
°°°°°
Malam hari, kedatangan Gerland selaku papa kandung Aurell disambut dengan baik oleh kediaman Johnson, tentunya kedua orangtua Sagarr ikut serta menyambut kedatangan papa Aurell. Orangtua Sagarr tahu betul jika yang mengadakan acara makan malam itu merupakan rencana dari kedua anaknya, cucunya pun juga ikut serta.
Sagarr memberitahu kedua orangtuanya, jika ia akan mengundang tamu penting. Tentu saja kedua orangtuanya itu bingung, mereka tak tahu siapa tamu penting itu, namun Sagarr dengan tegasnya mengatakan jika tamu itu merupakan calon bedan mereka nanti.
Dan betapa syoknya mereka mendengar ucapan itu dari putra bungsunya. Awalnya mereka tak percaya, namun melihat putra bungsunya yang sangat berbinar ketika menceritakan sosok Aurell itu, mereka berdua pun akhirnya mempercayai ucapan itu.
Dan seperti saat ini, sosok nyonya besar selaku mama kandung Sagarr itu. Begitu memancarkan kebahagian, ketika ia tengah berbincang dengan Aurell.
Susana meja makan itu begitu ramai, karena diisi oleh keluarga Johnson yaitu nyonya dan tuan besar, kedua anaknya, menatu mereka dan juga cucu kesayangannya mereka. Tak lupa kehadiran Aurell dan juga papanya, menambah suasana keceriaan disana.
Hidangan makan sudah siap dimeja, kini mereka tinggal melahap dengan santai.
"Sudah lama suasana rame seperti ini datang dikediaman rumah kita, ya mah?" ucap tuan Johnson selaku kepala keluarga dikediaman itu.
"Iya pah... Papa bener banget, dan itu semua berkat tuan Gerland dan juga Aurell." timpal Sila, istri dari tuan Johnson.
Gerland yang mendengar itu, tersenyum. "Terimakasih jika kedatangan kami membawa kebahagiaan, saya merasa tersanjung atas sambutan dikediaman ini, yang sungguh luar biasa bagi saya. Mohon maaf jika kedatangan kami sedikit merepotkan kalian sekeluarga." ucap Gerland dengan nada, bijaksana.
"Tentu tidak merepotkan tuan Gerland! Bahkan kami sangat bahagia kedatangan anda dan putri anda, terutama putra saya. Dialah yang paling bahagia disini, bahkan makanpun dia menempel pada putri anda." jelas tuan Johnson terkekeh pelan, sambil melirik putranya yang asik sendiri memperhatikan Aurell yang ada disampingnya.
Semua orang yang duduk dimeja makan itu, mengalihkan pandangannya menatap satu objek, yaitu Sagarr.
Sedangkan Sagarr Yang menjadi pusat perhatian itu tak menyadarinya sama sekali.
Areta selaku kakak perempuan Sagarr mengeleng melihat tingkah adik bungsunnya itu, ia menepuk jidat seketika. "Dasar bocah itu, bahkan para orangtua sedang bicara pun dia tak mendengarkan." gerutu Areta yang didengar oleh suaminya yang ada disampingnya.
Suami Area berna Jemy itu tersenyum menatap sang istri, ia pun mengeluh punggung istrinya agar tak bertambah kesal.
"Udah sayang... Biarkan saja adik ipar seperti itu, dia seperti itu karena sudah jatuh oleh pesona calon adik ipar kita." ucap Jemy.
Areta menghela nafas. "Bahkan umurnya sudah sangat dewasa, tapi kalo sudah bucin sifat kekanakannya pasti langsung keluar." ucapnya.
Jemy tertawa mendengarnya. "Yah... Yang namanya juga orang yang lagi kasmaran." timpal Jemy.
"Dulu kan pas kita masi muda, kita juga seperti itu." lanjutnya.
Areta tertawa, "Bener banget kamu sayang... Hahhhh, aku jadi kangen dengan masa-masa itu."
Jemy tersenyum, ia lalu merangkul bahu istrinya dan membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya.
Sagarr merasakan telinganya yang gatal, ia merasa jika ada yang sedang membicarakannya, padahal memang kenyataan.
__ADS_1
"Nih, aku kasi ayam goreng biar kamu tambah kenyang. Kamu harus makan banyak biar badan kamu gak kurus-kurus amat." ucap Sagarr sambil meletakkan satu paha ayam dan diletakkan dipiring makan Aurell.
Aurell yang melihat itu, mengalihkan pandangannya menatap Sagarr. Sedangkan Sagarr Yang ditatap itu hanya tersenyum santai sambil menompang kepalanya dengan satu tangannya.
Aurell meletakkan kembali paha ayam itu disalah satu piring dimeja.
Sagarr Yang melihat itu tentu saja tak tinggal diam, ia mengambil kembali paha ayam itu dan diletakkan lagi dipiring Aurell.
