
Saat ini Gerland selaku ayah kandung Aurell, tengah memasuki rumah sakit besar itu. Semua pekerja rumah sakit itu menunduk hormat padanya, mereka semua tau jika seorang Gerland Austerlitz merupakan orang terpandang dikota besar Jerman. Tentu juga merupakan salah satu insfestor dari rumah sakit yang ia datangi itu.
Salah satu dokter senior disana mendatangi Gerland, dan menyambutnya dengan membungkukan badannya. Gerland tentu saja tak datang sendiri disana, ia selalu dikawal oleh dua body guard berbadan kekar dan satu asisten pribadinya.
"Selamat siang tuan!" ucap dokter itu dengan sopan.
Gerland hanya mengangukkan kepalanya satu kali, menanggapi sapaan ini.
"Apa ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanyanya berbasa-basi.
"Tidak! Cukup temani aku, keruangan putriku!" ucap Gerland dengan tegas.
Dokter paru baya itu menganguk paham, "Baik! Mari saya antar..." ucapnya, lalu mengiringi Gerland untuk ikut bersamanya menuju ruang rawat Aurell.
Pintu ruangan itu dibuka, dokter itu mempersiapkan Gerland masuk terlebih dahulu. Setelah itu dirinya masuk paling akhir.
Gerland berjalan mendekat kearah kamar rawat yang cukup besar pas untuk ditiduri dua orang. Dan kamar itu ditempati oleh putrinya Aurell, selang infus yang menancap pergelangan tangan Aurell itu masih setia disana.
Gerland mengelus lembut rambut milik putrinya itu, hatinya begitu rapuh ketika melihat putri tercintanya itu terbaring lemah dan pucat dihadapanya. Ia merasa gagal jadi seorang ayah saat ini, bagaimana tidak? Kejadian penembakan waktu itu tepat didepan matanya, namun ia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa pada saat itu. Ia yang melihat putrinya tergeletak penuh darah waktu itu, mengutuk dirinya sendiri. Ia membantin mengapa tak dia saja yang diposisi Aurell waktu itu? Seharusnya ia yang pantas mendapatkan itu bukan putri kecilnya yang semenjak dewasa terus mengalami masalah.
Air matanya seakan ingin jatuh pada saat ini juga, namun ia mencoba menahanya. Ia tak ingin memperlihatkan kesedihanya didepan anaknya yang terbaring lemah itu, ia harus kuat menghadapi itu. Karena ia tau jika hati dan pikiran Aurell masih berfungsi, jika ia menangis didepan Aurell pasti putrinya itu akan mendengar dan merasakannya.
Satu tepukan pelan mendarat dibahu kokoh Gerland. Gerland menengok kebelakang dan mendapati asistennya yang tengah mentapnya itu. Dion nama asisten itu, umurnya empat puluh tahun dan memiliki keluarga kecil atau sudah menikah. Ia bekerja dengan Gerland sudah bertahan-tahun lamanya, sampai atasnya itu berumur lima puluh tahun ia masih mengabdi padanya. Betapa setianya Dion bekerja dengan Gerland. Walau pernah mengalami kegagalan dalam perusahaan Gerland itu, ia masih tetap setiap dan sama sekali pun tak berpaling pada atasnya itu.
"Tetap bersabar tuan!" ucap Dion yang tahu betul jika atasnya itu tengah bersedih.
"Iya... Aku tak apa-apa Dion. Hanya saja aku sangat merindukan putri kecilku ini!" ucapnya sambil melihat kembali putrinya itu.
"Keajaiban pasti ada tuan... Dan semua itu pasti akan terjadi pada nona Aurell, anda harus yakin itu! Jika nona Aurell akan segera bangun dari tidur panjangnya." jelas Dion.
Lagi, Gerland hanya menganguk menanggapi ucapan asistenya itu. Dalam hati, ia berharap jika ucapan itu menjadi kenyataan.
Dokter paru baya yang sedari tadi diam itu, mulai mengalihkan pandangannya menatap layar monitor yang berbentuk kota persegi itu.
Tiba-tiba ia mengerutkan alisnya melihat jika garis yang ada dilayar itu bergerak sedikit. Feling kedokteranya mengatakan jika jantung Aurell mulai kembali aktif, karena selama ini jantung Aurell melemah akibat peluru yang menancap dipungungnya itu.
Dokter itu berjalan mendekat kearah Aurell.
"Permisi tuan! Maaf jika saya lanang, saya hanya ingin memastikan kembali." ucapnya, meminta izin pada Gerland.
Gerland diam, tapi sedetik kemudian ia mempersilahkan dokter itu untuk memeriksa putrinya kembali.
Dokter itu mulai memeriksa kepada Aurell, ia menyentuh denyut nadi itu. Kepalanya terus berpikir keras.
Setelah selesai diperiksa, ia kembali menghadap pada Gerland.
"Apa yang terjadi dokter?" tanya Gerland penasaran.
"Sepertinya ada tanda-tanda, jika jantung nona akan segera aktif kembali tuan." jelas dokter itu, membuat Gerland meletotot tak percaya.
"Benarkah dokter? Ini tak main-main kan? Jika memang benar.... Putriku akan segera sembuh." ucap Gerland yang sungguh sangat senang.
"Saya tak akan pernah bermain-main jika menyangkut pasien saya tuan, saya mengatakan sebenarnya jika nona Aurell kemungninanya akan pulih dari masa kritisnya." jelas dokter itu, yang lagi-lagi membuat Gerland berbinar-binar.
