
Joy saat ini masih tengah bersama dengan Doni, dengan membopong lelaki itu menuju hotel karena ia tak tau harus dibawa kemana pria itu sekarang. Ingin mengantar kerumahnya, namun Joy sendiri tak tahu alamat rumah Doni, maka akhirnya ia memilih menuju hotel tak jauh dari taman kota itu. Ia akan menginapkan lelaki itu dihotel, setelah itu akan bergegas pulang setelah tujuannya terlaksana.
"Aurell.... Kenapa kamu begitu tega memilih pria lain..."
Doni terus meracau disetiap perjalanan, nama Aurell terus disebut-sebut oleh pria berusia dua puluh tujuh tahun itu, dan tak mau diam ketika Joy menegurnya. Akhirnya Joy pun membiarkan pria itu terus meracau memanggil nama wanita yang akan menjadi calon pendamping atasnnya, Sagarra Johnson.
Saat mata Joy melihat nomor kamar hotel yang ia tuju, dirinya pun langsung bernafas lega. "Akhirnya sampai juga...."
Joy yang tak ingin berlama-lama kembali melanjutkan langkahnya, dan sampailah ia tepat didepan pintu hotel yang bernomor 107. Joy pun memasukkan kunci kamar itu dan membukanya lebar-lebar, kemudian ia masuk kekamar itu sambil menarik Doni untuk dibawanya dikasur hotel itu. Tak lupa ia sudah menutup pintunya dengan menggunakan kaki, karena tangannya saat ini tengah kerepotan membopong pria yang tengah tak sadarkan diri akibat pengaruh alkohol.
"Sedikit lagi..." gumam Joy, pun langsung menghempaskan tubuh Doni dikasur itu, sehingga pria itu terbaring telungkap.
Joy kembali menghela nafas panjang, "Hahhhhhh..... Kenapa aku harus repot-repot sih?" gerutu Joy, lantas langsung mengeleng-gelengkan kepala ketika menyadari tindakan bodohnya itu.
"Dia bahkan bukan siapa-siapaku, kenapa juga aku harus merepotkan diriku sendiri?" gumamnya, tak lupa kedua tangannya yang menempel dipingang dan menetralkan nafasnya untuk mengurangi rasa lelah akibat ulah pria yang sudah tertidur nyenyak dikasur empuk itu.
"Lihatlah dia! Begitu tenang seperti orang yang tak berbuat masalah." Joy mengeleng-geleng mengamati wajah damai Doni.
"Hei tuan! Tidurlah yang benar, jangan seperti itu, badanmu akan terasa sakit jika posisi tidurmu seperti itu." Joy mengoyang-goyangkan tubuh Doni, namun sang empun nampaknya tak ingin bangun dari tidurnya.
Lagi-lagi Joy menghela nafas untuk kesekian kalinya, ia pun mau tak mau membantu pria itu dengan merubah posisi tidurnya menjadi menghadap kedepan. Joy kemudian melongarkan dasi itu dan melepaskan beberapa kancing kemeja Doni, agar pria itu dapat menghirup udara dengan baik.
"Sudah selesai... Saatnya pergi..."
__ADS_1
Saat Joy baru ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba tangannya merasakan sebuah cekalan dari tangan besar nan terasa hangat dipergelangan tangannya. Siapa lagi kalau bukan Doni, diruangan itu hanya ada mereka berdua tak ada orang lain yang masuk kedalam ruangan itu.
Joy menegokan kepalanya kebelangan, dan melihat Doni yang masih terpejam sambil memegang tangannya.
"Astaga orang ini.... Lagi tidur aja malah merepotkan orang." gerutu Joy, langsung menarik tangannya dari cekalan Doni. Namun cekalan itu tampak erat sehingga Joy tak bisa melepaskannya dengan mudah.
"Hei tuan! Lepaskan tanganmu dari tanganku!" teriak Joy, masih dengan berusaha melepaskan tangannya.
Nampaknya Doni tak mendengarkan teriakan itu, ia malah menarik tangan Joy sehingga membuat wanita berpakaian jas nan terkesan sangat tomboy itu, langsung terduduk dikasur tepat disamping Doni yang tengah berbaring diranjang.
