
Sagarr yang kebetulan ingin menuju parkiran itu, tak sengaja melihat Aurell yang berjalan searah dengannya. Sagarr tersenyum cerah melihat Aurell, ia pun bergegas ingin menghampiri Aurell namun tiba-tiba ia urungkan ketika ia melihat Gavin yang tengah mengejar Aurell diikuti dengan Doni yang sepertinya tengah mencegah Gavin itu.
"Gavin? Ngapain lagi itu laki-laki sialan." kesal Sagarr, entah kenapa jika melihat wajah Gavin. Rasanya Sagarr ingin sekali memukul wajahnya mengingat jika dulu Aurell pernah dekat dengan Gavin.
"Aurell... Tolong tunggu sebentar, aku ingin bicara denganmu." ucap Gavin yang akhirnya bisa menghentikan langkah Aurell dengan menarik tangannya.
Sagarr yang melihat Gavin menyentuh tangan Aurell itu, mengeram kesal. "Sialan!" umpat Sagarr berjalan cepat kearah Aurell. Namun baru saja ia berjalan beberapa langkah, ia tiba-tiba saja dikejutkan oleh seorang wanita paru baya yang dengan cepatnya menusuk perut Aurell dengan pisau yang ia bawa itu.
"Ukh..." Aurell tersentak merasakan tusukan itu, ia sedikit oleng dan mencengkram perut dibagian pingangnya.
"Aurell!" teriak Sagarr dan Gavin bersamaan.
Wanita yang tadinya menusuk Aurell itu langsung melarikan diri, setelah ia berhasil melakukan perbuatan itu.
"Hei! Berhenti kau!" teriak Sagarr pada wanita itu yang sudah sangat jauh dari jangkauannya.
"Aurell... Bertahanlah.. Aku akan membawamu kerumah sakit." ucap Gavin menopang tubuh Aurell yang tengah limbung itu.
Sagarr yang mendengar ucapan Gavin itu, langsung mengalihkan pandangannya. Ia pun dengan cepat menarik Aurell kedalam dekapannya membuat Gavin tersentak kaget. Tanpa aba-aba Sagarr mengendong Aurell dan segera membawanya kedalam mobil.
Gavin tercengoh begitu pula dengan Doni yang melihat itu.
"Hei! Mau kau bawa kemana Aurell! Mengapa kau membawanya begitu saja." teriak Gavin yang diabaikan oleh Sagarr, Sagarr sudah tak perduli dengan teriakan itu. Ia dengan tergesa-gesa membawa Aurell menuju rumah sakit.
Sebenarnya Aurell tak pingsan, Aurell bukanlah wanita lemah itu sebabnya ia bisa menahan luka tusukan itu.
"Antar aku pulang saja, aku bisa mengatasi luka ku ini." ucap Aurell.
"Tidak bisa, aku akan membawamu kerumah sakit. Itu lebih baik dari pada kau mengobati lukamu sendiri." tolak Sagarr yang masih fokus pada kemudinya.
__ADS_1
Aurell menatap Sagarr yang ada disampingnya dengan tatapan tajam. "Jangan keras kepala, cepat antar aku pulang saja." kesal Aurell.
"Kau juga keras kepala. Aku tak akan menuruti perkataanmu." kuekeh Sagarr.
"Kau!" tunjuk Aurell dengan raut kesalnya.
"Kali ini dengarkan kata-kataku Aurell..." ucap Sagarr lalu menatap Aurell.
Aurell yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah. "Terserah kau saja." ucap Aurell pada akhirnya menuruti perkataan Sagarr.
...----------------...
Aurell saat ini tengah ditangani oleh dokter rumah sakit itu. Sedangkan Sagarr saat ini tengah menunggu diluar sambil tengah berbicara sesuatu ditelfon.
"Apa kau tau siapa pelakunya Joy?" tanya Sagarr yang ternyata tengah berbicara dengan asistennya.
"Saya baru saja mendapatkan informasi tuan, jika pelaku yang menusuk nona Aurell adalah istri dari Adhitama." jelas Joy membuat Sagarr mengepalkan tangannya.
"Sabar tuan... Ini hanya ujian." ucap Joy yang malah meledek Sagarr yang tengah kesal itu.
"Diam kamu!" tekan Sagarr yang langsung saja mematikan sambungan telfonnya.
"Sinta dan Adhitama... Mereka berani bermain-main dengan milikku ya? Lihat saja apa yang akan kulakukan nanti." gumam Sagarr menyerigai, sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu yang menyenangkan.
Dokter yang tengah memeriksa Aurell itu baru saja keluar dari ruangannya. Sagarr yang melihat itu segera menghampirinya.
"Bagaimana dengan keadaannya dok?" tanya Sagarr.
"Mengenai kondisi pacar anda, lukanya memang cukup dalam. Saya sudah menanganinya, pacar anda hanya butuh istirahat sejenak agar lukanya tak semakin parah nantinya." jelas donter itu, ia itu menepuk bahu Sagarr.
__ADS_1
"Tolong jaga pacar anda sebaik mungkin ya tuan, jika pacar anda memaksakan diri. Maka lukanya tak akan cepat sembuh, jadi tolong jaga baik-baik pacar anda." ujar dokter itu tersenyum pada Sagarr.
Sagarr yang mendengar kata 'Pacar anda' itu ikut tersenyum lebar."Oh, tidak diberitahu pun saya akan menjaganya dengan sangat baik." jawab Sagarr dengan bangganya.
"Baguslah, anda merupakan tipe pria yang sangat siaga. Pacar anda sangat beruntung memiliki pria seperti anda." setelah mengucapkan itu, dokter itu melangkah pergi meninggalkan Sagarr yang saat ini tengah senyum-senyum sendiri.
"Aiss... Kenapa aku seneng begini ya..." gumam Sagarr kembali mesem-mesem.
Sagarr tersadar, ia lalu memukul kepalanya. "Dasar otak bodoh, ngapain aku disini aja. Mending liat Aurell." gerutu Sagarr lalu masuk kedalam ruangan dimana Aurell dirawat.
"Gimana keadaanmu Aurell? Apa masih sakit?" tanya Sagarr yang baru saja sampai diruangan itu.
"Aku tahan hanya luka kecil seperti ini. Kita pulang sekarang." ujar Aurell bangkit dari duduknya.
Sagarr mencegah, "Eitss... Siapa yang memperbolehkan mu pulang? Kau harus disini sampai lukamu sembuh." ucap Sagarr.
Aurell menatap datar Sagarr. "Jangan terlalu perduli padaku, kau bukan siapa-siapaku jadi jangan berlagak sok khawatir."
"Siapa bilang bukan siapa-siapa mu? Aku ini sekarang kekasih mu." ucap Sagarr dengan santainya.
Aurell memutar matanya jengah. "Dasar pria aneh, bangunlah dari mimpimu. Kau tak akan pernah jadi kekasihku." ujar Aurell dengan nada angkuhnya.
Sagarr tersenyum miring. "Jangan pernah berkata seperti itu, kita mana tau? Siapa tau takdir memihak kita untuk saling menjalin hubungan yang romantis." ucap Sagarr sambil menarik turunkan alisnya.
Aurell memijit pelipisnya. "Kenapa aku bertemu dengan pria aneh sepertimu. Pria sepertimu hanya bisa membuat kepalaku pusing."
Sagarr terkekeh. "Bikin pusing tapi bisa jadi ngangenin, yakan?" ucap Sagarr dengan percaya dirinya.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa komen ya guys🧸