Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Lebih Memilih Wanita Lain


__ADS_3

****


Dikantin, dua sosok pasangan saat ini tengah menjadi pusat perhatian bagi seluruh mahasiswa dan mahasiswi disana. Siapa lagi kalau bukan Gavin dan juga Eira, pasangan yang sudah resmi menjadi tunangan malam itu, itu berarti Gavin sudah milik orang dan tak akan bisa dimiliki oleh orang lain, atau para wanita yang sudah mengidolakannya sejak lama.


Semua orang menjuluki mereka sebagai pasangan termanis yang baru tumbuh di Western University. Sebab, mereka berdua menunjukan keromantisan mereka saat makan berdua disalah satu meja kantin disana. Dikarenakan Eira dengan sengaja memberikan suapan makanan kepada Gavin yang tengah fokus pada laptopnya itu.


"Gavin... Makannya yang benar dong, belepotan ginikan jadinya.." ucap Eira sambil mengelap bibir Gavin dengan tisyu.


"Kan kamu yang menyuapiku Eira, aku kan sudah bilang jangan mengajakku makan dulu, kamu gak liat aku lagi sibuk ini" ucap Gavin sambil mengetik sesuatu dilaptoptnya.


Eira memeluk lengan Gavin. "Iya Gavin ku... Aku kan cuman khawatir, kalo kamu telat makan, nanti sakit, nanti kalo kamu sakit akupun juga ikutan sakit" ucap Eira sambil bergeliut manja dilengan Gavin. Eira lalu melirik kearah sekitar.


"Aduhhh... Gue kok jadi meleyot ya... Ngeliatnya, rasanya aku jadi patah hati deh, padahal aku udah lama naksir sama si Gavin"


"Udah, gak usah mimpi lo, orang udah ada pawangnya kok, mana mungkin Gavin mau sama kita-kita ini, apalagi saingannya si Eira, baru aja masuk kekampus ini udah bisa dapetin si Gavin, Aurell aja kalah sama dia"


Ucapan demi ucapan itu, terdengar oleh Eira yang memang tak berada jauh dari meja makannya itu. Eira tersenyum senang, karena akhirnya Gavin jatuh kedalam pelukannya.


'Gak akan ada yang bisa dapatin Gavin selain gue' batin Eira tersenyum semirk.


Tepat saat itu, Aurell dan juga empat pria yang tak lain Sagarr, Doni, Gustin dan Erlan itu masuk kedalam kantin.


Eira tersenyum senang, sepertinya ia ingin melancarkan sebuah rencana.


"Gavin... Udah dongggg, jangan sibuk sendiri, aku kan juga pengen diperhatiin, masa laptop kamu terus yang diperhatiin" kata Eira sambil mempoutkan bibirnya agar terlihat mengemaskan dimata Gavin.


Gavin menghembuskan nafasnya, ia lalu menutup laptopnya dan beralih menatap Eira. "Emang kamu maunya apa Eira?" tanya Gavin.


Eira tersenyum senang. "Mau dicium" jawab Eira sambil menunjuk pipi kirinya.


Gavin tertegun. "Yang benar saja kamu Eira, disini tempat umum, kamu tak malu dilihatin sama orang yang ada disini" kata Gavin.


Eira kembali cemberut. "Kamu kok gitu sih Gavin... Kita kan udah tunangan... Ngapain juga harus malu, atau jangan-jangan kamu yang malu ya? Punya tunangan kayak aku?" ujar Eira dengan raut yang dibuat sedih.


Gavin menghembuskan nafasnya kembali. "Bukan begitu Eira..." ucap Gavin sambil memijit kepalanya.


"Trus.. Apa coba? Kalo memang gak malu punya tunangan kayak aku, sini cium! Apa susahnya sih... Kan cuman cium pipi bukan cium bibir kan?"


Gavin menatap Eira lamat, ia berfikir jika wanita yang ada didepannya itu tak dituruti, maka ia akan terus merajuk padanya.

__ADS_1


Gavin pasrah, ia lalu mendekatkan bibirnya kearah pipi Eira setelah itu ia mengecupnya sekilas dan kembali keposisi awal.


Semua yang melihatnya berteriak histeris. Pasalnya mereka menunjukan keromantisan mereka secara terangan-terangan. Bagaimana mungkin mereka tak heboh melihatnya.


Eira tersenyum senang, ia lalu melirik kearah Aurell yang ternyata melihat semua adegan itu.


"Terimakasih sayang" ucap Eira kembali bergelayut manja dilengan Gavin, Gavin yang melihat Eira itu hanya mengelus pelan rambut Eira, ternyata Gavin benar-benar tak menyadari jika Aurell tengah berada disana dan melihat semua interaksinya.


