
Adhitama menghela melihat istrinya yang sangat keras kepala itu, padahal biasanya istrinya selalu mendengarkan ucapannya, namun entah mengapa emosi istrinya akhir-akhir ini sangat tidak stabil.
"Kenapa? Kamu tidak bisa menjawab? Berarti kamu mengakui jika kamu menyukai wanita ini! Iya?" bentak Sinta.
Adhitama menghampiri istrinya. "Sudah kubilang padamu jika kamu salah paham Sinta... Mengapa kamu sangat keras kepala sekali hari ini!" ucap Adhitama yang meninggikan suaranya, ia sampai kelepasan karena ia sangat pusing menghadapi istrinya.
"Lihatlah cara bicaramu Adhi, sekarang kamu memebentak ku! Itu pasti karena wanita sialan ini" teriak Sinta menatap murka pada Vita.
Vita mencoba bangkit dari duduknya, ia memegangi perutnya yang terasa nyeri itu.
"Nyonya... Apa yang dikatakan tuan Adhitama benar... Jika Nyonya tengah salah paham, saya hanya membantu tuan karena tak sengaja kopi tuan terjatuh dan mengenai tangan tuan, itu sebab--"
"Tidak usah kamu banyak bicara, saya tau niat kamu bekerja disini selain untuk mencuri, kamu juga mau menggoda suami saya... Karena saya tau jika kamu saat ini butuh kehangatan seorang suami, sebab suamimu yang meninggalkanmu dan tak bertanggung jawab! Dan kamu mencoba merebut suami saya, dasar pelakor saya tak akan membiarkan itu semua"
Vita terhenyak mendengar penuturan Sinta, sungguh! Ia tak menyangka jika Sinta dengan teganya memfitnah dirinya seperti itu.
"Tidak nyonya, tidak! Saya tak ada niat seperti itu" sangkal Vita dengan mengeleng keras.
"Alah... Gak usah cari alasan kamu, sini kamu! Kamu kalau belum dikasi pelajaran, kamu pasti tak akan kapok, dasar pelakor berkedok penipu!"
Sinta berjalan kearah Vita, setelah itu ia dengan santainya menarik rambut Vita dan menyertnya keluar dari ruangan itu.
"Akkkhhh... Nyonya... Apuni saya... Saya tak berbuat salah" teriak Vita merasa kesakitan pada bagian kepalanya.
Sinta lagi-lagi menulikan pendengarannya, ia tak peduli dengan rintihan Vita itu.
"Sinta! Sinta! Apa yang kau lakukan, berhenti melakukan itu" teriak Adhitama mengejar istrinya.
Sedangkan dua pelayan yang ada dibelakang itu bertos ria, mereka sangat senang karena rencana mereka berjalan dengan sukses.
...----------------...
Aurell memasuki kediaman Adhitama, ia baru saja pulang dari sekolahnya. Wajahnya terus saja berseri-seri memancarkan kebahagiaan. Disekolah Aurell mendapatkan juara pertama dan mendapatkan nilai yang bagus, Aurell tak sabar ingin menunjukan itu pada Vita.
"Aurell... Kamu dari tadi kok senyum-senyum terus?" tanya Gavin yang memang mereka satu sekolah, namun berbeda kelas, itu sebabnya mereka selalu pulang bersama.
Aurell tersenyum sumringah. "Aurell gak sabar mau bertemu mama... Buat tunjukin nilai aku ini" jawab Aurell.
"Wah... Kamu dapat nilai bagus ya Aurell? Selamat ya!" ucap Gavin namun tak ditanggapi oleh Aurell, Aurell menghentikan jalannya secara tiba-tiba membuat Gavin mengerutkan keningnya.
"Aurell?" panggil Gavin, masih tak ada tanggapan ia lalu mengikuti arah pandangan yang membuat Aurell terdiam itu.
"Ada apa sih?" gumam Gavin, saat Gavin menangkap objek didalam matanya ia langsung tertegun, tubuhnya menjadi kaku dan bergetar.
"Nyonya... Lepaskan saya" mohon Vita.
"Diam kamu! Jangan terlalu banyak bicara" sentak Sinta, namun saat ia ingin melangkah kebawa menuju tangga tiba-tiba saja kakinya tersandung, alhasil tubuhnya yang limbung itu tak sengaja menubruk Vita dan membuat Vita terjungkal, berguling-gulin ditangga yang bisa dikatakan cukup tinggi itu.