"Jangan mengajak ribut." geram Aurell.
"Siapa yang mengajakmu ribut? Aku tak merasa tuh." Sagarr melipat kedua tangannya didada, lalu ia kembali menatap Aurell dengan tatapan tak merasa berdosa sama sekali.
Aurell menghela nafas seketika, ia mengambil kembali ayam itu dan meletakkan paha ayam itu pada piring Rasya yang tengah anteng makan disampingnya.
"Rasya.... Ini paha ayam buat kamu, kamu suka ayam goreng kan?" tanya Aurell.
Bocah itu mengangguk antusias, "Suka banget kak..." jawabannya dengan raut ceria.
Aurell tersenyum. "Bagus, dimakan ya... Biar cepet besar." timpalnya.
"Siap!" jawab Rasya, setelah itu ia memakan paha ayam itu dengan lahapnya.
Sagarr yang melihat itu dibuat melongo. "Kok malah dikasi Rasya sih?" gerutu Sagarr sebal.
"Padahal itu khusus buat kamu..." sebal Sagarr yang diabaikan oleh Aurell.
"Udahlah Sagarr... Gitu aja dibuat ribet, kayak anak kecil aja kamu." ucap Areta sambil mengelengkan kepala.
"Jangan sebut aku anak kecil! Aku sudah besar, bahkan bikin cucu buat mama sama papa aja aku sanggup." ucapnya dengan nada Santai.
"Sagarr....."
Kedua orangtua Sagarr dan kakaknya kompak memanggil Sagarr.
"Yaampun Sagarr... Kamu ini.... Tolong dikondisikan itu ucapan kamu, kamu gak sadar ada anak kecil disini?" papa Sagarr mengeleng melihat putranya itu.
Sagarr memberengut. "Maaf pah..."
Gerland sejak tadi dibuat tertawa, "Yaampun anak anda blak-blakan sekali ya..."
Tuan Johnson yang mendengar itu merasa malu. "Yah... Begitulah tuan Gerland, anak saya walau sudah dewasa. Tapi sifatnya masih kekanak-kanakan." jawab Johnson.
"Oh! Iya... Bagaimana kalau setelah ini kita mengobrol sambil minum teh bersama?" lanjutnya.
__ADS_1
"Boleh... Sepertinya itu menyenangkan." jawab Gerland.
...----------------...
Setelah acara makan bersama itu telah selesai, kini para anggota keluarga dan juga Gerland tengah bersantai diruang keluarga.
Sedangkan Aurell dan Rasya, saat ini tengah duduk dipingir kolam renang, dengan kaki yang dicelupkan didalam kolam renang itu.
"Rasanya hali ini selu banget deh..." celetuk Rasya, sambil memainkan perahu kecil kesukaanya.
Aurell menengok kesamping. "Benarkah?" tanya Aurell.
Rasya mengangguk cepat. "Iya... Hali ini selu karena ada kakak cantik datang kerumah ini." jawabnya.
Aurell terkekeh mendengarnya, "Kakak juga merasa seru, karena bermain sama Rasya seharian ini." timpal Aurell.
Rasya mendongak, menatap Aurell dengan tatapan binar. "Wah... Kakak merasa begitu?" tanya bocah itu.
Aurell mengelus lembut rambut milik Rasya, tak sampai disitu ia mengecup kedua pipi Rasya dengan rasa gemas.
"Iya... Kakak bahagia banget hari ini. Berkata Rasya." ujar Aurell.
Tiba-tiba bocah itu berdiri, dan meletakkan kedua tangannya dipingang. "Jika kakak bahagia... Rasya pun ikut bahagia." ucapnya dengan rasa bangga.
Aurell pun dibuat tertawa mendengarnya.
"Rasya..." tiba-tiba Sagarr berjalan mendekat dan menghampiri mereka.
"Iya paman? Ada apa?" tanya bocah itu.
"Tadi mama kamu memanggilmu, sepertinya mama kamu ingin kamu menghampirinya." jawab Sagarr sambil menyelipkan kedua tangannya disaku.
Bocah itu menatap Sagarr dengan tatapan polos, "Benarkah?"
"Ya..." jawab Sagarr mengangguk.
"Yaudah, kalau begitu... Rasya samperin mama dulu." bocah itu menengok kearah Aurell. "Kak... Rasya kedalam dulu ya..."
Aurell tersenyum, lalu mengangguk. "Iya... Sayang..."
Setelah mendapat jawaban dari Aurell, bocah itu berlari dan masuk kedalam rumah.
Sagarr yang melihat itu tiba-tiba menyerigai kesenangan. 'Akhirnya bisa berduaan juga, setelah kepergian bocah itu yang selalu nempel sama Aurell sungguh membuatku ingin mengurung bocah itu.' batinya, sambil tertawa senang didalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung.