Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Bocah Mengemaskan


__ADS_3

Rasya, bocah kecil itu terus menghentak-hentakan kakinya. Tak lupa tatapan tajam itu terus mengarah pada Sagarr yang hanya diam sambil menatap bocah itu, dengan tatapan malas.


Sagarr melipat kedua tangannya didada, ia hanya menghembuskan nafasnya ketika melihat raut wajah dari bocah itu, menjadi kesal atau tengah marah kepadanya. Namun seorang Sagarr tentu saja tak memperdulikan hal itu.


"Sepertinya rencanaku ketahuan oleh bocah itu." gumamnya.


Beberapa menit yang lalu....


POV Rasya-


Rasya berjalan santai sambil bersenandung disetiap langkahnya, tiba-tiba langkahnya terhenti kala melihat sosok mamanya yang tengah bersama dengan para orangtua disana. Tak lupa dengan papanya yang setia disamping mamanya, kepala kecil itu mengeleng ketika melihat papanya yang memeluk mamanya dari samping dengan gestur posesifnya.


"Papa ini... Walau ditempat umum pun, tetep nempel sama mamah.." gumamnya dengan mengelengkan kepalanya.


Rasya kemudian melanjutkan langkahnya dengan sedikit berlari kecil kearah mamanya berada.


"Eh? Cucu nenek kesini... Kenapa sayang, kok gak sama kakak cantik?" tanya wanita paru baya itu yang merupakan mama dari Sagarr.


"Iya sayang... Kenapa gak main lagi sama kakak Aurell?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah mama kandung Rasya.


Rasya yang mendengar suara mamanya itu, mengalihkan pandangannya menatap sang mama tercinta.


"Bukannya mama ya? Yang panggil Rasya kesini?" tanya bocah itu dengan raut bingungnya.


"Loh? Siapa yang panggil kamu sayang... Mama gak panggil kamu loh, mama aja dari tadi disini cerita-cerita sama nenek dan kakek-kakek kamu." jawab Areta, yang juga dibuat bingung.


Bocah laki-laki melongo dengan wajahnya yang mengemaskan itu. "Loh? Kata paman Sagarr, mama manggil Rasya."

__ADS_1


Areta melirik suaminya yang ada disampingnya, kemudian mereka dibuat tersenyum geli. Begitu pun dengan para orangtua yang dibuat tertawa seketika.


"Rasya... Sepertinya paman kamu ingin menjauhkanmu dari kakak Aurell, sepertinya pamanmu ingin berduaan kakak tersayangmu saat ini." ucap Areta yang tak bisa membendung tawanya.


Rasya yang semula terbengong itu, kini merubah rautnya menjadi cemberut dan dipenuhi kekesalan. Namun wajah kekesalan itu malah mengundang gelak tawa dari para orangtua disana, bagaimana tidak tertawa jika mereka melihat wajah yang super mengemaskan dari bocah kecil itu.


"Ish... Paman nyebelinnnn..." Rasya berteriak, sambil berlari. Kembali menghampiri sepasang insan yang sedang dimabuk asmara ditengah dinginnya malam itu.


"Awas saja kau paman.." teriaknya lagi.


Kedua orangtua Rasya dan juga nenek, kakek. Tak lupa Gerland pun ikut merasakan kegemaran dari lelaki kecil itu.


Gerland berucap saat tawanya terhenti, "Wah... Cucu laki-lakimu itu sangat lucu sekali ya?"


"Iya tuan Gerland... Cucu saya itu sangat mengemaskan sekali, saat dia marahpun wajahnya terlihat sangat lucu. Anda bisa lihat tadi, saat cucu saya tengah kesal pada putra saya." jawab tuan rumah itu, diselingi tawanya.


"Hemm, saya jadi kepingin cucu. Sayang sekali saya hanya memiliki satu putri dan tentu saya begitu tak rela jika putri saya menikah sekarang, tapi entah kenapa. Jiwa tua ini ingin sekali menimang cucu, saat saya melihat cucu laki-laki anda itu. Saya pingin sekali memiliki cucu kembar. "


Gerland yang mendengar itu, langsung mengalihkan pandangannya kearah Johnson.


"Wah... Sepertinya itu ide bagus."


Jawaban dari Gerland itu, membuat pihak keluarga dari Sagarr tertawa bersama.


"Anda memilih pilihan yang tepat, kita tinggal menanyakan hal itu pada anak-anak kita nanti." ujar Johnson.


"Saya setuju dengan anda.."

__ADS_1


Sekali lagi mereka saling melempar tawa, menikmati suasana yang mereka buat.


...----------------...


Kembali lagi pada Rasya yang sudah berada tepat dihadapan Sagarr, bocah itu dengan angkuhnya melipat kedua tangannya menatap Sagarr seolah-olah tengah ingin mengajak berperang pada lelaki yang berprofesi sebagai pamannya itu.


"Dasal! Paman tukang tipu!" teriak bocah itu dengan beraninya.


Masih dengan tatapan malasnya, ia menghela nafasnya sejenak lalu kembali menatap bocah itu dengan tatapan mengejek. "Kau ini bocah kecil, ngomongnya aja masih cadel. Berani banget berteriak didepan pamanmu yang lebih tua darimu ini." ucapnya lalu melengos.


Bocah itu memberengutkan bibirnya. "Makanya paman! Kalo paman ngaku tua, paman tuh halus mengalah sama yang lebih kecil... Paman itu tak mencontoh yang baik, masa beraninya berbohong didepan anak kecil." ucap bocah itu dengan angkuhnya.


"Asal paman tau ya? Walau Rasya ngomongnya belum jelas, tapi disetiap kata. Rasya tak pernah berbohong, seperti paman." lanjutnya, dengan rasa percaya dirinya.


Aurell yang mendengar itu dibuat tertawa, kata-kata itu tentu sangat menohok Sagarr. Dan bisa dilihat, wajah lelaki itu langsung dibuat mengangga, merasa syok dengan lontaran kata dari bocah kecil yang tingkat keberanianya sangat tinggi.


Rasya mengalihkan pandangannya menatap Aurell. "Kakak cantik, mending kakak sama Rasya aja. Kakak jangan main sama paman, nanti kalo kakak main sama paman, paman pasti nularin sifat jeleknya pada kakak."


"Rasya gak mau, nanti kakak jadi suka berbohong." ucap bocah itu.


"Hei bocah!" geram Sagarr merasa dibuat kesal oleh keponakannya itu.


Bocah itu mengacuhkan Sagarr, ia lalu berjalan mendekat pada Aurell dan mengapa telapak tangannya.


"Kakak cantik ikut Rasya aja... Yuk." seru bocah itu, langsung membawa pergi Aurell masuk kedalam rumah.


Sagarr yang melihat itu mengusar rambutnya dengan kasar, ia pun mendesah kasar.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin, aku bersaing dengan keponakanku sendiri?" gumamnya sungguh dibuat frustrasi.


Bersambung.


__ADS_2