Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Keadaan Kritis


__ADS_3

"Cepat bawa putriku kerumah sakit, sekarang!" titah Gerland dengan suara yang mengelegar. Membuat dua pengawal yang ada dibelakangnya siap sigap menghampiri Aurell yang tengah terkapar lemas.


Mobil plat hitam menghampiri mereka, Gerland pun segera membuka pintu itu. Kemudian Aurell dibopong dibawa masuk kedalam mobil mewah yang tak lain milik Gerland ayah kandung Aurell.


"Segera jalankan mobilnya." titahnya lagi.


"Baik!"


Mobil itu berjalan, dan dengan kecepatan maksimalnya, meninggalkan halaman kampus itu. Menyisakan orang-orang yang masih tengah berkerumun melihati kejadian menegangkan yang baru terjadi depan mata mereka itu.


Doni, Erlan dan juga Gustin. Segera berlari menghampiri mobil milik Doni, yang akan mereka tumpanggi untuk menyusul Aurell kerumah sakit.


"Sagarr! Lo gak ikut?" teriak Gustin pada Sagarr yang masih terdiam ditempatnya itu.


Doni melirik kearah Sagarr. "Biarkan saja dia! Kita cepat menyusul Aurell sekarang. Aku tak ingin berlama-lama disini." ucap Doni dengan penuh penekanan dan berjalan masuk kedalam mobilnya.


Gustin mengaruk kepalanya yang tak gatal. "Si Doni aneh banget dah." gumamnya, lalu mengikuti Doni dan juga Erlan masuk kedalam mobil itu.


Mobil Doni kini sudah berlalu pergi meninggalkan kampus itu, dan menyisakan Sagarr yang dengan wajah datar nan santainya menatap melajunya mobil itu pergi.


Ia merogoh sakunya, dan dengan kecepatannya ia menekan satu nama dihanponenya itu.


"Joy! Siapa pelakunya?" ucap Sagarr langsung pada intinya. Ia dengan percaya dirinya dapat mengetahui  siapa pelaku dibalik semua itu, dan dengan cara mudah lah ia mendapatkannya.


"Orang biasa tuan." jawab Joy.


Sagarr tiba-tiba menyerigai. "Tikus, tikus liar.... Tertangkap kau!" hanya tiga kata saja, Sagarr dapat mengetahui siapa pelakunya itu.


...----------------...


"Akkkk... Lepaskan aku sialan!"


Umpat seorang wanita yang tengah diseret oleh beberapa pria berpakaian serba hitam itu.


"Ma... Gimana nih, sepertinya kita ketahuan." ucap seorang gadis yang tengah gemetaran melihat para pria berbadan kekar tengah melihat kearahnya.

__ADS_1


"Mama juga gak tau Eira... Kupikir rencanaku akan berhasil dengan membunuh wanita itu."


Ya! Dua orang wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Sinta dan juga Eira, yang memang akal bulusnya tengah merencanakan kejahatan untuk membunuh Aurell. Alasannya hanya karena dendam yang tersematkan.


Tiba-tiba sebuah siraman air mengenai mereka berdua, yang saat ini tengah terduduk dilantai.


"Kyaaa..... apa ini?" teriak Eira yang sudah merasa jijik. Mendapati air yang sudah menempel dibajunya, padahal hanya air bias tapi entah kenapa ia merasa takut seperti itu.


"Apa yang kalian lakukan? Dasar laki-laki menjijikan!" teriak Sinta yang terlihat sungguh sangat marah.


"Itu untuk kalian, agar kalian tak kehausan nanti saat kalian tengah menghadapi bos kami, jadi simpan saja suara kalian untuk cadangan nantinya. Hahahaha..."


Beberapa pria disana tertawa, hal itu membuat Eira tambah ketakutan.


...----------------...


Sedang disisi lain, dirumah sakit saat ini tengah ricuh dengan keadaan pasien yang terus berdatangan dirumah sakit itu. Para dokter dan perawat terus berjalan tergesa-gesa, dari pintu, kepintu lain. Begitu pula dengan keadaan ruangan dimana Aurell berada, saat ini Aurell tengah berada diruang operasi. Ya, dokter memberitahu jika Aurell harus dioperasi perihal peluru yang menancap dipungungnya itu, bahkan dokter mekatakan sekilas, jika peluru itu menancap hampir mengenai jantung Aurell. Tentu saja keadaan Aurell saat ini bisa dikatakan sangat serius.


Hal itu membuat Gerland ayah dari Aurell tengah dilanda kegelisahan, ia terus berjalan kesana kemari karena kepanikan yang terus melanda pada dirinya.


