melakukan penyiksaan untuk pelayan yang pernah bekerja denganmu"


Adhitama menatap kearah Aurell. "Apakah kau.."


"Yaa... Aku lah anak dari pelayan yang kau siksa sampai mati itu, bahkan kau sendiri yang membuangku ditengah hutan saat kau melakukan kejahatan itu" ucap Aurell dengan senyum devilnya, namun tak bisa dipungkiri jika didalam hatinya yang terdalam itu sangat rapuh, mengingat hal yang membuat dirinya sangat menderita.


Adhitama memegang kaki Aurell, ia bersujud.


"Apuni aku... Tonglong ampun aku.. Ak-aku mengaku bersalah" mohonnya.


Aurell tertawa keras. "Apa kau bilang? Mengampuni? Tidak semudah itu tuan"


Seerekkkk...


"Akhh..."


Teriak Adhitama saat punggungnya tersayat, oleh pisau kecil namun tak bisa diremehkan betapa tajamnya itu.


"Hentikan semua ini Aurell... Hentikan!" teriak Gavin tak berdaya.


"Apa katamu? Hentikan? Kau masih saja tak membuka matamu Gavin! Orang tuamu itu! Telah membunuh ibu kandungku bersama dengan adikku yang bahkan belum sempat menatap dunia Gavin..." lirih Aurell tak bisa menahan emosinya.


Gavin tertegun. "Ti-tidak mungkin Aurell... Orangtua ku tak akan pernah melakukan hal sekejih itu..." ucap Gavin masih tak percaya atas kebenaran yang ia dengar itu.


Aurell kembali tertawa. "Aku tak peduli jika memang kau tak percaya, kau adalah putranya, tentu saja buah tak akan jatuh dari tempatnya, orangtua dan anak pasti akan ada kemiripan, sama-sama munafik!"

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa dukungannya ya guys... Biar authorrr tetap semangat...


__ADS_2