__ADS_1
"Kau dengar itu kan Dion? Putriku akan segera kembali." ucapnya dengan nada senang.
Dion ikut turut senang melihat atasanya itu, "Iya tuan, saya percaya itu!"
Gerland kemudian berjalan mendekat kearah Aurell, ia kembali mengelus rambut itu. "Putri papa... Cepat sembuh ya... Papa tau, jika putri papa tak akan tega meninggalkan papanya sendiri disini." ucapnya dengan suara lirih.
Tangan Aurell mulai bergerak-gerak, walau pergerakan jarinya tak begitu kuat namun mampu membuat Gerland yang melihat itu merasa bahagia.
Disisi lain, dialam bawah sadar Aurell.
Aurell saat ini seperti tengah terjun didunia lain, pakaian yang ia kenakan serba putih dan nuansa yang ia lihat disekitarnya juga serba putih. Namun hanya cela-cela sedikit yang berwarna lain.
Aurell berjalan pelan mengikuti arah cahaya yang ia pijaki, ia merasa bingung dengan keberadaan dirinya saat ini.
"Dimana ini?" ucapnya sambil melihat kesana, kemari namun tak ada satu orang pun melintas disekitarnya.
"Aurell..."
Samar-samar ia mendengar suara, ia mencari keberadaan suara itu namun sosoknya tak ada.
"Aurell...."
Lagi, suara itu memanggilnya.
"Siapa disana!" teriak Aurell, berlari untuk mengejar suara itu.
"Siapa kau! Keluarlah!" teriaknya lagi.
"Aurell...."
"Mama..."
Tiba-tiba Aurell menghentikan larinya, ia melihat! Dihadapanya ia melihat sosok anak kecil yang tengah berlari dengan wajah gembiranya itu. Anak kecil itu tiba-tiba melompat dan memeluk seorang wanita yang bisa dinyatakan adalah ibunya.
"Mama.."
"Aurell, kamu kemana aja nak? Mama cari-cariin loh dari tadi, mama kan jadi khawatir..."
"Tadi Aurell main mah.. Sama temen balu!" ucap bocah itu dengan cengiran, dan memperlihatkan gigi opongnya.
"Yaampun, sayang... Kirain dimana, mama takut banget tadi." ucapnya memeluk anaknya dengan erat.
"Hehe, maapin Aurell ya mah.."
Aurell melongo melihat apa yang ada dihadapanya itu, ia meraba wajahnya yang sama persis dengan bocah itu. Dan ia melihat sosok mamanya berada tepat dipandanganya.
Ia tiba-tiba terduduk lemas dan mulai menangis, hatinya rindu. Teramat sangat, mamanya yang sudah lama meninggalkannya kini kembali dihadapanya dengan membawa sosok bocah kecil digendonganya.
"Mama..." pangilnya lirih dan melihat Vita, mamanya yang ada dihadapanya.
Sosok yang dipanggil mama itu menengok kearah Aurell.
"Siapa mah? Kenapa dia menangis?" tanya bocah itu.
__ADS_1
Mamanya mengedikan bahunya. "Mama juga gak tau.."
Aurell menangis sejadi jadinya, ia menelugkupkan kepalanya dilututnya yang tertekuk itu.
"Mama...." lagi, ia memanggil sebutan itu.
Bahu yang bergetar akibat menangis itu ditepuk pelan oleh seseorang.
"Nak... Kenapa menangis.."
Terdengar suara lembut dan membuat Aurell mendongakan kepalanya.
"Mama?" ucapnya, ketika ia melihat sosok Vita yang ada didepanya dan tersenyum lembut padanya.
"Sayang kenapa menangis?"
Aurell tanpa aba-aba merengkuh tubuh itu dan memeluknya dengan erat.
"Hiks.. Mama jangan tinggalin Aurell... Aurell rindu." ucapnya menangis dipelukan itu.
"Hemm, sayangku udah besar kok nangis? Sini mama liat wajahnya." ucapnya, lalu ia mengangkat wajah Aurell. Dan begitu melihatnya ia tersenyum dan mengusap air mata itu.
"Udah dong, jangan nangis... Nanti cantiknya ilang loh.."
Mendengar ucapan itu mereka berdua saling tertawa bersama.
"Mama kenapa ninggalin Aurell, Aurell kan pengen ikut..." ucap Aurell dengan mengerucutkan bibirnya.
"Hemm, mama gak ninggalin Aurell kok. Mama kan selalu bersama Aurell."
"Dimana? Aurell kok gak liat?"
"Disini!" ia menunjuk, jantung Aurell.
"Mama ada dihati Aurell... Selama ini mama selalu bersamamu sayang."
"Kalo dihati Aurell, Aurell gak bisa peluk mama dong?"
Vita tersenyum mendengarnya. "Peluklah papamu Aurell, mama sudah banyak memelukmu... Sekarang giliran papamu. Buatlah dia tersenyum kembali, papamu benar-benar merindukanmu Aurell.."
"Tapi mah, Aurell rindu mama."
Lagi-lagi Vita tersenyum, "Sekarang rindumu sudah terobati kan? Pulanglah... Papamu menunggumu, mama disini akan selalu mengawasimu lewat hatimu sayang..."
Tiba-tiba sosok itu mulai menghilang dan dikelilingi kabut awan, Aurell berusaha mengapainya namun tak bisa. Ia seolah ditarik untuk kembali entah kemana.
"MAMA..."
Teriaknya memanggil sosok itu, tapi sosok itu sudah menghilang dari pandangannya.
"Kembalilah Aurell, papa menunggumu.."
Bersambung.
__ADS_1