
°°°°°
"Aurell!"
Suara bariton itu mengalihkan pandangan kedua insan kearah sumber suara.
Aurell yang melihat ayahnya berjalan kearahnya itu, bangkit dari duduknya dan menatap sang ayah dengan tatapan datarnya.
Gerland menghentikan langkahnya tepat didepan Aurell. Kembal! Semua orang yang ada disana tengah menatap kearah Gerland yang memang penampilannya itu sungguh sangat menonjol, apa lagi ditambah dengan dua pengawal berbadan kekar yang setia membuntutinya itu.
Aurell sungguh risih, jika semua mata tertuju padanya.
"Mengapa kau tak cepat pulang? Lihat semua orang tengah melihatmu. Aku sungguh tak nyaman jika semua orang melihat kearah sini." ucap Aurell, tak lupa kedua tangannya dilipat didepan, dan mengalihkan pandangannya tak mau melihat kearah ayahnya.
"Kenapa? Biarkan saja mereka melihat.... Biar mereka tahu, siapa papa Aurellia Austerlitz yang sebenarnya. Mereka pasti membatin jika papanya Aurell ini sangat tampan, walau sudah berumur." ujar Gerland dengan banganya, memuji dirinya sendiri.
Aurell menghela nafas, ia sungguh malas mendengar kenarsis san ayahnya itu.
Sedangkan Sagarr tertawa kecil mendengar ucapan Gerland yang sangat konyol itu. Ia bahkan tak habis pikir, jika ayah dari Aurell ini bisa bertindak konyol dan bisa membuat lelucon. Mengapa putri kandungnya malah sebaliknya, bertindak arogant dan sangat datar. Sungguh Sagarr hanya bisa mengelengkan kepalanya, ia tak mengerti dengan sifat Aurell yang entah berasal dari mana. Ia bahkan tau jika almarhum ibu kandung Aurell itu memiliki sifat lembut dan penyabar. Sedangkan ayah kandung Aurell? Bisa ditebak jika ayah Aurell itu tengah berbicara dengan anaknya.
"Aku tak suka membanga, bangakan hal seperti itu. Aku lebih suka jika semua orang tak tahu tentang kehidupan, mau tentang orangtua ku." jelas Aurell, masih dengan wajah datarnya.
"Halooo ommm, lama gak ketemu nih..."
Tiba-tiba muncul suara cempreng dari samping mereka, siapa lagi kalau bukan Gustin biang keroknya?
Ya, Gustin saat ini tengah berlari? Kearah Aurell dan Sagarr berada. Gustin tak sendiri, ia bersama kedua kawan setianya yang tengah membuntuti dirinya dibelakang.
"Gustin ya? Temannya Aurell?" tanya Gerland.
Gustin menyengir. "Iya dong om, siapa lagi kalau bukan Gustin. Teman Aurell yang paling ganteng sendiri." ucap Gustin, yang sungguh sangat narsis.
Gerland yang mendengar itu tertawa, sedangkan keempat pria muda yang ada disana memutar bola matanya malas mendengar ucapan Gustin yang sungguh membuat mereka ingin muntah.
"Haha... Saya tidak tau jika Aurell mempunyai teman seperti kamu, yang saya tau, dulu waktu Aurell masih duduk dibangku sekolah dasar. Dia hanya menceritakan tentang dua teman laki-lakinya. Hemm.... Siapa ya namanya? Oh! Saya ingat! Dua teman laki-laki itu kalau gak salah inget namanya Doni sama Erlan." jelas Gerland sambil mengingat, ingat nama-nama teman yang pernah disebutkan oleh putrinya itu.
Seketika Gustin menganga mendapati ucapan dari Gerland ayah dari Aurell itu. Sedangkan Erlan, Doni dan Sagarr tengah menahan tawa. Apa lagi melihat wajah ngenes dari Gustin itu.
"Oh saya juga ingat. Waktu itu ada seorang anak laki-laki didalam sebuah foto, mamanya Aurell dulu pernah memperlihatnya pada saya. Tapi saya tak ingat siapa nama anak itu." ucap Gerland, mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuk. Mencoba mengingat-ingat siapa nama bocah lelaki yang ada disebuah foto itu.
__ADS_1
"Mungkin itu saya om!" celetuk Gustin dengan binaan mata yang terpancar darinya.
"Bukan... Bukan kamu..." sangkal Gerland yang kembali membuat wajah Gustin menjadi lesu seketika. "Saya ingat dengan jelas, jika wajah anak laki-laki itu. Lebih tampan dari kamu."
Duar... Kembali, Gustin dibuat menganga. Bahkan ucapan Gerland itu lebih kejam dari sebelumnya, ia seperti tak dianggap tampan oleh ayah dari Aurell.
