
Fals Back, on....
Dikediaman Adhitama terlihat seorang wanita glamor tengah menyesap kopinya sambil membaca majalah fasion ditangannya.
"Mah.. Papa berangkat kekantor dulu ya.." ucap Adhitama suami dari Sinta.
Sinta berdiri dari duduknya. "Oh! Iya pah.. Papa udah sarapan kan?"
"Udah kok mah... Papa berangkat ya.. Nanti jangan lupa loh buat jemput Gavin dari sekolahnya" ucap Adhitama tak lupa mencium kening istrinya, karena memang hal itu adalah kebiasaan ketika ia ingin berangkat kekantor.
"Siap pah" ujar Sinta sambil mengantar suaminya kedepan pintu rumah. Setelah suaminya sudah jauh dari pandangannya ia lalu masuk kembali kedalam rumahnya.
"Vitaa" teriak Sinta memanggil asisten rumah tangganya.
"Iya nyah.." sahut Vita, Vita berlari menghampiri Sinta yang ada diruangan keluarga itu.
"Anda memanggil saya nyonya?" tanya Vita.
"Tolong bersihkan kamar saya ya! Nanti kalau ada cucian yang kotor tolong kamu cucikan" ujar Sinta.
"Baik nyah" kata Vita sambil menaiki anak tangga yang terbilang sangat tinggi itu, padahal ia saat ini tengah hamil tua, seorang ibu hamil biasanya akan istirahat dirimah namun tidak dengan Vita, diusianya yang ke dua puluh delapan tahun itu, ia terpaksa harus membanting tulang untuk membiayai anaknya yang masi berumur tujuh tahun dan saat ini anaknya bersekolah, selain itu ia juga membutuhkan uang untuk persalinannya nanti.
Pasti kalian bertanya-tanya dimana suaminya yang seharusnya membiayai hidupnya? Bertanggung jawab atas dirinya dan juga anaknya, jika kalian bertanya pada Vita pasti dia akan menjawab tidak tahu! Karena suami Vita tiba-tiba saja meninggalkannya tanpa seperntahuan Vita, hanya sebuah kertas kecil yang dintagalkan oleh suaminya, kertas itu berisikan jika suaminya ingin pergi kenegara tempat kelahirannya yaita Jerman. Alasannya karena ada sebuah urusan mendesak dan hanya ialah yang bisa melakukannya. Bahkan suaminya tega meninggalkan anak yang masih kecil dan juga istri yang tengah hamil itu.
Itu sebabnya Vita saat ini bekerja dikediaman Adhitama, karena ia tak memiliki gelar sarjana, dikota yang terbilang serba modern itu pasti akan susah mencari sebuah pekerjaan. Dulunya Vita adalah orang berada, namun sebuah musibah menimpa perusahaan suaminya dan menyebabkan banyak kerugian, akibat kebangkrutan itu semua harta benda terpaksa harus dijual. Ia sudah tak memiliki rumah hanya beberapa perhiasan yang tersisa dan itu ia jual untuk kebutuhan hidupnya, namun itu semua tak cukup karena ia juga harus menyekolahkan anaknya, tak ada yang membantunya disaat ia dan suaminya tengah krisis, keluarga? Kerabat? Semua menghilang ketika ia dan suaminya jatuh miskin, padahal suaminya selalu membantu kerabatnya disaat mereka susah, namun mereka hanya bisa bersabar untuk menerima semua cobaan itu.
Akhirnya Vita memutuskan untuk pergi kenegara Indonesia yaitu tempat kelahirannya, Vita membawa anak dan suaminya ketempat tinggalnya dulu dijakarta, sebuah rumah sederhana yang dulu ia tempat bersama dengan orangtua nya, namun kedua orangtua nya sudah berpulang sejak kelahiran anak pertamanya Aurellia.
"Kenapa sih.. Selalu wanita bunting itu yang disuruh nyonya buat bersihin kamarnya? Kita yang udah lama kerja disini aja gak pernah bersih-bersih area kamar nyonya" ucap seorang pelayan wanita yang tengah berada ditepi pintu dapur, pelayan dirumah itu tidak hanya satu melainkan berjumlah bisa dikatakan lumayan banyak.
"Kamu gak inget ya? Katanya dulu dirumah ini tuh pernah kemalingan, nah yang mencuri itu salah satu pelayan dirumah ini, pelayan itu mencuri uang senilai lima Miliyar"
"Hah? Oh! Iya-ya aku baru inget, itu sebabnya nyonya jadi trauma ya?"
"Nah iya bener"
"Tapi kan si Vita itu juga seorang pelayan, bahkan pelayan baru disini! Kok nyonya masih mempercayai pelayan buat bersihin kamarnya ya? Padahal udah kehilangan duit sebanyak itu"
"Aku juga bingung sih... Tapi aku denger-denger pelayan baru itu temen lama nyonya katanya"
"Hah? Beneran? Kamu tau dari mana?" tanyanya heboh.
"Ssst... Kecilin suara kamu, nanti nyonya denger"
Pelayan itu membungkam mulutnya dengan tangannya.
"Aku juga gak tau sih... Itu beneran apa enggak, tapi yang pasti mungkin alasan itu juga nyonya mempercayai wanita itu buat bersihin kamarnya"
"Iya kali ya? Tapi ah.. Masa bodo deh, gue tetep gak suka pelayan sok itu, rasanya kita tu kayak dibeda-bedakan tau gak, aku merasa kayak diangap maling juga, trus anaknya juga! Enak banget bisa dikasi tinggal disini, dibiayai juga lagi sekolahnya, enak banget kan dia?"
