
Wuss...... Tiba-tiba saja hawa dicafe itu menjadi dingin, padahal cuaca disana bisa terbilang sangat terik atau panas. Namun ketika saat Sagarr datang aura yang ada disana jadi terasa seperti ditengah badai bersalju.
"Mengapa kau ikut campur?" tanya Gavin menatap tajam Sagarr.
"Karena kau sudah kasar, pada wanitaku! Tentu saja aku harus ikut campur dong" ucap Sagarr tersenyum remeh dihadapkan Gavin.
Gavin semakin tajam menatap Sagarr. "Apa? Wanitaku? Sepertinya kau sedang bermimpi" ucap Gavin terkekeh, yang masih mencengkram tangan Aurell.
Sagarr melengos, ia dengan cepat menarik tangan Aurell saat Gavin lengah. Ia pun langsung mendekatkan Aurell padanya, tak lupa ia merangkul pinggang Aurell.
Gavin terhenyak. "Hei, kau! Apa-apaan maksudmu itu!" ucap Gavin kesal.
"Apa?" kata Sagarr singkat.
"Mengapa kau dengan beraninya menyentuh Aurell!" ujar Gavin dengan nada yang ditingikan.
Sagarr terkekeh. "Kenapa kau yang sewot? Aurell aja tak menolak" ucap Sagarr santai, karena memang benar adanya bahwa Aurell tak berkutit sedikitpun walau Sagarr menyentuhnya.
Gavin melihat kearah Aurell. "Aurell... Mengapa kau hanya diam saja? Ketika pria asing menyentuhmu?"
Aurell acuh, sepertinya ia sudah malas menanggapi ucapan Gavin itu.
Sagarr lagi-lagi terkekeh melihatnya. "Lihatlah? Aurell saja mengakui jika aku prianya" ucap Sagarr meremehkan Gavin.
Tangan Gavin terkepal. "Dasar! Cowok cupu sepertimu itu tak pantas untuk Aurell, lebih baik kau cepat pergi dari sini"
"Lantas, yang pantas untuk Aurell itu siapa?" tanya Sagarr.
"Tentu saja aku! Mengapa kau bertanya? Jelas-jelas Aurell lebih dekat denganku, dibanding kau yang baru datang dan mengangu hubungan kami" ucap Gavin lantang.
Sagarr tak bisa membendung tawanya. "Hahaha... Sungguh! Baru hari ini aku bertemu dengan pria brengsek sepertimu, jika kau menganggap Aurell sebagai milikmu? Lantas tunanganmu itu kau anggap apa?" tanya Sagarr dengan nada dingin.
Gavin terhenyak, ia tak tau harus berkata apa. Ia lalu melirik Eira yang ada disampingnya, ia melihat wajah Eira yang sudah merah pertanda ia sedang kesal.
Tak mau berasa basi, Sagarr menarik tangan Aurell untuk keluar dari kerumunan itu, karena disana para pengunjung berdatangan untuk menonton mereka yang sedang bertengkar itu.
Gavin melihat Aurell pergi bersama Sagarr. "Aurell...." teriak Gavin namun tak didengar oleh Aurell yang sudah melangkahkan kakinya itu.
'Yaampun... Drama ini sangat menyenangkan, nona... Sepertinya kau sangat beruntung sekali, diperbuti pria tampan dua sekaligus' batin Jek dalam hati, bukannya ia melerai, ia malah asyik menonton sambil tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
...----------------...
Sagarr membawa Aurell menuju parkiran, setelah sampai ia segera membawa masuk Aurell kedalam mobil miliknya. Ia tanpa berkata apa-apa langsung menancap remnya dan berlalu pergi dari Cafe itu.
"Kau mau membawaku kemana?" tanya Aurell bingung pada Sagarr yang hanya diam, membawanya entah kemana.
"Hei!" teriak Aurell kesal.
"Dasar pria aneh" gerutu Aurell yang masih tak ditanggapi oleh Sagarr.
Sagarr memberhentikan mobilnya, Aurell melihat keadaan sekitar, ternyata Sagarr membawanya ketauan dekat sungai.
"Apa maksudmu kau membawaku kesini? Dan kenapa kau dengan seenaknya menyeru ikut denganmu" ucap Aurell.
