
Bulu mata lentik dengan garis mata yang tajam itu tengah mencoba membuka matanya perlahan, sinar matahari berkilauan yang masuk melalui cela-cela jendela membuat indra penglihatan silau dan susah untuk melihat gambaran yang ada disekitarnya.
"Aurell... Putriku sudah bangun."
Samar-samar ia mendengar suara yang memanggil namanya, ia mencoba membuka matanya lebih lebar. Dan ketika mata itu sudah terbuka dengan sempurna barulah ia dapat melihat gambaran-gambaran yang ada disekitarnya. Ia melihat ruangan itu berbalut warna putih dan sedikit mencium bau obat disekitarnya.
Aurell mendongak dan melihat seorang pria bertubuh kekar tengah tersenyum padanya.
"Papa?"
Pria tegap itu sedikit tersentak kala mendengar satu kata yang sudah lama tak terucap dari bibir wanita yang sungguh sangat ia rindui itu.
Pria paru baya itu menutup mulutnya haru, ia menengok kearah asistennya yang ada dibelakangnya itu.
"Dion..."
"Ya tuan.." asisten bernama Dion itu menganguk sambil tersenyum, pertanda meyakinkan atasannya itu.
"Putri papa..." ucapnya, lalu mengambil tangan putrinya itu dan dielus dengan rasa sayang.
"Putri papa sudah kembali.... Papa sangat senang." sangking terharunya, ia menitikan air matanya yang sudah ia tahan sedari tadi. Air mata itu terus keluar dan tak bisa ditahan lagi.
Aurell seketika melebarkan matanya, melihat sosok gagah yang ada didepanya itu untuk pertama kalinya menangis didepannya, ia sungguh dibuat terkejut, bagaimana tidak terkejut jika pemimpin dari Sharky yang terkenal tegas dan berwibawanya itu langsung menunjukan kelemahannya didepan asisten dan para perawat yang ada disekelilingnya.
"Putri papa... Papa sangat rindu, papa sangat frustrasi jika putri papa juga meninggalkan papa didunia ini.... Papa sungguh kesepian..." ucap Gerland, sambil sesegukan seperti anak kecil.
Aurell yang melihat itu merasa tak enak hati, ia mencoba bangkit dari duduknya walau agak kesusahan namun para perawat disana sigap membantu dirinya.
Saat sudah terduduk dari baringnya itu, Aurell segera memeluk papanya dan memberikan kekuatan pelukan kasih sayangnya itu.
"Jangan menangis... Aurell sudah kembali." ucap Aurell didalam pelukan tubuh kekar milik papanya, walau papanya berumur lima puluh tahun. Namun badannya masih tetap tegap dan berisi, ototnya pun masih kelihatan karena pemimpin dari Sharky itu sering menyempatkan olahraga.
Gerland mengurai pelukan itu, ia lalu beralih menatap putrinya yang sangat ia rindui itu.
"Papa sangat merindukan putra papa ini... Papa senang Aurell sudah pulih." ucapnya dengan rasa tulus.
Aurell menganguk, lalu tangannya terangkat dan menghapus sisa-sisa air mata yang ada dipipi Gerland, papanya itu.
"Jangan tinggalin papa disini ya sayang... Jika Aurell juga mengingatkan papa, rasanya papa tak sanggup lagi hidup didunia ini..." racaunya.
Aurell yang mendengar suara frustrasi dari papanya itu, menghela nafas seketika.
"Papa.."
__ADS_1
"Panggil lagi Aurell... Pagill lagi dengan sebutan itu... Papa sudah lama tak mendengar putriku memanggil ku ini dengan sebutan papa.." ucapnya dengan suara lirih.
"Papa..." lagi, Aurell memanggil Gerland dengan sebutan papa. Gerland pun yang mendengarnya kembali merasakan haru betapa senangnya ia hari ini, mendengar suara Aurell yang memanggil dirinya dengan sebutan papa tak seperti dahulu ketika Aurell memanggilnya dengan sebutan 'Ayah'. Ia sudah menebak, jika putri kesayangannya itu tak lagi membencinya.
Mereka kembali berpelukan, dan disaksikan para perawat dan dokter disana. Dion selaku asisten Gerland itu juga turut bahagia ketika melihat putri dari atasnya itu tak lagi membenci atasnya.
Bahu Aurell bergetar, ia juga merasakan rindu yang teramat dalam. Ia sungguh merindukan pelukan hangat dari papa kandungnya yang selama ini ia benci dan terus ia abaikan, sekarang ia tak mau berlarut-larut dalam sebuah kebencian, ia mengesampingkan egonya dan memilih berdamai pada masalalunya.
"Aurell juga rindu pah... Aurell rindu...." ucap Aurell yang mulai menangis dalam pelukan itu.
"Iya sayang... Papa juga rindu, papa rindu putri kecil kesayangan papa ini." ucap Gerland, lalu mengelus rambut putrinya dengan perasaan sayang.
Gerland memejamkan matanya, 'Istriku... Putri kita sudah tak membenciku, aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayanginya, seperti dirimu yang menjaganya sampai nafas terakhir...' batin Gerland dan menyeka airnya yang kembali menetes itu.
...----------------...
Dua hari sejak pernyataan bahwa Aurell telah pulih maksimal. Dan dua hari itu lah ia masih dirawat inap, dirumah sakit terbesar itu agar perkembangan kesehatan Aurell lebih maksimal lagi.
