Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Kebahagiaan


__ADS_3

"Tunggu! Hei! Tunggu dulu."


Doni tampak kualahan saat mengejar Joy yang jalannya sangat cepat, bahkan tak menoleh kearahnya ketika ia memanggil namanya.


Namun secepat apapun Joy berjalan, hal itu tak akan mengimbanggi kecepatan lari dari seorang laki-laki. Akhirnya dengan kesusahan dan nafas yang ter engah-engah Doni dapat menjangkau Joy dan langsung menarik tangan wanita itu untuk menghentikan langkahnya.


"Aku kan sudah bilang, Berhenti lah dulu, apa kau tak mendengar teriakanku? Hah?" ucap Doni sambil mengatur nafasnya.


Joy memutar bola matanya malas, ia lalu melirik Doni dengan lirikan sinis. "Kenapa? Apa yang ingin kau lakukan sampai mengikutiku seperti ini, apa kau mau menyeretku kekamar lagi? Hah?" tanyanya berada ketus.


Doni sedikit menunduk, kala Joy jauh lebih pendek darinya. Setelah itu, tanpa disadari ia langsung menyentil dahi Joy agak keras.


"Aww... Apa yang kau lakukan hah? Kenapa kau menyentilku!" ucapnya kesal, melihat Doni dengan tatapan melotot.


"Tak usah berprasangka seperti itu, aku bahkan belum mengatakan apa yang ingin aku katakan." ujar Doni mengeleng kepala.


Joy menyentak tangannya dengan kasar, lalu kembali menatap Doni dengan tatapan angkuh. "Aku tak perduli apa yang ingin kau katakan tuan! Lebih baik kau jangan menghalangi jalanku! Buang-buang waktuku saja." teriaknya, lalu berbalik badan dan mulai melanjutkan langkahnya.


Tak ingin wanita itu melarikan diri lagi, Doni dengan sigab langsung merengkuh pinggang Joy dan dipeluknya dengan erat dari belakang.


Joy tersentak seketika, ia yang sadar langsung memberontak dari pelukan itu namun tak bisa terlepas karena Doni memeluknya dengan sangat erat.  "Lepaskan aku! Jangan mengahalgiku terus, dasar bajingan!" teriak Joy dengan kencang, bahkan orang-orang yang berlalu lalang sampai melihat mereka dengan tatapan aneh. Mereka mengira jika Joy dan Doni tengah bertengkar layaknya sepasang kekasih.


"Ssst... Tenang lah... Apa kau tak malu jika orang-orang melihat kearah kita." bisik Doni berusaha menenangkan Joy, namun agaknya Joy tak mendengarkan ia masih terus saja memberontak bahkan sengaja menginjak kali Doni dengan sangat kencang.


Doni yang merasakan itu tentu saja merasa kesakitan, namun ia masih bisa menahannya karena baginya itu bukanlah apa-apa dibandingkan dengan rasa penyesalannya terhadap Joy.


"Lepaskan aku brengsek!" teriak Joy lagi-lagi.


Doni sudah tak tahan lagi, ia pun langsung mengangkat tubuh Joy dengan mengendong wanita itu, dengan posisi briday style.


"Aaa... Kau mau membawaku kemana Hah?! Lepaskan aku bajingan mesum!" teriak Joy sambil mengepak-gepakkan kakinya diudara.


"Aku akan membawamu masuk kegereja, aku akan Menikahi mu sekarang juga." kata Doni sambil memperlihatkan senyumnya kearah Joy.


Joy yang berada dalam gendongan itu sejenak tertegun, ia baru melihat Doni tersenyum seperti itu, untuk pertama kalinya ia beranggapan jika lelaki yang sedang mengedongnya itu sangatlah tampan.


Mata Joy tiba-tiba melotot, ia langsung tersadar dari pikiran konyolnya, lalu kembali memberontak dalam gendongan itu. "Jangan mengada-ngada kau! Siapa yang ingin menikah denganmu! Aku tak ingin menikah denganmu pria mesum!"


Doni tertawa, sejenak ia menghentikan langkahnya lalu menatap Joy dengan senyum serigai. "Oke baiklah, kau bisa mengataiku pria mesum, tapi setelah kita resmi maka bersiap-siaplah untuk menerima akibat dari pria mesum ini." jelasnya, menatap Joy dengan tatapan dalam.


"A-apa yang kau katakan? Hei jangan bercanda kau, menikah bukanlah hal yang bisa dipermainkan."