"Jangan tinggalkan aku Aurell... Tetaplah bersamaku.... Aku tak kuat lagi melihatmu bersama dengan pria lain, Aurell...." ia meracau tak jelas, namun racauan itu masih ditangkap jelas oleh telinga Joy yang memang pamah apa maksud dari ucapan itu.
"Berhenti lah meracau, kau meracau seperti ini pun. Nona Aurell tak akan datang kesini, ingatlah dia sudah menjadi pasangan dari tuanku..."
"Lepaskan tanganku tuan... Kau menyakitiku." Joy yang sudah merasa gerah itu kembali menarik tangannya, namun lagi-lagi tangannya tak terlepas dan akibatnya Doni kembali menarik tangan itu sehingga membuat Joy langsung jatuh berbaring dihadapan Doni, yang posisinya saat ini ia tengah menindihnya.
Joy sedikit menegang ketika merasakan hembusan nafas dilehernya, ia pun segera mengangkat kepalanya dan pandangannya pun langsung disuguhkan dengan wajah sayu milik Doni yang tentunya sangat tampan dimatanya.
"Astaga apa yang aku pikirkan, bisa-bisanya aku menganggapnya tampan disaat situasi seperti ini." gerutunya lagi, kemudian ia mencoba bangkit dari posisi itu namun tak bisa, karena tangan Doni sudah memeluk erat pinggangnya sehingga Joy tak bisa lagi mengerakan tubuhnya dengan leluasa.
"Astaga, kapan tangan itu ada disana?! Memang benar-benar pria merepotkan!"
"Hei! Lepaskan tanganmu itu sialan!" teriak Joy memukul-mukul dadap bidang milik pria yang ada dibawahnya.
__ADS_1
"Ssst... Diamlah Aurell... Ini posisi yang pas saat kita tengah bersama." Doni tampak tak perduli dengan pemberontakan itu, ia malah semakin gencar menempelkan dirinya pada Joy yang dimatanya saat ini adalah Aurell.
"Sialan pria ini! Kau menginginkan ini ketika bersama nona Aurell? Memang benar-benar pria mesum!" Joy terus memukul-mukul dada Doni, membuat pria mengeram tertahan.
Tangan Joy langsung terhenti ketika Doni langsung menangkap kedua tangan itu dan mengengamnya kembali dengan erat. Kemudian tanpa diduga, Doni dengan kecepatannya langsung merubah posisi mereka menjadi berbalik, dimana Doni yang saat ini diatas dan Joy berada dibawah kungunganya.
"Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah dari-"
Perkataan Joy terhenti ketika tanpa aba-aba Doni langsung mencium bibirnya dengan sangat buntal, membuat Joy yang mendapat serangan mendadak itu tak bisa mengimbanginya.
Joy pun langsung mendorong tubuh Doni dengan sekuat tenaganya, hingga membuat pria itu hampir saja terjungkal kebawah jika ia tak bisa menompang tubuhnya dengan benar.
"Menyingkirlah dariku tuan... Atau kau akan menyesalinya, akhhh..."
Joy terkejut ketika Doni kembali menarik tubuhnya kembali keposisi awal, namun kali ini berbeda, ia tak bisa bergerak sama sekali. Karena merasakan jika Doni menindihnya dengan sangat erat membuat dirinya hampir saja tak bisa bernafas.
"Hei! Kau mau membuatku mati hah?!" teriak Joy emosi.
"Ssst... Tenanglah sayang... Jangan memberontak terus... Kau cukup diam saja sambil menimatinya..." ucap Doni dengan suara lembut nan serak, membuat siapa yang mendengarnya pasti akan beranggapan jika suara itu sangat seksi.
Joy betul-betul dibuat terbengong ketika melihat perubahan sifat dari pria yang baru beberapa kali ia temui itu, biasanya pria ini akan bersikap acuh dan tak perduli. Namun kali ini yang ia lihat adalah pria romantis yang sedang memperlakukan kekasihnya dengan sangat halus nan hati-hati, terkesan manis jika orang lain melihatnya.
Bersambung.
__ADS_1