
Sagarr terus menarik Aurell tanpa memperdulikan pandangan mata yang terus tertuju pada mereka berdua itu. Tentu saja Aurell bingung, ia bingung karena Sagarr terus membawanya tanpa tujuan itu. Tepat pada saat diparkiran, Aurell memberhentikan langkahnya membuat Sagarr yang terus menarik tangan Aurell itu, mau tak mau juga ikut berhenti.
"Kenapa?" tanya Sagarr yang seolah tak peka.
Aurell menatap datar, Sagarr. "Kenapa katamu? Kau terus menarikku! Sebenarnya, aku ini mau kau bawa kemana?" tekan Aurell.
Bukannya cepat menjawab, Sagarr malah terkekeh pelan sambil menatap wanita yang tingginya hanya sepundaknya itu. Ia pun dengan leluasa bisa mengusap rambut Aurell dengan gemasnya.
Aurell yang mendapati itu mengeram kesal. "Akkkh.. Singkirkan tanganmu, jangan membuatku tambah kesal." ucap Aurell sambil menepis kasar tangan Sagarr.
Sagarr lagi-lagi hanya tertawa melihat Aurell yang kesal padanya itu, "Kamu lucu sekali nonaku." ujar Sagarr masih diselingi tawanya sampai membuat kedua matanya menjadi menyipit seperti bulan sabit. Sagarr kembali menatap Aurell yang masih mendumel itu, namun bola matanya yang tadi menyipit itu seketika membola kala melihat bekas kemerahan dipipi kiri Aurell.
Sagarr lantas menangkup kedua pipi Aurell, ditatapnya Aurell dengan tatapan khawatirnya. "Ada apa dengan pipimu?" tanya Sagarr, sambil mengelus lembut pipi itu.
Aurell menatap mata Sagarr yang tengah menatap pipinya itu. "Hanya tergores." jawabannya singkat.
Sagarr menghentikan elusannya itu. "Apa itu benar?" tanya Sagarr lagi, memastikan.
Aurell menghela nafas, ia lalu menyingkirkan tangan Sagarr dari pipinya itu. "Jangan sok penasaran."
Sagarr mendengus, "Tentu saja aku penasaran, wanitaku terluka aku tak akan tenang jika aku tak mengetahui siapa yang melukaimu." ucap Sagarr dengan tegas. "Jangan-jangan mantan sialanmu itu yang melakukan ini." lanjutnya sambil menekan pipi Aurell, membuat sang empun sedikit meringis menahan perih.
Aurell mengeplak tangan Sagarr, "Siapa yang kau sebut mantan sialan? Dia bukan mantanku! Dia hanya masalalu yang patut dilupakan." kata Aurell dengan tegasnya, sedangkan Sagarr yang mendengar kata 'Patut dilupakan.' itu seketika menahan senyum. Entah kenapa jika mendengar kata itu, hati Sagarr sangat bahagia. Aneh memang si Sagarr.
"Berarti, memang benar kan? Jika Gavin itu. Yang melakukan ini." ucap Sagarr mengabaikan perkataan Aurell, dan menunjuk pipi Aurell kembali. Karena ingin meminta penjelasan yang pasti.
Aurell hanya diam tak menjawab.
"Ternyata memang benar... Jika pria sialan itu yang melakukannya, ini tak bisa dibiarkan aku harus membalasnya." ucap Sagarr dengan emosi mulai melangkahkan kakinya, menuju dimana Gavin berada.
Namun Aurell tak tinggal diam, ia mencekal tangan Sagarr dan membuat Sagarr mau tak mau menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Tidak usah! Itu tidak perlu... Jangan buat keributan, aku sangat benci jika ada kericuhan lagi. Itu membuatku muak." ucap Aurell masih memegang tangan Sagarr.
Sagarr membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah Aurell. "Aurell... Aku tak akan bisa diam jika ada yang menyakitimu..." ucap Sagarr dengan tulus, ia mengenyam tangan Aurell dengan eratnya.
Aurell mendongak menatap Sagarr yang tingginya melewati tingginya itu. "Mengapa kau sangat perduli padaku? Aku bahkan bukan siapa-siapa mu... Tapi tindakanmu itu. Seolah-seolah sangat perduli padaku, dan seperti dirimu mengenali sejak lama?" ucap Aurell mulai merasa penasaran atas sikap Sagarr itu.
Sagarr tersenyum mendengar perkataan Aurell."Soalnya pertanyaan mu itu, aku akan menjelaskannya.. Dan soal tentang keperdulianku, memang aku sangat perduli denganmu Aurell... Apa kamu bahkan tak menyadari tindakan-tindakan ku selama ini?" ucapnya bertanya.
"Tentu saja aku menyadarinya, itu sebabnya aku bertanya padamu." jawab Aurell.
"Yaudah... Kalau kamu memang sangat penasaran. Mending kamu ikut aku sekarang, baru aku akan jelasin semua pertanyaan yang ada didalam pikiranmu itu." jelas Sagarr, ia lantas menarik Aurell tanpa mendengar jawabannya.
