
Areta Johnson, selaku kakak kandung Sagarr itu. Sungguh gemas melihat wajah masam dari sang adik bungsung.
Areta pun berjalan mendakat pada Sagarr, setelah itu ia mencubit kedua pipi Sagarr dengan rasa gemasnya.
"Aduh.... Bayi besarku, kalo cemburu gemesin banget..." ucapnya yang masih terus mencubit pipi Sagarr.
"Akhh... Jangan seperti ini kak, itu sakit..... Kau mempermalukanku didepan calon adik iparmu." pekik Sagarr yang mencoba melepaskan tangan kakaknya dari pipinya itu.
"Wah... Adikku ini sangat percaya diri sekali ya? Bagaimana mungkin kau menganggap dia sebagai calon istrimu, apakah nona cantik itu menerimamu sebagai calon suaminya." tanya Areta.
Setelah cunitan pipi itu terlepas, tubuh Sagarr yang tadinya agak membungkuk untuk menyamakan tinggi sang kakak itu kini menegakan tubuhnya dengan gaya angkuhnya.
"Tentu saja pasti mau... Benar kan Aurell ku sayang?" ucap Sagarr dan berjalan mendekat pada Aurell, tak sampai disana saja. Ia dengan beraninya memegang tangan Aurell dan mengecupnya.
"Apakah aku pernah mengatakan iya?" tanya Aurell dengan santainya.
Sagarr membeku, ia lantas mengangkat kepalanya dan menatap manik Aurell. "Apakah kau benar-benar akan menolakku?" tanya Sagarr dengan wajah cemberutnya.
Aurell yang melihat mencoba menahan tawanya, "Apakah aku akan dibiarkan seperti ini disini? Ingat! Aku ini ada seorang pasien loh..." ucapnya.
"Eh! Iya, sampe lupa. Yuk! Yuk, masuk... Maaf ya... Kakak sampe lupa." ucap Areta merasa tak enak.
"Tak apa-apa." jawab Aurell tersenyum.
"Yeyy... Alhirlnya kak Aurell datang kelsini, nanti Rasya tunjukin main Rasya... Pasti kakak kaget nanti liatnya, asal kakak tau... Rasya punya banyak mainan loh..." ucap bocah kecil itu dengan antusiasnya.
Aurell yang melihat keantusiasan bocah yang tengah mengandeng tangannya itu dibuat gemas.
"Oh ya? Kakak jadi gak sabar nih..." timpal Aurell membuat Rasya semakin senang.
Areta yang merasa tak mendapati Sagarr itu menengok kesamping kiri dan kanan, namun tak mendapati sosok adiknya itu. Pandangannya pun melirik kembali kearah belangang. Dan ya... Sagarr masih terbengong ditempatnya itu.
Areta menghentikan langkahnya dan menghela nafas sejenak. Ia pun mengeleng-geleng melihat tingkah adiknya itu.
__ADS_1
"Yaampun bocah itu." gumamnya, "Sagarra adikku sayang! Ngapain kamu disitu? Mau jadi ayam jantan bertelur? Dasar bocah! Kalau mau mengeram dikandang sana." teriak Areta pada adiknya.
Aurell yang mendengar teriakan itu, juga menghentikan langkahnya. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan melihat kearah Sagarr.
Aurell tertawa kecil saat melihat wajah polos yang tengah terbengong seperti orang bodoh, dari sosok pria tegap itu.
"Hei? Kau tak mendengarku? Astaga bocah itu sudah kerasukan. Yuk, yuk.. Mending kita tinggal aja." kata Areta kembali menggiring Aurell dan putra kecilnya masuk kedalam rumah.
"Mah? Paman kenapa gak diajak masuk, mah?" tanya Rasya dengan wajah polosnya.
"Biarin aja. Pamanmu nanti juga masuk sendiri." jawab Areta pada putranya.
"Hemm, Aurell!" panggil Areta, membuat Aurell melihat kearahnya.
"Ya?"
"Bisakah kamu keliling atau berjalan-jalan dulu bersama Rasya? Aku masih ada pekerjaan untuk makan malam nanti, jadi... Sembari menunggu kamu bisa berkeliling dikediaman ini, dan biar putraku yang membimbing jalannya." jelas Areta.
"Bagaimana nak? Kamu mau kan?" tanyanya pada putranya.
Areta mengusap kepala anaknya dengan rasa gemas. "Pinter anak mamah... Yaudah mama tinggal dulu ya... Aurell... Aku tinggal dulu ya?"
Aurell mengangguk, "Iya kak! Silahkan." jawab Aurell, membuat Areta sedikit tertegun.
"Kamu kalo bilang kakak seperti itu, aku kok berasa punya adik perempuan ya..." ucap Areta tersenyum lembut pada Aurell.
"Dia memang sudah jadi adik perempuan kamu kak! Jadi, tak perlu lagi kakak berandai-andai."
Mendengar suara bariton itu, ketiga insan itu terkejut dibuatnya.
"Astaga Sagarr! Kalo dateng tuh bilang-bilang dong. Jangan bikin kakak jadi jantungan, dasar bocah bandel, susah diomongin." gerutu Areta, sambil mengelus dadanya yang terus berdetak kencang.
"Pufft...."
__ADS_1
Suara kekehan keluar dari mulut Aurell, ia dibuat tertawa oleh tingkah kakak beradik itu.
Sagarr cemberut, bibirnya terus memberengut dan terus dimajukan. Ia sangat kesal pada kakaknya itu.
"Sudahlan kak... Lebih baik kau cepat pergi dan urus itu urusanmu, kau terus mempermalukanku didepan kekasihku." gerutu Sagarr.
"Apa kamu bilang? Kau mengusirku? Dasar! Bocah bandel, rasakan ini."
Sebuah tepukan maut mendarat dipungungg dan dibokong Sagarr, membuat sang korban mengaduh kesakitan.
"Awww... Aduh..."
"Itu hadiah mu bocah tengill..." ucap Areta merasa puas.
Areta kembali menatap Aurell yang tengah mengandeng tangan Rasya itu, "Maaf ya nona cantik.... Mohon dimaklumi aja... Karena adikku itu emang super duper bandel banget. Jadi, jangan heran kalau disini kamu melihat sosok sifatnya yang asli." jelas Areta dengan cengiran dibibirnya.
Aurell terkekeh mendengarnya. "Baik kak, saya akan mengingatnya." jawab Aurell, masih dengan tawa kecilnya.
"Ah, kamu ini.... Bicaranya jangan terlalu sopan lah.... Yaudah kalau begitu, kakak tinggal dulu. Nikmati dulu aja waktu kalian, dahh... Kakak pergi dulu." ucap Areta yang sudah meninggalkan tempat itu.
Aurell yang masih tertawa itu membuat Sagarr kesal dibuatnya.
"Jangan tertawa. Itu tidak lucu!" tekan Sagarr.
Aurell yang masa bodo itu melirikkan matanya kesana kemari, tak berniat melihat sosok pria yang ada dihadapannya.
"Suka-suka aku lah..." sewot Aurell, membuat Sagarr melotot dibuatnya.
"Yuk, ajak kakak keliling." ucap Aurell pada Rasya.
"Yokkk..." bocah itu berseru, kemudian menarik Aurell untuk mengikuti langkahnya.
"Hei! Kenapa aku dicuekin?" teriak Sagarr, namun diabaikan oleh kedua insan itu.
__ADS_1
Bersambung.