
Sagarr yang sedikit mendengar gumaman Aurell itu melepaskan pelukan diantara mereka, ia lalu menatap mata Aurell.
"Apa yang kamu ucapan tadi? Coba ulangi." ucap Sagarr pada Aurell.
"Yang mana? Aku tak mengatakan apapun tuh?" bingung Aurell.
"Yang tadi... Kamu tadi sedikit bergumam, dan aku sedikit mendengarnya."
"Emang aku mengucapkan apa?" tanya Aurell.
"Hemm, kalau gak salah kamu bilang, jika kamu tengah merindukanku." jawab Sagarr, tak lupa ia megerlingan sebelah matanya. Yang membuat Aurell seketika ingin tertawa.
Aurell mengalihkan pandangannya, sambil mengetuk dagunya seolah-olah tengah berfikir. "Hemm, benarkah? Apakah aku barusan bilang begitu?" monolognya seolah tak tahu.
Sagarr tersenyum miring, ia pun berjalan mendekat kearah Aurell.
Aurell tersentak, kala merasakan sebuah tangan kekar yang sudah melingkar dipingang rampingnya itu.
Sagarr memeluk Aurell dari belakang dengan kepalanya yang sudah berada dibahu milik Aurell. "Hemm, jangan coba-coba membodohi ku ya... Aku tahu kamu sekarang, sedang mencoba untuk berbohong." ucap Sagarr tepat berada ditelinga kiri Aurell, yang membuat Aurell merinding ketika ia merasakan hembusan nafas yang mengelitik dileher jenjangnya itu.
Aurell mencoba melepaskan tangan Sagarr yang berada dipinggangnya itu, namun sepertinya tangan besar itu tak mau melepaskan diri begitu saja.
"Jangan seperti ini... Nanti ada orang yang melihat." ucap Aurell yang masih mencoba melepaskan tangan Sagarr itu.
Sagarr tertawa kecil, "Biarkan saja jika ada yang melihat. Mereka pasti mengerti sendiri, jika sekarang kita sedang dimabuk asmara." ucapnya dengan nada santai.
"Jangan bicara omong kosong, aku malu jika banyak orang menontoni kita."
"Wah... Seorang Aurell bisa merasa malu juga, ya? Hahahaha..." Sagarr tertawa keras begitu mendengar ucapan langka dari mulut Aurell itu.
Aurell yang kesal mencubit kecil, dipingang milik pria yang ada dibelakangnya itu. "Aku juga manusia.... Kau anggap aku ini apa ha? Aku juga punya rasa malu."
"Hahaha, sudah... Gak perlu malu. Tak akan ada yang menonton kita, karena jarang orang yang lewat disini. Kamu sendiri loh! Yang membawaku kesini, tapi mengapa kamu sendiri sampai tak tahu jika tempat ini bisa dikatakan sepi." jelas Sagarr tertawa keras.
Aurell seketika menggigit bibirnya, ia melupakan fakta bahwa dirinya yang membawa langkahnya itu kesuatu ruangan entah ruangan apa itu. Namun ruangan itu tak ada orang yang lewat sama sekali. Pipinya pun bertambah merah, karena menahan rasa malu akibat perbuatannya sendiri.
Jari telunjuk Sagarr tiba-tiba menyentuh bibir Aurell yang tengah menggigit bibirnya sendiri itu.
__ADS_1
"Jangan digigit, nanti berdarah. Aku tak ingin melihatmu terluka lagi." ucap Sagarr dengan suara lembut sampai menembus jantung Aurell, yang saat ini sudah berdebar-debar kencang tak karuan.
Sagarr membalikkan tubuh Aurell menjadi menghadap padanya. Ia lalu mengelus kedua pipi Aurell dengan lembut.
"Aku tak menyangka, jika pipi lembut ini bisa berubah menjadi merah seperti tomat. Aku ingin mengabadikan wajah langka mu ini, tapi aku tau, pasti kamu tak akan mengizinkanku untuk memfoto dirimu." ujarnya, dengan terus menatap manik indah itu.
"Jangan coba-coba melakukan itu, maka ku pastikan jika kau akan mendapat bagiannya." ucap Aurell sambil menunjukan bogeman pada tangannya itu.
Sagarr kembali tertawa, "Kamu kok lucu banget sih... Aku kan jadi gemes." sangking gemasnya, Sagarr mencubit kedua pipi Aurell, yang hampir saja membuat pipi mulus itu melar jika Aurell tak segera menyingkirkan tangan Sagarr itu.
"Lepaskan tanganmu! Pipiku jadi sakit ini..." gerutu Aurell sambil memanyungkan bibirnya, tak lupa kedua tangannya terus mengelus pipinya itu.
"Hahahah... Iya, iya, sayang... Jangan marah-marah dong."
Aurell memicingkan matanya menatap Sagarr. "Kamu bilang apa tadi?" selidik Aurell.
Sagarr mengetuk-ngetuk dagunya seolah tengah berfikir. "Hemm, apa ya..."