"Vitaa..." teriak Adhitama yang ingin menolong Vita namun ia terlambat.
Vita terus berguling-gulin ditangga membuat kandungannya membentur lantai dan menimbulkan darah keluar berceceran kemana-mana.
"Mama.." teriak Aurell langsung berlari kearah Vita.
"Ukkkk.. Perutku sakit" ringis Vita memegangi perutnya terasa keram itu.
Dua pelayan yang melihat itu merasa ngeri dan ketakutan.
"Gimana ini, itu kan bukan termasuk rencana kita" bisik Santi merasa ketakutan.
__ADS_1
Sedangkan Nita menggigit tangannya, ia juga merasa ketakutan, jika perbuatannya itu terbongkar dan akan membuat hidupnya dalam bahaya.
"MAMA... HUWA MAMA... TOLONG MAMA AURELL..." teriak Aurell menangis dengan suara kencang, Aurell yang masih kecil itu tak tau harus berbuat apa.
Adhitama merasa tertekan. "Apa yang kai perbuat Sinta! Lihatlah perbuatanmu itu" bentak Adhitama.
Adhitama yang ingin menghampiri Vita itu memberhentikan langkahnya, kala Sinta mencekal pergelangan tangannya.
"Mau kemana kamu Adhi" ucap Sinta bangkit dari jatuhnya.
"Kenapa kamu masih bertanya? Tentu saja aku harus menolongnya" ujar Adhitama merasa heran.
"Jangan!" cegah Sinta.
"Apa maksud kamu?"
"Biarkan pelayan yang mengurusnya, pelayan! Cepat bawa wanita itu kedalam kamarnya, obati dia agar tak kesakitan" titah Sinta pada dua pelayan yang sedari tadi ada dibelakangnya itu.
"Baik nyonya!" jawab serentak kedua pelayan itu.
"Kamu tak memanggil dokter untuknya Sinta? Bagaimana dengan kandungannya itu?" tanya Adhitama bingung.
Sinta menatap jengah suaminya. "Kenapa? Apa kamu khawatir dengannya, ohhh... Apa jangan-jangan kamu sudah mulai naksir padanya? Iya?" ucap Sinta menyelidik.
Adhitama menghela nafas panjang. "Kenapa kamu keras kepala sekali Sinta? Aku sudah bilang padamu kamu hanya salah paham"
"Alah... Terserah apa kata kamu aja deh... Aku pusing debat terus sama kamu Adhi.." ucap Sinta yang setelah itu ia meninggal Adhitama menuju kamarnya.
Adhitama lagi-lagi menghela nafasnya, ia menatap Vita yang tengah ditolong oleh dua wanita pelayan itu.
Adhitama saat ini tak bisa berbuat apa-apa, jika ia menolong Vita maka istrinya tentu saja akan kembali murka.
...----------------...
Kini Aurell dan Vita berada dikamarnya, setelah Vita diberi obat pereda nyeri oleh kedua wanita pelayan itu.
"Mama... Mama masih sakit gak? Kalo masih sakit ayo kita kerumah sakit, Aurell takut jika adik kenapa-napa" ucap Aurell sambil mengelus perut Vita.
Vita terdiam, ia merenunggi ucapan putrinya itu. 'Apa yang dikatakan Aurell benar... Sebaiknya aku cek kandungan ku kerumah sakit, takutnya bayi dalam kandungan ku terjadi sesuatu' batin Vita dalam hati.
"Aku tak menyangka teman mama itu sangat jahat pada mama, Aurell benar-benar membencinya ma.." gerutu Aurell marah.
Vita kaget mendengar perkataan putrinya itu.
Ia lalu mengeluh rambut Aurell. "Sayang... Kamu gak boleh bilang begitu... Sejahat-jahatnya nyonya Sinta beliau juga berjasa bagi kita, mau memberikan pekerjaan pada mama dan menyekolahkan kamu, jadi sayang kamu gak boleh begitu ya? Kita ini udah banyak berutang budi pada nyonya Sinta" ucap Vita dengan nada lembut pada putrinya itu.
