Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Murkanya Aurell


__ADS_3

<~>~<~>~<~>


Jangan lupa komen, setelah membaca ya guys;-)


Kembali lagi ditempat dimana Aurell masih menyekap, Adhitama beserta istrinya itu. Sedangkan putranya Gavin Adhitama itu terduduk lemas ketika mendengar perkataan Aurell, yang menceritakan tentang dirinya dimasa lalu.


Gavin masih ingat dengan jelas, ketika ia yang masih berumur delapan tahun itu, pernah melihat mamanya sendiri tengah menyiksa seorang pelayan hamil dirumahnya dulu. Dia hampir melupakannya karena kejadian itu sudah lima belas tahun lamanya, dan tak menyangka sekaligus terkejut jika wanita yang disiksa oleh mamanya itu adalah orangtua kandung Aurell yang merupakan teman kecilnya, sekaligus orang yang ia sukai selama ini. Gavin benar-benar tak menyangka akan hal itu.


"Tidak mungkin" gumam Gavin mencoba menetralkan dirinya, yang masih terbawa syok itu.


Sinta yang terduduk lemas setelah ditendang dengan kasar oleh Aurell itu, mencoba mengerakkan tubuhnya walau dengan cara menyeret.


Sinta sampai pada tujuan, dan ia langsung saja memegang kaki Aurell.


"Aurell... Apakah kamu Aurell anaknya Vita?" tanya Sinta dengan suara paraunya, saat ini Sinta terlihat sangat tak berdaya. Bahkan berdiri pun ia tak sanggup.


Aurell terkekeh sinis mendengar itu. "Apakah kau memang tak bisa mengenali ku, nyonya Sinta yang terhormat?" ucap Aurell dengan nada angkuhnya.


"Benar ternyata, tolong lepaskan kami nak... Kamu tau kan, jika kami terpaksa melakukan itu, karena mama mu mendengar perkataan kami dan mama mu mencoba melaporkan kami, itu sebabnya kami terpaksa melakukan itu" ujar Sinta yang sedang memohon, saat ini tak ada cara lain baginya untuk memohon ampun pada Aurell. Ia saat ini tengah ketakutan jika Aurell melakukan sesuatu terhadap dirinya, mengingat masa lalu dimana ia dengan sadisnya menyiksa ibu Aurell, didepan mata Aurell sendiri.


Aurell tertawa keras, hal itu seperti lelucon baginya. "Hahahahaha... Tidak sengaja katamu?" kilatan marah terlihat jelas dimata Aurell. Para anggotanya merinding melihat Aurell didepan mereka itu, mereka semua sudah tau! Jika Aurell sudah marah, maka tak akan ada yang bisa mencegah dirinya saat ia tengah melakukan sesuatu sesuai keinginannya.


Jek yang masih berada disana itu, mengamati Aurell. Karena hal itu sudah bukan tugas Jek jika Aurell sedang menangani masalahnya sendiri, ia akan bertindak jika memang sudah waktunya.


Aurell merogoh sakunya, dan tanpa sepengetahuan mereka, Aurell mengeluarkan sebuah pistol dan langsung menembaknya kearah Antoni.


Tepat sasaran! Peluru itu tertancap dikakinya. Memuat Antoni berteriak kesakitan.


"Akkkk.... Kakiku" teriaknya sambil memegangi kakinya yang tertembak itu.

__ADS_1


"Suamiku!" teriak Flora yang merupakan istri dari Antoni.


"Papa!" teriak Eira yang juga merasa terkejut akan apa yang dilakukan Aurell itu. "AURELL KENAPA KAU MELAKUKAN ITU! PADA PAPAKU" teriak Eira meluapkan emosinya.


Aurell kembali tertawa. "Kenapa? Kau juga mau merasakan panasnya senjataku ini?" tanya Aurell dengan nada santainya.


Eira yang mendengar ucapan Aurell itu bergidik ngeri, ia pun bersembunyi dibelakang tubuh maminya.


"Akkkhh... Sakit sekali kaki ku, kenapa kau melakukan ini padaku? Padahal aku tak pernah terlibat atas penyiksaan ibumu itu!" ucap Antoni disela-sela rasa sakitnya, ia merasa tak terima atas hal tindakan yang dilakukan Aurell itu.


