
Adhitama keluar dari kamarnya dan melihat sosok Vita yang berlari tak jauh dari jangkauannya.
"Hei! Mau lari kemana kamu! Hei" teriak Adhitama.
"Ada apa sih Adhi, kenapa kamu teriak-teriam sih!" ucap Sinta merasa kesal.
"Sepertinya Vita mendengarkan percakapan kita!" jelas Adhitama.
"Hah? Wanita itu? Benar-benar, seharusnya sedari dulu kita memecatnya saat dia mencuri kalungku"
"Adhi! Segera kerahkan penjaga rumah ini, agar wanita itu tak bisa kabur lebih jauh lagi" ucap Sinta pada suaminya itu.
Adhitama mendengarkan ucapan istrinya, ia lalu memberikan informasi penjaga dirumahnya dengan menggunakan sambungan telfon.
"Kerahkan beberapa anggota untuk menjaga didepan rumah, jangan biarkan seorang wanita keluar dari pagar rumah ini" ujar Adhitama langsung mematikan sambungan telfonnya.
...----------------...
"Rell... Beneran kamu mau pindah? Yah... Aku jadi gak ada temennya dong" ucap Gavin dengan raut lesu.
Aurell menepuk bahu Gavin. "Kan kita bisa ketemu lagi disekolah, jadi jangan cemberut gitu dong"
"Tapi kan beda..." Gavin lalu menatap Aurell yang ada didepannya. "Kamu pindah apa gara-gara soal mama aku ya?" tanya Gavin.
"Sebenarnya sih iya... Aku gak mau mama kenapa-napa, itu sebabnya aku ajak mama untuk pindah dari sini" jawab Aurell.
Gavin yang mendengar itu menundukkan kepalanya, ia merasa jadi sangat bersalah dan malu atas perbuatan mamanya itu.
Aurell memperhatikan perubahan raut Gavin. "Hei, jangan sedih gitu dong... Itu semua bukan salah kamu, jadi kamu jangan pernah merasa bersalah, yang salah itu mama kamu bukan kamu, ingat itu" jelas Aurell dengan tegas.
"Tapi aku benar-benar minta maaf Rell, aku tau mama aku itu sudah sangat jahat pada mama kamu, aku tidak tau kenapa mama aku bisa berubah seperti itu, padahal mama itu orangnya lembut dan penyayang"
"Hem... Aku juga tidak tau apa masalahnya, yang pastinya itu bukan salah kamu, jadi jangan terus kepikiran ya? Nanti kamu yang pusing sendiri loh" jelas Aurell setelah itu mereka tertawa bersama.
"Yaudah... Aku pamit dulu ya, takutnya mama aku nungguin aku"
"Aku bener-bener gak mau berubah pikiran Rell?" tanya Gavin sekali lagi, dan ditanggapi gelengan kepala oleh Aurell.
Gavin tersenyum. "Yasudah.... Asalkan kita masih berteman, aku merelakanmu untuk pergi"
Aurell tertawa. "Kayak perpisahan terakhir aja"
"Aaaaaaa"
Aurell dan Gavin tersentak kaget kala tiba-tiba saja mendengar suara teriakan dari arah berlawanan.
Aurell menjatuhkan ranselnya. "Mama?" tanpa aba-aba Aurell langsung berlari ketika mendengar teriakan itu.
"Aurell...." teriak Gavin setelah itu ia ikut menyusul Aurell.
...----------------...
"Lepaskan aku.... Lepaskan" teriak Vita memberontak saat dua pria asing menangkap Vita.
__ADS_1
"VITA" teriak Sinta yang sudah tepat didepan Vita.
Vita tersentak, tubuhnya kembali bergetar. "Lepaskan aku! Dasar manusia busuk!" teriak Vita lantang.
Plakk.. Sinta langsung saja menampar keras pipi Vita.
"Bawa wanita ini keruangan" titah Sinta.
"Baik nyonya!"
"Lepaskan aku lepaskan...."
Mereka menyeret Vita dengan cara paksa, Vita tak bisa lepas dari mereka apa lagi dengan kondisinya yang sedang hamil tua itu.
"Mama..." Aurell yang melihat Vita diseret itu mengikutinya tanpa pikir panjang.
Gavin pun masi setia mengikuti Aurell. 'Apa yang sedang dilakukan mama sih? Kenapa mama suka sekali menyiksa mama Aurell' batin Gavin dalam hati.
Sesampainya ditempat, Sinta dan juga dua orang pria itu membawa Vita kesebuah ruangan gelap yang tak ada satu pun orang yang perah mengunjungi ruangan itu kecuali pemilik kediaman rumah itu.
Vita didorong oleh kedua pria itu dengan sangat kasar, sehingga membuat Vita terjatuh dilantai kasar itu.
Suara dentuman sepatu mendekati Vita, saat suara tersebut sudah mendekat kearah Vita, Vita pun mendongakan kepalanya. Ia melihat Adhitama yang sudah ada tepat dihadapannya.
