
*******
Drtttt....... Suara hanpone berbunyi.
Terlihat seorang pria yang baru keluar dari kamar mandi, ia menghampiri dimana hanponenya itu berada.
"Ya! Ada apa Joy?" ucap seorang pria yang tak lain adalah Sagarr.
"Ada informasi yang ingin saya sampaikan tuan" kata Joy dari seberang telfon.
"Informasi apa itu?" tanya Sagarr penasaran.
"Begini tuan, saya baru saja dapat informasi dari mata-mata yang anda kirim untuk nona Aurell, dia bilang jika wanita tuan tengah berada disalah satu Cafe yang saat ini tengah populer, dan nona Aurell tak sendiri disana" jelas Joy.
"Dia bersama siapa?"
"Saya melihat, jika disana ada teman lelaki yang dibawa oleh nona Aurell pada waktu pertunangan itu, disana juga ada mantan nona Aurell tuan"
Sagarr yang mendengar ucapan dari asistennya itu, langsung mengetatkan rahangnya. "Mantan?" tekan Sagarr.
"Iya tuan, mantan nona Aurell yang bernama Gavin"
Sagarr mendengus. "Dia bukan mantannya, dia bahkan belum berpacaran" ucap Sagarr sedikit kesal.
"Tapi setau saya kalau mereka saling mencintai? Bukanya bisa disebut mantan ya tuan?" tanya Joy, yang membuat Sagarr bertambah kesal.
"Sudah! Kau tak perlu menyebutnya mantan lagi, itu membuatku kesal, kirimkan lokasi itu sekarang juga" ucap Sagarr dengan tegas.
"Baik tuan" ucap asisten Joy diselingi kekehan kecil.
"Sial! Bukan hanya satu, tapi dua, Aurell... Kau benar-benar membuatku ingin segera mengikatmu" kesal Sagarr sambil melempar hanponenya kesembarang arah.
...----------------...
"Gavin...." panggil Eira sambil berlari kearah Gavin.
__ADS_1
Gavin yang dipanggil itu menengok kearah Eira. "Ada apa Eira?" tanya Gavin bingung.
"Hiks... Gavin..." rengek Eira yang mulai mengadu pada Gavin.
Gavin yang melihat Eira itu seketika melototkan matanya, ia tak sengaja melihat bercak darah ditelapak tangan Eira itu.
"Darah? Apa yang terjadi denganmu Eira? Mengapa ada banyak darah ditanganmu? Dan juga hidungmu, mengapa berdarah" ucap Gavin yang merasa bingung dengan keadaan Eira itu. Pasalnya penampilan Eira saat ini bisa dibilang, sungguh memprihatinkan, karena baju Eira banyak terkena noda darah dan juga rambutnya sedikit acak-acaranya. Orang yang melihat Eira pasti akan mengira jika ia tengah dianiyaya oleh seseorang.
"Gavin.... Hikss... Ini sakit" tangis Eira sambil mendekap kepelukan Gavin.
"Eira... Tolong jawab pertanyaanku... Jangan membuatku bingung, mengapa kamu bisa sampai seperti ini" tanya Gavin pada Eira yang masi dipelukan Gavin itu.
Tiba-tiba Aurell datang, ia berjalan santai sambil menyelipkan kedua tangannya disaku celananya itu.
Eira yang melihat kedatangan Aurell itu tersenyum semirk, sepertinya ia akan melancarkan sebuah rencana.
"Gavin... Kau tau? Aurell lah yang melakukan ini padaku" ucap Eira sesegukan agar terkesan dipercaya oleh Gavin.
Jek yang mendengar itu sedikit melototkan matanya, ia tak percaya jika Aurell melakukan hal sekejam itu tanpa alasan.
Gavin yang mendengar penuturan Eira itu terkejut, ia melihat kearah Aurell yang dengan santai duduk dikursi sambil menyesap jusnya itu.
"Aurell, apakah itu benar?" ucap GavinĀ bertanya pada Aurell.
