
"Nona, kau membuat wajah tampanku ini tertutup oleh benda manis ini. Jadi Nona harus bertanggung jawab." tutur Sagarr menatap lekat mata Aurell.
Aurell memutar matanya malas. "Wajah buluk seperti itu, dibanga-bangakan." gerutu Aurell namun masih didengar oleh Sagarr.
"Hei nona, nona jangan salah menilai wajah saya. Begini-begini banyak wanita yang mengantre dibelakang, tapi saya tak peduli! Saya hanya menginginkan nona seorang." goda Sagarr sambil menaik turunkan alisnya.
Aurell menghela nafas jengah. "Simpan saja omong kosongmu itu! Jika memang banyak wanita yang menyukaimu, lebih baik kau pergi kepada wanita yang mengantre mu itu. Aku tak suka pada pria aneh sepertimu! Pergi sana, buang-buang waktuku saja." Aurell melepas unek-uneknya pada Sagarr, tak bisa dipungkiri, emosinya saat ini meledak begitu saja dikarenakan ulah Sagarr yang membuat darah tinggi Aurell seketika naik.
Aurell beranjak dari duduknya, berniat untuk pergi dari sana. Namun baru selangkah, tangannya langsung saja dicekal oleh Sagarr, mau tak mau ia menghentikan langkahnya.
"Eiyy... Mau kemana nona? Kau mau meninggalkan pria tampan ini begitu saja?" goda Sagarr lagi.
Aurell menatap sinis kearah Sagarr, benar-benar. Aurell saat ini sangat muak melihat wajah Sagarr yang sok polos itu.
"Lepaskan tanganku! Lebih baik kau cepat pergi dari sini, sebelum aku menendangmu sendiri keluar dari apartemen ini!" tegas Aurell.
Sagarr hanya mengacuhkannya, ia dengan santainya menopang kakinya dan tak lupa melipat kedua tangannya didada. Seolah-olah tengah meremehkan Aurell.
"Aku tak mau, aku tak mau dan aku tak mau..." ucap Sagarr sambil mengeleng-gelengkan kepalanya disetiap perkataannya itu.
Aurell yang melihat kekudetan Sagarr itu merasa diremehkan. "Berhentilah meremehkan ku! Atau aku benar-benar akan menendangmu disini." teriak Aurell emosi.
"Aku tak peduli, aku t-a-k p-e-d-u-l-i...." lagi-lagi Sagarr meremehkan Aurell dengan bernyanyi yang padahal suaranya nyanyianya itu tak enak didengar.
Buggkkk....
Suara keras itu berasa dari Sagarr, yang sudah tergeletak dilantai dengan naasnya.
Dan benar saja, Aurell tak pernah main-main dengan ucapannya. Terbukti bahwa ia baru saja menentang tubuh Sagarr dengan sekuat tenaganya.
Aurell berkecak pinggang. "Sudah ku bilang! Jika kau meremehkan ku maka kau akan dapat akibatnya."
__ADS_1
Sagarr memegangi pantatnya yang terasa nyeri itu, tak bisa dipungkiri jika pantat yang mendarat dilantai dengan kerasnya, maka sakitnya itu luar biasa. Dan Sagarr kini baru merasakan rasa sakit dipantatnya itu, ia baru pertama kali diperlakukan seperti itu seumur hidupnya.
"Akkss... Nona pantatku sangat sakit sekali, sepertinya tulang pantatku sudah patah." ringis Sagarr masih dengan posisi terduduk dilantai.
"Aku tak peduli jika pantatmu patah, atau tulang kepalamu sekalian. Aku tak perduli! Itu salahmu dan hukhmanmu karena sudah menganggu ketenanganku." ujar Aurell dengan nada acuhnya.
"Aahkkk... Ini benar-benar sakit nona... Sepertinya aku tak bisa berdiri." ucap Sagarr membuat mimik wajah yang benar-benar kesakitan.
Aurell yang tadi acuh itu merasa khawatir mendengar rintihan Sagarr yang sepertinya nyata itu. Ia lalu berjalan mendekat kearah Sagarr yang masih duduk dilantai.
