Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
.......


__ADS_3

"Aurell..." teriak Sagarr yang terus mencari keberadaan Aurell, walau keadaan ruangan itu sangat gelap.


"Sial, kenapa sangat gelap sekali disini" umpat Sagarr.


"Joy! Nyalakan senter hp mu, cepat" titah Sagarr.


Joy menganguk. "Baik tuan" setelah itu ia menyalakan senter hpnya, membuat keadaan sekitar jadi terlihat walau tak begitu jelas.


Sagarr kembali melanjutkan langkahnya, ia terus mencari dari sisi ke sisi ruangan. Namun keberadaan Aurell sangat susah untuk ditemukan.


"Sagarr... Lebih baik kita berpencar aja, biar cepet ketemu" usul Gustin.


"Baiklah, kalau begitu kalian cari kearah sana, aku beserta anggota ku mencari kesana" kata Sagarr yang dianguki kepala oleh Gustin.


Mereka saling berpencar, tak berselang lama Sagarr melihat cahaya redup-redup dari salah satu ruangan yang belum ia datangi.


"Tuan,sepertinya mereka ada disana" ujar Joy pada Sagarr.


"Aku tau itu, sekarang kita langsung kesana" tanpa rasa curiga Sagarr berjalan santai mendekati ruangan itu, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti lagi. Membuat Sagarr berdecak kesal.


"Kenapa sih... Suka sekali ngehalingi jalanku terus" ucap Sagarr kesal.


Sagarr dapat melihat ada dua sosok pria bertopeng, yang sama ketika ia dihadang dipintu utama itu.


"Hei! Cepat minggir dari hadapanku, aku tak mau berurusan dengan kalian" ucap Sagarr dengan nada dinginnya.


Bukannya menghindar, namun tiba-tiba saja ada sosok lelaki yang mencul ditengah-tengah mereka.


"Heloo.. Tuan, kita bertemu lagi disini" ucap pria itu sambil menepuk-nepuk tangannya.


Sagarr mengerutkan alisnya, ia tak ingat nama pria ada didepannya. Namun ia sangat mengenali wajahnya.


"Sepertinya Tuan ini tak mengenali saya ya? Oke, saya akan memberitahu sedikit tentang saya, saya adalah Jek yang pernah datang keacara pertunangan bersama dengan nona Aurell" ucapnya yang tak lain adalah Jek yang juga merupakan salah satu anggota Sharky, namun yang membedakan ia adalah ketuanya. Sedangkan Aurell adalah pimpinan anggota itu yang menggantikan sang ayah handa.

__ADS_1


Sagarr mendengus. "Ya aku tau itu, cuma aku hanya tak mengingat nama mu"


"Wah.. Tega sekali tuan" ucap Jek terkekeh.


"Tak usah bertele-tele, aku ingin menemui Aurell, aku tau jika Aurell ada didalam.. Sekarang! Mingirlah" ucap Sagarr sedikit mendorong tubuh Jek, namun Jek masih menghalanginya.


"Eiy.. Eiy.. Jangan terburu-buru sekali dong tuan" goda Jek, yang langsung mendapatkan todokan pistol dari Joy asisten Sagarr.


"Wah! Wah.. Wah.. Ternyata anda membawa pasukan anda ya... Sungguh menarik sekali" ucap Jek tertawa.


"Sudahlah, jangan halangi langkahku"


"Sedang apa kalian!" ucap bariton yang membuat mereka semua mengalihkan pandangannya.


Sagarr mengerutkan keningnya, melihat sosok tegap berwajah negara asing yang membuat dirinya merasa familiar.


Jek langsung membungkukan badannya. "Anda datang tuan!"


"Tuan?" gumam Sagarr bingung.


Sinta dengan susah payah, menyeret tubuhnya menuju Adhitama. Ia menangisi suaminya yang tergeletak tak berdaya, disertai ceceran darah yang terus keluar dari leher suaminya itu.


"Adhi... Bangun Adhi..." lirih Sinta membawa kepala Adhitama kedalaman pangkuannya, ia menepuk-nepuk pipi suaminya itu berharap mendapatkan jawaban darinya.


Gavin yang sedari tadi diam membeku itu, mencoba bangkit dari duduknya. Ia berjalan lemas kearah dimana kedua orangtua nya berada.


Gavin terduduk saat sampai pada tujuannya. "Papa.." lirih Gavin melihat keadaan papanya yang tak sadarkan diri itu.


Gavin mendongakan kepala menatap kearah Aurell. "Aurell... Kenapa kamu melakukan ini kepada orangtua ku?" lirih Gavin menatap sendu kearah Aurell.


Aurell yang masih santai mengelap pistolnya itu, mengalihkan pandangannya kearah Gavin.


"Kau masih bertanya? Setelah apa yang dilakukan orangtua mu itu?" tanya Aurell dengan mengangkat satu alisnya.

__ADS_1


"Kamu melakukan ini atas dasar, karena kamu ingin balas dendam kan Aurell?"


Aurell tertawa. "Jika memang iya kenapa? Kau jadi takut padaku?"


Gavin mengeleng tak percaya. "Tidak... Aurell yang aku kenal bukan orang yang seperti itu, sejak kecil aku mengenal mu, jika kamu adalah gadis yang baik Aurell... Tapi kenapa kamu jadi berupa seperti ini?"


Aurell yang mendengar perkataan Gavin itu tertawa keras. Bagaimana mungkin Gavin bertanya hal sebodoh  itu.


"Ternyata otak jeniusmu sudah dimakan oleh kebodohanmu ya Gavin... Bisa-bisanya kau bertanya omong kosong seperti, setelah kau mengetahui kebenaran yang sesungguhnya" ucap Aurell mengelengkan kepalanya, melihat kebodohan Gavin itu.


"Aku bodoh karnamu Aurell"


Aurell ingin sekali mengumpat mendengar ucapan menjijikan dari Gavin itu.


"Benar-benar keluarga yang serasi, tidak anak, tidak orangtua kelakuan kalian sama-sama bajingan... Aku tak tahan sekali ingin membereskan kalian semua disini" ucap Aurell langsung mengisi peluru pada pistolnya.


Aurell bersiap mencodongkan pistolnya kearah Sinta yang masih menangis suaminya itu.


Gavin mengeleng kuat. "Tidak Aurell... Tidak, jangan lakukan itu" mohon Gavin, mencegah Aurell agar ia tak menembak ibunya yang sedang menangis itu.


"Aku tak ada urusan denganmu Gavin... Pergilah dari situ, atau nyawamu akan melayang bersama dengan ibu tercinta mu itu" ucap Aurell dengan wajah datarnya.


"Aku tak akan pergi dari sini Aurell... Aku mohon Aurell jangan lakukan itu.. Ingatlah bahwa orangtua ku pernah berjasa pada kalian"


Aurell kembali tertawa, ia tak mau lagi mendengar ocehan Gavin yang membuat emosinya tambah membeludak. Perlahan jari lentiknya menekan bagian pistolnya untuk membidik mangsanya.


"Berhenti Aurell!" teriak seorang pria, membuat Aurell melesatkan pistolnya kearah dinding.


Aurell melihat kearah suara itu, namun seketika ia merubah wajahnya menjadi lebih datar.


"Ouhh... Kau datang untuk melihatku ya.. Ayah!"


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya... Tolonglah seengaknya beri tangapan kalian dikomentar, biar author semangat upnya..


__ADS_2