Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Terus Menganggu Pikiran


__ADS_3

"Makan yang banyak... Biar putri papa cepat sembuh. Nanti kalau sudah sembuh total, bisa papa bawa kamu jalan-jalan." ucap Gerland yang dengan telaten menyuapi Aurell.


"Pa.. Aurell sudah kenyang... Gak muat lagi diperut, Aurell eneg! Rasanya hambar..." ujar Aurell menetup mulutnya dengan kedua tangannya agar sendok berisikan bubur itu tak mendarat lagi dimulutnya.


"Yaampun sayang... Padahal tinggal sedikit lagi loh, tinggal sesuap ini. Makan lagi yah? Sayang kalo dibuang..."


Aurell mengelengkan kepalanya bak anak kecil. "Gak mau pah.. Aurell gak mau..." rengek Aurell, ia lalu beralih membaringkan tubuhnya kemudian ia menutupi dirinya dengan menggunakan selimut tebal itu.


"Loh? Kok malah ngumpet? Ayo dong Aurell... Ini tinggal sedikit loh..." ujar Gerland yang terus membujuk Aurell.


"Gak mau pah, papa aja yang makan aja sana... Gak enak banget rasa buburnya."


Dion, selaku asisten dari Gerland itu langsung mengelengkan kepalanya. "Tuan... Jika memang nona Aurell tak mau, lebih baik tak usah dipaksa."


"Denger itu pah.. Asisten papa aja lebih pintar dari papa." ucap Aurell didalam selimut tebal itu.


Gerland mengalihkan pandangannya menatap Dion, ia menatap asistennya itu dengan memicingkan matanya.


Dion yang mendapati tatapan itu, langsung kelagapan sendiri."Maaf tuan.." ucapnya, setelah itu ia mengaruk kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali.


Gerland menghela nafas pelan, "Yasudah, kalau kamu gak mau, papa gak akan maksa lagi. Nih, dihabisin susunya aja kalau begitu."


Aurell menyibak selimutnya, ia lalu bangkit dari baringnya itu. Tanpa basa-basi Aurell langsung meneguk susu itu hingga tak tersisa lagi.


"Sudah..." ucap Aurell lalu meletakkan gelas itu ketempat semula.


"Pinter..." Gerland mengelus rambut itu dengan pelan.


"Kalau gitu kamu istirahat du-"


Ucapan Gerland terpotong kala mendengar suara ketukan pintu diluar ruangan.


Gerland mengkode asistennya untuk melihat siapa yang mengetuk pintu itu, Dion yang mendapat kode dari atasnya itu langsung menganguk paham.


Gagang pintu itu diputar, dan setelah itu pintu terbuka. Dion mengerutkan alisnya ketika melihat tiga orang pria yang sudah ada dihadapannya itu.

__ADS_1


"Halo... Tuan asisten, apa anda sudah tak mengenali kami?" tanya salah satu pria itu.


Dion nampak berfikir, sejenak ia memang tampak familiar pada wajah ketiga pria itu.


"Yaampun tuan asisten ini! Masa gak inget kita-kita. Ini loh, sahabatnya Aurell yang paling ganteng dan cetar membahana. Alias A'a Gustin yang paling silau diantara pria-pria tampan didunia ini." ucapnya, tak lupa menyisir rambutnya dengan menggunakan tangannya sendiri.


Erlan mendengus sebal melihat tingkah manusia menyebalkan yang ada dihadapannya itu."Belagunya kumat!" gerutu Erlan.


"Oh! Temannya nona Aurell toh.." ucap Dion langsung menganguk paham.


"Iya, kita temannya Aurell om, apa kita boleh masuk kedalam?" kali ini bukan Gustin yang bertanya, melainkan Doni yang sedari tadi diam mengamati.


"Sebentar, saya akan tanyakan dulu pada tuan saya." ucap Dion dan berjalan masuk menghadap sang atasan.


"Tuan."


"Ada apa Dion? Siapa yang datang kesini?" tanya Gerland.


"Itu tuan, tiga pria yang mengaku sahabatnya nona." jelasnya.


"Oh! Sahabatnya Aurell.. Kenapa gak disuruh masuk aja, cepat bawa mereka masuk. Mereka bukan orang berbahaya." titah Gerland menyuruh asistennya itu.


"Mari... Tuan mengizinkan kalian masuk." Dion membuka pintu sedikit lebar, dan membiarkan ketiga pria itu masuk kedalam ruangan tempat Aurell dirawat.


"Yaampun... Bikin orang menunggu aja.." ucap Gustin bernada kemayu. Namun tak ditanggapi sama sekali oleh asisten Gerland.


Ketiganya berjalan masuk menghampiri Aurell yang tengah berbaring itu.


"Selamat pagi om!"


Ucap ketiganya, saat melihat Gerland yang duduk ditepi ranjang disamping Aurell.


Gerland mengangukan kepala, "Pagi!" jawabnya.


"Kalian gercep banget ya? Pagi-pagi sudah datang kesini, emang kalian pada gak sibuk?" tanya Gerland.

__ADS_1


"Tenang om... Walau sesibuk apapun kita... Kita akan sempetin mampir kesini, buat jengukin sahabat tercinta yang sudah membuat kita merindu ini." jawab Gustin dengan percaya dirinya.


Gerland tertawa mendengarnya. "Hahaha... Kamu bisa aja-"


"Siapa namamu?" tanya Gerland saat ucapannya terjeda.


"Gustin om." jawab Gustin kikuk.


"Oh! Iya... Maaf ya Gustin, om kadang-kadang lupa, biasalah faktor U."


Gustin menganguk dan tertawa hambar, dirinya merasa ngenes saat papa kandung Aurell itu selalu melupakan dirinya.


Aurell yang tidur dikasur itu melihat ketiga pria yang menghampirinya, matanya mulai mencari sosok yang terus berada dipikiranya itu. Ia berharap jika diantara pria-pria itu, muncullah sosok yang tengah ia cari. Namun seketika ia mendesah, ketika tak mendapati sosok itu.


"Yaampun... Mukanya kayak gak seneng gitu pas kita dateng." celetuk Gustin saat melihat Aurell yang tanpa sadar menghela nafasnya.


"Mungkin males liat muka lo! Yang kusut itu Tin." timpal Erlan.


"Sensi amat lu, kalo gue ngomong." dengus Gustin.


Doni mengeleng saja ketika melihat tingkah kedua temannya itu. Pandangannya lalu teralih melihat kearah Aurell.


"Bagaimana dengan keadaan mu Rell? Apa masih sakit dan mengangu pikiranmu?" tanya Doni secara beruntun.


Aurell mengeleng, "Tidak, aku sudah merasa jauh lebih baik." jawabnya.


Doni menganguk, dan bernafas lega. "Baguslah kalau memang begitu, aku sangat senang ketika mendengar kabar jika dirimu sudah sembuh.... Aku sudah lama tak mendengar suaramu Rell... Dan itu membuatku sangat merindukanmu.." ucap Doni, yang terus memandang Aurell dengan tatapan hangat.


Aurell hanya menganguk, ia menganggap ucapan Doni itu adalah hal yang wajar pada seorang teman. Ia tak merasa curiga sama sekali dengan ucapan yang terselip makna itu.


Aurell lagi-lagi menghela nafas, dan itu terlihat oleh pandangan Doni.


"Kenapa kamu Rell? Apa ada yang menganggu pikiranmu?" tanya Doni penasaran.


"Tidak ada." jawab Aurell mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


'Sebenarnya ada yang terus menganggu pikiranku. Tapi aku tak mau mengatakannya.' gumamnya dalam hati.


Bersambung.


__ADS_2