"Eh? Tap-"
"Ssst... Udah... Ikut aku aja, tenang aja. Kalo kamu sama aku itu, pasti kamu akan merasakan kebahagian tiada tara hari ini." ucap Sagarr dengan percaya dirinya.
Aurell tak bisa menjawab perkataan Sagarr, sebab Aurell lebih dulu dimasukkan oleh Sagarr dimobil mewahnya itu. Sagarr yang melihat Aurell didalam mobilnya itu tersenyum manis, namun tanpa disadari oleh Aurell. Tiba-tiba senyum manisnya itu berubah menjadi senyum devil membuat wajahnya seketika menjadi menyeramkan.
Sagarr tak mau berlama-lama, ia berjalan memutar dan masuk kedalam mobil miliknya. Ia pun segera menyalakan mesin mobil itu dan menjalankannya dengan kecepatan rata-rata, meninggalkan area kampus.
...----------------...
Selama beberapa menit diperjalanan, kini Sagarr memberhentikan mobilnya didekat sebuah taman. Ya! Sagarr membawa Aurell disebuah taman bermain tak jauh dari kampusnya itu.
Sagarr keluar dari mobilnya dan berjalan memutar, membuka pintu mobil itu dan keluarlah Aurell dengan raut wajahnya yang tengah kebingungan itu.
"Kenapa disini?" tanya Aurell langsung.
"Udah... Gak perlu bertanya... Disini tempatnya adem, pasti kamu bakalan suka! Percaya deh sama Sagarr yang tampan ini." kata Sagarr sambil mengerlingkan matanya pada Aurell. Bukannya Aurell yang merasa kesem-sem, namun para gadis dibelakang Aurell yang terpekik kesenangan melihat pria tampan. Membuat mata mereka seketika ingin keluar begi saja.
Aurell yang mendengar pekikan itu, hanya menghela nafas jengan dan memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Aurell menyilangkan kedua tangannya didada. "Sudah tebar pesonanya?" ucap Aurell dengan nada sinisnya. "Kau membuatku benar-benar merasa jengah." lanjutnya, ia pun berjalan meninggalkan Sagarr kearah salah satu bangku ditaman itu.
Aurell mendudukan diri dibangku itu, dan menyandarkan kepalanya mulai memejamkan matanya. Aurell begitu menikmati sensasi kedamaian itu, angin yang begitu sejuk beserta suara tawa anak dan orang-orang dewasa. Membuat hatinya menjadi damai.
Sagarr yang melihat kenyamanan Aurell itu, membuat sudut bibirnya tersenyum membentuk bulan sabit. Beserta matanya yang ikut menyipit, begitu manisnya ia ketika tersenyum. Mungkin orang lain yang akan melihatnya akan langsung jatuh hati padanya.
Sagarr melangkahkan kakinya, dan menuju salah satu penjual yang ada disana.
Bahkan Aurell sendiri tak tahu jika Sagarr belum menghampirinya, mungkin karena Aurell sangat menikmati keadaan disekitarnya itu. "Hemm, kedamaian ini lah yang aku inginkan." gumam Aurell.
Namun, tiba-tiba saja Aurell dukejutkan dengan adanya benda dingin yang menempel dipipi kirinya itu. Ia menengok kekiri, dan disana sudah terlihat Sagarr yang tengah memandangnya dengan senyum manisnya.
"Es krim pisang untukmu." kata Sagarr dengan cengirannya.
Aurell mengangkat satu alisnya, "Kenapa harus pisang?" tanya Aurell terdengar ambigu.
"Karena pisang itu kuning, kuning itu cerah. Seperti wajahmu yang sangat menyilaukan." jawab Sagarr ngawur. Hampir saja Aurell tertawa dibuatnya, namun dengan sekuat tenaga ia menahanya agar tak dilihat oleh Sagarr.
Namun Aurell salah, Sagarr tentu saja melihat hal tersebut."Eyyy... Jika ingin tertawa... Tertawa saja lah... Ngapain diumpetin, nanti kentut loh." ledek Sagarr. Membuat Aurell menyemburkan tawanya, dan jadilah ia tertawa terbahak-bahak saat ini.
"Hahahahaha..."
Aurell tertawa begitu kencang membuat air matanya keluar begitu saja. Sagarr yang melihat itu tentu saja merasa senang, tangan Sagarr terulur menyeka air mata itu.
"Seneng banget ya? Dikasi es krim, kalau seseneng ini mah... Kubelikan sepabriknya aja juga bisa." celetu Sagarr, membuat Aurell tiba-tiba menghentikan tawanya.
Aurell menatap tajam kearah Sagarr, ia mengangkat es krim pisangnya itu tepat diwajah Sagarr. "Jangan melakukan itu! Atau kau akan merasakan pisau tajamku. Aku bukanlah anak kecil, ingat itu!" tekan Aurell dengan nada mengancamnya.
Sagarr seolah-olah bergidik, "Ihh... Ngeri.." ledeknya dengan suara yang dibuat lebay.
Bersambung.
__ADS_1
Temen-temen readers... Jangan lupa komennya ya... Atau tanggapan kalian, biar author sengat terus...