"Ah... Mama terlalu baik sih... Ma! Mending kita pindah aja yuk! Aurell udah gak betah disini, dengerin permintaan Aurell ya ma? Kali ini aja.. Ya! Ya! Plissss" mohon Aurell pada Vita, Vita yang melihat putrinya memohon itu dibuat bingung.
"Tapi sayang.."
"Ini juga demi adik ma... Mama sudah sering disiksa dirumah ini, mama gak takut jika adik kenapa-napa?"
"Hus... Jangan omongan kamu sayang" ucap Vita menepuk pelan bibir mungil Aurell.
"Kan? Mama takut kan? Yaudah dengerin apa kata Aurell... Kita pindah disini ya? Malam ini kita pulang kerumah kita yang lama" ucap Aurell masih memohon.
Vita sebenarnya ragu, namun ia tak tega melihat putri kecilnya memohon seperti itu, akhirnya ia menganguk tersenyum pertanda ia menyetujui permintaan Aurell.
"Beneran? Yeyyy..." sorak Aurell merasa gembira.
__ADS_1
"Yaudah... Kemasi barang-barang kamu, kita pindah malam ini juga" ujar Vita yang langsung dianguki oleh Aurell.
Vita yang melihat keantusiasan putrinya hanya bisa tersenyum sambil mengeleng.
"Udah kamu beresin semua kan?" tanya Vita pada Aurell, Aurell menganguk mantap.
"Yaudah yuk kita keluar"
Saat Vita dan Aurell keluar dari kamarnya, ia melihat dua wanita pelayanan ada didepan pintu kamarnya.
Santi yang tak sengaja melihat Vita itu mengkode Nita. "Nit... Vita tuh" tunjuk Santi.
Mereka berdua pun menghampiri Vita.
"Vit... Kamu mau kemana? Malam-malam begini!" ucap Nita bertanya.
"Ah! Kebetulan kalian ada disini, aku mau pamit sama kalian, aku dan anak aku mau izin resing dari pekerjaan dan mungkin kami tak akan kembali lagi dirumah ini" jelas Vita.
"Hah? Beneran kamu" tanya Nita.
"Iya... Terima kasih ya kalian sudah membantu ku tadi" ujar Vita tulus pada dua wanita itu.
Dua wanita pelayan itu tak tahu harus menjawab apa, mereka akhirnya menanggapi dengan senyum cangungnya.
"Yaudah... Yuk Aurell, kamu pamit dulu sama Gavin gih, biar mama yang pamit pada nyonya Sinta dan tuan Adhitama"
"Tapi mah..."
"Aurell... Kamu harus pamit sama Gavin ya? Nanti dia nyariin kamu loh"
Aurell menghela, ia pun akhirnya menganguk setuju.
"Yaudah... Kita tinggal dulu ya? Nita.. Santi.. Terima kasih sekali lagi" pamit Vita tersenyum.
Mereka berdua hanya menganguk sebagai jawaban.
"Aku kok rasanya jadi merasa kasihan ya? San pada Vita" ujar Nita.
"Iya Nit, kayak ada rasa nyesel gitu loh"
Mereka berdua pun hanya merenungi kata-kata mereka dan berlalu pergi dari kamar Vita.
...----------------...
Vita sudah sampai pada kamar milik majikannya itu, ia bersiap mengetuk pintu namun tiba-tiba saja ia urungkan, kala mendengar sesuatu yang membuatnya tertegun.
"Sayang... Bagaimana jika kita ketahuan? Jika kita melakukan penyelundupan barang-barang terlarang berupa sabu-sabu itu" ucap Sinta pada suaminya itu.
"Kita tak akan ketahuan asalkan tidak ada yang membocorkannya, lagi pula kita sudah lama melakukan hal ini"
Vita yang mendengar semua itu menutup mulutnya tak percaya, ia mundur dan ingin meninggalkan tempat itu, namun tiba-tiba saja ia tersandung kursi dan membuat vas yang ada dimeja itu terjatuh, pecah berserakan dilantai.
"Astaga!" ucap Vita terkejut.
"Siapa disana!" teriak Adhitama.
Bersambung.
Part terpanjang untuk pembaca setia(^_-) Lopyuu... Untuk yang selalu mendukung author remahan ini.
__ADS_1