Aurell menghela, ia lalu melirik datar kearah Gavin. "Kalau memang iya kenapa?" ucap Aurell santai.
Jek yang mendengar itu terkekeh. 'Mode singa sudah diaktifkan' gumam Jek tersenyum semirk.
Gavin mengetatkan rahangnya. "AURELL!" teriak Gavin, yang dapat sambutan oleh tatapan para pengunjung Cafe yang ada disana.
Semua orang bertanya-tanya dan mulai ribut, Aurell menghela, ia sangat tidak suka jika tempat yang ia kunjungi saat ini menjadi ramai dan menjadi pusat perhatian bagi semua orang.
"Kecilkan suaramu, aku tak suka keributan" ujar Aurell.
Gavin mengabaikan ucapan Aurell, ia lalu mencengkram tangan Aurell dengan tenaganya, membuat Aurell sedikit meringis dibuatnya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa salah Eira padamu Aurell? Mengapa kau terus saja mengangu Eira, lihat! Eira kesakitan karena ulahmu" ucap Gavin menatap Aurell dingin.
Hati Aurell nyeri kala melihat tatapan dingin dari orang yang selama ini ia suka itu, ia tak menyangka akan ada hari dimana ia akan dibenci oleh orang yang ia sayangi dengan sepenuh hatinya itu, bahkan hatinya sudah ia berikan separuh untuk pria yang ada didepannya. Sungguh! Aurell benci jika ia menjadi lemah hanya karena seorang pria.
"Kau lebih percaya dia dari pada aku? Gavin" tanya Aurell dengan suara lembutnya.
Hal itu membuat Gavin tertegun seketika, ia sudah lama tak mendengar suara lembut dari Aurell itu, sungguh... Gavin sangat merindukan itu.
Gavin masih diam membeku tak tau harus berucap apa.
Eira yang melihat Gavin itu mendengus kesal. "Gavin.... Kamu tak percaya aku, jika Aurell yang melakukan ini? Kamu tau kan Aurell pernah ngebuly aku waktu ditoilet, dan sekarang dia juga menganiyayaku, dia marah karena aku dekat denganmu Gavin" ucap Eira masih dengan isakan tangisnya.
"Lihat ini Gavin! Lihat! Pipiku dengan sengaja ditampar oleh Aurell... Bahkan dia dengan teganya mendorong ku dengan keras, sampai hidungku berdarah, ini sakit Gavin..." alibi Eira.
Gavin terhenyak, ia tersadar dari lamunya. Ia lalu menatap tajam kearah Aurell, sepertinya ia termakan oleh ucapan Eira itu.
Gavin semakin mencengkram tangan Aurell."Aurell.... Mengapa kau melakukan itu" ucap Gavin terbakar emosi, bahkan matanya pun sudah memerah, yang berarti sudah sangat marah.
Aurell meringis, sungguh sakit sekali cengkraman yang dilakukan oleh Gavin itu.
"Lepaskan tanganku Gavin... Itu sakit" ujar Aurell sambil mencoba melepaskan tangannya sendiri.
Gavin abai. "Jangan mengalihkan pembicaraan Aurell, JAWAB PERTANYAANKU" ucap Gavin meninggikan suaranya.
Aurell terhenyak, ia kaget dengan ucapan kasar dari Gavin itu.
Eira yang melihat perdebatan antara Gavin dan Aurell itu, tersenyum senang. 'Akhirnya.. Rencanaku berjalan dengan lancar' kata Eira tersenyum semirk.
Tiba-tiba saja, tanpa mereka sadari ada seorang pria datang menghampiri, dan memegang tangan Gavin yang sedang mencengkram tangan Aurell itu.
"Dia sudah bilang kan? Apa kau tak mendengarnya, lepaskan tanganmu itu darinya, bangsat!" ucap dingin seorang pria yang tak lain adalah Sagarr.
Bersambung.
Komennya dong :(
__ADS_1