"Stop om! Stop! Jangan membuat Gustin ini semakin sakit hati mendengar ucapan itu, A'a Gustin ini tau... Jika wajah ini sangat tampan. Itu sebabnya om tak mau mengakuinya, karena tak ingin kalah saing dengan Gustin tampan ini." sungguh sangat mendramatis, Gustin mengucapkan itu dengan menutup wajahnya dengan tangan kirinya. Ia seolah-olah tengah bermain peran didepan mereka.
Entah kenapa Wajah Erlan, Doni dan Sagarr tiba-tiba saja menjadi datar. Dan seperti siap melahap mangsa yang sangat menyebalkan didepan mereka itu.
Mereka bertiga sudah tak tahan lagi, mereka mendekat pada Gustin dengan wajah yang dibuat semenyeramkan mungkin.
Gustin yang melihat ketiga cowok tampan itu, langsung menyilangkan kedua tangannya didada. Seolah-olah ia seperti perempuan yang ingin dikeroyoki oleh para lelaki itu.
"Kalian mau apa? Jangan macam-macam ya..." ucap Gustin dengan suara yang dibuat sekemayu mungkin.
Sudah tak tahan lagi, mereka bertiga langsung mengkeroyoki Gustin dan mengacak, acak rambut, dan pakaian yang dikenakan oleh Gustin itu.
"Kyaaaaa... Kalian sedang apa... Jangan menganguku, ini namanya pelecehan seksual ya? Kalian jangan seperti ini, kayak gak ada perempuan aja..." oceh Gustin yang masih dikeroyoki itu.
"Bangsat! Rasanya gue ingin sekali buang ini anak dikandang buaya." umpat Erlan sambil menarik-naik baju Gustin.
"Aku tak ingin punya teman seperti dia." kata Doni, yang malah melebarkan lubang hidung Gustin seperti seekor babi.
Gerland dibuat ketawa melihat tingkah pemuda pemudi itu, ia sampai mengeluarkan air mata sangking lucunya.
"Yaampun... Teman kamu Aurell kenapa bisa lucu sekali..." ucap Gerland.
Aurell memutar kedua bola matanya malas. "Mereka bukan teman ku! Aku tak ingin berteman dengan orang-orang yang kekanakan seperti itu."
Ucapan Aurell barusan itu membuat aktifitas keempat pria itu berhenti seketika.
Mereka berempat menatap Aurell sejenak dan kemudian melihat penampilan mereka masing-masing, setelah itu memperbaiki penampilan itu sebaik mungkin. Setelah dirasa cukup, Sagarr, Doni dan Erlan berjalan kearah Aurell dengan gaya dibuat se cool mungkin. Kemudian berdiri dihadapan Aurell secara berjejer. Sedangkan Gustin? Entahlah ia saat ini hanya dijadikan makhluk transparan saja.
"Gue gak kekanakan." ucap Erlan.
"Aku juga." balas Sagarr.
"Juga.." timpal Doni.
__ADS_1
"Trus siapa yang kekanakan?" tanya Aurell.
"DIA!"
Ya, mereka bertiga menunjuk Gustin yang penampilannya saat ini sungguh sangat mengenaskan.
"SIALAN LO BERTIGA!" umpat Gustin berteriak sangking kesalanya.
Aurell dibuat pusing, ia mengeleng-gelengkan kepala. Melihat tingkah mereka yang sungguh membuat darahnya naik seketika.
"Sudahlah kalian membuat ku-"
Dorrr....
Susana kembali tegang saat Aurell belum sempat menyelesaikan ucapannya.
Tess...
Darah menetes begitu saja dipijakan mereka, mata mereka melotot kala melihat darah yang bercucuran keluar dari mulut Aurell.
"Ukkhh.." lenguh Aurell, ketika merasakan nyeri dipungungnya. Matanya tiba-tiba saja mengelap, ia tak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena ia pingsan begitu saja. Dan sedikit mendengar teriakan dari pendengarannya.
"Aurell!" teriak mereka.
"Apa yang terjadi?" ucap Sagarr yang tubuhnya saat ini menegang, ketika melihat punggung Aurell yang terus mengeluarkan darah.
"Peluru?" gumam Sagarr saat melihat sebuah peluru menancap pas dipungung Aurell.
Sagarr mengedarkan pandangannya, dan saat itu juga pandangannya berhenti tepat melihat sosok yang tengah menyerigai kearah Aurell berada.
Tiba-tiba saja sosok misterius berbaju hitam itu pergi meninggalkan tempatnya.
Sagarr mengepalkan kedua tangannya, tengkuknya mengetat seketika. "Seekor tikus berani mengusik kandang singa. Lihatlah apa yang akan ku lakukan nanti." gumam Sagarr menyerigai.
Bersambung.
Jangan lupa terus dukung author ya🐭☺️ biar author ini tambah semangat..... Oh iya jangan lupa sematkan Vote, like dan komen. Atau kirimkan bunga mawar seiklasnya saja🐨🦥
See you next time....
__ADS_1