"Siapa yang bilang? Aku akan menikahimu! Jika aku sudah berkata seperti itu, maka sudah mutlak! Aku akan menjadikanmu ratu dalam hidupku, hingga akhir hayat memisahkan. Aku hanya ingin menikah satu kali, tak ingin ada kata selanjutnya."


Setelah menjelaskan itu, Doni kembali melanjutkan langkahnya menuju gereja. Sedangkan Joy? Wanita itu tak lagi memberontak, ia malah diam sambil menatap Doni dengan tatapan menelisik. Ia mencari kobohangan atas ucapan itu dari mata cokelat Doni, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran dan ketulusan, entah kenapa hal itu membuat hati Joy seketika menghangat.


...----------------...


Setelah acara repsesi selesai, kini Sagarr dan Aurell sudah sampai pada apartemen milik Sagarr, mereka tak hanya berdua saja melainkan bersama keluarganya yang memang berniat untuk menginap satu hari diapartemen mewah itu.


"Udah malem, kalian cepat istirahat gih! Pasti kalian juga capek," ujar mama Sagarr, ketika para keluarga masih berada diruangan yang memang disediakan untuk berkumpul para keluarga.

__ADS_1


"Iya... Mah, kami juga mau kekamar sekarang kok." jawab Sagarr sambil merangkul pundak Aurell, kini mereka berdua sudah membersihkan diri dan sudah memakai baju santai.


"Iya Gar, tidur beneran jangan tidur boongan!" timpal Johnson papa Sagarr dengan nada meledek.


Sagarr yang mengerti maksud dari ucapan papanya itu hanya bisa memberengut kesal.


"Sudah ya pah, kami kedalam dulu, kami sangat capek hari ini." ucap Sagarr malas, sambil berlalu pergi tanpa mengizinkan Aurell lebih dahulu untuk sekedar berpamitan pada kedua mertuanya dan kakak iparnya.


Kalian pasti bertanya-tanya dimana papa kandung Aurell? Ya Gerland tak ikut berkumpul bersama mereka, karena ia lebih memilih untuk pulang dan mengistirahatkan diri dirumah.


"Ya! Ya! Bikin cucu banyak buat papa ya?! Jangan lupa!" teriak Johnson dengan suara mengelegar sekaligus tawa yang sungguh besar.


Sagarr yang tengah berjalan itu melirik papanya dengan tatapan sinis, tak lupa mulutnya yang terus berkomat-kamit membuat Johnson semakin terbahak.


"Lihat itu anakmu mah! Pasti dia menyumpahi papa itu." ujarnya masih dengan diselingi tawa.


Mama Sagarr mengeleng saja melihat tingkah suaminya. "Sudahlah pah, jangan digodain terus anaknya, kan anaknya jadi malu."


"Biarin mah, soalnya seru sekali menggoda Sagarr, reaksinya itu selalu tak terduga." kikik Johnson.


Areta dan juga suaminya tertawa melihat keusilan Johnson, sedangkan mamanya Sagarr hanya bisa menghela nafas saja.


"Yasudah, yasudah, lebih baik kita istirahat sekarang juga. Kamu juga Areta, cepat samperin putra kamu, takutnya nanti kebangun."


"Iya mah, kalau begitu kita masuk dulu." pamit Areta bersama suaminya dan berjalan menuju kamar apartemennya, disusul dua pasutri itu yang juga berjalan menuju kamarnya.


...----------------...


"Pfftt... Hehehehe,"


"Hahaha...."


Tawa itu semakin mengelegar.


"Ada apa denganmu? Apa kepalamu terbentur sesuatu, sehingga kau menjadi gila?"


Sagarr langsung menghentikan tawanya ketika mendengar perkara nyeleneh dari Aurell, "Yampun sayang... Bahkan setelah menikah, kau masih saja berkata kasar seperti itu, pada ku?" ia berkata manja, sambil memelaskan wajahnya.


"Aku kan cuman bertanya, kenapa kau terus tertawa seperti itu? Seperti orang kesurupan? Kau mau menjadi lelaki aneh lagi?"


"Hemm," Sagarr menatap Aurell dengan tatapan dalam, "Aku hanya merasa lucu saja sayang... Tadi setelah kita menikah, tiba-tiba teman kamu bernama Doni itu mengajak asistenku menikah secara mendadak. Hal itu unik dan belum pernah terjadi sama sekali, entah kenapa rasanya aku ingin tertawa terus menerus." Sagarr berbicara sambil mendudukan bokongnya dikasur empuk itu.


