Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Menerima


__ADS_3

Aurell tampak bingung untuk menjawab pernyataan itu dari seorang pria yang masih dengan posisi berjongkok didepannya, tak lupa ditangannya masih membawa sebuah kotak berwarna emas mengkilap dan berisikan cincin berlian didalamnya.


Ia tampak menggigit bibir bawahnya, susah sekali mengeluarkan suaranya.


Aurell pun mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan itu untuk menghilangkan rasa kegugupanya. Dan bukanya menghilang, kegugupanya malah bertambah ketika ia melihat ketiga pelayan wanita dan juga para pemain musik tengah melihat kearahnya dengan pandangan yang tengah menunggu jawaban darinya.


'Ah... Aku harus gimana?' gumamnya dalam hari.


Drap.. Drap.. Drap..


Terdengar suara langkah kaki yang sepertinya menuju ruangan dimana Aurell dan Sagarr berada.


Dan benar saja, derapan suara itu langsung terlihat ketika pintu utama ruangan itu dibuka dan memperlihatkan keluarga Sagarr dan juga papanya berada diantara mereka.


"Terima!"


"Terima!"


"Terima!"


Baru saja sampai mereka langsung mengucapkan kata 'Terima' dan tak lupa tangan yang ditepuk-tepuk secara bersamaan.


Tak hanya keluarga inti Sagarr dan papanya saja, asisten Joy, dan ketiga sahabat laki-lakinya juga datang bersama rombongan itu.


Aurell kembali mengalihkan pandangannya menatap Sagarr yang ada dibawahnya, Sagarr yang ditata itu hanya memperlihatkan senyumnya dan tatapan hangat tengah menunggu jawaban darinya.


"Apa ini semua rencanamu?" tanya Aurell pada Sagarr yang hanya terkekeh pelan.


"No, No, no.. Aurell... Aku tak ingin mendengar pertanyaan darimu, yang ingin aku dengar saat ini adalah jawaban darimu.." jelas Sagarr tersenyum hangat.


Aurell tampak tertegun, ia kembali dibuat bingung.


"Ayo Aurell...! Jangan bikin adik malangku menunggu." teriak Areta yang terselip nada meledek, membuat Sagarr langsung melotot kearahnya.


"Iya, kakak cantik! Jangan bikin paman aku menunggu sampai lumutan. Kasian pamanku yang tua itu." timpal Rasya, yang tampaknya bocah itu telah mendukung pamannya. Walau ucapannya terkesan menyebalkan.


"Hahh... Bocah tengil itu pake ikut-ikutan segala." gerutu Sagarr, mengeram tertahan.


Sedangkan ketiga sahabat Aurell tak bersuara sama sekali, mereka masih dibuat syok lantaran diberitahu oleh papa Aurell, Jik sahabat lamanya itu akan segera menikah dengan seorang pria yang sangat mereka kenal.

__ADS_1


Gustin dan Erlan tampak saling berpandangan, mereka berdua memberi kode satu sama lain dengan mengangkat alis mereka. Kemudian mereka melihat kearah Doni yang juga terdiam mebisu dengan wajah yang dingin tak bersahabat.


Tampaknya dua sejoli itu sudah mengetahui jika Doni memiliki perasaan pada Aurell, dan mereka baru mengetahuinya saat Doni memberikan respon tak suka ketika mendengar kabar itu.


Erlan dan Gustin saling menyengol bahu.


"Gimana nih Tin?" tanya Erlan, dengan suara yang dipelankan.


"Gua juga gak tau kali Tin! Gue juga baru tau jika si Doni punya perasaan sama Aurell." jawab Gustin berbisik.


"Sama kali...." timpal Erlan.


Sedangkan Doni tampak mengepalkan kedua tangannya, menahan rasa emosinya dan rasa kecemburuan.


"Bagaimana?"


Doni tersentak mendengar suara itu, lantas ia langsung mengalihkan pandangannya kesamping yang ternyata suara itu adalah suara milik Joy, asisten Sagarr.


"Sudahkah kamu percaya dengan ucapanku tempo hari lalu? Kau pasti merasa kaget." ucap Joy dengan nada meledek.


"Diam kamu!" kesal Doni mengeram.


"Aku tau jika Aurell pasti tak akan menerima lamaran itu!" ucap Doni berada angkuh dan percaya diri.


"Waw? Benarkah? Oke baiklah, kita lihat sendiri. Apakah nona Aurell menerima lamaran tuanku.... Atau tidak." Joy tampak tersenyum semirk.


Doni mendengus kesal, ia lalu mengalihkan pandangannya kembali kearah Aurell. 'Semoga kau tak menerima lamarannya Aurell...' gumamnya dalam hati.


Kembali pada Aurell dan Sagarr, kedua insan itu masih saling bertatapan.


Sagarr masih dengan posisi yang sama, ia masih setia berjongkok menunggu jawab dari Aurell yang hanya terdiam menatapnya.


"Apa aku harus mengulangi-"


"Ya!"


"Apa?" Sagarr tampak bingung dengan ucapan Aurell.


Aurell menghela nafas sejenak, "Dengarkan baik-baik, aku tak akan mengulangi lagi untuk kedua kali."

__ADS_1


Sagarr mengangguk dan menatap Aurell dengan tatapan serius.


"Jawabanku iya! Aku menerima lamaran itu." ucap Aurell, spontan langsung menutup wajahnya karena malu.


Sagarr terdiam, ia tampak mencerna kata-kata itu.


Tukk....


Tiba-tiba sebuah kertas yang digumpal mengenai kepalanya, Sagarr pun menengok kesamping.


"Hei paman! Kenapa kau yang malah diam?"


Suara lengkingan itu berasal dari bocah kecil, yang ternyata dialah pelaku yang melempar Sagarr dengan gumpalan kertas.


Namun nampaknya Sagarr tak memperdulikan itu, ia pun kembali mengarahkan pandangannya pada Aurell. "Apa jawabanmu sungguh-sungguh Aurell?"


Aurell langsung melepaskan kedua tangannya yang tengah menutupi wajahnya. "Jika kau bertanya sekali lagi! Maka aku akan menari ucapanku itu!" ucapnya dengan nada mengancam, tak lupa tatapan mata setajam silet.


"Tidakkkk! Jangan batalkan! Aku tak akan bertanya lagi, jadi jangan dibatalkan." dengan raut ketakutan karena mendapati tatapan garang dari Aurell, Sagarr pun langsung beranjak dari jongkoknya dan langsung berdiri memeluk tubuh Aurell tanpa aba-aba.


"Terimakasih Aurell... Terimakasih..."


Aurell tampak merasakan jika jantung Sagarr berdegup kencang, ia pun sudah tak bisa menyembunyikan senyumnya, dan alhasil ia pun tersenyum dan membalas pelukan itu.


"Wowwww..."


Semua tampak bertepuk tangan melihat keromantisan mereka, bahkan Gerland selaku papa kandung Aurell sampai menitikan air matanya dibuatnya.


Sedangkan Doni yang mendengar jawaban Aurell itu, langsung membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Loh Doni? Mau kemena lo?!" teriak Gustin namun tak didengar oleh Doni.


"Susulin yuk Lan!" ajak Gustin pada Erlan.


"Jangan! Biarkan aku yang menyusulnya."


Tanpa mendengar jawaban dari mereka berdua, Joy langsung berlari dari tempat itu dan menyusul Doni yang sudah tak terlihat jejaknya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2