Aurell yang hampir empat jam tertidur dikasur besar itu mulai mengerjabkan matanya karena merasakan sinar matahari yang lagi-lagi membuat indra penglihatannya terganggu oleh sinar itu.
Samar-samar matanya melihat sosok lelaki yang duduk disamping tempat tidurnya itu, ia megerjab-gerjabkan matanya kembali agar bisa melihat siapa sosok lelaki itu.
Lelaki itu tersenyum ketika Aurell melihatnya.
"Gavin?" gumamnya.
Ya, sosok pria itu adalah Gavin yang dua bulan ini tak menampakkan dirinya dan baru sekarang ia memberanikan diri muncul dihadapan Aurell.
"Bagaimana dengan kondisimu Aurell?" tanyanya.
"Seperti yang kau lihat." jawab Aurell seadanya. Ia mengamati penampilan Gavin yang lebih jauh berbeda ketika terakhir kali ia bertemu dengan pria itu.
Aurell mengalihkan pandangannya kedepan, dan lebih memilih melihat langit-langit yang ada diatasnya itu.
"Tidak kusangka kau akan datang kesini." ucap Aurell dengan nada ketus, ia tak pernah mengharapkan Gavin datang menjeguknya. Entah mengapa ia sangat muak dengan hanya melihat wajah itu, saat ini yang ada dipikiranya adalah wajah seseorang yang terus menghantuinya. Wajah itu yang sudah dua hari ketika ia pulih tak pernah menampakkan dirinya. Entah mengapa hati Aurell terasa hampa.
Gavin menundukkan kepalanya, "Aku kesini hanya ingin melihat kondisimu Aurell... Dan... Aku juga kesini untuk meminta maaf padamu, atas kesalahanku! Dan kesalahan orangtua ku yang selama ini berbuat jahat padamu Aurell..."
Aurell menghela nafas panjang tak ada niatan untuk menjawab ucapan itu.
Gavin mengangkat kepalanya dan menatap Aurell yang enggan menatap dirinya itu. Sedih... Yang dirasakan Gavin saat ini, bagaimana pun ia masih menyimpan perasaan itu, ia rindu kebersamaan dirinya bersama Aurell dulu.
"Aurell... Apakah kamu mau memaafkan ku?" tanya Gavin bersuara pelan.
__ADS_1
Aurell menghela nafasnya kembali. "Dengan kesalahan sebesar itu... Apakah seseorang bisa melupakannya dan memilih untuk memaafkan?" ucap Aurell yang melontarkan pertanya pada Gavin.
Gavin diam, sulit untuk menjawab perkataan itu.
Aurell memejamkan matanya sejenak dan kembali membuka matanya.
"Aku mencoba memaafkanmu dan kesalahan kedua orangtua mu Gavin.."
Gavin tersentak mendengarnya, ia menatap Aurell dengan tatapan serius. "Benarkah Aurell... Benarkah kamu memaafkan kesalahan orangtua ku?"
"Ya!"
Hanya jawaban singkat saja membuat Gavin merasa senang dan hatinya pun merasa lega.
"Apakah kita bisa kembali seperti du-"
"Tak ada kata kembali, aku sudah memaafkanmu dan aku tak ingin mengulang masalalu kembali. Yang aku inginkan setelah ini kau menjauh dari kehidupanku, dan biarkan diriku memulai hidupku kembali. Hanya satu permintaan itu saja yang aku inginkan darimu, untuk membalas rasa lapang dadaku ini yang bisa dengan mudah memaafkan mu dan kedua orangtua mu itu."
"Apakah kau bisa memenuhi permintaanku itu, Gavin?" tanya Aurell yang langsung menatap Gavin.
Hati Gavin merasa berat mendengar perkataan demi perkataan yang terlontar dari bibir Aurell itu, apalagi Aurell meminta dirinya untuk menjauhinya.
"Apakah tak ada, kesempatan lagi untukku Aurell?" tanyanya sekali lagi.
"Tidak ada, dan tidak akan pernah ada!" jawab Aurell dengan suara tegas.
Gavin menghela nafasnya sejenak, ia kemudian mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menatap Aurell dengan senyumnya.
"Baiklah... Aku akan mengabulkan permintaanmu itu." ucapnya, yang pada akhirnya menuruti permintaan Aurell walau hatinya terasa berat namun ia berusaha untuk ikhlas.
"Bagus." jawab Aurell mengangukan kepala.
"Semoga setelah ini hidupmu dipenuhi kebahagian Aurell... Aku tak akan pernah merasa menyesal mengenal dirimu dan menjadi bagian dari masalaluku." ia menjeda ucapannya.
"Untuk terakhir kalinya aku ingin mengucapkan ini yang sudah lama tersimpan didalam hatiku."
"Aku mencintaimu Aurell! Aku menyayangimu... Terimakasih telah menjadi bagian dari masalalu terindahku selama ini, aku doakan semoga dirimu bahagia selalu dan dihindari dari segala macam masalah."
Gavin bangkit dari duduknya dan untuk terakhir kalinya ia menatap Aurell dengan perasaan sayangnya."Sekali lagi aku minta maaf Aurell... Kalau begitu aku akan pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik Aurell."
Gavin melangkahkan kakinya dan keluar dari ruangan itu.
Dan tinggallah Aurell yang masih dengan ekspresi yang sama, tak ada raut penyesalan dan tak ada raut kesedihan. Hanya ada perasaan lega didalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung.