Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Wanita Ular


__ADS_3

Sudah dua hari sejak kejadian sosok misterius itu, namun Aurell seakan tak memperdulikan hal itu. Ia begitu sibuk dengan tugas kuliahnya, ditambah sebentar lagi ia akan memasuki masa wisuda. Ya! Sebentar  lagi Aurell akan lulus, tentu saja masa jabatannya sebagai mahasiswa akan segera usai.


Aurell saat ini masih berada diapartemen milik Gerland ayahnya, ia sebenarnya ingin pindah kerumahnya dulu. Namun ayahnya itu melarangnya dengan paksaan, Aurell yang awalnya terus menolak akhirnya pasrah dan mengalah juga. Ia mengalah karena ada alasannya, alasannya itu sangat tak masuk akal baginya. Bagaimana tidak! Ayahnya itu pernah mengatakan jika ia memiliki penyakit mematikan dan katanya, hidupnya tak akan lama lagi.


Tentu saja Aurell tak bisa menolak jika ancamannya seperti itu. Walau ia masih menaruh rasa benci pada ayahnya itu, namun hati kecilnya menjadi tak tega jika melihat sosok ayah yang pernah ia sayangi sewaktu kecil memohon padanya dengan wajah yang dibuat sedih, hal itu membuat hati Aurell sedikit teriris dan memilih mengesampingkan egonya.


Aurell baru keluar dari kamarnya dan sudah siap untuk berangkat kekampus, ia membelokkan langkahnya menuju ruang makan. Dimana, disana sudah ada pelayan apartemen itu, beserta ayahnya dan tak lupa asistenya yang setia menemani atasannya itu.


Gerland yang melihat kedatangan putrinya itu, memilih meletakkan koran yang ia baca diatas meja. "Pagi Aurell." sapa Gerland. Aurell hanya menjawabnya dengan deheman, Gerland yang mendengar itu hanya bisa tersenyum.


"Bagamana dengan harimu Aurell?" tanya Gerland basa-basi.


"Biasa saja." jawab Aurell singkat, Aurell masih enggan menatap ayahnya. Ia malah memilih sibuk dengan roti selai sebagai sarapannya itu.


"Hemmm, bagaimana dengan kuliahmu?" tanyanya lagi.


"Tidak usah basa-basi! Cepat katakan apa yang ingin kau katakan." ucap Aurell datar.


Gerland hanya bisa terkekeh, "Putriku ini sangat keras kepala, persis seperti diriku yang masih muda. Benarkah Toni?" ujar Gerland, beralih pada asistenya.


Asisten yang bernama Toni itu menganguk, "Benar tuan." jawabannya.


Aurell hanya bisa menghembuskan nafas, malas menanggapi.

__ADS_1


"Putriku." panggil Gerland.


"Jika tak ada yang ingin kau katakan, aku akan pergi." ucap Aurell bangkit dari duduknya.


"Tunggu sebentar Aurell! Papa ingin bertanya sesuatu padamu." ujar Gerland menghentikan langkah Aurell.


Aurell tak berbalik, "Apa? Cepat katakan, aku tak ada waktu untuk berbasa-basi." ucapnya.


"Papa ingin tau, apa kamu masih ingin melanjutkan keanggotaan Sharky ini?" tanya Gerland pada intinya.


"Apa maksudmu?" tanya Aurell, ia yang semula tak membalikkan tubuhnya. Kini ia berbalik dan menghadap kearah Gerland berada.


"Jika kamu sudah selesai dengan misi kamu itu. Papa akan membubarkan keanggotaan Sharky, karena sudah tak ada lagi masalah yang harus diurus." tekan Gerland.


Gerland tertawa melihat betapa keras kepalanya putrinya itu."Benar-benar keras kepala. Aku tak menyangka jika putriku menurun sifatku, bahkan sifat lembut dari istriku itu tak ada yang melekat pada dirinya." gumam Gerland dengan gelengan kepalanya.


...----------------...


Saat ini Aurell tengah berjalan dikoridor menuju kelasnya. Namun saat ia hampir sampai, tiba-tiba saja Eira menghadang jalannya.


Aurell yang sibuk membaca buku itu, langsung menutup bukunya dan mengalihkan pandangannya kearah Eira, dengan raut datarnya itu.


"Apa lagi? Mau buat onar?" tanya Aurell dengan menaikkan satu alisnya, bersikap santai menghadapi wanita penuh rencana itu. Yang saat ini tengah ada dihadapannya.

__ADS_1


"Heh! Gadis pembawa sial, jangan pernah dekati Gavin. Gavin itu milik gue! Gak sepantasnya lo deketin Gavin yang sudah jadi tunangannya orang! Gak tahu diri banget sih lo." tekan Eira sedikit mengeraskan suaranya. Dan membuat semua pandang mata menuju kearah mereka saat ini, Eira tersenyum miring mendapati semua orang yang mulai memperhatikannya itu. Sepertinya Eira tengah menjalankan aksi rencananya.


"Gadis pembawa sial?" tanya Aurell masih dengan raut santainya, ia tak memperdulikan sama sekali pandangan orang-orang saat ini. Toh, citra Aurell sudah sedari dulu. Buruk dimata semua orang.


"Iya! Lo itu gadis pembawa sial yang baru pertama kali gue temui. Gara-gara lo! Keluargaku hancur... Itu semua karena ulahmu yang tega menindas orangtua gue! Pake segala ancem bunuh mereka lagi." cerocos Eira menjadi-jadi, hal itu membuat orang yang mendengar itu langsung berbisik-bisik mengambil asumsi sendiri tentang Aurell.


'Akhirnya, sepertinya rencanaku berhasil. Semua orang mulai menyudutkan Aurell, ini akan jadi makin seru. Aurell... Aurell... Main-main sih sama Eira..' gumam Eira dalam hati, diam-diam ia tersenyum licik tanpa terlihat oleh semua orang yang ada disana.


"Gila.. Aurell mau bunuh orang?" bisik seorang siswi.


"Wah.. Parah! Ngeri banget... Gak nyangka teman sekampus kita ada *******, tukang bunuh orang. Rasanya gue mau pindah aja dari kampus ini." jawab teman siswi itu.


"Ini gak bisa dibiarin guys, kita harus lapor ini sama pihak kampus. Biar Aurell langsung dikeluarin dikampus ini, atau bisa langsung dipenjarang sekalian."


Keadan menjadi ricuh, semua yang ada disana mulai panik dan ketakutan. Benar bukan? Semua orang dibutakan dengan satu ucapan, berani mengambil asumsi tanpa mendengar kebenaran dari sang korban. Sungguh mengerikan.


Aurell menghela nafas, ia yang ingin segera lulus dengan tenang saja tidak bisa. Benar-benar membuat Aurell sangat pusing dengan hari-hari yang ia lewati dikampus itu.


"Wanita ular ini sepertinya belum mengetahui, panasnya pisau tajamku." gumam Aurell, tanpa sadar ia mengeluarkan senyum devilnya.


Bersambung.


Maaf ya guys lama gak up hehe.. Ada yang rindu gak sih🙌 berharga ada yang rindu wkwkwk..

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak...


__ADS_2