"Kenapa harus ditertawai? Apanya yang lucu? Menurutmu itu semua tak bisa dikatakan lelucon." kata Aurell dengan tegas sambil melipat kedua tangannya didada.


Sagarr sejenak terdiam, ia melihat istrinya dengan pandangan rumit. 'Hemm, istriku ini memang sangat berbeda, selalu serius dan susah untuk diajak bercanda. Namun aku tetap mencintainya.' gumamnya dalam hati. Lalu terkikik sendiri.


"Baiklah, kita tak usah membahas hal yang lain lagi. Kenapa kita tak membahas kita saja, hemm?" Sagarr merengkuh pinggang Aurell dan langsung membawanya kedalam pangkuannya.


Aurell merasa tegang seketika. "Membahas tentang, k-kita?"


Senyum miring terbit dibibir Sagarr, lalu tiba-tiba ia mengecup leher Aurell dengan menggodanya. "Yah...

__ADS_1


Bagaimana kalau kita mencetak adonannya sekarang?" tanyanya berbisik ditelingga Aurell.


"Apa yang ka–"


Sagarr mengecup singkat bibir Aurell, membuat wanita mengerjakan matanya dengan lucunya.


"Ssst, bukankah tadi kau mendengar, jika orangtua kita ingin segera memiliki cucu yang banyak? Hemm?"


Aurell kelagapan, pipinya tiba-tiba saja merona, seumur hidup ia tak pernah merasa malu dan sangat cangung seperti itu. "Kau ingin melakukannya sekarang? Bukankah ini terlalu cepat?" cicitnya.


"Kenapa? Bukankah lebih cepat lebih baik ya? Jika kita memprosesnya pasti akan cepat jadi hasilnya." ucap Sagarr dengan gamblangnya.


Aurell menatap Sagarr dengan tatapan kesal, sekaligus bercampur malu didalam dirinya.


"Oh... Apakah kau malu sayang...?" bisiknya lagi, menggoda Aurell.


"Hentikan, ini geli-"


"Kenapa sayang? Apa kau menolaku? Jika memang benar, aku sedih sekali sayang...." rengeknya dengan suara manja.


"Bu-bukan begitu..."


"Jika memang begitu, katakanlah jika kau mencintaiku!" ucap Sagarr dengan tegas dan mengarahkan pandangannya tepat dibola mata Aurell. Membuat wanita itu seketika tertegun.


"Katakanlah! Aku ingin mendengarnya, aku berfikir sepertinya kau terpaksa menikah denganku."


Aurell terhenyak, ia yang masih dipangkuan Sagarr itu seketika membalikkan tubuhnya dan menghadap pada pria itu.


"Baiklah... Aku akan mengatakannya,"


Seketika mata Sagarr berbinar. "Aku akan mendengarnya...." ucapnya lalu mengecupi tangan Aurell sejenak.


Aurell menatap Sagarr sejenak, lalu menghela nafas panjang. "Akumencintaimu." ucapan itu begitu cepat, sehingga membuat Sagarr melongo ditempatnya.


"Jangan terlalu cepat sayang... Aku jadi tak jelas mendengarnya." rengek Sagarr lagi.


"Tapi aku sudah mengatakannya...."


Aurell melihat wajah Sagarr yang begitu memelas, dan lagi-lagi membuatnya menghela nafas panjang. "Aku mencinta– ump!"


Sagarr mencium bibir Aurell dan ********** dengan pelan. "Aku juga mencintaimu...."


Aurell terdiam, ia menatap Sagarr dengan mengedip-gedipkan matanya.


"Ayo kita bikin anak yang banyak sayang... Biar kau tak kabur lagi dariku," ucap Sagarr dengan mengerlingkan sebelah matanya.


Bibir Aurell berkedut lalu tanpa sadar senyum manis terbit dibibirnya. "Dasar pria mesum!"


"Aku akan memperlihatkanmu, seberapa mesumnya seorang Sagarr Johnson ini! Hemmm?" seringanya, lalu mulai memadu kasih dengan sang wanita tercinta.


...[SELESAI]...

__ADS_1


Terimakasih buat pembaca setia, yang sudah mengikuti perjalanan kisah Aurell dan Sagarr sampai disini, maap ya🙏 jika endingnya kurang berkesan karena Author juga masih penulis amatiran, terimakasih juga sudah memberikan dukungan pada novel Author yang engak terlalu seru ini🐨 akhir penutup! Semoga kalian senantiasa diberikan kesehatan selalu, aminn....


Bila berkenan mampir juga dikarya Author yang lain ya🐭 See you....


__ADS_2