Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Dia Lagi


__ADS_3

Doni mengusap kepalanya sejenak, kemudian ia melihat kembali Sagarr dan Aurell yang masih ada, tak jauh darinya. Kemudian ia mulai melangkahkan kalinya untuk menghampiri mereka.


Langkah terhenti, kala seseorang tak sengaja menabrak bahunya sehingga membuat dirinya agak oleng, Doni kembali mengeram kesal. Saat lagi-lagi langkahnya selalu terhalang, entah mengapa ia selalu sial saat ingin menghampiri Aurell, ada saja yang menghalanginya sehingga ia lebih keduluan oleh Sagarr.


Doni yang agak tertunduk itu, langsung mengarahkan pandangannya menatap kedepan dimana Aurell dan Sagarr berada. Namun keningnya langsung berkerut saat keberadaan dua insan itu sudah tak ada disana.


"Sial!" umpat Doni, kemudian ia mengalihkan pandangannya melihat seseorang itu yang tadi menabraknya. Kedua bola matanya langsung melotot, ketika tahu siapa yang menabraknya itu.


"Kau lagi?!!" ucapnya mengeram.


Orang itu langsung menatap Doni, "Loh? Ketemu lagi?" ucapnya dengan cengiran.


"Kenapa kau, selalu saja menabrakku ketika kita bertemu? Sebenarnya kau ini sengaja ya? Kau selalu menghalangiku saat aku ingin menghampiri Aurell!" ucapnya dengan raut wajah yang sudah kesal.


Orang yang saat ini bersama Doni itu adalah asisten pribadi Sagarr, yaitu Joy.


Joy mengangkat satu alisnya."Kenapa kau kesal begitu? Aku bahkan tak tau, jika kau ingin menghampiri nona Aurell..." jawab Joy, dengan menyelipkan kedua tangannya disaku.


Doni kembali memijit pangkal kepalanya, sangking kesalnya, kepalanya itu langsung berdenyut pusing.


"Jangan alasan kau! Aku tau, bosmu itu yang menyurmu untuk menghalangiku." tekan Doni, sedikit berteriak.


Joy kedua bola matanya malas, "Hei tuan! Saya memang asisten tuan Sagarr, bukan berarti aku selalu diperintahkan untuk mengurus hal-hal konyol seperti itu!" ucapnya acuh.


"Apa katamu? Hal konyol?" geram Doni, setelah ia mengambil tangan Joy dan mencengkramnya dengan kuat.


Joy yang melihat itu pun, dibuat melotot. "Wow tuan! Apa ini?" ia menunjuk tangannya yang sedang dicengkram oleh Doni. "Kamu mau main kekerasan ya?" lanjutnya, terkekeh.


"Kau membuatku kesal, kenapa orang-orang seperti kalian selalu mencul dikehidupan Aurell..." desisnya.

__ADS_1


"Apa katamu? Orang seperti kalian? Kau meremehkan kami tuan? Hah!" Joy tertawa sinis, ia lalu melirik Xoni setelah itu menatap pergelangan tangannya yang sudah memerah. Namun, bukan Joy namanya yang tak bisa bertahan hanya cengkraman begitu saja.


"Kubuat kau menyesal tuan! Kau sudah berani melukai wanita yang bahkan orang asing bagimu."


Setelah mengucapkan itu, Joy langsung memutar pergelangan tangannya. Lalu ia kembali mencekal tangan Doni, membuat pria itu langsung memlototkan matanya.


"Apa yang kau lakukan? Akkkkhh..."


Doni berteriak, saat tangganya dipelintir dan membawa tangan itu dibelakang punggungnya.


"Hei! Lepaskan tanganku!" teriaknya.


"Tidak! Setelah aku puas denganmu!" tekan Joy, langsung menentang kaki Doni dari belakang dan membuat sang empun terjatuh ditanah.


"Auss... Sial, tubuhku sakit." ringis Doni kesakitan.


"Apa-apaan kau ini?! Dasar kau wanita-"


Doni terdiam, tapi masih menatap Joy yang berdiri Tegal dihadspannya. Sedangkan ia masih terduduk ditanah itu.


Tiba-tiba suara derap kaki menghampiri mereka.


"Loh? Doni?"


Kedua sahabat Doni, Gustin dan Erlan langsung menghampiri mereka.


Erlan lebih dulu menghampiri Doni, sedangkan Gustin mengikutinya dari belakang.


"Kenapa kau lesehan disini sih, Don?" Erlan membantu Doni untuk berdiri. Dan membersihkan baju Doni yang terkena pasir itu.

__ADS_1


Doni tak menjawab, ia masih saja menatap Joy dengan tatapan tajam.


"Loh? Ada nona asisten disini, ngapain disini neng?" celetuk Gustin, matanya berbinar ketika melihat wanita yang sudah lama ia tak berjumpa dengannya. Membuat Gustin merindu padanya.


Joy menatap sinis kearah Gustin, Gustin yang mendapat tatapan Sinis itu seketika terkejut.


"Eh, buset. Gue salah ngomong ya?" ucapnya, lalu membekap bibirnya.


Joy acuh, ia kembali menatap Doni yang juga menatapnya dengan tatapan sengit. "Kupastikan! Jika kau berbuat kasar lagi padaku! Maka tulangmu, akan patah ditanganku. Ingat baik-baik itu!" ia menekan ucapannya, kemudian mulai melangkahkan kakinya.


Erlan bergidik ngeri mendengar itu, "Galak amat tuh cewek." gumam Erlan.


Joy yang tadi melangkahkan kakinya itu, seketika menghentikan langkahnya. Kemudian ia berjalan kembali menghampiri Doni, dan berdiri tepat dihadapannya. Ia lalu menatap Doni dengan tatapan meremeh.


"Jangan bermimpi kau bisa mendapatkan nona Aurell. Karena nona Aurell akan segera menjadi milik tuanku, ingat itu!"


Setelah mengatakan itu, Joy benar-benar pergi dari hadapan Doni.


Doni menatap punggung Joy, dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Maksudnya apa yang dibilang sama nona asisten itu?" tanya Gustin, mengerutkan alisnya bingung.


Erlan mengedikan bahunya. "Entah, katanya Aurell akan segera jadi milik Sagarr, maksudnya jadi istrinya gitu?" tebak Erlan.


"Wah... Kalo itu mah, harus ditanya sama orangnya." timpal Gustin yang langsung dianguki kepala oleh Erlan.


Lagi-lagi Doni mengepalkan kedua tangannya, ia yang selama ini memiliki perasaan pada Aurell, selalu saja keduluan oleh pria-pria yang baru saja dekat pada Aurell.


Dirinya yang selama ini memendam perasaan itu saja, harus berpikir berkali-kali saat ingin mengungkapkan perasaannya, agar tak terjadi masalah antara persahabatannya dengan Aurell.

__ADS_1


"Sialann!" gumamnya mengeram kesal.


Bersambung.


__ADS_2