Aurell kembali dibuat cemberut, ia pun mencibir kesal. "Cih! Tak usah dikatakan, sudahlah.. Kita kembali saja, mungkin papaku sudah mencariku disana."
Saat Aurell ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba tangannya ditarik begitu saja oleh Sagarr dan membuat keseimbangan Aurell tak selaras. Hingga membuat tubuhnya oleng menubruk tubuh Sagarr.
Dan ya... Mereka sekarang tengah bertatapan, sangking dekatnya mereka dapat merasakan hembusan nafas diantara mereka.
Jantung terus berdegup dengan kencang, membuat Aurell dapat mendengar bunyi degupan jantung itu. Ia tak tahu jantung siapa yang berdegup sangat kencang itu. Antara jantungnya atau jantung milik Sagarr.
"Kamu mendengarnya?"
"Hah?" beo Aurell, merasa bingung.
Sagarr tertawa, ia lalu menggenggam tangan Aurell dan membawa tangan itu tepat didadanya.
"Kamu pasti merasakannya kan? Ya... Jantung ini yang terus berdegup kencang saat berada didekatmu," ia menjeda perkataannya, dan kembali mengucapakan kata tepat ditelinga milik Aurell. "Kau benar-benar membuatku gila Aurell..." bisiknya, dengan nada sensual.
Aurell terbengong dibuatnya, ia melihat tangannya yang masih berada didada bidang milik Sagarr itu. Ia benar-benar merasakan jika jantung Sagarr saat ini benar-benar berdetang dengan kencang.
"Tataplah mataku."
__ADS_1
Seolah tersihir dengan suara itu, Aurell dengan patuhnya mendongakan kepalanya dan menatap manik Sagarr yang juga tengah menatap manik matanya itu.
Dalam waktu yang cukup lama mereka saling bertatapan, tangan besar Sagarr beralih menangkup kedua pipi Aurell itu. Ia pun mengikis jarak diantara mereka dengan mendekatkan wajahnya, hidung mereka telah bersentuhan. Entah atsfomer apa yang disekitar mereka, keadaan begitu sepi seolah tengah mendukung mereka untuk saling memandu kasih.
Sagarr yang sudah sangat dekat dengan Aurell itu sedikit memiringkan wajahnya, ia terus menatap bibir Pink milik Aurell. Pandangannya saat ini benar-benar menuju bibir yang sangat menggoda itu.
Tak mau lama-lama, bibir tipis Sagarr saat ini telah merdeka! Yang artinya untuk pertama kali telah mengecup bibir milik wanita yang sudah lama berada didalam pikiran dan hatinya
itu.
Tentu saja hatinya saat ini tengah berbunga-bunga.
Mata Sagarr yang tak terlalu tepejam itu menatap wajah Aurell yang berada sangat dekat dengannya, ia dapat melihat jika mata Aurell yang indah berkat bulu mata lentik itu telah tepejam dengan sempurna.
Bibir Sagarr melengkung melihatnya, tak sampai disitu saja ia menarik tubuh Aurell untuk semakin dekat dengannya. Ia pun mencengkram lembut pipi wanitanya dan mulai mengesekan bibirnya untuk membuka bibir pink itu yang masih tertutup rapat.
Belum sampai terbuka, Sagarr pun mencari solusi dengan menggigit bibir pink itu namun tak terlalu kencang.
"Ukhh.."
Suara Aurell keluar ketika Sagarr dengan sengaja mengingit bibir itu.
Meresa bibir Pink itu sedikit terbuka, Sagarr pun tak tinggal diam sebelum Aurell mengomelinya, ia pun kembali kembali mencium bibir itu namun bedanya bukan hanya ditempel saja. Melainkan sekarang, lidah milik Sagarr itu telah lolos masuk kedalam rongga milik Aurell.
Sagarr pun mengambil alih permainanya dengan mengecap bibir pink itu sampai mengeluarkan bunyi decapan. Kembali, bibir tipis Sagarr kembali melengkung ketika merasakan sensasi manis dari bibir Aurell.
Sepertinya saat ini ia tengah candu terhadap bibir pink milik Aurell itu.
"SIAPA DISANA!"
Terdengar suara teriakan dari arah berlawanan, membuat Aurell langsung membuka matanya dan mendorong Sagarr begitu saja.
"Hei! Kalian sedang apa disitu?" tanya seorang pria paru baya yang merupakan orang, yang ditugaskan untuk bersih-bersih dirumah sakit itu. "Jika kalian ingin berbuat mesum, lebih baik kalian dimotel atau cari hotel saja. Anak-anak muda jaman sekarang, tak tahu tempat, dirumah sakitpun dijadikan tempat bermesum." lanjut pria itu, melangkah pergi sambil mengerutu.
Aurell pun langsung mengalihankan pandangannya menatap Sagarr dengan tatapan tajam.
Sagarr melengos, "Sialan orang itu, menganggu saja." gerutunya kesal.
__ADS_1
Bersambung.