Sagarr menghadap Aurell, ia lalu menatap mata Aurell.
"Aku kan sudah bilang padamu, jika mulai sekarang kau adalah wanitaku" ucap Sagarr dengan percaya diri.
"Aku tak pernah bilang, jika aku mau menjadi wanitamu, dan aku tak akan pernah mau!" keukeh Aurell.
"Apa karena kau masih menyukai Gavin?" tanya Sagarr.
"Hei nona, jangan terlalu ketus terhadapku! Nanti kamu jatuh cinta loh" ucap Sagarr dengan nada menggoda.
Aurell menatap tajam kearah Sagarr. "Sebenarnya, siapa kau ini?"
"Kau benar-benar tak mengenaliku nona? Atau memang pura-pura tak mengenali" kata Sagarr sambil menarik turunkan alisnya.
Aurell mendengus. "Pria aneh" gumam Aurell, menyilangkan tangannya.
Sagarr terkekeh. "Kau selalu menyebutku pria aneh, apa kau tak merasa familiar dengan sebutan itu dan apa kau tak merasa familiar dengan suaraku ini?" kata Sagarr.
Aurell mengerutkan keningnya kala mendengar penuturan Sagarr. Ia lalu mengalihkan pandangannya menatap Sagarr.
Sagarr tersenyum, ia lalu perlahan membuka kaca matanya, setelah itu ia merubah poninya sedikit kebelakang.
Sagarr beralih pada Aurell. "Apa nona mengigatku?" tanya Sagarr dengan kerlingan mata.
Aurell mengusap gusar wajahnya itu. "Sudah kuduga, jika kau adalah pria aneh yang pernah kutemui sebelumnya" jawaban Aurell itu membuat Sagarr mengelengkan kepalanya sambil tertawa.
__ADS_1
"Wahh... Nona, ternyata kau benar-benar mengigatku ya?"
"Aku mengigatmu, karena kau adalah pria paling aneh yang pernah aku temui"
Sagarr lagi-lagi tertawa dibuatnya. Ia lalu mendekatkan dirinya pada Aurell yang masih ada disampingnya itu.
Aurell memundurkan wajahnya ketika Sagarr mendekat padanya.
"Oh ya? Berarti pria aneh ini, pantas dong menjadi kekasihmu nona?" ucap Sagarr pelan seperti nada berbisik.
Jika orang lain melihatnya mungkin orang akan salah paham, karena memang saat ini mereka sungguh sangat dekat, bahkan detak jantung Sagarr pun terdengar oleh Aurell.
"Mengapa kau sangat percaya diri sekali" ujar Aurell sedikit kesal.
Sagarr hanya terkekeh, ia sungguh tergiur oleh bibir Pink milik Aurell itu, hal itu membuat Sagarr ingin segera memakannya.
Sagarr semakin mendekat pada Aurell, semakin dekat dan....
"Mah orang itu lagi ngapain?" tanya seorang bocah kecil berusia lima tahun pada mamanya itu.
Ibu dari anak itu pun langsung menutup mata anaknya.
"Kamu masih kecil nak, gak boleh liat hal seperti itu" ujar mamanya.
Aurell yang mendengar itu, langsung mendorong tubuh Sagarr menjauhkan darinya. Aurell menghirup udara dalam-dalam, ia mengibas-ngibas wajahnya yang terasa panas itu.
Sagarr yang melihat raut wajah Aurell itu hanya terkekeh. 'Sungguh, manis sekali' batin Sagarr dalam hati.
"Kenapa gak boleh mah?" tanya bocah itu yang masih ada didepan mobil milik Sagarr.
"Karena itu gak baik, ayo nak kita pulang aja" kata orangtua itu sambil membawa anaknya pergi dari sana.
Ibu dari anak itu melirik kearah mobil Sagarr. "Kalau mau bermesraan, jangan disini, mending dihotel aja, gatau apa? Disini banyak anak kecil" gerutunya setelah itu pergi dari sana.
Aurell langsung menatap tajam Sagarr, sedangkan yang ditatap itu hanya cengegesan tak merasa bersalah.
Bersambung.
Jangan lupa komennya biar othor semangat....
__ADS_1