__ADS_1
"Bener banget! Anak kita aja malah gak boleh datang kesini, iri banget aku ngeliatnya"
"Ah! Gue ada ide! Gimana kalo kita bikin wanita itu diusir dari rumah ini? Kamu setuju gak?"
"Hah? Gimana caranya?"
"Tenang! Ideku ini sangat bagus... Kita ambil diam-diam perhiasan nyonya trus kita taro deh dikamar Vita, bereskan!" ucapnya dengan senyum licik.
"Tapi kalo gak berhasil gimana coba?"
"Ya kita cari cara lain dong! Setuju gak?"
"Oke deh kalo gitu"
Setelah itu mereka kembali kedapur.
...----------------...
"Nyah.. Kamarnya sudah saya bersihkan nyah" ucap Vita.
Sinta menganguk. "Baiklah kamu bisa istirahat"
Vita tersenyum. "Baik nyah" ucap Vita setelah itu berlalu masuk kekamarnya.
Dua orang pelayan wanita yang ada dikamar Vita itu terlihat tergesa-gesa saat lewat disamping Vita yang tengah berjalan itu.
"Kalian kenapa?" tanya Vita.
"Ah! Enggak, enggak ada kok, kita duluan ya" ucapnya setelah itu berlalu meninggalkan Vita.
Sedangkan Vita hanya mengedikan bahunya tak tau, ia kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalaman kamar.
Saat ini Sinta tengah berada dikamar, ia tengah memilih baju santai karena ingin menjemput Gavin karena sudah waktunya pulang bagi Gavin yang sedang bersekolah itu.
Sinta yang tengah memilih baju itu mengernyitkan keningnya, kala melihat tempat penyimpanan perhiasannya itu terbuka.
"Loh kok ini kebuka? Padahal setauku sudah kukunci tadi!" ucapnya setelah itu melihat-lihat kembali perhiasannya.
"Kok ada yang kurang?" gumamnya.
"Astaga! Gak mungkin Vita kan?"
Sinta yang merasa gundah itu langsung berjalan cepat keluar dari kamarnya, saat itu juga ia berpapasan dengan dua orang pelayan yang tadi tengah membicarakan Vita itu.
"Nyah? Nyonya mau kemana?" tanya pelayan itu.
"Saya mau kekamar Vita, ada yang harus saya pastikan"
Mendengar ucapan dari majikannya itu mereka tersenyum kegirangan sambil tos ria.
__ADS_1
"Pasti bakalan seru nih, yuk! Yuk! Kita kesana juga" ucapnya setelah itu ikut berlalu menyusul majikannya.
"Vitaa" teriak Sinta dari luar kamar Vita.
Vita yang tengah berbaring dikagetkan dengan suara Sinta yang terdengar tergesa itu.
Vita membuka pintu. "Iya nyah? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Apa kamu tadi membuka laci perhiasan saya?" tanya Sinta.
"Tidak nyah, saya bahkan hanya membersihkan kamar nyonya saja setelah itu saya pergi" jawab Vita.
"Tapi, kenapa salah satu perhiasan saya ada yang hilang?"
Vita terkejut. "Sumpah nyah.. Saya tidak tau dimana letak perhiasan nyonya" sangkal Vita.
"Alah... Gak usah alasan kamu Vita, kamu kan yang bersihin kamar nyonya" ucap pelayan itu mengompori.
"Tapi saya beneran, saya tidak tau semua itu nyonya, saya bersumpah nyonya, jika saya bukanlah pencuri perhiasan itu"
"Sudah-sudah saya tidak mau ada perdebatan disini, saya mau pastikan jika perkataan kamu benar adanya atau tidak, oleh karena itu saya akan mengeledah isi kamar kamu" ucap Sinta dengan tegas.
Vita menghela. "Silahkan nyonya!" ucap Vita pasrah.
Kedua pelayan wanita itu tersenyum bahagia kala mendengar ucapan majikannya itu.
Sinta mulai mengeledah satu per satu dan dari ketempat-ketempat lain, namun ia tak menemukan perhiasannya berada.
"Sepertinya memang benar, jika kamu tak mengambil perhiasan saya"
"Saya selalu berkata jujur nyonya, jika saya tak pernah mencuri"
"Iya, maaf kan saya sudah mencurigai kamu" ucap Sinta sambil menepuk bahu Vita.
"Tapi nyah... Ada satu tempat yang belum nyonya geledah"
"Iya nyahh, coba dilihat dulu tas bawaan Vita itu"
"Tapi disana hanya ada baju saya" sanga Vita.
"Udah! Udah! Kalian ini malah ribut Biar saya cek dulu tas Vita" ucap Sinta yang akhirnya menuruti ucapan pelayan itu.
Sinta mula membongkar tas Vita, ia mengeluarkan isi tas itu, saat ia mengeluarkan baju Vita terdengar bunyi dari lantai dan membuatnya mengalihkan pandangannya.
Sinta melihat ada kalung berwarna emas dilantai, ia mengambilnya. "Ini?" ucap Sinta sambil memegang kalungnya.
"Ini kan kalung saya?"
Bersambung.
__ADS_1
Part terpanjang buat pembaca setia, jangan lupa vomen..