
°°°°°
"Udah pak... Mending sibiang kerok itu, dikeluarin aja dari kampus ini." ucap mahasiswa itu pada dosen yang sedari tadi hanya diam tak bersuara.
"Dosen diandelin, orang tadi aja ikut ngehina Aurell... Lo gak inget apa?" tanya temannya.
"Oh iya, ya... Baru inget gue, haduh... Dosen bukanya ngelerai malah ikut ngehina. Kayak begitu gak bisa dijadikan panutan deh."
Dosen yang tadinya ikut menghina Aurell itu tak bisa berkutit, ia sedari tadi mengangkat kacamata bulatnya yang ia pakai itu, padahal kacamatanya itu tak pernah turun dari wajahnya. Mungkin ia melakukan itu hanya mengusir ketakutan, terbukti jika keringatnya itu terus saja bercucuran dari wajahnya.
Tiba-tiba kegaduhan terjadi kembali, ketika sosok pria bertubuh tetap berjalan menghampiri mereka, tak lupa dibelakang sosok pria itu sudah ada dua pengawal yang setia mengikutinya.
Aurell melotot saat melihat siapa yang datang itu, "Ayah?" gumanya yang tak percaya jika sang Gerland ayah dari Aurell datang kekampus itu.
Gerland sampai pada tujuan, dan kini tepat didepan dosen itu berada.
"Saya mendapat panggilan jika putri saya Aurell! Tengah berbuat masalah disini, apakah itu benar pak?" ucap Gerland bertanya pada dosen itu.
Dosen itu yang tadinya menganga, kini tersadar dan mencoba menetralkan rasa gugupnya. "E-eh.. I-ya pak." jawab dosen itu dengan rasa kegugupan yang melanda.
Gerland menganguk mengerti, kemudian ia mengalihkan pandangannya menatap sang putri. Dilihatnya Aurell tengah menatapnya dengan tatapan tajam, Gerland yang melihat itu hanya bisa memberikan senyum tulusnya seperti biasanya saat tengah bertatapan dengan sang anak.
Kemudian mata itu, mengalihkan pada satu persatu orang-orang yang berada disamping Aurell. Tepat pandangannya itu berhenti, ia melihat Sagarr yang juga tengah melihatnya.
__ADS_1
Sagarr memberi senyum misterius pada Gerland begitu pula Gerland membalas senyuman Sagarr yang tak kalah misteriusnya.
Jangan tanya jika Aurell tak menyadari itu. Aurell benar-benar menyadari jika kedatangan ayahnya itu semua pasti perbuatan Sagarr, Aurell menghela nafasnya sejenak. Ia benar-benar tak tahu apa yang akan direncanakan oleh kedua pria yang hanya berbeda usia itu.
"Ehemm.." Gerland berdehem dan kembali menatap dosen itu. "Baiklah, jika putri saya benar-benar berbuat masalah. Jika memang begitu tolong bawa saya keuangan anda. Dan beri saya sebuah penjelasan tentang masalah yang diperbuat oleh putri saya, apakah anda membiarkan saya hanya berdiam saja disini? Saya itu tamu loh... Tolong hargai saya." ucapan itu seakan menyindir dosen yang masih terdiam itu, dosen itu kembali gugup.
"Eh, iya pak... Maafkan atas kesalahan saya. Kalau begitu mari... Ikut saya keuangan untuk membicarakan masalah ini."
"Oke.." jawab Gerland. "Tapi saya ingin ketiga gadis itu ikut dengan saya. Setelah itu saya ingin satu saksi mata juga ikut bersama saya... Apakah anda memperbolehkan pak?" katanya dan menatap dosen itu, seolah meminta persetujuan.
Dosen itu mau tak mau mengiyakan, ia begitu merinding ketika melihat dua pengawal yang berdiri tegak dibelakang Gerland. Itu sebabnya dosen itu mau tak mau menyetujuinya.
Dirasa sudah cukup, dosen itu membawa Gerland kedalam ruangannya. Tak lupa dengan Eira, Mita, Sela dan juga satu saksi ikut bersama mereka.
"Gila... Bapaknya si Aurell ternyata masih muda cuy... Bule lagi" celetukan itu dari salah siswi.
"Bener banget... Gak nyangka Aurell bisa dapet bapak seganteng itu... Bisa gak sih... Gue daftar jadi kandidat istrinya."
"Ngawur lo! Yakali Aurell mau jadiin lo ibu tirinya..."
Begitulah tanggapan para mahasiswi tentang ayah kandung Aurell. Terdengar omong kosong dan tak penting, itu benar-benar membuat Aurell yang mendengarnya menjadi muak dan malas secara bersamaan.
Tiba-tiba Gavin menghampiri Aurell yang masih bergelut dengan pikirannya.
__ADS_1
"Aurell..." panggil Gavin, namun Aurell sekian tak mendengar suara itu. Ia lebih memilih pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh sedikit pun.
Saat Gavin ingin mengejar Aurell, Sagarr dengan kegesitannya menghadang Gavin.
"Eiss.. Mau kemana?"
Gavin menyentak tangan Sagarr, "Jangan halangi jalanku!" teriak Gavin.
"Setelah kau menyudutkan Aurell, kini kau mau mengejarnya dan mau mohon-mohon minta maaf?" tanya Sagarr. Kemudian ia berdecih, "Tak semudah itu! Aku akan terus menghalangimu agar Aurell tidak lagi melihat wajah, memuaskan mu itu! Ingat!" ucap Sagarr dengan penuh penekanan.
Setelah mengatakan itu, Sagarr lalu melihat asistennya yang berada tepat dibelakangnya, kemudian ia memberi isyarat. Joy yang mendapat kode itu mengerti, segera ia menghalangi tubuh Gavin dan membiarkan Sagarr berlalu pergi untuk menyusul Aurell.
Gavin melototkan matanya, "Hey! Mau kemana kau! Hey." teriak Gavin yang sudah tak didengar oleh Sagarr, Gavin ingin mengejarnya. Namun asisten Joy lebih dulu menghalanginya.
"Lepaskan aku! Jangan menghalangi jalanku!" ucap Gavin yang memberontak pada Joy yang tengah mengunci pergerakannya.
Walau Joy adalah seorang wanita, namun dirinya ini jago bela diri dan mampu menahan berat badan. Itu sebabnya ia begitu mudah menahan tubuh Gavin walaupun perasaannya sangat tinggi darinya.
"Tidak bisa! Saya akan mencegah anda mendekati nona Aurell." ucap Joy dengan nada tegasnya.
Gavin sungguh tak bisa melepas dari cekalan itu, ia hanya bisa mampu mengumpat dan pasrah ketika Sagarr sudah lebih mendahuluinya.
Bersambung.
__ADS_1
Doubel up, jangan lupa tangapannya ya guys....