
Sudah dua minggu berlalu, kejadian tak mengenakan yang menimpa antara Joy dan juga Doni. Dan dua minggu itulah mereka berdua belum saling bertemu atau memang tak ingin bertemu, entahlah, hanya mereka sendiri yang tau dan menentukan apa jalan mereka nanti.
Tepat, pada hari inilah acara yang dinanti-nantikan oleh keluarga besar telah tiba. Acara repsesi pernikahan Sagarr dan Aurell begitu megah, mengundang decak kagum bagi para tamu yang baru saja datang keacara itu.
Para tamu bertepuk tangan dan bersorak ria, ketika melihat sang pengantin wanita begitu cantik dengan gaun putih megahnya, serta perhiasan-perhiasan kecil sebagai pelengkap. Sang pengantin wanita saat ini tengah berjalan diatas karet merah, dengan tangan kanannya yang terus digengam oleh sang papa tercinta nan gagahnya menggiring putri sematawayangnya menuju kesebuah altar, dimana sang pengantin pria tengah menunggu.
Sagarr yang sudah menunggu diatas altar itu terus memancarkan senyum kebahagiannya, ia tampak begitu tampan dengan jas yang ia kenakan berwarna senada dengan sang pujaan. Tentu saja para tamu wanita begitu terpikat dengannya, bahkan pandangan para wanita itu tak teralihkan sama sekali. Mungkin sangking mempesonanya pengantin pria itu?
Begitu sang pengantin wanita menaiki pangungg altar itu, Sagarr langsung mengambil alih tangan Aurell dari gengaman Gerlan untuk ia genggam selanjutnya. Pandangannya tak mau lepas ketika melihat wanitanya yang begitu cantik nan mempesona, dirinya merasa tak menyangka jika ia berhasil menemukan Aurell dan menjadikan wanita itu untuknya seorang.
Kepala Sagarr sedikit mencondong dan mulai membisikan sesuatu ditelingga Aurell. "Kau tampak begitu cantik sayang...." bisiknya dengan nada menggoda.
Aurell hanya menunduk tak menanggapi. Namun diam-diam wanita itu tampak tersenyum dan tak menyadari jika ia benar-benar sangat bahagia pada hari ini.
"Baiklah, saya akan memulai acaranya." suara pendeta mengintruksi membuat para insan yang ada disana langsung terdiam, dan fokus menyaksikan dua pengganti itu.
Mulut pendeta itu mulai berkomat-kamit mengucapkan doa atau janji suci dalam istilah kristen, doa itu terus diucapkan selama setengah jam lamanya. Setelah selesai membacakan sebuah doa dan mengatakan jika kedua sepasang insan itu telah resmi menjadi sepasang suami istri, Sagarr kembali melengkungkan bibirnya, pertanda ia benar-benar sangat bahagia. Bahkan kebahagian itu sulit untuk diucapkan dalam sebuah kata-kata.
"Untuk ananda Sagarra, dan ananda Aurellia. Dipersiapkan untuk anda berdua menutup acara sesi terakhir ini dengan saling brciuman agar semua para tamu tau, jika anda berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri." jelas pendeta itu pada Sagarr dan Aurell.
Sagarr tiba-tiba saja tersenyum menyerigai, disuruh seperti itu tentu saja dirinya tak akan menolak. Dengan penuh kehati-hatian ia menyibak kerudung transparan yang menutupi wajah cantik Aurell, Aurell yang tadinya menunduk itu langsung mendongakan kepalanya, menatap Sagarr yang juga tengah menatap dirinya.
Selama beberapa detik mereka saling bertatapan, dan tiba-tiba tangan Sagarr langsung menyentuh leher belakang Aurell, kemudian ia mendekatkan wajahnya pada wajah wanitanya, memiringkan wajahnya sedikit lalu mengecupi bibir ranum Aurell dengan perasaan tulusnya.
Sebuah tepuk tangan langsung dari semua para tamu disana langsung membuat ruangan yang tadinya hening, kini menjadi sangat ramai dan bising. Tak lupa teriakan-teriakan heboh membuat acara itu semakin meriah.
Sudut bibir Sagarr terangkat sedikit, ia masih belum melepaskan ciumannya itu, dikepalanya memiliki sebuah rencana licik yang bahkan orang lain tak akan menyadarinya.
Aurell yang tadinya memejamkan matanya, kini berubah langsung membuka matanya lebar-lebar ketika merasakan jika Sagarr ******* bibirnya dengan irama halus. Ia pun langsung menepuk dada bidang Sagarr agar pria itu segera melepaskan pangutanya, karena memang mereka sudah terlalu lama brciuman sehingga orang-orang pasti akan menyadarinya.
__ADS_1
Dan dugaanya memang benar, tiba-tiba sebuah teriakan mengelegar membuat Aurell langsung mendorong tubuh Sagarr.
"Wey! Wey, wey.... Sudah dong.... Dilanjutin lagi dikamar, gak sabaran banget deh pengantin baru ini." sebuah teriakan itu berasal dari mulut Gustin, si biang usul suka cari gara-gara.
Mendengar teriakan itu tentu saja semua para tamu tertawa dan memandang sang pengantin dengan gelengan kepala.
Aurell yang melihat pandangan yang tertuju kearah mereka berdua itu langsung memberikan tatapan tajam pada Sagarr, Sagarr yang mendapati tatapan tajam itu hanya tersenyum manis dan berjalan, kembali mendekati penggantinya. Kemudian memeluk pingangg ramping Aurell dengan posesifnya.