Aurell menentang kaki Sagarr namun tak kencang. "Hei, jangan berpura-pura kau. Kau itu laki-laki masa begitu saja langsung patah tulang."
"Kau ini nona! Aku ini juga manusia biasa, aku bisa merasakan sakit. Jika kau berada diposisiku pasti kau akan merasakan sakitnya ini."
Aurell menggigit bibir bawahnya, sepertinya ia benar-benar merasa bersalah pada orang yang tengah kesakitan atas perbuatannya itu.
Aurell mengulurkan tangannya." Cepat berdiri, aku akan membantumu." ucap Aurell pada akhirnya menolong pria yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
Aurell merasa panik, ia pun tanpa pikir panjang langsung merangkul tubuh Sagarr, dan menyampirkan sebelah tangan Sagarr dipundaknya.
Sagarr yang melihat kekhawatiran dari wajah Aurell itu, tersenyum kesenangan. Ia tak mungkin tak mengambil kesempatan yang tak pernah datang ini.
Senyum miring terbit dibibir Sagarr, sepertinya didalam otaknya tengah ada rencana dan hanya ialah yang tau.
"Aduhh... Nona... Tolong pelan sedikit, pantatku sangat sakit ini." rengek Sagarr menjadi-jadi.
Aurell yang mendengar rengekan alay dari Sagarr, merasa kesal. Ia dengan sengaja menepuk pantat Sagarr. "Diamlah, jangan berisik." tegur Aurell.
"Awww... Kenapa kau menepuk pantatku, kan jadi sakit ini..." cicit Sagarr memanyungkan bibirnya.
Aurell yang melihat wajah lebay Sagarr merasa jengah, ia lalu dengan hati-hati mendudukan Sagarr disofa.
__ADS_1
"Diamlah disini, aku akan mengambil es batu untuk mengompres pungungmu agar tak merasakan nyeri lagi." setelah berucap, Aurell langsung bergegas menuju daput.
Sagarr yang melihat kepergian Aurell langsung tertawa bahagia. "Hahaha... Untung saja aku tadi jatoh, jadi aku punya alasan untuk berlama-lama sama Aurell hihihi..." kikik Sagarr tak jelas, ternyata ia tak benar-benar sakit. Ia hanya beralasan agar bisa terus dekat dengan Aurell.
Aurell sudah datang dengan nampan yang ada ditanganya.
"Menghadap kebelakang, aku akan mengompresmu." perintah Aurell pada Sagarr.
"Hah? Nona mau mengompres pantatku?" tanya Sagarr dengan muka polosnya.
"Pantat ayam! Jika kau terus bertanya, maka kompres sendiri pantatmu itu." geram Aurell menatap sinis kearah Sagarr.
Sagarr langsung diam, ia lalu membalikkan badannya. "Yaudah... Aku tak akan banyak bertanya, cepat kompresi pantatku nona." ucap Sagarr dengan nada menyuruh.
Aurell memejamkan matanya, mencoba menetralkan rasa kekesalannya. Ia lalu duduk menghadap punggung Sagarr dan mengambil kompresi berisi air es yang ia bawa itu.
Ia mengangkat sedikit pakaian yang dikenakan oleh Sagarr itu, setelah itu Aurell menempelkan kain kompresi dipingang Sagarr.
"Ahh... Segar sekali." ucap Sagarr menikmati sensasinya sambil memejamkan matanya.
Aurell hanya diam mendengar ucapan ambigu dari Sagarr itu, ia lebih baik fokus pada kegiatannya itu.
Brakk...
"Wahh... Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak Gustin tiba-tiba saja datang dan menutup mulutnya seolah-olah tengah terkejut melihat Aurell dan Sagarr tengah berduaan, dengan posisi yang sangat ambigu itu.
Sagarr mengeram kesal. 'Sialan! Ganggu momen romantisku aja.' gerutu Sagarr dalam hati.
Bersambung.
Yuk, setelah baca jangan lupa tinggalkan jejak....
__ADS_1