Adhitama berjongkok. "Vita... Bolehkah saya bertanya? Mengapa kau berlari saat saya memangilmu"
Vita tak menanggapi, ia menatap tajam kearah Adhitama.
Sinta yang melihat itu geram, ia lalu berjalan mendekat kearah Vita dan kembali menarik rambut Vita.
"Kamu tak mau menjawab? Jawab sialan" teriak Sinta.
Vita tertawa. "Dasar manusia-manusia busuk, ternyata kalian lah yang menjebak suamiku dan membuat perusahaanya bangkrut, aku tak menyangka ternyata kekayaan kalian ini berasal dari uang kotor"
"Ohh... Ternyata memang benar! Kamu mendengar pembicaraan kami ya?" ucap Sinta yang masuk menarik rambut Vita.
"Aku tak menyangka jika temanku sendiri yang membuat keluargaku menderita! Mengapa kau melakukan ini Sinta? Apa salah kami"
"Salah kalian? Sebenarnya salah kalian itu tidak ada, cuman ya... Kaliannya aja yang terlalu bodoh percaya begitu aja sama orang, itu kan salah kalian yang terlalu naif" ucap Sinta santai.
Vita yang mendengar itu semakin marah. "Jahat kamu Sinta! Kalian berdua sangat jahat!" teriak Vita.
"Diam kamu! atau kamu, dan anak kamu akan kami kirim keneraka" gertak Sinta dengan suara geram.
Vita memegang perutnya, ia tak akan membiarkan hal itu terjadi. Vita pun mulai menarik nafasnya. Tiba-tiba tanpa aba-aba ia langsung mendorong tubuh Sinta yang ada disampingnya dengan sekuat tenaga, Sinta yang lengah itu terdorong jauh mengenai tembok ruangan itu.
"Akhhh..." teriak Sinta.
"Sinta" Adhitama menghampiri Sinta yang kesakitan itu.
Vita yang mendapatkan cela langsung saja lari dan mendorong tubuh dua pria yang berjaga diruangan itu.
"Aku akan melapor tindakan kalian ini, aku pastikan kalian akan mendapat hukuman yang sangat berat" teriak Vita berlari keluar.
__ADS_1
"Sialan wanita itu" umpat Sinta.
"Kalian berdua! Cepat tangkap wanita itu jangan sampai lolos" perintah Adhitama.
"Baik tuan"
Dua pria itu langsung mengejar Vita yang sudah berlari menjauh dari ruangan itu.
Vita terus berlari, ia hampir sampai pada pintu utama, tak lupa ia memegang perutnya yang terasa nyeri itu.
"Berhenti kamu!"
Kedua orang pria itu hampir mendekat pada Vita, namun Vita masih berusaha terus berlari sekuat tenanganya.
"Mama..." teriak Aurell berlari kearah Vita.
Vita melihat putrinya. "Aurell.... Cepat nak! Kita harus pergi dari sini" ucap Vita yang ingin segera membawa Aurell keluar dari rumah itu.
"Tak ada pilihan lain!" ucap Sinta, tiba-tiba saja mengeluarkan senjata api dari sakunya.
Adhitama yang melihat pistol yang dipegang oleh istrinya itu terkejut. "Apa yang kau lakukan Sinta! Jangan melakukan itu!" teriak Adhitama menghentikan aksi istrinya.
"Jangan menghentikan ku Adhi! Aku membawa pistol ini agar tikus liar tak akan bisa keluar dari rumah ini"
"Tapi tindakanmu ini salah Sinta"
Sinta tak mendengarkan perkataan suaminya, ia bersiap membidik pistolnya kearah Vita.
"Berani bermain-main denganku ya..." gumam Sinta tersenyum licik.
"Ayo sayang cepat..." saat Vita ingin menjangkau tangan Aurell tiba-tiba saja tubuhnya tersentak.
Dor... Peluru pistol itu tepat sasaran menancap keuluh jantung Vita.
Vita limbung, tubuhnya jatuh beserta darah yang terus bercucuran.
Dor... Satu peluru lagi menancap tepat diperut Vita. Nafas Vita tersendat kala menerima peluru itu.
"Mama...." teriak Aurell histeris.
"Mati kau wanita sialan" ucap Sinta tertawa senang.
Pelayan yang mendengar keributan itu keluar dari peristirahatannya. Mereka tercengang melihat adegan megenaskan dari ruang utama kediaman itu.
Gavin selaku putra dari rumah itu juga menyaksikannya, ia tak kuat melihat itu semua. Akhirnya ia terjatuh pingsan dilantai.
"Tuan muda!" teriak seorang pelayan menghampiri Gavin.
Bersambung.
Satu chapter lagi, maka falsback akan berakhir yaa... Jadi mohon bersabar bagi para readers.
See you.. Jangan lupa Vomen(^_-)
__ADS_1