"Hiraukan saja mereka... Anggap saja dunia ini milik kita berdua sayang..." bisik Sagarr tepat ditelingga Aurell, tak lupa mengecup pipi Aurell dengan perasaan candunya.
Bukannya senang, Aurell malah menghadiahi Sagarr sebuah cubitan kecil diperut pria itu.
"Aww sayang... Kenapa kau mencubitku?" ringis Sagarr mengusap perutnya yang terasa nyeri. Sepertinya cubitan itu tak main-main.
"Bersikaplah dewasa jangan bertingkah kekanak-kanakan. Atau kau akan mendapatkan akibatnya." ancam Aurell bernada ketua, acuh se acuh, acuhnya.
"Paman! Paman!"
Sebuah suara langsung mengalihkan pandangan mereka berdua, mereka berdua melihat sosok bocah kecil memakai jas hitam berjalan kearah mereka. Siapa lagi kalau bukan Rasya, si bocah polos namun suka mengusili pamannya.
"Apa?" tanya Sagarr dengan raut datarnya. Sagarr sangat malas menghadapi keponakan satu-satunya itu.
"Paman jangan dekat-dekat dengan kakak cantik.... Kakak cantik memang sudah menikah dengan paman, tapi kakak cantik tetap milik Rasya dan itu berlaku sampai Rasya besar." jelas bocah itu dengan gestur angkuhnya.
"Apa? Kau bilang apa bocah, Hah?" Sagarr merasa kesal, ia menghampiri bocah kecil itu, namun Rasya sudah lebih dulu lari dari tempat itu. Membuat Sagarr mendengus dan bertambah kesal.
Aurell diam-diam tertawa melihatnya, ada-ada saja memang kelakuan mereka berdua itu.
Disisi lain, disinilah Doni tengah berdiri tegap dengan pandangan lurus menatap sang sahabat dengan balutan gaun putih menambah kesan agun bagi wanita itu. Hati Doni terasa nyeri ketika melihat sang sahabat sekaligus orang istimewahnya tersenyum bahagia bersama pria lain dan bukan dirinya.
__ADS_1
Menghela nafas sejenak, lalu tersenyum tipis. Dua minggu ini ia sudah membenahi hatinya, ia sudah mengambil keputusan jika ia akan melupakan Aurell dan mengiklaskannya walau dirinya belum sempat mengungkapkan perasaannya. Namun ketika melihat sang habat tersenyum bahagia, hatinya ikut menghangat. Ia berfikir jika keputusannya tak salah dan menganggap kebahagian cintanya itu adalah yang utama, maka terciptalah keputusan benar itu.
Doni yang tengah membalikkan tubuhnya kebelakang, tertegun. Ia terkejut mendapati seorang wanita yang dua minggu ini selalu menghantui pikirannya.
"Kau ada disini?" tanya Doni pada wanita itu yang tak lain adalah Joy.
"Kenapa? Kaget?" Joy terkekeh sinis memandangi wajah menyedihkan Doni, pria yang ada didepannya itu memang berpakaian rapi. Namun dari pakaian rapi itu Joy dapat mengetahui jika pria tengah bersedih, terlihat dengan wajah lesu dan tak terawatnya itu.
Beberapa menit berlalu mereka masih saling memandangi dalam diam, tak ada percakapan yang dimulai diantara mereka. Doni memandangi Joy dengan perasaan bersalah, sedangkan Joy memandangi Doni hanya dengan ekspresi datar, seperti tak ada minat pada pria itu.
Sebuah suara riuh membuat pandangan mereka teralih, mereka berdua melihat para tamu yang sedang berbondong-bondong tengah membentuk barisan didepan altar itu. Sepertinya acara melempar bunga telah dimulai, namun mereka berdua tak bergeming sama sekali, tak berniat mengikuti orang-orang yang ada disana.
Para tamu semakin berteriak histeris ketika melihat sebuket bunga itu sudah dilempar oleh sang pengantin. Semua orang saling dorong mendorong untuk mendapatkan buket bunga itu.
Namun lewat beberapa detik suara kekecewaan para tamu sangat terdengar ketika melihat buket bunga itu tak didapatkan oleh salah satu dari mereka.
Yang tak terduga sama sekali, bunga itu malah jatuh ketangan Joy dan juga Doni. Mereka berdua terkejut mendapati bunga itu berada ditangan mereka, padahal mereka berdua tak ada niatan untuk mengambil buket bunga itu.
"Wuuuuww, semoga kalian berdua menjadi pasangan pengantin selanjutnya." teriak semua para tamu, lalu tertawa bersama-sama.
Joy dan Doni sejenak saling berpandangan, tengah mencerna keadaan dipesta itu.
Kemudian yang tak terduga lagi, Joy langsung melepaskan tangannya dari buket bunga itu dan memutuskan pandangannya pada Doni secara sepihak. Lalu dengan perasaan acuh ia pergi begitu saja dari tempat itu.
Tersadar dengan keterkejutanya, ia melihat punggung Joy telah menjauh dari pandangannya. Tak ingin dihantui oleh perasaan yang menganjal ia pun tanpa aba-aba langsung mengejar Joy dengan berlari secepat mungkin, membuat para tamu yang melihat langsung bertepuk tangan dan bersorak riuh pada dua pasang insan itu.
Bersambung.
Maaf ya gaes jika ada banyak typo yang terselip😉
__ADS_1