"Om!" panggil Doni pada Gerland. "Sepertinya anda harus istirahat, tak baik diusia anda saat ini dilanda kegelisahan. Hal itu mungkin akan membuat anda jatuh sakit nantinya." jelas Doni.


Gerland menghentikan langkahnya, ia menatap Doni. "Terimakasih telah mengkhawatirkan om! Tapi om tak tenang sama sekali melihat putri om terbaring lemah diruangan sana. Om tak sanggup jika harus kehilangan wanita kesayangan om untuk kedua kalinya." jelas Gerland.


Doni menganguk paham, ia paham betul bagaimana kisah masalalu tentang keluarga Aurell itu.


"Iya om, saya tau. Sebagai orangtua pasti anda akan merasa khawatir jika anak anda jatuh sakit, saya mengerti itu. Tapi jangan biarkan rasa khawatir itu membuat anda juga jatuh sakit nantinya. Jika anda sakit? Apa anda mau tak mendengar kondisi anak anda nantinya?" ucapan tanya itu sungguh sangat benar bagi Gerland.


Gerland pun menghela nafas sejenak, dan memijat kepalanya yang terasa berdenyut.


"Sebaiknya anda duduk saja dikursi. Kita semua harus menunggu dengan perasaan yang tenang, agar saat mendengar kondisi Aurell, mental kita siap untuk mendengarnya." ucap Doni, lagi-lagi sungguh sangat bijak. Walau Doni yang bisa dikatakan cenderung pendiam dan acuh. Tapi sekali ia bicara, maka semuanya akan mengarah pada fakta dan kebenaran.


Gerland menatap Doni yang ada disampingnya."Aurell beruntung memiliki teman-teman seperti kalian, saya jadi merasa tak khawatir lagi jika Aurell memiliki orang-orang seperti kalian disisinya." ucapnya.


"Yasudah, om akan nunggu sambil duduk saja." lanjutnya, pada akhirnya menuruti perkataan Doni.

__ADS_1


Doni tersenyum mendengarnya, "Mari saya bantu." ucap Doni, ia pun mengiringi Gerland untuk duduk dikursi itu, yang dimana sudah ada Gustin dan Erlan disana.


Beberapa jam mereka menunggu, lampu ruangan yang tadinya menyala berwarna merah. Kini berubah redup, bisa diartikan jika operasi sudah selesai.


Doni bangkit dari duduknya, karena mengetahui jika dokter akan keluar dari ruangan itu.


Dan benar saja, pintu ruangan itu terbuka lebar. Kemudian keluarlah para dokter yang bukan sembarang dokter, karena Gerland memerintahkan pada asistennya untuk membawa dokter terkenal dan handal dirumah sakit terbesar, dikota itu.


Gerland segera bangkit dari duduknya, dengan perasaan campur aduknya itu, ia berjalan menghampiri salah satu dokter disana.


"Bagaimana dengan keadaan putri saya dok?" satu pertanyaan lolos dari mulutnya itu dan membuat dokter yang ada dihadapannya itu menghela nafas seketika.


"Kami ingin memberitahu anda, jika peluru yang menancap pada punggung putri anda telah berhasil kami keluarkan. Dan bisa dikatakan operasi berjalan dengan baik pak!" jelas dokter itu.


Gerland menghela nafas lega mendengarnya.


"Tapi pak, saya sempat menjelaskan tadi... Jika peluru itu menancap hampir mengenai jantung putri bapak."


"Iya? Lantas apa ada masalah?" tanya Gerland dengan raut bingung.


Lagi-lagi helaan nafas keluar dari mulut dokter itu. "Operasi berjalan baik, dan peluru pun bisa dikeluarkan dengan baik. Namun kondisi putri bapak tidak memungkinkan, karena salah satu pembuluh darah jantungnya tersumbat akibat peluru itu. Bapak pasti tau, jika fungsi pembuluh darah itu sangat dibutuhkan oleh keadaan jantung saat ini. Dan bisa saya katakan jika pembuluh darah nona Aurell tak berfungsi dengan selarasnya, saya nyatakan jika keadaan putri anda tengah kritis atau koma!"


Penjelasan dokter itu membuat tubuh Gerland limbung, dan tergeletak dilantai.


"Om!"


"Tuan!"


Semua menghampiri Gerland dengan raut kepanikan.


Disatu sisi, Sagarr sudah mendengar semuanya. Kedua tangannya terus terkepal, guratan kemarahan terlihat pada wajahnya. Sagarr membalikkan tubuhnya dan langsung saja berjalan keluar dari area rumah sakit itu.


Entah apa yang akan dilakukan Sagarr saat ini dengan membawa emosi yang tengah meluap-lupa itu.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak, dan dukung selalu author ini🦥 dukungan kalian membuat author menambah semangat untuk terus berkarya....🐭


__ADS_2