Aurell tak menangapinya, ia lalu beralih menatap Sinta yang masih ada dibawah kakinya itu.


"Bagaimana nyonya Sinta? Apakah masih ada yang ingin anda ucapkan?" tanya Aurell pada Sinta yang masih terdiam membeku.


Sinta memegang kaki Aurell dengan tangannya yang bergetar. "Aurell.. Tolong lepaskan kami, kenapa kamu melakukan ini pada kami? Kamu tau, jika keluarga kami telah berjasa padamu dan ibumu, jadi tolong... Bayar jasa-jasa kami itu dengan cara membebaskan kami, dan memulai perdamaian.. Ya Aurell?" ucap Sinta mendongak menatap Aurell, perkataan Sinta itu terdengar sangat bodoh! Bagaimana bisa? Hal yang telah ia perbuat selama ini dan membuat nyawa seseorang melayang. Dengan mudahnya ia berucap tentang jasanya itu.


Dorrr..... Sepertinya mereka tak menyadari lagi, jika senjata Aurell sudah menancap pas dileher Adhitama. Adhitama pun langsung ambruk menerima peluru yang memuat syaraf tubuhnya tak bisa digerakkan, akhirnya pun ia tumbang entah pingsan, atau memang sudah tak bernyawa lagi.


Sinta membeku melihat darah berceceran ditubuh suaminya itu.


"Suamiku" lirih Sinta menatap suaminya dengan perasaan tak menentu.


...----------------...


Sagarr dan juga pasukannya berjalan memasuki gedung itu, namun saat ia tepat ingin melangkah, tiba-tiba saja seorang pria bertopeng mencegahnya untuk masuk.


"Anda siapa? Anda tidak boleh masuk kedalaman ruangan ini" ucap orang itu, ia tak sendiri. Ia disana dengan kelompoknya yang berjumblah sepuluh orang.


Sagarr melirik baju yang dipakai oleh orang bertopeng itu, disana tertera logo berbentuk hiu.

__ADS_1


"Hiu?" gumam Sagarr. Ia seperti mengingat sesuatu.


"Joy? Apakah ada arti lain dari logo hiu itu" ujar Sagarr bertanya pada asistennya, dan menunjuk logo yang ada pada baju pria yang ada dihadapkan Sagarr itu.


"Iya tuan! Hiu bisa juga dikatakan Sharky" jawab Joy.


Sagarr memangut mengerti. "Itu berarti mereka merupakan anggota Aurell" gumam Sagarr berfikir.


"Ada apa tuan?" tanya Joy.


"Tidak sekarang kita masuk dan melihat keadaan Aurell disana" ujar Sagarr melangkahkan kembali kakinya, namun lagi-lagi dicegah oleh para pasukan bertopeng itu.


Sagarr berdecak kesal. "Jangan halangi kami dong... Saya ini sedang buru-buru, saya ingin menemui wanitaku secepatnya" ucap Sagarr sebal.


"Maaf tuan, anda tak boleh masuk jika tidak sangkut pautnya, tentang masalah yang ada didalam"


"Aiss.. Menyebalkan sekali" kesal Sagarr.


"Udah Sagarr... Hantam aja mereka, mumpung anggota mu banyak nih" celetuk Gustin yang sudah tak sabaran.


Saat Sagarr ingin menjawab perkataan Gustin, tiba-tiba terdengar suara pistol yang cukup nyaring didalam ruangan gelap itu.


"Aurell" ucap Sagarr terkejut, dan tanpa sadar ia langsung menendang orang yang ada didepannya itu. Ia pun langsung berlari kedalaman ketika ia mendapatkan cela.


Gustin melongo melihat tindakan Sagarr yang tak biasa itu, pasalnya sepuluh orang berbadan kekar itu mampu Sagarr kalahkan dengan hanya ia seorang.


"Buset... Si Sagarr, kuat juga dia! Ngapa gak dari tadi aja dia ngelakuin itu" monolog Gustin sambil mengelengkan kepalanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2