
°°°°°
"Guys! Asal kalian tau! Cewek yang ada didepanku ini sebenarnya cewek piskopat. Kalian pasti akan kaget melihat sifat asli dari cewek busuk ini!" ucap Eira yang sengaja berbicara dengan suara lantang, agar semua orang mendengarnya.
Semua penghuni kampus itu mulai berkumpul membentuk lingkaran, dan kini Aurell beserta Eira berada ditengah-tengah kerumunan itu. Eira yang melihat semua orang yang seperti penasaran itu, tertawa bahagia didalam hatinya.
"Apa kalian semua penasaran dengan sifat asli wanita yang ada didepanku ini?" ucap Eira bertanya, dan semua orang yang ada disana tanpa ragu-ragu menjawab, jika mereka tengah penasaran.
Eira tersenyum puas, ia lalu memandang Aurell dengan tatapan remeh. "Bagaimana Aurell? Kamu mau pilih yang mana... Milih berhenti mendekati Gavin, atau... Memilih mengabaikan perkataanku dan semua rahasiamu akan terbongkar sekarang juga didepan semua orang yang ada disini?" ucap Eira tengah bertanya pada Aurell.
Aurell yang masih setia dengan raut datarnya itu, kini dengan santainya melipat kedua tangannya didada seolah-olah tengah menerima tantangan baru.
"Aku tak akan memilih, karena semua yang kau ucapan itu tak begitu penting bagiku. Sekarang, lanjutkan dramamu.. Mumpung aku masih disini, mengamati drama seru yang kau buat! Aku tak akan menyia-nyiakan drama gratis ini." ucap Aurell dengan nada angkuhnya, namun masih setia dengan raut santai nan datarnya itu.
Eira yang mendengar itu seketika mengepalkan kedua tangannya, ia menatap Aurell dengan tatapan kebencian. Kebencian yang ada didalam dirinya kini makin memuncak, alasan yang pertama karena Aurell berhasil mengikat Gavin setelah Eira berhasil merebut Gavin dari Aurell, dan alasan selanjutnya ia makin tak suka jika ada orang yang dengan mudah meremehkannya dan semua itu hanya ada pada diri Aurell.
Entah kebetulan apa, Gavin yang baru saja tiba dari kampus itu seketika mengerutkan kedua alisnya. Ia yang ingin menuju falkutas Aurell dibuat bingung dengan banyaknya orang yang tengah berkerumun disepenjuru koridor kelas.
Gavin berjalan kesalah satu mahasiswa yang ada disana. "Permisi maaf, ini ada apa ya?" tanya Gavin pada mahasiswa yang sepertinya merupakan Junior difalkutasnya.
"Eh? Kak Gavin... Ini sepertinya ada kakak-kakak cewek yang mau berantem. Saya denger-denger dari temen saya, kalau dikampus kita ini ada pembunuh. Sekarang orangnya lagi dikerumunin orang disana." jelas mahasiswa itu.
__ADS_1
Gavin kembali mengerutkan alisnya, "Pembunuh? Maksudnya gimana sih.. Mana mungkin dikampus kita ini ada seorang pembunuh, emang siapa yang dibunuh?" tanya Gavin lagi, yang sudah penasaran.
Mahasiswa itu mengedikan kedua bahunya. "Saya juga gak paham kak.." jawabannya.
Gavin menghebuskan nafasnya. "Yaudah, thanks ya!" ucap Gavin lalu melangkahkan kakinya menuju kerumunan itu.
...----------------...
"Semuanya! Kalian denger baik-baik ya ucapanku ini! Kalian harus tau. Aurellia yang merupakan siswi teladan dikampus ini sebenarnya dia melakukan penganiayayan terhadap papaku! Dan juga orangtua Gavin!" ucap Eira lantang, membuat semua orang yang ada disana membekap mulutnya masing-masing, merasa terkejut dengan ucapan Eira itu.
"Kalian tak tahu saja! Alasan dia melakukan penganiyayaan itu sungguh menjijikan!" tekan Eira. "Dia melakukan itu hanya karena ingin membalas dendam, terhadap wanita pelakor yang dulu pernah menggoda papanya Gavin. Wanita itu mati setelah menjalankan rencana liciknya." lanjutnya.
Aurell mengangkat satu alisnya, ia tak paham dengan ucapan Eira barusan itu.
Eira tersenyum miring menatap Aurell, sedetik kemudian ia membuka mulutnya."Wanita itu merupakan ibu kamdungnya sendiri." jelas Eira membuat semua orang terpekik kaget tak menyangka dengan ucapan Eira barusan itu.
Aurell yang mendengarnya langsung melepas kedua tangan yang tadi terlipat santai didadanya itu, kini mengepal erat siap untuk menghantam mangsanya.
"Brengsek!" umpat Aurell, tak bisa menahan emosi. Dengan kecepatannya ia langsung meninju wajah Eira dengan kekuatan tenaganya.
Buukkk...
__ADS_1
Suara nyaring itu tepat sasaran mengenai wajah sang wanita ular, dan membuat wanita itu terpental hebat, jatuh tepat dilantai keramik itu.
Tentu saja membuat semua orang yang ada disana terpekik kaget, baru pertama kali mereka menyaksikan pukulan yang sehebat itu.
Sedangkan Eira? Eira saat ini tergeletak mengenaskan dilantai itu, darah bercucuran keluar dari hidungnya. Tangan Eira bergetar ketika menyentuh darah itu, sang Eira Florenza baru saja mendapatkan pukulan? Itu baru pertama kali seumur hidup Eira mendapatkan pukulan keras itu. Bahkan orangtuanya sendiri tak pernah memukulnya.
Sedangkan disisi lain, sepasang mata yang baru saja datang dari kericuhan itu mengetatkan rahangnya, kobaran api kemarahan terpancara dimatanya. Bahkan wajahnya kini menjadi merah menahan kemarahan, siapa lagi kalau bukan Gavin? Gavin yang baru ingin melihat kericuhan itu langsung disuguhi pemandangan yang kurang mengenakan dimatanya, ia tak mendengar perkataan pedas dari Eira namun ia hanya melihat ketika Aurell meninju Eira dengan sekuat tenaganya.
"Aurell..." geram Gavin, tanpa aba-aba ia langsung berjalan kearah Aurell.
Aurell tak tahu jika Gavin berjalan kearahnya, karena Aurell saat ini masih terpaku oleh emosinya itu.
Tiba-tiba Gavin mencengkram tangan Aurell, Aurell refleks membalikkan wajahnya.
Plakk...
Tamparan pedas itu melayang tepat dipipi Aurell, Aurell mencengkram pipinya yang terasa nyeri itu. Ia melototkan matanya mendapati Tamparan dari Gavin itu.
"Dasar wanita penjahat!" teriak Gavin mengema diruangan itu. Gavin menatap Aurell dengan kobaran api kemarahan.
"Aurellia! Kau wanita menyeramkan yang pernah aku temui!" tekan Gavin dengan tatapan kebencian.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa tangapannya ya reders...