"Pestt.. Ada Aurell guys" bisik seorang mahasiswa yang berada disamping meja Gavin. Gavin yang samar-samar mendengar nama Aurell disebut itu, mengalihkan padanganya kedepan. Badan Gavin langsung menegang kala matanya menatap manik mata Aurell yang tengah menatapnya datar. Betapa terkejutnya ia melihat Aurell yang sudah ada didepannya itu.


'Jangan bilang Aurell melihat semuanya?' gumam Gavin dengan ekspresi kalut.


Ketika Gavin ingin bangkit dari duduknya. Aurell tanpa basa-basi langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar meninggalkan kantin itu.


"Aurell..." panggil Gavin yang tak didengar oleh Aurell. Karena Aurell sudah lebih dulu melangkahkan kakinya.


Keempat pria yang bersama Aurell itu terbengong ditinggal begitu saja oleh Aurell.


"Lah, kita ditinggalin bro" celetuk Gustin.


"Ah... Mungkin gara-gara biawak yang ada disana" ucap Erlan. Menatap kearah Gavin.


"Maksud lo? Si Gavin?" tanya Gustin.


"Ya gak usah ngegas kali jawabannya" kesal Gustin.


"Udah ah... Yuk kita samperin si Aurell aja dari pada disini terus, gak ada Aurell itu gak seru" ucap Erlan, setelah itu ia berlalu menyusul Aurell diikuti Doni dan juga Gustin.


Sedangkan Sagarr masih berdiri disana menatap Gavin yang juga menatapnya.


Gavin yang ditatap itu merasa aneh, pasalnya Sagarr menatapnya dengan tatapan tajamnya.


Setelah puas, Sagarr lalu melangkah pergi untuk menyusul Aurell. Tanpa bertindak apapun.


Gavin yang masih berdiri dimeja kantin itu, ingin melangkahkan kakinya, namun ia urungkan karena Eira mencekal tangannya.


"Gavin kamu mau kemana?" tanya Eira.


"Kamu mau ninggalin aku disini" lanjutnya.

__ADS_1


"Engak Eira.. Ada sesuatu yang ingin aku urus dulu" jawab Gavin.


"Urusan apa emang? Jangan bilang urusan tentang Aurell, Gavin.. Aku gak suka ya.. Kamu terus-terusan deket sama Aurell, aku ini tunangan kamu, aku merasa cemburu jika kamu dekat dengan dia" ucap Eira sambil melipat tangannya, dan menatap kearah lain pertanda ia sedang marah.


Gavin yang mendengar itu langsung mendudukan kembali dirinya disamping Eira.


"Eira ngak begitu.. Aurell itu temanku, kita gak ada hubungan apa-apa, jadi kamu gak usah khawatir ya?" ucap Gavin sambil merangkul Eira.


Eira tiba-tiba saja sesegukan. "Tapikan kamu tau sendiri... Kalo Aurell pernah ngebuly aku, kenapa kamu masih berhubungan dengan Aurell, padahal tunangan kamu sendiri sudah disakiti oleh dia" kata Eira yang masih sesegukan.


Gavin yang melihat itu kelagapan, ia tanpa pikir panjang memeluk Eira kedalam dekapannya.


"Ssst... Jangan menangis, gak malu dilihatin teman-teman kita disana" ujar Gavin sambil menepuk pelan punggung Eira.


"Janji ya... Jangan deket-deket lagi sama Aurell"


Gavin yang mendengar ucapan Eira itu hanya diam, ia tak tau harus menjawab apa.


"Gavin..... Hikss" rengek Eira.


"Iya-iya.. Ssssttt jangan menangis lagi" ucap Gavin pasrah.


Eira yang mendengar jawaban dari Gavin itu tersenyum bahagia.


'Sepertinya untuk saat ini aku tak bisa berdekatan dengan Aurell' gumam Gavin dalam hati.


...----------------...


Aurell saat ini tengah berjalan tak tau arah, sepertinya pikirannya saat ini kosong kala melihat pemandangan yang sungguh! Membuat hati wanita itu tersayat bagai pisau yang sudah separuh mengiris hatinya.


'Sepertinya, hubungan kita benar-benar berakhir Gavin..' gumam Aurell yang masih menatap kosong jalanan itu. Ia sampai tak sadar jika ada batu besar didepannya itu.


Tiba-tiba tubuh Aurell limbung, seperti ditarik seseorang dan beralih kedalam dekapan hangat yang sudah lama Aurell rasakan.


"Patah hati boleh, tapi jangan menyiksa tubuhmu sendiri, karena semua yang ada pada dirimu ini sangat berharga"


Aurell yang mendengar suara berat khas seorang pria itu, langsung mendongakan wajahnya dan menatap manik matanya yang juga menatapnya dengan senyuman hangatnya itu.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa mampir juga dikarya author yang ini ya👇



__ADS_2