
Gavin berjalan tergesa-gesa dikoridor rumah sakit, dirinya saat ini tengah panik lantaran memikirkan keadaan Aurell yang terkena tusukan pisau didepan matanya sendiri itu.
"Itu si Gavin, kayak cacing kepanasan aja dah." celetuk Erlan. Gusti, Erlan dan Doni juga tengah berjalan menuju ruangan dimana Aurell dirawat.
"Kebelet berak mungkin." timpal Gustin ngasal.
Erlan menonyor kepala Gustin, "Muka lo itu kalo dilihat kayak lagi nahan berak." ujar Erlan.
Gustin mencebik kesal. "Dari pada lo, muka bau pesing."
"Heh! Dari mananya muka gue bau pesing? Emang muka gue pernah buang pipis?" sungut Erlan berkecak pinggang.
"Asal lo tau ya! Gue pernah liat lo waktu buang pipis, lo bukanya cuci tangan, tapi malah ngecuci muka lo pake tangan lo. Yang bau kencing itu." jawab Gustin tak mau kalah.
Erlan melotot, "Wahh... Bener-bener lo, lo pernah ngintipin gue kencing ya?" tanya Erlan langsung menyilangkan kedua tangannya didada. "Bener-bener biawak mesum." ucap Erlan ngeri.
"Heh? Sekate-kate lu, ngatain gue mesum, lo-"
Ucapan Gustin terjeda kala Doni dengan santainya menyeret kerah baju mereka, sepertinya Doni saat ini tengah pusing menghadapi tingkah dua sahabatnya itu.
"Eh? Eh, Don! Jangan ditarik-tarik. Gue kecekik nih." ucap Gustin sambil memegangi lehernya, begitu pula dengan Erlan.
"Iya Don... Lo mau anaknya orang mati dirumah sakit ini." timpal Erlan mencoba melepaskan tangan Doni.
"Kebetulan ini rumah sakit, jadi kalian bisa beristirahat disini dengan tenang." jawab Doni santai.
Keduanya saling melototkan matanya. "Doni! Kok lu kejam banget." teriak mereka bersamaan. Sedangkan Doni hanya acuh tak menanggapi, ia tak mau terlibat keributan dirumah sakit, gara-gara ulah sahabatnya itu. Lebih baik ia cepat menyeret mereka, dari pada membiarkan mereka yang akan membuat dirinya sangat malu.
...----------------...
__ADS_1
Sesampainya diruangan, Gavin tanpa mengetuk pintu, ia langsung menerobos begitu saja. Sehingga ia tak sengaja melihat adegan tak lazim dihadapannya itu. Pasalnya saat ini Aurell dan Sagarr sangat begitu dekat, seperti orang yang tengah ingin berciuman. Tentu saja Gavin membatu melihat itu.
"Kalian sedang apa?" tanya Gavin yang mencoba mengesampingkan pikiran negativnya.
Sebenarnya yang terjadi ialah, Sagarr mendekatkan diri pada Aurell hanya ingin mengelap bibir Aurell yang tak sengaja terkena bubur saat ia tengah makan.
Tiba-tiba saja Sagarr menyerigai, sekelebat ide muncul dikepalanya. "Kenapa masih bertanya? Anak muda yang lagi kasmaran kan bisa melakukan sesuatu, kamu pamah kan?" ucap Sagarr mencoba memanas-manasi Gavin.
"Apa maksudmu? Aku sama sekali tak paham." ucap Gavin mencoba tak terpancing oleh emosi.
"Tentu saja kami tengah berciuman." jawab Sagarr dengan nada santainya.
Hal itu membuat Gavin terkejut, "Hah? Apa yang kau katakan. Hentikan omong kosongmu itu!" tekan Gavin yang akhirnya tersulut emosi.
Saat Sagarr ingin menjawab perkataan Gavin, tiba-tiba ia urungkan kala melihat tatapan tajam Aurell yang diarahkan kepadanya itu, tentu saja hal itu membuat nyali Sagarr ciut.
Aurell beralih menatap Gavin."Ada apa kau datang kemari Gavin?" tanya Aurell.
"Tidak perlu merasa khawatir denganku, aku bukanlah wanita lemah. Hanya tertusuk begitu saja langsung menangis dan pingsan." jawab Aurell santai.
"Aku tau jika dirimu bukanlah wanita lemah Aurell... Tapi rasa khawatir ini tak bisa lepas jika melihat dirimu kesakitan Aurell...." lirih Gavin.
Sagarr yang mendengar ucapan Gavin memutar matanya malas, "Sekarang kau sudah lihat keadaan Aurell kan? Bisakah kau pergi sekarang. Kau mengganggu ketanang Aurell." ucap Sagarr yang dengan teganya mengusir Gavin begitu saja, padahal yang sebenarnya ia tak mau ada pengganggu saat ia tengah berduaan dengan Aurell.
Gavin kembali emosi saat Sagarr membuka suaranya itu."Kenapa kau mengusirku? Kau sendiri kan juga pengganggu ketenangan Aurell..." kesal Gavin tak mau kalah.
Sagarr berdiri dari duduknya. "Siapa bilang aku pengganggu? Aku ini kekasih Aurell... Tentu saja Aurell tak akan merasa terganggu dengan keberadaan ku disini." ucap Sagarr dengan percaya dirinya.
"Kau.."
__ADS_1
Brakk...
"Heloo... Epribadeh.. Gusti yang tampan paripurna ini datang... Apakah kalian sudah merindukan A'a Gustin ini? Ohh... Tentu saja pasti kalian sudah merindukan eiy.. Ke.."
Suasana yang tadinya tengah tegang itu, kini berubah menjadi ricuh akibat kedatangan Gustin yang tak bisa dibilang biasa itu. Tentu saja tak biasa, jika biasa-biasa saja maka tak akan seru bagi seorang Gustin itu.
Tiga orang itu langsung menatap tajam kearah Gustin.
"Loh kok pada ngeliatin eiyke?" tanya Gustin yang tak merasa berdosa itu.
"Lu gak sadar ya tin? Gara-gara kedatangan lo... Semua orang langsung males ngeliat muka lo." ucap Erlan dengan santainya.
Gustin menatap jama Erlan, "Ngapain sih lu... Selalu aja ngerusuhin gue? Lu punya dendam ama gue?" tanya Gustin bersungut-sungut.
"Iyee... Kenape? Dari jaman kuno gue males ngeliat muka lo yang ngeselin itu." jawab Erlan, lalu ia mendudukan bokongnya dialah satu kursi diruangan itu.
"Lo.."
"Udah-udah.. Dari tadi kalian ribut mulu, gak bosen apa?" ujar Doni merasa frustrasi melihat tingkah mereka berdua.
"Kasian ngapain disni?" tanya Aurell tiba-tiba.
"Ya jengukin elo lah Rell... Masa numpang makan yakali, pake nanya lagi." sungut Gustin kesal.
"Aku tak butuh kalian jenguk, kalian semua disini hanya membuat ketenanganku hancur. Lebih baik kalian semua pergi dari sini, aku muak melihat wajah kalian." ucap Aurell langsung ngena dihati kelima pria yang berada diruangan itu.
"Hah?" beo mereka bersamaan.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya💙🐿️